- Pendahuluan
Berbeda pendapat, pemikiran dan beragam hal dari yang remeh temeh hingga
serius adalah hal yang manusiawi dalam kehidupan. Benarlah kalimat
bijak..... rambut boleh sama-sama hitam, tetapi isi kepala tidaklah
sama. Perbedaan pendapat itu disebabkan oleh pola pikir dari
masing-masing individu yang berbeda, cara memandang sesuatu masalah dari
perspektif yang beragam.
Perbedaan pendapat di kalangan sarjana adalah hal intelektual itu sendiri.
Ada yang sependapat, tapi beberapa juga yang berbeda pendapat.
Artikel terjemahan ini, adalah fragmentasi dari perbedaan pendapat di
kalangan sarjana terkemuka di bidangnya. Ini bermula dari tinjauan/resensi dari
Chris. F. Fraasen terhadap salah satu karya sejarahwan Leonard Yuzon Andaya.
Pada tahun 1993, karya Andaya diterbitkan oleh University of Hawaii Press
dengan judul The World of Maluku : Eastern Indonesia in Early Modern.
Chris. F. Fraasen seorang antroplog asal Belanda yang meraih gelar PhD
dengan disertasinya tentang Ternate, melakukan riview atau tinjauan/resensi
terhadap karya Andaya ini. Sebenarnya, tinjauan Fraasen ini pertama kali dimuat
dalam Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde van
Nederlandsch-Indie volume 150, 2e aflevering tahun 1994, kemudian
dipublikasikan lagi oleh Journal Indonesia dari Cornel
University pada Oktober 1994 no 58 dengan versi yang lebih singkat. Versi
itulah yang kami terjemahkan ini.
Review dari seorang sarjana terhadap karya sarjana lainnya, merupakan hal
yang biasa dan perlu dalam dunia akademis, namun kali ini agak “berbeda” karena
tinjauan van Fraasen dianggap menyerang dan mendiskreditkan karya Andaya ini.
Pada salah satu alineanya, van Fraasen bahkan sampai menyebut kalau buku Andaya seperti produk turis bergelar sarjana..... dan dalam tanggapan baliknya, Andaya juga menyebut kalau rekonstruksi historis van Fraasen pada naskah disertasi PhD-nya dangkal dan tidak reflektif.
Kami merasa “perlu” menerjemahkan tinjauan review ini dengan 2
pertimbangan, yang pertama adalah bahwa apa yang dilakukan oleh 2 sarjana hebat
itu, adalah perspektif mereka terhadap sejarah orang kita, sejarah orang
Maluku. Kita perlu membacanya, sehingga minimal mengerti pola pikir dan produk
pemikiran “orang luar” terhadap sejarah kita sendiri. Yang kedua adalah kami
ingin menyajikan dan minimal menciptakan serta membiasakan “budaya” berdebat
itu sendiri bagi kita sendiri. Bakumalawang adalah hal yang
manusiawi, namun bakumalawang dengan argumentasi yang tertata,
nalar yang hebat akan menghasilkan sintesis dan antitesa dalam kehidupan
manusia.
Perlu dijelaskan juga, bahwa terjemahan “perdebatan” intelektual ini, kami bagi menjadi 2 bagian, dimana bagian pertama berisikan tinjauan van Fraasen serta tanggapan balik dari Leonard Andaya, bagian kedua berisikan “penjelasan” sejarahwan hebat lainnya Anthony Reid yang mencoba untuk “mendamaikan” perseteruan itu, dan tanggapan balik dari van Fraasen terhadap apa yang ditulis oleh Reid.
Leonard Yuzon Andaya adalah Profesor sejarah yang banyak menulis buku-buku dan artikel bermutu tentang sejarah Asia Tenggara, misalnya The Heritage Arung Palaka (1981), Leaves of the same tree : Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka (2008), The Kingdom of Johor (1975), History of Malaysia bersama istrinya Barbara Watson Andaya (1982, 2000), Centers and Peripheries in Maluku (1993), Local Trade Networks in Maluku in 16th, 17th, 18th centuries (1991), The Bugis-Makasar Diasporas (1995), The social value of Elephant tusks and bronze drums among certain societies in eastern Indonesia (2016) dan lain-lain.... sedangkan Chris F. Fraasen juga menulis beberapa artikel bermutu dan mengeditori sumber-sumber sejarah Maluku Tengah seperti Drie plaatsnamen uit oost-indonesie in de Nagara-Kertagama : Galiyao, Muar en Wwanin en de vroege handels-geschiedenis van de Ambonse Eilanden (1976), Atjeh en de Islam (1970), Islam in de Molukken (2003), Bronnen Betreffende de Midden Molukken 1796 – 1902 (1997), Bronnen Betreffende de Midden Molukken 1902 – 1942 (1997).... Anthony Reid juga dikenal sebagai seorang pakar sejarah Asia Tenggara dengan buku-bukunya yang terkenal seperti Southeast Asia in the age of commerce 1450 – 1680, 2 volume (1988, 1993), The Blood of the people (1979).
Akhir kata selamat membaca... selamat menikmati perdebatan intelektual para sarjana yang telah menghasilkan karya-karya bermutu itu... semoga kita bisa belajar menghargai, menghormati pendapat dan pemikiran orang lain, meski sangat bertentangan dengan pemikiran kita, semoga kita bisa mengambil manfaat dari perdebatan intelektual mereka.
- Terjemahan
Kritikan Chris.F. van Fraasen
Buku The
World of Maluku meliputi (kajian) tentang 3 abad interaksi orang Eropa
dan Maluku (sejak abad ke-16 hingga ke-18). Maluku, yang lebih tepat
kata Maluku adalah (hanya terdiri dari 4 wilayah yaitu Ternate, Tidore,
Jailolo dan Bacan), tumpang tindih dengan bagian Provinsi Maluku Utara
dewasa ini. Keempat wilayah ini, penting dalam sejarah Indonesia karena sebuah
fakta bahwa hingga abad ke-16, wilayah itu mengendalikan produksi cengkih dunia
secara total. Posisi kekuasaan para penguasa di 4 wilayah ini, didasarkan pada
daya cengkeraman mereka pada produksi dan perdagangan cengkih, yang sangat
diminati di Asia dan Eropa. Portugis dan Spanyol tertarik oleh perdagangan
cengkih dari awal abad ke-16, dan mereka menciptakan aliansi masing-masing
dengan Ternate dan Tidore. Pada awal abad ke-17, Perusahaan Hindia Timur
Belanda (VOC) menjadi kekuatan Eropa yang dominan di Maluku. Pada masanya, VOC
menciptakan monopoli dalam hal membeli dan memperdagangkan cengkih, menghalangi
semua perdagangan bebas, dan mengendalikan kehidupan politik di Maluku.
![]() |
Buku Leonard Y Andaya (versi terjemahan Indonesia) |
Deskripsi
tentang apa yang disebut oleh Andaya sebagai “Dunia Eropa” pada dasarnya adalah
sinopsis dari beberapa buku tentang masalah ini. Lebih sulit adalah deskripsi
dan analisis tentang “Dunia Maluku”. Andaya benar saat mengamati (dan
menyatakan) : “Menyarankan apa yang mungkin menjadi
keprihatinan/kekhawatiran utama orang Maluku di masa lalu adalah perkara yang
sangat beresiko” (halaman 21). Namun demikian, ia tampaknya cukup
yakin dengan dirinya sendiri, saat menulis : “ Ada cara khusus
orang-orang Maluku untuk mengatur dan menafsirkan sejarah mereka. Ketika
peristiwa dalam periode yang diteliti/dikaji ditempatkan dalam konseptual
kerangka kerja orang-orang pribumi ini, kegiatan baik dari orang luar dan
penduduk pribumi memperoleh arti penting khusus yang memberikan penafsiran
khusus tentang masa lalu Maluku” (halaman 22). Nilai
pernyataan ini sangat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman Andaya tentang
“konseptual kerangka kerja orang pribumi”. Andaya tidak menggunakan
sumber-sumber tertulis Maluku yang paling penting yang tersedia (yaitu Sejarah
Ternate, yang disusun oleh Naidah, yang diterbitkan pada tahun 1878a,
dan Hikayat Ternate, yang disimpan di Perpustakaan Universitas
Leiden)1. Satu-satunya sumber tertulis Maluku yang disebutkan dan
digunakan oleh Andaya adalah esai yang diketik, disusun pada tahun 1979. Selain
itu, ia tidak terlalu tekun “berkonsultasi” dengan sumber-sumber Eropa dimana
konseptual kerangka kerja Maluku dijelaskan dan dianalisis. Lebih
jauh lagi, sejumlah pernyataan secara jelas didasarkan pada penggunaan kerangka
kerja teoritis yang tidak kritis, yang dikembangkan oleh para antropolog.
Beberapa
contoh yang dipilih secara acak, akan cukup untuk menggambarkan poin-poin
penting ini. Cukup banyak kata-kata, istilah dan nama-nama dalam bahasa Maluku,
yang keliru diterjemahkan/ditafsirkan. Gelar asli dari “prime minister/perdana
menteri” atau vizir bukanlah jogugu (yang ditafsirkan
sebagai versi singkat dari kolano magugu oleh Andaya dan diterjemahkan sebagai
“the lord who holds the kingdom in his hand”) tetapi yang sebenarnya
adalah gogugu, yang secara literal bermakna
“manager”. Kata Fato tidak bermakna “ to
tell the history” tetapi yang benar adalah “to order”; kata bobato tidak
bermakna “that which gives order” tetapi yang benar adalah “he
who brings order”. Kata Guna tidak bermakna “fortune” tetapi
bermakna “usefulness, virtue, quality”.
Cara Andaya mengelola sumbernya, diilustrasikan dengan sempurna dengan
membandingkan ekstrak dari The Treatise (yang oleh Andaya
dianggap berasal dari tanpa menyebutkan Galvao) dengan ekstrak dari penelitian
Andaya berdasarkan ekstrak yang relevan dari The Treatise.
- Lihat Ch. F. van Fraassen, 'Ternate, de Molukken en de Indonesische Archipel; van soa organisatie en vierdeling," 2 vols. (PhD dissertation, University of Leiden, 1987), 1: 9-11
- H. Jacobs, ed., A Treatise on the Moluccas (c. 1544). Probably the preliminary version of Antonio Galvao's Histioria das Molucas. (Rome, 1971), p. 113.
- For the relationship between royalty and Islam in Ternate, see van Fraassen, 'Ternate," vol. 1, pp. 32-33, 344
- Ibid., vol. l,p. 41
Suatu
tanggapan terhadap suatu ulasan dapat merangsang perdebatan yang penting, jika
ulasan tersebut bijaksana dan karenanya mendorong penilaian lebih lanjut dari
subjek tersebut. Namun, dalam masalah ini, saya tidak bisa merespon dengan cara
yang saya inginkan, karena ulasan dari Dr van Fraasen bahkan belum mulai
membahas masalah utama buku ini. Alih-alih, ia hanya berfokus pada beberapa
“kesalahan” yang terisolasi untuk “membuktikan” bahwa The World of
Maluku adalah karya ilmiah yang tidak rapi. Ini adalah tuduhan serius yang
meragukan kemampuan saya, untuk membaca dan menafsirkan sumber-sumber yang
menjadi dasar dari semua publikasi saya sebelumnya selama 20 tahun terakhir.
Meskipun saya ingin membahas masalah-masalah penting yang diangkat dalam buku
ini, saya khawatir bahwa tekanan dan nada ulasan van Fraasen, membuat saya
tidak punya pilihan lain selain menghadapi tuduhan-tuduhan ini.
Tuduhan
van Fraasen tentang sarjana yang buruk terletak pada keyakinannya, bahwa saya
tidak berkonsultasi dengan sumber-sumber tertentu dan salah membaca sumber-sumber
seperti yang saya lakukan. Jelaslah, bahwa dia (van Fraasen) sama sekali tidak
memperhatikan masalah historiografi dan keterbatasannya, yang telah coba saya
jelaskan dalam Kata Pengantar. Merupakan keputusan saya untuk mengandalkan
sejauh mungkin pada catatan sesuai dengan periode yang dibahas. Menyarankan
bahwa saya sebaiknya berkonsultasi dengan karya-karya dari periode kemudian
untuk kerangka kerja konseptual ini, akan bertentangan dengan metodologi yang
saya terapkan. Ini merupakan alasan bahwa karangan Naidah dan Hikayat
Ternate tidak termasuk dalam rekonstruksi kerangka kerja konseptual Maluku
pada periode moderen awal. Kedua karya itu dikonsultasikan tetapi tidak
tercantum dalam daftar pustaka, karena saya hanya memasukan karya-karya yang
dikutip dalam teks buku itu sendiri.
Berkenaan dengan tuduhan tersirat van Fraasen, bahwa saya tidak memiliki
pengetahuan dan pemahaman tentang kerangka kerja konseptual masyarakat pribumi,
saya hanya bisa merujuknya sekali lagi ke Kata Pengantar. Saya telah
menjelaskan kepada pembaca bahwa saya menyadari terlibatnya
masalah-masalah historiografi dalam usaha merekonstruksi sudut
pandang “kaum pribumi”, tetapi bersedia mengambil resiko itu berdasarkan
pembacaan yang cermat atas sumber-sumber (halaman 7-8). Apa yang ingin saya hindari
adalah persis seperti cara yang van Fraasen ingin saya lakukan : yaitu, untuk
berkonsultasi dengan “sumber-sumber Eropa dimana kerangka kerja konseptual
Maluku dijelaskan dan dianalisis”. Tidak diragukan lagi, apa yang
ada dalam pikiran van Fraasen adalah rekonstruksi, termasuk miliknya sendiri,
berdasarkan materi dari periode kemudian daripada abad-abad yang sedang
diteliti/dibahas. Meskipun tentu saja menyadari rekonstruksi ini, saya
menyadari hal itu tidak memuaskan karena hal itu tidak mencerminkan masyarakat
yang digambarkan dalam sumber-sumber kontemporer.
Tuduhan bahwa bagian pada Dunia Eropa “ pada dasarnya adalah
sinopsis dari beberapa buku populer tentang masalah ini”, tidak hanya tidak
akurat tetapi juga menunjukan kesalahpahaman yang mencolok dari seluruh
akumulasi penelitian sejarah. Karena saya sedang menjelajahi bidang baru, saya
mengandalkan saran dari sejarahwan Eropa abad pertengahan dan berusaha memilih
sumber-sumber yang paling cocok untuk menangkap rasa dunia eropa moderen awal.
Apa yang oleh van Fraasen dengan cara meremahkan, disebut sebagai “sinopsis”,
sebenarnya adalah sintesis pendapat para ahli tentang subjek tersebut. Pada
bagian Dunia Eropa, saya membahas beberapa kepercayaan bersama
berdasarkan tradisi klasik dan kristen, tetapi juga menyoroti perbedaan
pra-okupasi nasional antara Portugis, Spanyol dan Belanda. Justru karena
penolakan van Fraasen terhadap diskusi ini, ia hanya membuat apa yang hanya
dapat disebut sebagai pernyataan yang terinformasi mengenai aliansi Eropa
dengan dunia kaum pribumi.
Dengan cara yang sama, van Fraasen menuduh saya tentang “penggunaan
kerangka teoritis yang tidak kritis yang dikembangkan oleh para antropolog”,
namun gagal menyebutkan apa yang menurutnya tidak kritis tentang penggunaan
kerangka itu oleh saya. Karena disiplin ilmu antropologi dan sejarah telah
memiliki hubungan yang sangat bermanfaat dalam studi Asia Tenggara pada umumnya
dan Indonesia Timur pada khususnya, akan lebih konstruktif, jika van Fraasen
mencoba untuk memajukan bidang ini, dengan menyumbangkan ide-idenya ke
perdebatan.
Sisa dari tinjauan itu adalah serangan acak terhadap berbagai pernyataan
yang dibuat dalam buku ini, dalam upaya untuk menunjukan kesalahan saya dalam
membaca sumber. Van Fraasen pertama-tama mempertanyakan intepretasi saya
tentang istilah-istilah dalam bahasa Maluku dan Melayu. Ini pada dasarnya
bermuara pada pilihan antara penafsirannya dan penafsiran saya. Saya telah
memberikan catatan kaki dalam buku saya, sumber-sumber untuk definisi saya
tentang istilah-istilah bahasa Maluku, dan saya tidak melihat alasan untuk
menerima argumennya sendiri. sejauh definisi kata Melayu yaitu guna yang
dipersoalkan, saya ingin mengutip R.J. Wilkinson, seorang sarjana sastra Melayu
klasik yang terkenal. Ia menelusuri kata itu dalam arti bahasa Sansekerta yaitu
“ virtue in anything”. Ia kemudian menawarkan 2 pengertian kata itu dalam
bahasa Melayu, yang pertama dan yang paling penting diantaranya adalah “magical
potency”1. “Magical potency” ini tepatnya adalah konotasi yang ingin
saya sampaikan saat memilih kata “fortune” sebagai padanan terdekat dalam
Bahasa Inggris. Kata-kata seperti kata guna dengan kesan kuat pada
potensi spiritual/magis tidaklah khas di kepulauan ini, tetapi juga ditemukan
di dataran Asia Tenggara dan Pasifik (halaman 51).
Van Fraasen kemudian mencoba untuk “membuktikan” penyalahgunaan sumber saya
dengan mengutip abstrak dari The Treatise karya Galvao dan sumbangan
saya tentang itu. Saya gagal melihat dimana saya menyalahgunakan informasi
tersebut. Dalam analisis saya tentang The Treatise dan
catatan-catatan Eropa kontemporer, saya telah berusaha mengkontekstualisasikan
materi dan menafsirkannya dalam konteks ini. Pendekatan sederhana
van Fraasen terhadap sumber-sumber historis, tidak hanya terbukti dalam
contoh-contoh yang ia kutip dalam ulasan; juga tampak jelas dalam rekonstruksi
historis yang dangkal dan tidak reflektif yang ditemukan dalam disertasi
PhD-nya, yang juga dikutip olehnya untuk membantah penafsiran saya
tentang masa lalu Maluku.
Contoh ketidakmampuan van Fraasen, untuk memahami pernyataan yang dibuat
dalam kajian ini, adalah serangannya terhadap klaim saya, bahwa Islam
memberikan dasar penting bagi otoritas kerajaan di Maluku. Untuk membantah
argumen ini, ia mengutip kasus masyarakat Minangkabau dan Polinesia yang
katanya memiliki otoritas kerajaan yang “kuat” tanpa Islam. Tetapi, pandangan
saya adalah bahwa Islam, walaupun mungkin yang paling penting, hanyalah satu
dari beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kekuasaan kerajaan di Maluku;
saya sama sekali tidak berpendapat bahwa Islam penting untuk otoritas kerajaan
yang kuat. Siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang perkembangan historis
Islam di kepulauan itu akan sedikit menemukan kontroversial dalam pengamatan
saya tentang peran penting Islam dalam evolusi otoritas kerajaan di kawasan itu2.
Pembacaan buku saya yang sangat selektif oleh van Fraasen terasa mengganggu
dan menimbulkan keraguan, apakah ia benar-benar berusaha untuk menilai suatu
kajian hanya menurut persyaratan-persyaratannya sendiri. Contoh yang paling
jelas, adalah pernyataanya bahwa saya telah secara tidak kritis menggunakan
sumber Valentijn dalam memahami Fala Raha (four houses) sebagai
pemimpin dalam ekspansi awal Ternate. Dia kemudian “membetulkan” apa yang saya
tulis pada halaman 83, dengan mengatakan bahwa sebenarnya hanya 2 “houses” yang
terlibat. Namun, hanya 1 halaman kemudian, saya membuat kualifikasi itu, dan
melacak evolusi keterlibatan keluarga Tomagola dan Tomaitu. Jika saya mengikuti
logika yang diadopsi dalam ulasan van Fraasen, saya juga bisa menunjukan
kesalahannya dalam membaca atau kekeliruannya sebagai contoh dari “sarjana yang
tidak kritis dan ceroboh”.
![]() |
Buku Leonard Y Andaya |
Sangat disayangkan bahwa van Fraasen mengabaikan isu-isu utama dari The
World of Maluku dan hanya memusatkan perhatiannya pada poin-poin
terisolasi dalam upaya untuk mendiskreditkan historisitas buku ini. Sebagai
seorang etnografer, ia mungkin tidak nyaman mengomentari tentang masalah
historiografi yang dikaji, tetapi dialog yang berkembang antara sejarahwan dan
atropolog, terutama dalam studi Asia Tenggara, seharusnya membangkitkan
beberapa komentar menyangkut pendekatan saya yang khusus. Sulit untuk menjelaskan
kegagalannya dalam hal mendiskusikan ide-ide saya tentang dualisme/dualitas,
hubungan pusat-pinggiran, dan saling mempengaruhinya antara konsep
waktu dan peristiwa bagi orang Eropa dan orang Maluku. Dia tampaknya puas hanya
untuk menyatakan ketidaksetujuannya.
Sebagai contoh, van Fraasen dengan yakin menyatakan bahwa saya belum
menunjukan keberadaan 2 gagasan Eropa dan Maluku yang berbeda tentang waktu dan
kemajuan. Namun keseluruhan Bab 2 adalah catatan interaksi antara 2 konsep yang
berbeda ini, perbedaan yang dibahas dalam Kata Pengantar dan tercermin dalam
pilihan judul bab yang saya pilih. Kekhawatiran akan pemeliharaan dualitas
antara Ternate dan Tidore, dan kemampuan Nuku untuk mempertahankan
pemberontakan yang panjang dan sukses, dengan memohon “restorasi” adalah semua
bagian dari pandangan siklus Maluku tentang waktu, yang diawali melalui
penghancuran Jailolo di awal abad ke-16 dan memuncak dengan munculnya Nuku pada
akhir abad ke-18.
Hanya pada 1 kesempatan van Fraasen mengangkat masalah hubungan pusat-pinggiran, tetapi
hanya untuk menolak kesimpulan saya tanpa ada diskusi lebih lanjut. Dia hanya
mempertanyakan pernyataan saya, bahwa “ sifat alami pertukaran produk
dan jasa untuk barang-barang prestisius dan berkah spiritual itu sama sekali
tidak dianggap sebagai sebagai suatu pengaturan yang tidak setara dan
menindas” (halaman 112). Pada tahun 1993, sebuah karya diterbitkanc yang
nampaknya terlambat untuk dimasukan kedalam kajian saya sendiri. Itu menunjukan
bahwa karakterisasi saya tentang hubungan pusat-pinggiran di Maluku
pada periode moderen awal adalah hal umum bagi banyak masyarakat. Dalam
bukunya Craft and the Kingly Idea, Mary. W. Helms menggambarkan
hubungan antara “superordinat center” (seperti Ternate dan Tidore) dengan “acquisitional
societies” (atau pinggiran), dimana materi dan nilai-nilai simbolis dari
benda-benda terjalin menjadi satu sama lain melalui pengaturan yang
menguntungkan. Yang pertama memperluas artefak budaya, gelar, busana dan
lain-lain ke yang terakhir sebagai cara untuk memperkuat sentralitasnya;
sedangkan yang terakhir memperoleh objek-objek ini dari yang pertama untuk
membangun program-program politik-ideologisnya sendiri sehubungan dengan
“pinggirannya”3. Argumen sentral yang dikemukakan adalah bahwa kerangka kerja
konseptual masyarakat pribumi, yang melibatkan struktur kosmologis dan tindakan
transformasi yang signifikan, secara politis mendorong penyatuan kegiatan
ekonomi dan simbolik menjadi penjelasan budaya tunggal4. Kasus-kasus
hubungan pusat-pinggiran yang saya jelaskan dalam kajian saya, adalah
contoh yang jelas dari postulat-postulat Helms, yang dengan sendirinya
didasarkan pada sejumlah etnografi.
Saya telah berusaha menjawab kritik van Fraasen poin demi poin karena saya merasa bahwa adalah hal yang serius untuk menuduh akademisi manapun sebagai sarjana yang “tidak kritis dan ceroboh”. Selama 2 dekade terakhir, saya percaya saya telah menunjukan perhatian yang cukup dalam penelitian dan tulisan saya untuk dianggap sebagai sejarahwan yang memiliki nama baik. Saya percaya itu adalah tanggungjawab sejarahwan, tidak hanya untuk menawarkan rekonstruksi masa lalu, tetapi juga untuk menyarankan cara-cara dimana masa lalu dapat dieksplorasi lebih efektif dan lebih mudah dipahami. Untuk masalah-masalah itulah, saya menulis buku ini. Yang bisa saya harapkan adalah mereka yang membaca karya saya, akan senang dengan beberapa temuannya dan terangsang untuk memperluas penyelidikan akademik secara positif.
![]() |
Leonard Y Andaya bersama sang istri Barbara Watson |
- Sejarah Ternate yang disusun oleh Naidah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dengan judul Geschiedenis van Ternate...... oleh Petrus van der Craab, orang yang pernah menjadi Residen van Ternate (1863 – 1866).
- Gubernur Ternate yang dimaksud oleh van Fraasen adalah Laurens Reael (1616 – 1621), sedangkan Gubernur Ambon adalah Steven van der Haghen (1617 – 1618). Perdebatan antara J.P. Coen dengan Laurens Reael dan Steven van der Haghen dapat dibaca dalam kajian M.A.P. Meilink – Roelofs berjudul Asian Trade and European Influence: In the Indonesian Archipelago between 1500 and 1630, Den Haag, Martinus Nijhoff, 1962 atau edisi terjemahan Indonesianya : Persaingan Eropa & Asia di Nusantara : Sejarah Perniagaan 1500 – 1630, Jakarta, Komunitas Bambu, 2016 (hal 193 – 213)
- Karya yang dimaksud oleh Leonard Andaya adalah artikelnya sendiri yang berjudul Centers and Peripheries in Maluku (dimuat pada Jurnal Cakalele, volume 4, 1993, halaman 1 – 21)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar