Rabu, 31 Desember 2025

Penghormatan Rumphius di Ambon


[Bintang Djaoeh]

 

A.      Kata Pengantar

Rumphius, selalu menjadi bagian integral dari historiografi sejarah Ambon. Sejak tahun 1653 hingga meninggalnya di Ambon pada tanggal 15 Juni 1702, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Pulau Ambon. Kurang lebih 50 tahun hidupnya di Ambon itulah, ia mempersembahkan pengetahuannya untuk menulis banyak hal tentang Ambon, baik sejarah, maupun flora fauna Maluku, serta menyampaikan gagasan dalam pembangunan beberapa benteng.

Seperti disebutkan di atas, Rumphius meninggal di Ambon pada 15 Juni 1702 dan dimakamkan di tempat yang merupakan bagian “kintal” rumahnya dan kemudian didirikan monumen atau “mausoleum” kuburannya. Artikel atau tulisan yang diterjemahkan ini menceritakan tentang monumen kuburannya, dengan perayaan 200 tahun kematian Rumphius di Ambon pada 15 Juni 1902 sebagai “pintu masuk” untuk menginformasikan lebih jauh tentang monumen kuburan Rumphius. Tulisan ini ditulis oleh seorang penulis yang menggunakan nama pena Bintang Djaoeha dengan judul Rumphius op Ambon geëerd, dimuat di “majalah” Eigeen Haard, edisi nomor 37, tanggal 13 September 1902, pada halaman 580 – 583. Tulisan ini sebenarnya adalah “sekuel” dari tulisannya tentang Rumphius juga yang dimuat pada edisi nomor 24, tanggal 14 Juni 1902. 

Mungkin, banyak dari kita yang belum tahu, bahwa monumen kuburan Rumphius di Ambon yang kita lihat di masa kini, adalah monumen “kedua” yang telah “direnovasi” dari monumen “pertama” yang dirusak oleh para penjarah di masa pemerintahan interegnum Inggris I. Informasi penting ini disampaikan oleh sang penulis yang mendasari informasi ini dari sumber-sumber tertulis, pada dekade-dekade awal abad ke-19 dan akhir abad ke-18.

Kami menerjemahkan artikel ini dan menambahkan sedikit catatan tambahan, beberapa foto/lukisan, untuk “melengkapi” 2 foto serta 1 catatan kaki yang dimuat oleh penulis pada naskah aslinya. Kiranya tulisan ini bisa bermanfaat dalam menambah wawasan kesejarahan kita tentang sejarah Ambon, dan memperkuat kepedulian kita terhadap situs-situs sejarah yang suka tidak suka turut membentuk “sejarah kehidupan” kita di masa kini.

 

B.      Terjemahan

Sebagai tambahan kecil untuk artikel tentang Rumphius, yang diterbitkan di majalah ini pada Hari Peringatan (lihat halaman 381)b, kini kami memiliki kesempatan untuk menunjukkan dua cuplikan upacara sederhana pada hari yang sama di Amboina. Seseorang yang baik hati mengirimkan kepada kami dua foto tersebut, yang diambil oleh guru Ambon, P. Najoanc, tetapi dengan permintaan tegas agar pengirimnya (yang mungkin saja seorang perempuan) tidak disebutkan. Kita harus menghormati hal ini, dengan ungkapan terima kasih yang tulus di seberang lautan luas. 

Beberapa penduduk Ambon telah merencanakan untuk mengunjungi makam Rumphius pada tanggal 15 Juni untuk memberikan penghormatan kepadanya dalam beberapa bentuk. Kebetulan, inisiatif ini diambil oleh Resident setempat, Tuan E. van Assend, yang telah mengirimkan undangan seminggu sebelumnya.

Bahkan sebelum pukul tujuh pagi pada hari Minggu tanggal 15, Olifantstraate sudah ramai dengan aktivitas. Beberapa pria berpakaian serba hitam, sudah sejak pagi hari mengenakan "pakean deftig" (pakaian pesta), terlihat berjalan keluar. Beberapa wanita bahkan berani melepaskan sarung dan kebaya mereka yang nyaman untuk sementara waktu di pagi hari. Tampaknya akan hujan, tetapi untungnya cuaca tetap cerah. Tepat pukul tujuh, Resident setempat tiba di halaman tempat rumah Rumphius pernah berdiri dan di dalamnya terdapat tugu peringatan yang didirikan pada tahun 1824. Monumen sederhana itu—foto/gambar yang jelas sudah muncul di halaman 383 volume inif—sebelumnya telah dipugar dengan cermat.

Setelah semua orang berkumpul, Resident setempat berbicara dan, sambil membuka selembar kertas, memberikan pidato singkat di mana ia mengenang jasa-jasa fisikawan hebat itu dan makna khusus hari ini. Yang Mulia berkesempatan untuk memberikan gambaran umum tentang karya dan tulisan Rumphius, dengan beberapa detail dari kehidupan aktif "peramal buta" itu. Ia mengakhiri pidatonya dengan penghormatan kepada mendiang cendekiawan yang namanya dikaitkan dengan Ambon. Beberapa saat kemudian, semua orang pulang, dan tugu peringatan itu kembali ke ketenangan lingkungan sekitarnya yang rimbun. 

Foto Monuman Makam Rumphius, ca. 1898 [Paulus Najoan]

Salah satu foto/gambar kami menunjukkan para tokoh Ambon berkumpul di sekitar monumen sementara Resident setempat menyampaikan pidatonya. Foto lainnya diambil saat meninggalkan tempat tersebut, Resident setempat berdiri di pintu masuk di antara pengunjung lain dan siap untuk kembali ke keretanya. Rumphius tidak selalu dihormati di Ambon sesuai dengan jasanya.

Kami mengambil kesempatan yang tidak diminta ini untuk berbagi sesuatu tentang sebuah monumen makam Rumphius yang lebih tua. Detail tentang hal ini baru-baru ini dikumpulkan dalam buku Rumphius-Gedenkboekg, khususnya oleh G. P. Rouffaer, yang  bekerja sama dengan W. C. Muller, menghasilkan bibliografi yang sangat pentingh, yang secara sederhana disebut sebagai "upaya pertama," dan dengan demikian menghasilkan karya yang sangat luas dan sulit. Sebagai hasil dari studi perbandingan sumber yang cerdas, kami mengizinkan diri kami sendiri untuk memberikan ringkasan berikut mengenai kasus yang dimaksud.

Pada abad ke-18, sebuah monumen pasti telah didirikan di makam Rumphius, tepatnya di tempat ia dimakamkan. Namun, monumen ini dihancurkan pada akhir abad itu atau awal abad ke-19!!!. Hanya ada satu catatan yang diketahui tentang seseorang yang melihat monumen ini dalam keadaan aslinya. Orang Prancis Labillardièrei, yang merupakan bagian dari ekspedisi pencarian La Pérousej dan yang tiba di Ambon pada September 1792, mengunjungi makam Rumphius, yang saat itu dihiasi dengan sebuah makam yang ia sebut dengan sederhana:

"Fakta sederhana dari monumen ini mengingatkan kita pada kenangan menjadi pengamat alam yang baik: makam ini dikelilingi oleh pohon arbuste yang indah yang dikenal dengan nama panax fruticosusk."

[“La simplicité de ce monument nous rappela celle des moeurs de eet habile observateur de la nature : sa tombe étoit entourée du joli arbuste connu sous le nom de panax fruticosus”]

 

Hal ini membuktikan bahwa makam Rumphius di Batu Gadjah ditandai dengan sebuah monumen, yang menurut saksi mata ini, adalah sebuah makam sederhana. Sejarawan alam Prancis, Lessonl, yang tiba di Ambon dengan kapal korvet dan tinggal di sana selama lebih dari tiga minggu pada Oktober 1822m, tidak menemukan monumen ini dalam kondisi baik. Ia menggambarkan dalam bukunya (Brussel, 1839n) bagaimana, di halaman tertentu, perhatiannya tertuju pada sebuah kursi bambu yang megah dan betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa tanaman-tanaman ini menaungi tempat peristirahatan terakhir pria yang telah memberikan jasa besar bagi ilmu pengetahuan. Beberapa langkah jauhnya terdapat dua sisa makam: yaitu alas yang dulunya menopang kolom-kolom makam marmer. "Sekitar 20 tahun sebelum kunjungan kami," -lanjutnya - , "pemilik baru situs tersebut telah menghancurkan monumen itu dan menjual materialnya dengan harga tinggi; karena marmer dan batu kapur halus berasal dari Eropa dan sangat dicari di Ambon." Penulis kemudian melaporkan bahwa, karena marah atas tindakan vandalisme yang keterlaluan ini, ia berbicara kepada Gubernur Maluku saat itu, Pieter Merkuso, dan bahwa Merkus, yang juga antusias tentang hal ini, meyakinkannya bahwa batu nisan yang rusak akan diperbaiki dengan biaya negara. Janji ini memang dipenuhi, dan cukup cepat, karena enam bulan kemudian, pada April 1824, tugu peringatan yang sekarang ada didirikan oleh Gubernur Jenderal Baron van der Capellenp, sehingga memenuhi permintaan Gubernur Ambon. 

Lukisan Makam Rumphius ca. 1828 - 1829 (Pieter van Oort)

Laporan kedua orang Prancis ini sekarang dikonfirmasi secara luar biasa dalam karya Latin penting tentang Rumphius oleh C. L. Blumeq (Leiden, 1835-1848r). Ia menggambarkan lahan di Batoe Gadjah, "taman makam Tuan Rumphius," sebagaimana tempat di Ambon disebut, dan ia menceritakan hal berikut. Selama lebih dari satu abad, sebuah makam di sini menutupi sisa-sisa Rumphius. Tempat itu sangat dihormati oleh penduduknya, baik Kristen maupun Muslim, dan mereka memastikan bahwa kerusakan akibat waktu tidak mempengaruhinya. Oleh karena itu, dapat dimengerti betapa marahnya mereka ketika, di bawah pemerintahan Inggris, batu nisan suci ini dijual dan makam Rumphius dinodai oleh penjual yang jahat. Hal ini tampaknya disebabkan oleh keinginan jahat untuk mendapatkan keuntungan yang mendorong para penjual itu untuk menjualnya kepada gubernur Inggris. Gubernur berharap menemukan barang-barang berharga di sana, seperti di makam-makam lain yang dinodai selama periode yang sama. Namun, dikatakan bahwa pencarian barang-barang berharga itu sia-sia di makam ini. Untuk meredakan ketidakpuasan umum atas kejahatan ini, ia memang memulihkan makam itu sampai batas tertentu, tetapi dianggap terlalu dinodai untuk memerlukan perawatan lebih lanjut dengan menghilangkan alang-alahg dan gulma liar lainnya. 

Blume menyebutkan W. J. Cranssen, seorang kenalan pribadinya, sebagai informannya. Cranssen pernah menjabat sebagai Gubernur Amboina pada tahun 1802, diberhentikan oleh Daendels pada tahun 1809, dan kemudian diangkat menjadi Presiden van de Schepenen di Batavias. Ia adalah teman Inggris dan menjadi anggota Dewan Hindia di bawah Rafflest. Oleh karena itu, kesaksiannya sangat penting. Kemungkinan besar, terutama berkaitan dengan apa yang dilaporkan Lesson, bahwa penodaan makam terjadi antara tahun 1796 dan 1802, ketika Ambon juga berada di bawah kekuasaan Inggris, sehingga sebelum masa jabatan Cranssen sebagai gubernur, dan bukan pada periode selanjutnya dari tahun 1810 hingga 1817, ketika wilayah tersebut kembali berada di bawah kekuasaan Inggris.

Ketika monumen yang ada saat ini didirikan pada tahun 1824, orang-orang begitu yakin akan penodaan makam tersebut sehingga hal itu dicatat pada monumen itu sendiri. Prasasti tersebut tertulis sebagai berikut:

 

M S

GEORGII EVERARDI

RUMPHII

DE RE BOT ET HIST NAT

OPT MER

TUMULUM

DIRA TEMP CALAM ET SACRIL MANUFERE

DIRUTUM

MANIB PLACATIS

REST JUSSIT

ET

PIET REVERENT PUBL TESTIF

H M

IPSE CONSECR

GODARDUS ALEXANDER

GERARDUS PHILIPUS

LIBER BARO A CAPELLEN

TOT IND BELG

PRAEF REG

--------------

AMBOINAE A.D. MENS APRILIS

A.D. MDCCCXXIV

 

Kalimat di atas dibaca :

Memoriae sacrum Georgii Everardi Rumphii de re botani et historiae naturaal optime merits tumulum dira temp calam et sacril manufere dirutum manib placatis rest jussit et pi et reverent publ testif h.m ipse consecr Godardus Alexander Gerardus Philippus Liber Baronees A Capellen totius indiae belgica Praefectus Relgius.

Amboinane Ante Diem Mensis Aprilis Anno Domini MDCCCXXIV

 

Atau terjemahannya kira-kira seperti ini:

G. A. G. P. Baron de Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, telah memerintahkan, bahwa, — didedikasikan untuk mengenang George Everard Rumphius yang paling berjasa dalam bidang botani dan sejarah alam, — oleh tangan yang kotor dan tidak suci dari batu nisan yang hampir hancur, — dengan tangan yang saling mencium akan dipulihkan dan dia sendiri, sebagai bukti tugas dan kehormatan publik, telah meresmikan monumen ini. Amboina (8) April 1824.

Di mana kata-kata yang diberi spasi dalam kedua teks tersebut mengklaim memberikan konfirmasi dari atas. Pertanyaan mungkin muncul karena siapa atau di bawah pengaruh siapa mauloseum pertama didirikan di tempat peristirahatan terakhir Rumphius. 

Lukisan Makam Rumphius ca. 1830 - 1835

Dalam studinya yang menarik, Tuan Rouffaer sampai pada dugaan yang sangat masuk akal, bahwa hal ini terjadi pada awal abad ke-18, di bawah salah satu dari dua gubernur Ambon, yaitu Baltazar Coyet (1701–1706) dan Adriaan van der Stel (1706–1720). Keduanya adalah pecinta lukisan alam, sebagaimana dibuktikan oleh sebuah karya folio dengan 100 lempengan besar yang menampilkan ratusan figur. Judul buku ini : "L. Renard. Poissons, écrevisses et Crabes, de diverses couleurs et figures extra-ordinaires, que l’on trouve autour des Isles Molusques et sur les eötes des Terres Australes; dengan kata pengantar oleh A. Vosmaer. Diterbitkan di Amsterdam, oleh penerbit R. & Jos. Ottens, 1754.  

Buku ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berisi gambar ikan dan krustasea dari koleksi Baltazar Coyet, bekas gubernur Ambon. Bagian kedua dari ilustrasi tersebut adalah “formé sur les receuils de Motisr. Adrien van der Steilen,” menurut deskripsinya sementara masih menjadi gubernur; dapat dimengerti, karena cetakan pertama pasti muncul pada awal tahun 1718. 

Foto Makam Rumphius ca 1875 - 1880 (C. Dietrich)

Tuan Rouffaer belum berhasil mendapatkan buku ini. Kami lebih senang. Sayangnya, arsip aktivis hewan terkenal Aernout Vosmaeru tidak berisi satu pun petunjuk yang menjelaskan masalah ini. Sebaliknya, sebagai emas, ini menjadi pertanyaan ilmiah yang sangat penting, banyak kesaksian yang diajukan tentang putri duyung yang digambarkan dalam karya tersebut. Kedua Gubernur dipuji karena peduli terhadap makhluk, tetapi bahkan nama Rumphius—setidaknya Coyet mengetahuinyav—tidak disebutkan sekali pun. Semuanya tentang  Valentijn! Vosmaer terus-menerus merujuk pada karya mereka, yang dengan bersemangat menggali tulisan-tulisan Rumphius yang belum diterbitkan, tetapi dengan sengaja dan dengan niat yang jelas membungkam namanya1. 

Sementara itu, dugaan Tuan Rouffaer tentu saja tidak sepenuhnya terbantahkan karena mungkin tetap demikian, batu nisan Rumphius yang lebih tua (juga terkait dengan peringatan Blume) ditempatkan pada paruh pertama abad ke-18. Namun, masih perlu ditentukan secara tepat kapan dan atas nama siapa hal ini terjadi.

 

------ selesai ---

Catatan Kaki

1.       Hal ini terutama berlaku untuk sejarah Ambon. — Valentijn, yang menikmati dukungan dari Gubernur Van der Stel yang disebutkan sebelumnya, menyebutnya sebagai yang terhebat di antara para penggemar kuda laut, mengatakan bahwa pria ini memiliki loteng yang penuh dengan barang-barang langka. Ia juga menyebutkan putri duyung, yang juga dijelaskan dan digambarkan dalam bukunya. Ketika Peter Agung berada di Amsterdam pada tahun 1716, Tuan L. Benard, Agen Britania Raya (dan "penerbit" lukisan yang disebutkan sebelumnya), menulis surat kepada Pendeta Francois Valentijn di Dordrecht, memintanya untuk datang dan tinggal bersamanya serta membawa putri duyung, yang telah ia terima sebagai hadiah dari Gubernur Van der Stel. Namun, ini hanyalah desas-desus, sehingga Yang Mulia Tsar tidak pernah menyaksikan keajaiban tersebut.

 

Catatan Tambahan

a.      Bintang Djaoeh atau Jan Francois Leopold. de Balbian Verster (29 Juni 1861 – 26 Juni 1939) yang juga menulis untuk majalah Eigeen Haard

b.      Bintang Djaoeh, Rumphius, de blinde ziener (1702 – 15 Juni 1902), Eigeen Haard, edisi no 24, tgl 14 Juni 1902, blads (halaman) 381 – 384.

c.      Paulus Simon Najoan adalah seorang Manado yang lahir sekitar 1860an, ia belajar di Makasar dan kemudian sejak 10 Oktober 1885 ia bertugas di Ambon sebagai Guru Menggambar di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzer, dan diketahui menikah dengan wanita Ambon bernama Johanna Wilhelmina Abrahamse.

§  https://adrianuskojongian.blogspot.com/2016/03/pelukis-paulus-najoan-dan-frederik.html

§  Regeerings-Almanak voor Nederlandsch Indie 1886, tweede gedelte, Batavia Landsdrukkerij, hal 306

d.      Edzerd van Assen, Resident van Ambon yang memerintah pada periode 11 Maret 1900 – 5 Agustus 1908

e.      Grote Olifantstraat [atau di masa kini Jln. Pattimura, Kota Ambon]

f.       Foto/gambar monumen makam Rumphius ditampilkan di halaman 383 pada edisi nomor 24 tanggal 14 Juni 1902 [lihat catatan tambahan huruf a]

g.      M. Greshoff, Rumphius-Gedenkboek 1702 – 1902, Het Koloniaal Museum te Harlem, 15 Juni 1902. [Buku ini berisikan 14 tulisan/artikel dari 15 penulis]

h.      G.P. Rouffaer en W.C. Muller, Eerste proeve van eene Rumphius-bibliographie, halaman 165 – 220

i.       Jacques-Julien Houtou de Labillardière (28 Oktober 1755 – 8 Januari 1834), seorang ahli botani Perancis

j.       Ekspedisi pencarian Lapérouse adalah ekspedisi pencarian terhadap ekspedisi pelayaran sebelumnya yang dipimpin oleh Jean-François de Galaup, comte de Lapérouse (1785 – 1788) yang hilang di perairan Australia.

k.      Panax fruticosus adalah nama”lama” dari Polyscias fruticosa yang umum disebut Ming Aralia. Di Indonesia pohon ini lebih dikenal dengan nama “Kedondong Laut”

l.       P. Lesson

m.    Sepertinya ini kekeliruan teknis semata penulis atau tulisan redaktur majalah, seharusnya pada Oktober 1823, bukan Oktober 1822. P. Lesson berada di Ambon pada tanggal 4 – 28 Oktober 1823 [ini masuk akal jika kita membaca kalimat berikut dari penulis (Bintang Djaoeh)  yang menyebut 6 bulan kemudian monumen itu telah diperbaiki, ....dari Oktober 1823 hingga April 1824 = 6 bulan]

n.      P. Lesson, Voyage autour du monde entrepris par ordre du Gouvernement sur la corvette la Coquille, Bruxelles, 1839

o.      Pieter Merkus, Gouverneur de Molukken yang memerintah pada periode Agustus 1822 – Oktober 1828

§  Ludeking, E.A.W. Lijst van Gouverneurs van Ambon, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 14 (1864), pp. 545 – 546

p.      Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen, Gouverneur Generaal pada periode 1816 – 1825

q.      Carl Ludwig Blumme (1796 – 1862) adalah seorang botanis dan entomologis Jerman-Belanda

r.      C.L. Blumme, cognomine Rumphius. Rumphia, sive commentationes botanicae imprimis de plantis Indiae Orientalis, tum penitus incognitis tum quae in libris RHF.EDII, RUMPHII, ROXBURGHII, WALLICHII, aliorum, recensentur. Lugduni-Batavorum,

s.      Willem Jacob Cranssen, President van Schepenen di Batavia pada periode 1810 – 1811

t.       Willem Jacob Cranssen menjadi anggota Dewan Hindia [Lid van Raad van Indie] pada periode 1811 – 1816

u.      Aernout Vosmaer (1720 – 1799) adalah seorang Naturalis Belanda dan Kolektor

v.      Maksud kalimat dari penulis: - setidaknya Coyet mengetahuinya – adalah pada konteks yaitu Rumphius meninggal pada 15 Juni 1702, di masa pemerintahan Gubernur Balthasar Coyet (1701 – 1706), sehingga setidaknya Coyet mengetahui dan “mengenal” Rumphius saat ia masih hidup.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar