Minggu, 15 Februari 2026

Sepakbola di Maluku

 

[G.L.T]

  

A.      Kata Pengantar

Tulisan pendek yang diterjemahkan ini adalah tulisan atau artikel yang dimuat di Majalah De Reveu der Sporten, edisi nomor 18, 11e jaargang (tahun ke-11) tanggal 9 Januari 1918, dengan judul Voetbal in de Molukken. Tulisan ini ditulis oleh penulis dengan menggunakan inisial nama G.L.T, namun sayangnya kita tidak mengetahui banyak tentang figur ini.

Jika kita membaca tulisan pendek ini, ini semacam “laporan” singkat atau laporan seorang saksi mata dari seorang yang menyaksikan acara yang ia tulis, dalam hal ini acara peresmian sebuah lapangan sepak bola diikuti pertandingan sepak bola. Tempat berlangsungnya acara ini yaitu di Negeri/Desa Piru, sebuah tempat yang menjadi ibukota dari afdeeling Seram pada tahun-tahun itu. Hal ini dapat diketahui karena sang penulis sendiri menulis secara eksplisit pada akhir tulisannya dengan kalimat : Piroe (West Ceram), 19 September 1917. Acara peresmian dan pertandingan sepak bola tersebut, bisa saja terjadi pada tanggal 19 September 1917, atau beberapa hari sebelumnya. Meskipun tulisannya pendek, namun dengan membaca tulisan ini, minimal kita bisa mengetahui situasi “perubahan” yang terjadi di wilayah itu pada dekade-dekade awal abad ke-20.  

Naskah asli tulisan yang dimuat di majalah itu hanya kira-kira 1 halaman dalam bentuk tulisan 3 kolom yang umumnya pada koran atau majalah, memuat 2 foto dan 1 catatan kaki. Kami hanya menambahkan sedikit catatan tambahan dan foto untuk “melengkapi” tulisan pendek ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk memahami dinamika perubahan yang terjadi pada masyarakat kita di awal abad ke-20.

 

B.      Terjemahan

Bayangkan, wahai pembaca yang baik dan setia, sebuah desa kecila di sebuah pulau di suatu tempat di sudut dunia yang terlupakan. Bayangkan sebuah lapangan sepak bola kecil dan rapi, langit abu-abu mutiara, di mana bendera-bendera berwarna ceria berkibar tertiup angin sepoi-sepoi. Bayangkan tribun tinggi yang dihiasi tanaman hijau dan bunga-bunga, sebuah orkestra seruling, yang membiarkan alunan musik riang dan melodi-melodi ringan bergema di udara. Terakhir, bayangkan kerumunan penduduk pribumi yang penasaran, haus sensasi, dan berkeliaran, serta segelintir orang Eropa. Para wanita dengan setelan tuksedo mereka sendiri benar-benar memberikan gambaran tentang... Belanda.

Bayangkan semua ini, dan Anda akan mengerti bahwa sebuah peristiwa besar akan segera terjadi di desa kecil yang tidak penting itu di pulau di suatu tempat di sudut dunia yang suram ini. Sebuah lapangan sepak bola, yang dibangun dengan susah payah oleh pekerja paksa, akan diresmikan secara meriah. Tim-tim campuran dari klub sepak bola yang dibentuk secara tergesa-gesa akan saling bertarung di lapangan hijau. Yang penting, mengingat tulang rusuk yang memar, tulang kering yang memar, dan hidung berdarah, klub muda itu diberi nama yang menakutkan, "The Sharks" [atau “Hiu”]

Otoritas tertinggi di tempat itu, Asisten Residenb, berkenan untuk mengambil tendangan gawang. Lihat foto Yang Mulia tersebut yang melakukan gerakan ini dengan keanggunan yang tak terbantahkan. Pada momen yang tak terlupakan ini, sebuah tembakan menggelegar dari karabin berkarat, orkestra seruling atau paduan suling melantunkan nyanyian lantang " John Brown's baby has a pimple on his nose,"c dan di tengah sorak-sorai dan dukungan konstan dari para penonton, para penyerang saling menerobos pertahanan. Singkatnya, pertandingan berlangsung tanpa insiden berarti dan memuaskan semua orang. — 

Paduan Suling di Piru, ca. 1921

Kehalusan lapangan sangat berkontribusi pada suasana meriah secara umum, karena menawarkan kesempatan yang baik bagi para pemain yang kurang berpengalaman dalam menendang gawang untuk menarik perhatian penonton dengan salto yang anggun dan terencana dengan baik. Skor pertandingan adalah 2-0 untuk "satu tim," dengan "tim lain" dengan sinis berkomentar bahwa kemenangan ini adalah hasil dari "terlaloe banjac main afseit sadja"1. Namun, ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan kepemimpinan wasit. Dokter, yang ditugaskan sebagai wasit sebagai tindakan pencegahan dan untuk kenyamanan, menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Beberapa orang Alfur telanjang, turun dari gunung berbatu mereka yang sulit dijangkau, berjongkok di sudut lapangan dan menyaksikan permainan aneh itu dengan saksama, dengan senyum lebar penuh kepuasan. Para bekas pemburu kepala itud tentu tidak pernah bermimpi bahwa mereka akan menyaksikan tontonan seperti itu di pulau terpencil mereka yang liar, seperti yang terjadi di depan mata mereka yang takjub. Jadi, saya hanya mengatakan bahwa "Sepak impian" terus berlanjut tanpa henti, menghasilkan pengikut hingga ke ujung dunia.

Piroe (West Ceram),

19 September 1917.

G.L.T

=== Selesai ===

Catatan kaki

1.       "Permainan offside yang mengerikan."

Catatan Tambahan

a.      Negeri/Desa Piru

b.     Asisten Resident yang dimaksud bernama C.C. Krom, Asisten Resident afdeeling Seram sejak 8 Juli 1916 – 23 Juli 1921

c.      "John Brown's Baby" adalah lagu anak-anak populer yang sering dinyanyikan dengan melodi "The Battle Hymn of the Republic" atau "John Brown's Body". Liriknya biasanya menampilkan bayi yang memiliki jerawat di hidungnya (atau penyakit lainnya), seringkali "diolesi dengan cairan mentol," dengan bait yang diulang sambil menghilangkan kata-kata dan menggantinya dengan gerakan.

John Brown's baby got a pimple on her/his nose,
John Brown's baby got a pimple on her/his nose,
John Brown's baby got a pimple on her/his nose,
And she/he put it on with
Vaseline (or mentholated goo!!)

d. Para pengayau atau para pemotong kepala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar