[H.J. de Graff]
A. Kata Pengantar
Tidak banyak sejarahwan atau penulis yang menulis tentang William Byam Martin, seorang Inggris yang menjadi Resident Maluku pada tahun 1811 – 1817. Padahal, ia bertugas di Ambon dalam periode-periode yang menentukan, ketika pemerintahan Inggris dianggap baik oleh orang Ambon dan kemudian diakhiri oleh pengambilalihan kembali wilayah itu oleh Belanda pada Maret 1817. Figurnya seperti apa, karakternya seperti apa, tidak terlalu banyak disorot oleh para penulis. Jika pun ada, para penulis hanya menceritakan secara umum.
H.J. de Graff, mencoba menulis tentang figur ini, meskipun tetap tidak terlalu mendetail dalam tulisannya ini yang berjudul Martin, eet Brit met karakter, dimuat di majalah De Stem van Ambon, nomor 235, jaargang 19 [tahun ke-19], Juni/Juli 1969. De Graff menulis poin-poin penting tentang figur Martin ini. Meski demikian, dengan membaca tulisan ini, minimal kita bisa mengetahui karakter kepimpinannya, kebijakannya, dan karakter pribadinya yang disebut tidak terlalu ramah dan periang, sehingga kita mulai memahami alasan-alasan mengapa terjadi pemberontakan atau perang di tahun 1817 itu.
Tulisan 1 halaman ini tidak memiliki catatan kaki, dan hanya menyisipkan 1 lukisan dari Q.M.R Verhuell. Kami hanya menambahkan sedikit ilustrasi [lukisan] dan beberapa catatan tambahan untuk “melengkapi” apa yang telah ada. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita.
B. Terjemahan
Tujuh tahun keduaa ketika bendera Inggris berkibar di atas Kastil Victoria tidaklah buruk bagi penduduk Ambon. Para pejabat Inggris yang baru dipenuhi dengan semangat kemanusiaan yang tercerahkan dan melakukan yang terbaik untuk memberi manfaat, mengangkat, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui sistem kolonial. Perdagangan, menjadi kaya dengan cepat, dan kemudian menghilang menjadi hal yang kurang penting dibandingkan pendudukan militer ini. Tahun-tahun terakhir sebelum penaklukan kedua juga penuh ketegangan dan penindasan.
Gubernur Jenderal Daendelsb telah berusaha mempertahankan otoritas di Maluku dengan segala cara. Tetapi karena blokade Inggris, koneksi pengiriman menjadi buruk. Perdagangan menurun, harga pasar naik. Penduduk terpaksa menerima uang kertas; para pemuda dikumpulkan secara paksa dan dikirim ke Jawa sebagai rekrutan. Sejumlah besar pekerja dan material disita untuk pembangunan baterai [kubu pertahanan]. Ketika Inggris tiba, semua kesengsaraan masa perang ini lenyap seolah-olah secara ajaib. Laut terbuka, dan perdagangan kembali hidup. Barang-barang dari luar negeri, khususnya tekstil, kembali dengan harga yang wajar. Para perwira Inggris mendapatkan penghasilan yang baik dan membelanjakannya dengan besar-besaran, yang menguntungkan usaha kecil.
Residen bahkan mendirikan peternakan kalkun, mungkin dengan mempertimbangkan makan malam Natalnya. Langkah-langkah yang bermanfaat juga diterapkan. Sewa pasar dihapuskan, karena Residen menganggapnya merugikan industri penduduk, dan digantikan oleh sewa opium. Minuman keras juga dikenakan pajak. Namun, sewa rumah judi dihapuskan karena sifatnya yang tidak bermoral. Jelas, Inggris mengejar cita-cita moral yang tinggi. Selain itu, pohon cengkeh tidak diberantas, meskipun monopoli cengkeh dipertahankan. Oleh karena itu, penduduk Ambon dapat menanam pohon sebanyak yang mereka inginkan, asalkan mereka menjual hasil panen mereka hanya kepada pemerintah Inggris. Karena itu, tidak mengherankan bahwa penduduk umumnya cukup puas dengan situasi baru tersebut.
Perpisahan terakhir Belanda pada tahun 1810, karena penyerahan diri Filzc yang memalukan, tidak meningkatkan prestise "Koempenie". Telah diketahui juga bahwa Jawa, benteng terakhir dan terbesar di kepulauan itu, telah jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1811. Oleh karena itu, tidak ada harapan bahwa Belanda akan kembali. Lagipula, Inggris tampaknya berkuasa di mana-mana. Gubernur terbaik Ambon adalah Residen Byam Martind, seorang pria yang sangat religius dan humanis. Ia menerima pelatihan pegawai negeri sipilnya di Kalkuta dan pernah menjadi murid misionaris besar William Carey di sana. Mantan tukang sepatu ini merasa terpanggil untuk membawa Injil kepada orang India, tetapi untuk menjelaskan Kabar Baik [Injil] kepada mereka, ia juga sepenuhnya mengabdikan dirinya pada studi bahasa, bahkan sampai menguasai bahasa Sansekerta. Martin selalu menghormatinya sebagai teman yang kebapakan. Setelah masa magang ini, ia menjabat sebagai Asisten residen dan sekretaris di Bengkoelene yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris, dan akhirnya diangkat menjadi Residen independen di Maluku.
Orang Inggris dan Belanda berlomba-lomba memuji pria yang berkarakter, berbakat, dan berjasa ini. Orang Belanda menggambarkannya sebagai orang yang berpendidikan baik dan sopan, tanpa tipu daya atau intrik, adil dan bijaksana, sehingga ia mendapatkan rasa hormat dan kasih sayang dari orang kulit putih dan cokelat, kaya dan miskin. Selama negosiasi yang sulit mengenai pengembalian Ambon pada tahun 1817, ia menangani semua masalah dengan setia dan cepat. Ia dikatakan menjalani kehidupan yang agak tertutup, sehingga ia tidak terlalu periang atau ramah, tetapi seseorang tidak dapat menyenangkan semua orang. Seorang Inggris yang mengenalnya dengan sangat baik menyebutnya sebagai "pelindung setiap upaya untuk meningkatkan kondisi keagamaan, dan akibatnya kondisi moral, penduduk." Oleh karena itu, ia melakukan upaya khusus untuk memulihkan gereja Maluku yang rusak dan dengan demikian mempromosikan pencerahan rakyat. Ia percaya bahwa hal ini dapat dicapai dengan sebaik-baiknya dengan mendirikan sekolah pusat, semacam seminari untuk calon guru pribumi.
Namun, ini membutuhkan seorang pemimpin yang tepat, dan karena itu Martin meminta bantuan kepada mantan mentornya, William Carey. Ia menawarkan putra bungsunya, Jabezf, untuk mengambil tugas ini. Pada tahun 1814g, misionaris berusia 20 tahun dan istrinyah tiba di Ambon dan segera mulai bekerja: mengelola sekolah, melakukan inspeksi pulau-pulau, berkhotbah kepada garnisun, dan bahkan bertugas di Raad van Justitie. Ia mungkin harus mempelajari sedikit bahasa Melayu, tetapi ia tidak pernah sempat mempelajari bahasa Belanda. Untungnya, ia segera dibantu oleh salah satu misionaris pertama dari Serikat Misionaris Belanda, yang didirikan pada tahun 1797, Pendeta Joseph Kami. Ini terbukti menjadi kesempatan yang sangat baik ketika ia tiba di Ambon pada tanggal 3 Maret 1815, karena Jabez, seperti ayahnya, adalah seorang Baptis. Oleh karena itu, ia menolak baptisan bayi, yang sangat disukai oleh penduduk Ambon.
Kam, seorang penganut Reformed yang teguh, mampu menyediakan baptisan bayi, dan dalam beberapa bulan pertama, ia membaptis 1.865 anak, 120 anak per minggu. Pada Minggu Paskah, Perjamuan Kudus diadakan untuk pertama kalinya dalam 13 tahun. Ketertarikan pada Gereja mereka ini diterima dengan baik oleh penduduk Ambon. Mereka menganggapnya sebagai hal terpenting dari semua hal baru yang dibawa Inggris. Semangat Martin untuk urusan gerejawi dan moral bahkan mendorong orang Ambon untuk terlalu fokus pada masalah keagamaan. Beberapa menganggap agama sebagai satu-satunya hal yang diperlukan dan karena itu mengabaikan tugas sehari-hari mereka. Pertemuan-pertemuan yang membangun diadakan setiap hari. Beberapa membaca Alkitab sepanjang hari, jika masih tersedia, atau berlatih berdoa dan menyanyikan mazmur. Perlakuan istimewa yang dinikmati para guru dari pemerintahan Inggris juga tidak luput dari perhatian orang Ambon.
Sementara Daendels, karena kebutuhan finansial, telah mengalihkan gaji guru ke negeri-negeri, Inggris mengambilnya dari kas pemerintah. Bagaimanapun, para guru ini adalah penyebar Pencerahan sejati, baik dalam hati maupun pikiran. Bahkan komisi Belanda, yang kemudian mengambil alih kekuasaan dari Inggris, sempat mempertimbangkan untuk menyerahkan kekuasaan kepada para guru, bukan kepada para kepala/pemimpin lama, mengingat pengaruh mereka yang besar terhadap rakyat. Semacam teokrasi, dengan kata lain! Untungnya, gagasan ini segera ditinggalkan. Di sisi lain, pemerintahan lama para Orangkaija, Pattij, dan Radja mendapati diri mereka kurang lebih dalam keadaan sulit. Sementara pemerintah Inggris memutuskan untuk tidak mengubah struktur administrasi lama, para pejabat pribumi diawasi jauh lebih ketat daripada sebelumnya. Rupanya, Belanda agak lunak terhadap keluarga-keluarga lama ini dan memberi mereka kebebasan, asalkan mereka mengirimkan cengkeh yang dibutuhkan ke gudang kompeni; tetapi sekarang, para kepala/pemimpin pribumi lama ini dihukum berat bahkan untuk penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi kecil.
Hal ini tidak benar-benar memperkuat atau meningkatkan otoritas mereka, sementara otoritas para guru sekolah justru meningkat. Pembalikan peran ini mungkin telah memengaruhi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi tak lama setelah kembalinya pemerintahan Belanda. Salah satu lembaga yang mendapat persetujuan umum di kalangan masyarakat Ambon adalah pembentukan korps yang terdiri dari 400 tentaraj. Mereka dipersenjatai dengan senapan, mengenakan seragam, menerima upah yang layak, dan... tidak perlu menyeberangi laut ke Jawa. Sungguh kontras dengan Daendels, ketika, karena "pemerasan dan gangguan yang mengerikan," para pemuda Ambon ditempatkan di kapal menuju Jawa, di mana masa depan yang tidak diketahui dan tidak pasti menanti mereka.
Salah satu dari 400 orang itu adalah Thomas Matulesia, yang naik pangkat menjadi sersan mayor. Kita akan mendengar lebih banyak tentang dia nanti. Tidak heran jika berita tentang kembalinya koloni ke Belanda tidak disambut dengan baik. Setelah negosiasi perdamaian umum, Inggris telah memutuskan untuk mengembalikan sebagian besar wilayah kekuasaan kita sebelumnya. Namun, pengembalian itu membutuhkan waktu. Terlebih lagi, Napoleon, yang bertindak sebagai perusak suasana, meninggalkan pulau Elba untuk bermain sebagai kaisar selama 100 hari lagi, sehingga pasukan yang ditujukan untuk Hindia harus pergi ke Waterloo sebagai pasukan cadangan untuk membantu menggulingkan tiran besar itu. Dengan demikian, pengalihan kekuasaan di Batavia baru terjadi pada 19 Agustus 1816, hanya lima hari sebelum ulang tahun Raja.

G.A.G.P. Baron van de Capellen
Sebuah Komisi Beranggotakan Tiga Orang telah dikirim dari Belandak, salah satunya, Baron van de Capellen, akan tetap menjabat sebagai Gubernur Jenderall. Sebuah Komisi juga telah ditunjuk untuk Ambon, yang hanya terdiri dari dua anggota: Nicolaas Engelhard dan J. A. van Middelkoop. Yang pertama adalah seorang veteran sejati, tetapi hanya mengenal Maluku dari cerita-cerita yang didengarnya. Sebagai gubernur Pantai Timur Jawam (Jawa sebelah timur Cherebon), ia pernah berselisih dengan Daendels dan telah dipecat, atau mengundurkan diri. Sejak itu, ia hidup dari kekayaannya yang sangat besar di Semarang.
Pengangkatannya sebagai Komisaris untuk Maluku tentu saja merupakan suatu kehormatan, tetapi ternyata sama sekali tidak sukses. Rekannya adalah mantan teman dan sekretarisnya, Middelkoopn. Si bodoh ini, ditakdirkan untuk tetap tinggal di Ambon sebagai gubernur setelah Engelhard kembali. Namun, dia sama sekali tidak cocok untuk tugas itu. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari para pejabat lainnya, sebagian besar pria muda, dengan beberapa pengecualian yang baik. Veteran yang cocok, yang akrab dengan Maluku, tampaknya sudah tidak tersedia lagi. Skuadron yang harus mengangkut 2 Komisaris dengan pasukan yang ditugaskan terdiri dari kapal-kapal tua dan usang—kapal yang lebih baik sudah tidak tersedia lagi setelah hampir 20 tahun penutupan laut bebas di negara kita. Akibatnya, berbagai macam kecelakaan kemudian menimpa mereka. Korps tentara yang dikerahkan, sekitar 800 orang, telah dikumpulkan dengan susah payah di Jawa. Selain beberapa orang Eropa, sebagian besar terdiri dari orang Jawa, yang direkrut secara paksa.
Mayor Beetjeso, yang ikut serta, pasti menggunakan metode perekrutan yang aneh. Hasilnya pun tidak baik baginya. Terlebih lagi, seragam untuk para prajurit yang telah diubah menjadi tentara pun tidak memadai, sehingga beberapa di antaranya terkadang mendapati diri mereka berjaga "setengah telanjang" di Ambon. Ini tentu saja tidak meningkatkan prestise Belanda! Komandan militer, Kolonel Krayenhoffp, meskipun namanya terdengar menyenangkan, bukanlah orang yang tepat untuk tugas ini. Jelas: sumber daya manusia dan personel yang digunakan untuk mencoba merebut wilayah tertua Belanda di Kepulauan dari Inggris masih jauh dari memuaskan. Selain itu, Komisi dihadapkan pada beberapa kejutan yang menyakitkan. Dalam tiga periode tujuh tahunanq, banyak hal telah berubah di Ambon, terutama dalam tujuh tahun terakhir.
==== selesai ====
Catatan Tambahan
a. Terminologi 7 tahun kedua maksudnya adalah 7 tahun kedua pemerintahan Inggris. 7 tahun pertama pemerintahan Inggris berlangsung pada tahun 1796 – 1803, dan 7 tahun kedua berlangsung pada tahun 1810 – 1817.
b. Herman Willem Daendels, lahir di Hattem pada 21 Oktober 1762 dan meninggal di St George del Mina pada 2 Mei 1818, putra dari Mr Burchard Johan Daendels dan Josina Christina Tulleken. Daendels menikah dengan Aleyda Elisabeth Reyniera van Vlierden. Ia ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda oleh Raja Lodewijk Napoleon (Louis Napoleon) pada 28 Januari 1807, dan secara resmi mulai memerintah pada 14 Januari 1808 hingga 15 Mei 1811
c. Jean Phlippe Francois Filz, komandan militer Maluku (Maret 1809 – 19 Februari 1810). Penyerahan diri J.P.F. Filz diulas dalam artikel karya W.Ph. Colhaas
§ W.Ph. Colhaas, De Overgave van Amboina in 1810 en De Executie van Kolonel Filz, Bijdragen voor Vaderlandsche Geschiedenis en Oudheidkunde, 8e reek, 3e deel [atau Seri ke-8, bagian ke-3], terbit tahun 1942, pada halaman 55 – 94
§ Terjemahan artikel di atas, telah diposting di blog ini
d. William Byam Martin, lahir di St Marylebone (London) pada 11 Juli 1782, putra dari William Byam Martin (1745 – 1806) dan Charlotte Yorke. Ia menjadi Resident der Molukken sejak tahun 1811 – 1817
e. William Byam Martin bertugas di Bengkulu pada tahun 1806 – 1810.
f. Jabez Carey, lahir di Piddington pada 12 Mei 1793, putra bungsu dari William Carey dan Dorothy Plecket
g. Kedatangan Jabez Carey ke Maluku, khususnya Ambon, dimulai dengan surat Resident W.B. Martin kepada Sekretaris Dewan Penginjilan di Calcutta, India, per tanggal 23 februari 1813, dilanjutkan surat kepada Henry Saint George Tucker, Sekretaris Departemen Kolonial pada Gubernemen Inggris di Bengal, India, pada tanggal 18 Juni 1813, dilanjutkan dengan Surat Henry Saint George Tucker per tanggal 6 November 1813 kepada penginjil William Carey dan anggota Dewan Penginjilan di Serampore. Surat balasan dari anggota Dewan Penginjilan di Serampore kepada Henry Saint George Tucker per tanggal 22 November 1813, dimana dalam surat ini disebutkan bahwa mereka akan secepatnya mengirim salah satu penginjil untuk tugas di maksud, tanpa ditunda-tunda lagi. Pada arsip surat ini, Chr. Van Fraasen, memberikan catatan kaki nomor 2, yang menyebutkan bahwa pada April 1814, Jabez Carey tiba di Ambon.
h. Jabez Carey menikah dengan Anne Eliza Hilton (22 Nov 1797 – 1 Maret 1842) pada tanggal 24 Februari 1813 di Serampore.
i. Joseph Kam dibaptis pada 19 September 1769 di ‘s-Hertogenbosch dan meninggal di Ambon pada 18 Juli 1833
j. Pembentukan Korps Ambon ini dilaporkan melalui surat dari Henry Court, Gezaghebber Sipil dan Militer Maluku, kepada Sekretaris Umum Gubernemen di Madras, Alexander Falconar, tertanggal 6 Maret 1810. Komposisi dari Korps Ambon ini adalah 1 Sersan Mayor (Eropa), 1 Sersan (Eropa), 1 Adjunt/Pembantu (Pribumi), 20 sersan, 20 kopral, 10 penabung genderang dan 600 serdadu. Korps ini dipimpin oleh Captain David Forbes dari Resimen Madras.
k. 3 Orang Komisaris Jenderal yang dimaksud adalah Cornelis Theodorus Ellout, Arnold Adriaan Buijskes dan Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Cappelen
l. Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Cappelen menjadi Gubernur Jenderal sejak 1816 – 1825
m. Nicolaus Engelhaard menjadi Gubernur Noordoostkust van Java (Pantai Timur Jawa) sejak 6 Maret 1801 – 12 Mei 1808
n. Jacobus Albertus Middelkoop
o. Mayor Pieter Jacobus Beetjes
p. Cornelis Johannes Kraijhenhoff, komandan militer Maluku pada 1817 – 1818
q. Terminologi 3 periode 7 tahunan, maksudnya adalah periode 1 berlangsung pada tahun 1796 – 1803 (pemerintahan Inggris), periode 2 berlangsung pada tahun 1803 – 1810 (pemerintahan Belanda) dan periode 3 berlangsung pada tahun 1810 – 1817, dimana ketiga periode ini masing-masing selama 7 tahun.

._Gouverneur-generaal_(1808-10),_SK-A-3790.jpg)
.png)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar