ANTWOORD
(No. 3)
(met
bronzen medaille bekroonda)
van
I. TUPAMAHU, Tiouwb (AMBON).
A. Kata Pengantar
Izaak Tupamahuc, seorang Guru yang pernah bertugas di Nusalaut dan di Tiouwd [Pulau Saparua] menulis artikel sepanjang 6 halaman disertai sketsanya tentang Pohon Sagu dan seluk-beluknya. Tulisan ini dimuat dalam Jurnal Bulletin van Het Koloniaal Museum te Haarlem, edisi nomor 44, periode Desember 1909, dimana edisi periode ini mengambil tema Sagoe en Sagoepalmen. Selain tulisan Tupamahu, pada edisi ini juga terdapat tulisan dari L.A.T.J.F. van Oijene, J. Fortgensf serta C.L. Udo de Haesg, yang diterbitkan oleh Penerbit J.H. de Bussy, di Amsterdam, tahun 1909.Tulisan Tupamahu berjudul Pokok Sagoe atau Pokok Roembia, berada pada halaman 105 – 112 di dalam kumpulan tulisan-tulisan tersebut.
Tulisan Tupamahu ini tidak ditulis dalam bahasa Belanda seperti 3 tulisan lain, melainkan dalam bahasa Melayu Ambon, sehingga yang disajikan di sini adalah teks dalam bahasa Melayu Ambon, dan tidak kami transliterasikan, hanya memberi sedikit catatan tambahan untuk beberapa kata yang mungkin perlu diberikan catatan. Selain sketsa-sketsa dari Tupamahu yang ada pada tulisan, kami juga menambahkan beberapa foto yang berkaitan dengan tema tulisannya, dan foto-foto itu berasal dari periode yang sama atau berdekatan dengan tahun penerbitan tulisan ini. Kiranya tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita untuk mengetahui dan memahami aktivitas leluhur kita dalam soal pengolahan tanaman sagu, terminologi-terminologi yang digunakan oleh para leluhur, yang mungkin mulai “hilang” atau tetap digunakan hingga saat ini, dan paling penting adalah usaha menyajikan kembali serta melestarikan tulisan-tulisan dari para leluhur kita untuk diketahui, dibaca, dianalisa dalam perspektif modern.
B. Naskah Tulisan
POKOK SAGOE ATAU POKOK ROEMBIA.
1. Namanja dan tempatnja.
Sebermoela maka oleh orang pedoedoek poelau-poelau Maloko pokok ini diseboet sagoe dan oleh orang-orang Melajoe roembia. Maka pokok ini kedapatan pada banjak tempat di Hindia Timoer, tetapi jang teroetama di poelau-poelau Maloko. Maka poelau Seran (Ceram) itoelah sebenar-benarnja tempat pokok sagoe itoe. Maka ia boleh bertoemboeh di mana-mana djoega pada negeri jang panas hawanja, baik di goenoeng-goenoeng baik di lembah, maoe pada tanah liat maoe pada tanah pasir, tetapi dengan soeboernja ia bertoemboeh pada tempat-tempat jang berawa, pada tepi-tepi soengai atau telaga. Akan menanam pohon sagoe maka orang beroesahh anak sagoe jang bertoemboeh dekat batang jang toea.
2. Bangsanja, djenisnja, bahagiannja dan roepanja.
Adapoen pokok sagoe itoe masoek bangsa pokok jang berpelepah (palmboomen) seperti pokok njioer, enau, koerma dan sebagainja. Maka pokok sagoe itoelah jang terlebih besar batangnja diantara sekalian itoe. Maka ia dibedakan orang atas lima djenisnja, jaïtoe: sagoe poetih atau sagoe toeni, sagoe merah atau sagoe ihor, sagoe molat, sagoe rotan dan sagoe makanaro. Maka ketiga djenis jang moela-moela itoe diindahkan orang; sedang kedoea jang lain itoe koerang dipedoelikannja, karena koerang hasilnja. Sekaliannja itoe batangnja loeroes, lilitnjai kira-kira tengah doea pemoloekj, hingginja hingga 20 M. Roejoengnja atau koelit batangnja, waa (bast) itoe berkajoe dan keras; goembarnja, isi'nja (merg) beroerat-oerat, kei-kei (vezelachtig), tetapi tiada keras, hingga hantjoer bila ditoemboek. Pada pangkal batangnja adalah roempoennja, jang menjeroepaï kasoet, oedangnja (stoel); menarik itoe makin bertambah-tambah beratnja, tiada boleh disintak-sintaknja, agar djangan poetoes tali itoe, sehingga batang sagoe itoe boleh retahk ketempat jang tiada dikehendaki orang. Maka moela-moela dikampaknja pada pihak kemana batang sagoe itoe hendak direbahkan, dan apabila sekiranja hampir rebah batang itoe, maka balaslah ia, jaitoe ditebangnja pada pihak jang lain. Demikian maka rebahlah batang sagoe itoe.
b. Hal memenggal, membelah dan memoekoel sagoe.
Setelah rebahlah batang sagoe itoe maka dipenggal oranglah atas beberapa penggal, jang pandjangnja sebagai dikehendaki orang. Ada jang dipenggal hingga poetoes sekali, ada poela hanja sebelahnja jang diatas sahadja. Adapoen dipenggal hingga poetoes itoe, bila hendak digoelingnja sepotong-sepotong itoe ketempat jang lain; dan dipenggal hanja sebelah djoea, bila hendak dipergoenakan waa nja jang sebelah dibawah itoe soepaja tinggal pandjang akan boeat saloeran air atau goti Soedah itoe maka dibelah oranglah. Maka akan maksoed itoe dipakai orang badji beberapa bilah. Setelah terbelah soedah, maka goembarnja itoe dipoekoelnja, jaitoe ditjangkoelnja dan ditoemboeknja dengan soeatoe perkakas dari pada boeloeh jang menjeroepaï rimbas, jaïtoe nani namanja. (Lihat gambaran No. 8 dan 25). Maka kei-kei atau oerat-oerat itoe ditjeraikan dari pada isi goembar jang dinamai ela itoe. Maka isi goembar itoe dimasoekkan kedalam beberapa timbil akan dibawa ke goti. Adapoen hal memoekoel sagoe dengan nani itoelah jang tersoesah diantara segala pekerdjaan menjediakan tepoeng sagoe itoe. Adapoen sebagaimana toekang kajoe haroes ati-ati, apabila ia mentjentjang balak atau papan dengan rimbas, demikian djoega orang jang memoekoel sagoe itoe. Djikalau koerang fahamnja maka tiada haloes goembarnja itoe, melainkan bergempalan dan terpelanting sekelilingnja.
c. Hal meramas atau menapis sagoe. (Lihat gambaran No. 26).
Apabila ela didalam timbil itoe soedah dibawa ke goti, maka diboeboehnjal satoe-satoe bahagian kedalam tapisan itoe laloe dibaoerkan dengan air serta diramas-ramasnja, soedah itoe laloe ditapisnja, jaitoe ditindis kedikm itoe dengan tangan kirinja dan ela itoe diramasnja dengan tangan kanannja; maka mengalirlah dari dalam tapisan itoe air jang keroekn kepoetih-poetihan warnanja ke goti itoe, jaitoe air jang mengandoeng tepoeng sagoe. Demikianlah diboeat beroelang-oelang hingga air jang keloear itoe tiada keroehnja lagi, jaitoe tanda, bahwa ela jang ditapisan itoe soedah tiada bertepoeng lagi. Maka jang ketinggalan itoe diseboet hampas ela atau ela djoega, dan ditimboeninja pada soeatoe tempat dekat goti itoe, soedah itoe diambilnja sebahagian ela jang lain dan diramasnja poela. Demikianlah diboeatnja hingga habis ela itoe atau penoehlah goti itoe. Djikalau goti itoe soedah penoeh, maka ditinggalkannja hingga terselamlaho tepoeng sagoe itoe semoeanja; soedah itoe maka tjorong pada kaki goti itoe ditoeroenkan, soepaja keloearlah air perlahan-lahan hingga ketinggalan tepoeng sagoe sahadja. Setelah itoe diramasnja poela ela jang lain. Doea tiga kali diboeatnja demikian, baharoelah tepoeng sagoe itoe diangkat dari dalam goti itoe dan diisi kedalam toeman. Maka pekerdjaan ini diseboet orang menjisik sagoe.
Maka tepoeng sagoe itoe diseboet oleh orang Ambon sagoe mentah; maka inilah jang didalam perniagaan dikenal orang dengan nama sagoe itoe. Maka sebatang sagoe jang baik boleh menghasilkan 50 toeman dari ± 30 dM3. jang dapat didjoeal dengan harga ± ƒ 0.80 setoeman. Maka dari pada tepoeng sagoe itoe disediakan roepa-roepa makanan dan penganan orang Maloko, oepamanja: sagoe lemping, sagoe boenga, toetoepola, papeda, oeha, sinoli, sagoe kelapa, boeboerneh, boeksona, sagoe toemboek, bagea dan lain sebagainja.
3. Hal menjediakan berbagai-bagai makan-makanan dari pada tepoeng sagoe.
a. Hal menjediakan sagoe lemping sagoe boenga dan toetoepola.
Perkakas-perkakas jang dipergoenakan orang akan maksoed itoe: njiroe, gosok - gosok atau ajak jang kasar, gojang - gojang atau ajak jang haloes, forna atau atjoean (vorm), sikat - sikat, bilah-bilah, tangga, gepe-gepe atau djepit (Lihat gambaran No. 1-4 dan 10-14). Adapoen njiroe, gosok-gosok dan gojang-gojang itoe diperboeat dari pada boeloeh, forna itoe dari pada tanah liat, sikat-sikat itoe ada doea djenisnja, jaitoe: jang diperboeat dari pada idjoek akan mempersihkan njiroe dan ajak ajak, dan jang diperboeat dari pada toembok anak sagoe jang hoedjoengnja ditoemboek, hingga djadi seperti djamboe-djamboe (kwast) roepanja akan mempersikkan forna; bilah - bilah, tangga dan gepe-gepe itoe diperboeat dari pada gaba-gaba atau boeloeh.
Moela-moela maka tepoeng sagoe itoe dioeraikan didalam seboeah njiroe atau doelang dan ditinggalkannja doea tiga hari lamanja hingga kering sedikit. Soedah itoe maka digosoknja, jaïtoe diajak dengan ajak jang kasar, setelah itoe digojangnja atau diajak dengan ajak jang haloes. Sementara itoe, beberapa forna atau atjoean poen ditiarapkan atau dipanaskan diapi. Djikalau soedah panas hingga merah warnanja, maka diangkatnja seboeah diletaknja terlentang diatas tangga jang dilintangkannja diatas njiroe jang berisi tepoeng sagoe haloes itoe. Laloe diboeboehnja sagoe itoe kedalam atjoean itoe hingga penoehlah segala loebangnja laloe diratakan dengan bilah-bilah itoe serta dilitjinkan dengan daoen pisang jang kering. Soedah itoe dipindakannja dan ditaroehnja pada soeatoe tempat jang lain, ditoedoenginja dengan daoen pisang dan ditindihnja dengan papan. Setelah itoe maka diangkatnja forna jang lain diboeatnja demikian djoega. Kalau soedah sedia forna jang kedoea itoe, maka forna jang pertama itoe diboekanja, ditjaboetnja sagoe itoe dengan gepe-gepe atau djepit itoe. Setelah itoe maka forna itoe ditaroeh poela diapi akan dipanaskan. Kebiasaan dipakainja tiga forna, soepaja boleh teroes bekerdja dengan tiada oesah berhenti. Demikianloh diboeatnja sagoe lemping dan sagoe boenga itoe. Akan memboeat toetoepola itoe, maka tiada dipakainja forna, melainkan tepoeng sagoe jang haloes itoe diisi ke dalam beberapa roeas boeloeh mentah jang moeda, baharoe diasapinja hingga masak sagoe jang didalarnnja itoe. Soedah itoe maka boeloeh itoe dibelah dan sagoe itoe dikerat-keratnja dan dibelah-belahnja didjadikannja belah ketoepat (ruitjes) bangoennja. Setelah itoe maka didjemoernja hingga kering. Maka inilah makanan kegemaran orang Ambon; direndamnja diair kopi akan alas peroet (ontbijt). Maka sagoe boenga itoe djoega biasa didjemoernja hingga kering baharoe dimakannja atau disimpannja. Maka sagoe lemping itoe biasa dimakan sedang baharoe (versch) tetapi boleh djoega dikeringkan dan disimpannja. Maka sagoe kering dan toetoepola itoe dapat disimpan bertahoen tahoen lamanja dengan tiada koerang soeatoe apa poen.
b. Hal menjediakan papeda.
Maka perkakas-perkakas akan menjediakan papeda itoe, jaitoe: belanga, sempe atau pasoe, tatohi atau tapisan, aroe - aroe dan gata - gata (Lihat gambaran No. 15-20). Adapoen tatohi itoe diperboeat dari pada boeloeh, bangoennja boendar seperti njiroe atau persegi empat. Aroe-aroe itoe dari pada kajoe jang ringan bangoennja seperti seboeah gada (knuppel). Maka gata-gata itoe diperboeat dari pada boeloeh dengan doea giginja atau tjabangnja.
Akan menjediakan papeda maka diambilnja tepoeng sagoe jang beloem kering, ditaroehnja ditatohi dan ditjampoernja dengan air laloe ditapisnja kedalam sempe itoe. Soedah itoe maka ditinggalkannja hingga terselam isi sagoe itoe. Sementara itoe dimasaknja air didalam belanga itoe. Maka air itoe seharoesnja empat lima kali sebanjak sagoe itoe. Dan djikalau air didalam belanga itoe soedah berdidih dan tepoeng sagoe didalam sempe itoe soedah terselam, maka air sagoe jang didalam sempe itoe ditiriskannja boeang, ketinggalan tepoengnja sahadja, laloe ditaroeh air jang bersih sedikit poela, serta dibaoerkannja tepoeng itoe hingga bertjair kental; soedah itoe maka air panas itoe ditoenggangkannja kepada tjairan sagoe itoe, sebegitoe banjak hingga kelihatan papeda. Setelah itoe maka papeda itoe dipoetarnja dan dikoreknja dengan aroe-aroe itoe hingga bertjampoer betoel. Maka pekerdjaan ini diseboet orang toeang papeda.
Djikalau orang hendak makan papeda, maka dibalenja, jaitoe dibelitnja sedikit-sedikit dengan gata-gata itoe laloe ditaroeh didalam piring dengan goela laloe diloroenja, jaitoe diiroepnja (slorpen). Maka papeda itoe ada jang dimakan panas dan ada djoega jang dimakan dingin. Ada poela jang diboengkoes dengan daoen mentah atau diisi didalam boeloeh akan didinginkan, baharoe dimakan; maka inilah jang disoekaï banjak orang. Demikianlah hal papeda itoe. Maka boeboer sagoe itoe lain dari pada papeda; maka boeboer sagoe itoe diperboeat dari pada sagoe kering atau toetoepola ditoeangi air hangat, hingga djadi boeboer kental, maka boeboer ini baik sekali akan makanan orang sakit.
c. Hal menjediakan makan-mahanan dan penganan jang lain dari pada tepoeng sagoe
itoe.
Adapoen oeha itoelah tepoeng sagoe jang lagi basah diboengkoes dengan daoen sagoe jang mentah laloe dibakarnja hingga hangoeslah bahagiannja jang diloear; laloe dimakannja ganti sagoe lemping dengan ikan atau daging atau dengan oelat sagoe (sagoelarve)a. Ada kalanja oeha bakar itoe ditjabik-tjabik laloe ditjampoer dengan goela dan santan, baharoe dimakannja. Maka penganan ini diseboet oeharabe.
![]() |
| Ulat (ular) sagu |
Maka sinoli itoelah tepoeng sagoe digoramp beberapa lamanja didalam koeali, ada jang ditjampoer dengan kelapa, ada jang sendiri sahadja. Kalau sagoe itoe diroepakan seperti koeë-koeë jang boendar dan tipis, maka diseboet orang lemping - lemping; kalau rampai sahadja, diseboet orang karoe - karoe.
![]() |
| Sinoli |
Adapoen sagoe kelapa itoe disediakan seperti sagoe lemping djoega, melainkan tepoeng sagoe itoe ditjampoerkan sahadja dengan kelapa jang soedah diparoet, dan apabila soedah diboeboeh kedalam forna maka dimasoekkan goela enau kedalam sagoe itoe.
![]() |
| Bubur Neh |
Adapoen boeboer-neh atau sagoe rendang (paarlsagoe) itoe disediakan demikian: Adapoen tepoeng sagoe, jang beloem kering betoel, diboeboeh kedalam sepotong kain jang bersih, jang direntangkan sebagai boeaian atau ajoenan, laloe dihempashempaskan dan digoentjang-goentjangkan; maka djadilah boetirboetir sagoe jang ketjil dan makin berlambah-tambah besarnja, hingga sebesar boetir katjang hidjau, laloe direndang dikoeali jang disapoe dengan minjak. Adapoen boeboer-neh itoe djika hendak dimakannja, maka dimasaknja dengan air goela, kemoedian ditjampoer dengan santan kelapa, baharoe diiroepnja. Maka inilah djoega makanan jang baik oentoek orang sakit.
Maka boeksona itoe diboeat dari pada tepoeng sagoe, jang soedah haloes diajak orang, ditjampoerkan dengan kelapa dan goela enau, baharoe diboengkoesnja dengan daoen sagoe jang moedah laloe direboesnja.
![]() |
| Sagu tumbu |
Maka sagoe toemboek jaitoe penganan jang diperboeat dari pada sagoe kering jang ditoemboek bertjampoer kenari dan goela enau.
Maka jang dinamaï bagea itoelah segala roepa koeë, jang dibakar atau diasapi dari pada sagoe bertjampoer kenari dan kadang-kadang bertjampoer goela djoega. Demikianlah adanja.
=== selesai ===
Catatan Kaki
1. Oelat sagoe itoe sedjenis oelat jang djadi didalam goembar sagoe jang boesoek. Maka oelat itoe dimakan mentah, dibakar atau digoreng
Catatan Tambahan
a. Izak Tupamahu memperoleh penghargaan bronzen medaille [Medali Perunggu], mungkin pada tahun 1909 atau tahun 1908, sayangnya kami belum menemukan sumber yang menginformasikan tanggal penerimaan penghargaan ini.
b. Pada periode ini, Tupamahu telah bertugas dan berdiam di negeri Tiouw
c. Izaak J.M. Tupamahu diketahui lahir pada tahun 1857, meninggal dunia pada 6 Januari 1940 di Batavia serta dimakamkan di pekuburan Menteng Pulo, Meester Cornelis, Batavia, pada 7 Januari 1940. Tupamahu menikah dengan Carolina Elizabeth Soselisa pada tahun 1885
§ Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, edisi tanggal 9 Januari 1940
§ Het Nieuw van den Dag: Voor Nederlandsch Indie", edisi nomor 246, tahun ke-40 (40e jaargang), tanggal 21 Oktober 1935, di dalam tulisan: Een Halve Eeuw Vereenigd : Het Echtpaar I. Tupamahu.
d. Sejak 15 Juni 1881, Tupamahu ditunjuk sebagai Onderwijzer [Pengawas sekolah] kelas 1 yang juga Kepala Sekolah dari Sekolah Pribumi di Ameth. Ia kemudian pindah ke Tiouw hingga pensiun pada 24 Juni 1912.
e. L.A.T.J.F. van Oijen [tulisan pada halaman 12 – 69]
f. J. Fortgens [tulisan pada halaman 70 – 104]
g. C.L. Udo de Haes [tulisan pada halaman 113 – 120]
h. Beroesah atau perusah, merupakan kata Melayu Ambon untuk merujuk pada aktivitas atau kegiatan membuka dan mengelola suatu lahan untuk kepentingan ekonomi, misalnya kebun atau ladang yang ditanami oleh tanaman-tanaman
i. lilitnja atau lingkaran pohon, atau diameter dari pohon, dalam konteks ini berarti lingkaran atau diameter dari batang pohon sagu
j. kira-kira tengah doea pemoloek, kalimat ini bermakna diameter atau lingkaran dari batang pohon sagu itu kira berukuran atau “besarnya” batang pohon yang dipeluk oleh 2 orang dewasa
k. kata retah, agak sulit menemukan arti denotasinya, namun dari beberapa penelusuran, kata retah diartikan atau dimaknai sebagai mengusahakan, mengerjakan tetapi juga diartikan hak milik, hak kuasa. Namun jika kita membaca kata ini dalam teks yang ditulis oleh Tupamahu di atas, kata retah secara sederhana bisa diartikan sebagai “jatuh” atau “arah, letak/posisi jatuh” dari batang pohon sagu.
l. Menaruh, meletakan, memasang atau menambahkan sesuatu, misalnya kata membubuhi
m. Kedik sebenarnya adalah alat pertanian tradisional berbentuk sabit kecil dari Bangka Belitung untuk membersihkan rumput kebun lada dengan cara ditarik. Dalam konteks tulisan ini, objek yang disebut kedik bisa dilihat pada sketsa
n. Kata keroek pada naskah ini bermakna keruh
o. Kata terselamlah atau mengendap
p. Kata digoram, bisa diartikan dioseng atau digoreng tanpa minyak kelapa














Tidak ada komentar:
Posting Komentar