Jumat, 25 September 2015

Waisisil_Suatu Sore di Tahun 2009



Photo by : Handry Carlos Gunawan


Waisisil di suatu sore
Ingatkah kau teman?
Bersama kita lalui jalan ini
Sore sepulang sekolah
Bercanda gurau tiada henti
Seakan bahagia ini tiada akhir

Ingatkah kau teman?
Kita bersahabat tak pandang agama
Tak pandang suku bangsa
Meski berkelakar tiada mendendam

Ingat jugakah kau teman?
Di sinilah pertemuan terakhir kita
Saat ujian sekolah kita usai
Ujian kehidupan kita dimulai

Kobaran api boleh binasakan rumah
Lontaran mesiu boleh hancurkan harta
Namun tali persahabatan kita takan putus
Sekarang kau dan aku jauh
Tapi doa selalu menyertai tanah ini
Saparua

Oleh : Handry Carlos Gunawan

Rabu, 09 September 2015

Road To Seram 2015



Perjalanan menaklukkan “Negeri di Awan”
(Oleh : Aldrijn Anakotta)

A.    Pengantar Cerita

Banyak orang suka menulis catatan harian kehidupan mereka. Beberapa tahun lalu, saat dunia maya belum “menggelinjang” dan jadi bagian “penting”, diary adalah salah satu tempat mencurahkan isi hati seseorang secara “pribadi”. Kertas-kertas berwarna dan wangi jadi sarana untuk menulis kehidupan, tentang perasaan jatuh cinta, kegalauan, kegembiraan dan semua hal. Ketika dunia berubah, diary seperti barang “kuno” meski ada beberapa orang yang masih “setia” mempergunakannya. Sekarang orang lebih suka “mencurahkan” akitivitas kehidupan mereka tiap hari di dunia maya, seperti Facebook, Twitter, Path, Line, Instagram dan lain sebagainya.
Catatan kehidupan manusia itu bisa berupa catatan tiap hari, atau bisa juga catatan tentang perjalanan mereka ke suatu tempat, yang mereka anggap penting dan  perlu dicatat, ditulis, direkam agar selalu diingat. Banyak artikel atau banyak buku yang bersumber dari catatan perjalanan ini.
Artikel ini berisi kisah perjalanan pribadi ke sebuah negeri asing, negeri baru. Namanya kisah pribadi berarti tak lepas dari sisi subjektif  penulis, namun itulah yang ditemui dan dirasakan. Tentunya tiap orang mendapatkan pengalaman yang tak sama meski sama-sama melakukan perjalanan itu, atau melewati jalan yang sama.
Kiranya artikel ini “berguna” bagi orang lain yang belum pernah mencapai, mendatangi negeri asing ini atau mungkin sebagai bacaan ringan penambah informasi dan pemahaman.  

Kamis, 20 Agustus 2015

Hetu di atas Batu Karang



Saparua itu  beta deng ale
Jang cuma baku suara
Mar baku bage rasa
Saparua itu katorang
Biking bae akang deng hati
Bukan deng  janji-janji

Jang dengar tuan-tuan besar bersabda
Dorang cuma slaken saaaaa
Stori tali hulaleng pung sadaaap
Batu-batu karang... e, bilang par dorang
Jang sampe ana lidah takangkang
Janji tinggal janji, putar bale jalan t’rus

 Katorang t’ra butuh tuan-tuan berdasi
Katorang perlu orang-orang peduli
Katorang t’ra butuh banyak alasan
Katorang perlu banyak perbuatan
Saparua... e
Gunung tana deng lautan... e


Horomate
Titaley Alvaro

Rabu, 05 Agustus 2015

Botol manci, Nene jaganti, Tete momo_Mitos atau Fakta?


BOTOL MANCI

Dalam cerita rakyat Maluku “Botol Manci” mungkin bisa disamakan dengan “Kurcaci”1 dalam mitologi Nordik yang tinggal di gua-gua dan bawah tanah. Makhluk gaib ini bertubuh kecil dan memakai topi mirip “Santa Claus” seperti dalam “Tradisi menjelang Natal” serta memegang botol susu. Mungkin saja kata botol manci diadaptasi dari kata botol susu dan manci tersebut. Bentuk fisiknya diciri-cirikan seperti manusia namun berukuran lebih kecil dan pendek, ada yang masih bayi, ada yang tua berjanggut panjang. Mereka hidup di alam lain yang sewaktu-waktu dapat dilihat oleh mata manusia. Botol manci bagaikan sebuah “mitos, legenda, dongeng”, namun di balik mitos tersebut ada orang-orang tertentu dapat melihatnya dengan nyata. Adalah mereka yang terlahir dengan “sarong, sarung”2, menurut kepercayaan masyarakat Maluku konon mereka memiliki indera keenam yang dapat melihat dan merasakan keberadaan makhluk-makhluk gaib di dunia lain. Botol manci  sering muncul pada saat “mati-mati galap” (menjelang malam) hingga waktu malam, ditandai cahaya warna-warni, kelap-kelip seperti cahaya kunang-kunang yang menyala-nyala.

Peristiwa-peristiwa aneh yang sering terjadi seperti anak kecil yang hilang tanpa jejak berhari-hari selalu dikaitkan dengan ulah daripada botol manci, anak hilang tersebut disembunyikan oleh botol manci untuk dijadikan teman bermain. Biasanya baru ditemukan saat penduduk dan orang tuanya meminta bantuan dari “dukun kampung, orang pintar” maka atas petunjuk mereka anak hilang tersebut baru dapat ditemukan, ada yang kedapatan sedang bermain dengan botol manci, ada pula yang mendapat  piring emas karena petunjuk dari botol manci3. Diceritakan pula bahwa anak-anak yang pernah disembunyikan botol manci dalam proses pertumbuhan fisik akan mengalami masalah pada bentuk tubuhnya yang kemudian menjadi “cebol, kerdil” atau tidak akan tinggi lagi. Dunia medis dan kedokteran sudah menerangkan dengan jelas bahwa lahirnya orang-orang cebol, kerdil dan sebagainya diakibatkan karena faktor genetika atau persilangan “kromosom seks x dan y”4  yang tidak sempurna dari orang tuanya.
 
via http : //juliansoplanit.blogspot.com/image

Kamis, 30 Juli 2015

Benteng Duurstede




Di altar duurstede puisi dan darah jadi sungai

Sengaja dilupakan tuan-tuan berdasi

Karena duurstede cuma akuarium tanpa ikan

Duurstede seperti pusara sunyi

Batu melingkar yang gagu tak berjantung

Duurstede cuma batu di atas batu

Dia telah jadi fosil sejarah

Semoga seseorang  berdiri di atasnya

Meneriakkan satu kapata

Lalu kenangan mengalir lagi

Sehingga duurstede tidak jadi mayat

Seribu orang datang memberi seribu nyawa

Supaya duurstede jadi kisah kemenangan

Bukan kekalahan


( Oleh ; Aldrijn Anakotta  &  Rudi Fofid )

Senin, 13 Juli 2015

Souhuku, Maluku, Indonesia


Tanjung Pulapa
( Negeri para leluhur kami )



Jantungku bernafas dan air mata menjadi kaca
Saat kaki anak cucumu membelai pasir kerikil di pantai milikmu
Di sini aku berdiri, diam, dan memandang lautan luas
 Mencium bibir pantai pulau Sampano Roea
Pikiranku merenung sejarah kalian, sejarah 579 lalu
Empat kapitan itu berdiri di sini mengangkat hati dan membuat perjanjian
Mencari dunia baru untuk kami anak cucu Pisarana Hatusiri Amalatu 
Di sini aku berdiri, diam, untuk memahami jejak kaki kalian
Jejak kaki terakhir di bumi Lilipori Kalapessy
Di sini aku berdiri, diam, dan menciptakan janji
Tak akan melupakan kalian yang membuat kami ada
Membuat kami bangga hingga kini


Horomate
Aldrijn Anakotta