[v.d.W]
A. Kata Pengantar
Jika kita membaca tulisan ini, ini bukanlah analisis mendalam tentang kesejarahan sebuah wilayah, dalam hal ini tentang pesisir Hitu di bagian utara pulau Ambon. Tulisan ini bisa dianggap sebagai deskripsi umum yang isinya menyajikan informasi tentang wilayah itu secara umum dengan nada puitis. Sang penulis yang menggunakan nama singkatan v.d.W ini mendeskripsikan beberapa wilayah serta benteng-benteng yang berdiri kokoh di masa lalu, kini kebanyakan telah menjadi reruntuhan dengan “indah”. Ia menulis tentang benteng-benteng yang “terbentuk” seperti mata rantai, desa-desa yang dihuni oleh masyarakat Islam dan Kristen serta mesjid dan gereja, perburuan yang dilakukan di hutan-hutan wilayah itu, dan lain-lain.
Tulisan ini berjudul De Kust van Hitoe, dimuat di surat kabar/buletin De Stem van Ambon, edisi terbit nomor 67, tanggal 19 Maret 1955. Kami mencoba menerjemahkan tulisan ini dengan menambahkan sedikit catatan tambahan, sedikit foto/gambar/lukisan untuk “melengkapi” 3 foto/lukisan yang diselipkan penulis serta 2 catatan kaki pada naskah aslinya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
B. Terjemahan
Pantai/Pesisir Hitoe biasanya merujuk pada bagian barat laut wilayah Hitoe di pulau Ambon, yang dipisahkan dari wilayah Leitimor lainnya oleh teluk dengan nama yang sama. Pada masa Perusahaan Hindia Timur [VOC], wilayah ini sangat terkenal karena melimpahnya cengkeh yang dihasilkannya. Di sepanjang pantai yang rimbun ini terdapat banyak desa, yang dihuni oleh orang Kristen dan Muslim. Bulan sabit orang beriman di atas masjid bergantian dengan salib gereja-gereja Kristen kecil, dan denting lonceng rumah-rumah ibadah kecil bergantian menggantikan "bedoeg," yang menandai waktu wudhu. Dan di antaranya, di antara desa-desa kecil yang makmur tempat orang Kristen dan Muslim telah disatukan oleh VOC sejak dahulu kala, terdapat serangkaian reruntuhan benteng VOC yang panjang, seperti begitu banyak mata rantai yang selalu menghubungkan rangkaian pembangkang ini dalam keadaan relatif damai. Sebagian besar benteng VOC ini awalnya dan secara khusus tidak ditujukan untuk melawan serangan penduduk, tetapi terutama dibangun justru untuk melindungi mereka dari serangan bajak laut Ceram, yang biasa membuat pantai-pantai di sini tidak aman.
Serangkaian reruntuhan yang panjang, terletak indah di hutan-hutan ini yang dipenuhi aroma harum cengkeh dan pala, di mana di cakrawala birunya laut berkilauan di antara dedaunan yang gelap. Di kejauhan memudar pantai-pantai Ceram yang perkasa dan tidak ramah, yang lekukan dan teluknya tampak kadang-kadang sebagai bercak cahaya terang dan kemudian lagi sebagai bayangan suram karena interaksi matahari dan awan yang berubah-ubah. Di masa lalu, pantai ini adalah tempat tinggal yang dicintai oleh para pegawai VOC, yang datang ke sini untuk mencari ketenangan dari kehidupan mereka yang monoton. Pada hari-hari yang cerah, ketika laut tampak bersinar cemerlang di langit Ambon, para pegawai VOC dan para wanita mereka—seringkali termasuk gubernur dan keluarganyaa—akan pergi ke tempat relaksasi yang dicintai ini. Hila, desa utama yang terdapat benteng Amsterdam, tempat kediaman dengan nama yang sama, saat itu mendapat kehormatan menyambut rombongan dari Ambon.
Perjalanan ini sebagian dilakukan dengan menunggang kuda, sebagian lagi dengan kursi yang dibawa oleh sekelompok sekitar delapan (8) pria yang ditugaskan untuk tugas-tugas khusus ini, yang menyeberangi teluk dengan perahu kecil di pagi hari. Sepanjang hari kemudian dihabiskan dalam kebersamaan yang menyenangkan, dan orang-orang sering kali menikmati keceriaan yang melimpah. Para wanita berjalan-jalan di hutan yang sejuk dan indah, mandi dan buang air kecil di air jernih sungai kecil yang berkelok-kelok di antara perbukitan seperti pita perak. Para pria pergi berburu babi dan rusa, yang ditemukan dalam jumlah besar. Ketika matahari tinggi di langit, mereka berbaring di rerumputan yang sejuk, dan banyak ikan ditangkap di air yang jernih. Kunjungan juga dilakukan ke benteng dan pos-pos terdekat untuk memperbarui perkenalan dengan garnisun yang ditempatkan di sana. Menjelang malam, perjalanan pulang dilakukan, dan prosesi bergerak dalam keheningan senja yang turun melewati desa-desa yang tersebar, yang dapat dikenali dari lampu-lampu kecil yang berkedip-kedip dalam kegelapan. Akhirnya, pantai teluk tercapai, di mana ibu kota, Ambon, bersinar di seberang seperti garis bercahaya. Dan diiringi nyanyian melankolis para pendayung, yang menggerakkan dayung di air dengan gerakan teratur, perahu orembai yang ramping melesat di permukaan air yang berkilauan, sementara angin sepoi-sepoi menyejukkan kepala yang panas. Akhirnya, perahu berlabuh di dermaga di depan Kastil Victoria, dan perjalanan pun berakhir.
Kompeni telah membentengi pantai ini secara menyeluruh, tidak hanya benteng Amsterdam di Hila yang terletak di sini, tetapi juga benteng Rotterdam di Larike dan benteng pertahanan Haarlemb, Leidenc, Vlissingen dan sejumlah benteng lain yang kurang penting, semuanya mengingatkan pada kota-kota terkenal di Belanda yang berperan penting dalam sejarah Republik Belanda Bersatu. Amsterdam, Rotterdam, Vlissingen, Haarlem dan Leiden... terdengar patriotik di tengah suburnya kemegahan alam tropis. Dari seluruh benteng besar dan kecil tersebut, reruntuhan benteng Amsterdam merupakan salah satu yang paling luar biasa di kepulauan Maluku1.
Di pantai laut di antara pepohonan lebat, reruntuhan muncul seperti bayang-bayang masa lalu dan hampir runtuh di bawah tekanan pohon beringin yang perkasa, yang mencengkram benteng goyah itu seolah-olah dengan cengkeraman besi. Jauh di atas reruntuhan tembok, pohon-pohon yang megah ini tumbuh tanpa ampun dan membentuk kanopi luas tanaman hijau abadi, di mana reruntuhan dapat terlindung dari hujan dan sinar matahari. Tidak ada yang mengganggu kesunyian peninggalan peninggalan zaman kompeni ini selain gemerisik beberapa kadal lucu di rerumputan tinggi dan lebat serta suara pekikan ribuan kelelawar yang membangun sarangnya di dahan pohon beringin dan di tumpukan batu reruntuhan. Di malam hari, mereka terbang dalam kelompok besar dengan kecepatan luar biasa mengitari reruntuhan yang sepi hingga sinar pertama matahari terbit membawa mereka kembali ke tempat tinggal mereka yang suram.
Ketika Kompeni memutuskan untuk menetap di sini, tugas pertamanya adalah membangun benteng kayu, yang kemudian diubah menjadi benteng batu dengan konstruksi yang lebih kuat. Ahli bangunannya adalah gubernur Ambon yang paling ditakuti, yang lambangnya pernah menghiasi dinding sisi kanan benteng pertahanan, yaitu Arnold de Vlamingh van Outshoorn, seorang pemberani dan sangat terampil. yang masih memegang peranan penting dalam banyak tradisi masyarakat Ambon.
Di tebing curam Hatoe Nukoe dekat desa Kaitetoe, yang terletak tidak jauh dari Hitoelama, tempat aliran sungai pegunungan Hoeloe terjun deras ke laut di jurang yang tak berdasar, pernah berdiri benteng Belanda pertama di kepulauan Hindia Timur, dan bendera tiga warna berkibar di sana untuk pertama kalinya. Dengan demikian, pada tahun 1600, bahkan sebelum berdirinya VOC, benteng itu dibangun di sini oleh Steven van der Hagen dengan bantuan orang Ambon. Namun, benteng ini tidak bertahan lama. Benteng itu segera ditinggalkan karena garnisun hampir punah akibat penyakit dan kekurangan makanan, dan serangan dari Spanyol dan Portugis dikhawatirkan akan terjadi.
Di sinilah, lebih dari tempat lain mana pun, orang pertama kali menyadari tragedi mendalam dari kehidupan berat para pegawai VOC pada tahun-tahun pertama keberadaannya. Batu karang yang terisolasi, tempat fondasi benteng yang telah lama lenyap masih terlihat, sangat tinggi, dan di atasnya para pelaut yang berani tetap membangun benteng, yang berhasil mereka pertahankan dengan segelintir tentara melawan penduduk yang tidak terkendali. Terpencil dan tidak terlindungi—karena benteng kecil yang rapuh dari batu karang itu tidak berarti banyak melawan kekuatan luar biasa penduduk pesisir—hanya mengandalkan keberuntungan dan kekuatan mereka.
Desa Assiloulu, yang terletak di seberang Kepulauan Nusatelo, juga disebut "Pulo Tiga", juga dikenal di zaman kuno oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Pada tahun 1511, jauh sebelum Belanda mendarat di wilayah ini, bangsa Portugis telah menginjakkan kaki di sini. Mereka tersesat dari kapal-kapal yang dikirim oleh Wakil Raja Portugis yang terkenal, Alfonso d’Albuquerque, ke Kepulauan Banda setelah penaklukan Malaka untuk mengambil rempah-rempah. Setelah perjalanan yang penuh petualangan, di bawah pimpinan Francisco Serrano, mereka mendarat di dekat pulau-pulau ini di Assiloeloe, yang secara keliru mereka sebut Rucutello. Gudang mesiu yang terawat baik masih menjadi saksi bisu benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1824.
Assiloeloe adalah salah satu desa terindah di pantai ini. Rumah-rumah bercat putih dan masjid dengan atap tiga bagiannya tercermin di perairan jernih yang kaya ikan, di mana jauh di dasar laut terbentang keindahan laut Maluku yang menakjubkan. Tiga pulau kecil, yang terletak berderet satu di belakang yang lain, membentang ke arah barat di depan teluk kecil desa yang ramah ini. Di pulau terbesar terdapat fondasi benteng segitiga Vlissingen, dari mana kita dapat menikmati pemandangan daratan sekitarnya yang menakjubkan. Lokasi benteng kecil ini memberikan bukti lebih lanjut tentang kebijakan militer VOC yang matang. Vlissingen tidak hanya mencakup jalur antara Ceram dan pantai Hitoe, tetapi juga jalur Klein Ceram [Seram kecil] dengan Hitoe, dan lebih jauh lagi pulau-pulau Manipa, Kelang, dan Amblauw.
Benteng kecil itu dibangun untuk mengekang kesombongan para bajak laut dan mencegah penyelundupan. Saat bahaya mendekat, sinyal segera diberikan ke daratan utama, yaitu Hitoe. Benteng Rotterdam, atau lebih tepatnya sisa-sisanya yang menyedihkan, terletak di muara sungai yang cukup lebar, tempat desa Larike berada. Sekilas, orang tidak langsung menemukan benteng tersebut, sehingga lahan tempat benteng itu pernah berdiri kini dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk asli. Dinding-dinding yang lembap tersembunyi di bawah lapisan tebal tanaman rambat dan tanaman invasif lainnya, yang, seperti karpet kasar, menutupi bukaan persegi kecil, pintu, gerbang kecil, dan batu atap pelana kecil yang indah2.
Reruntuhan benteng Rotterdam mengakhiri seluruh rangkaian reruntuhan besar dan kecil di Pantai Hitoe. Di penginapan yang telah didirikan oleh Pemerintah di desa-desa utama untuk kenyamanan para pelancong, orang-orang dari Ambon terkadang menginap, karena mereka cenderung menghabiskan hari libur mereka di sini. Sesekali, ada orang asing yang berkeliaran di sana di antara banyak reruntuhan yang, jika ia peka terhadap kesan masa lalu, masih mampu menceritakan banyak hal tentang sejarah Ambon, dalam keheningan khidmat kejayaan yang telah lenyap.
== selesai ==
Catatan kaki
1. Georgius Everhardus Rumphius tinggal di sini selama bertahun-tahun sebagai Kepala Hila.
2. Sekarang dipindahkan ke Gerbang Air Benteng Nieuw-Victoria, di Ambon.
Uit „Actueel Wereldnieuws” (Batavia) van 5 Maart 1932.
Catatan Tambahan
a. Kami belum menemukan sumber/arsip yang menyebut secara eksplisit identitas para Gubernur VOC Ambon yang “belibur” di pantai Hitu
b. Benteng Haarlem adalah nama awal atau sebutan lama bagi bagian dari Benteng Amsterdam yang terletak di perbatasan antara Negeri Hila dan Negeri Kaitetu, Kecamatan Leihitu,
Benteng Leiden berawal dari perkubuan atau rumah singgah sederhana yang dirintis oleh penjelajah Belanda Wybrand van Waerwyck saat berlabuh di Teluk Hitu Lama pada tahun 1599. Sempat dinamai Benteng Enkhuizen, sebelum akhirnya diubah menjadi Benteng Leiden oleh Gubernur VOC Arnold de Vlaming van Oudshoorn.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar