Jumat, 19 Februari 2016

Katorang Pisarana




 Anana cucu Pisarana Hatusiri Amalatu e
Mari katong bangun negeri ini kombali
Beda suku, etnis deng agama bukan penghalang
Kenapa hidop orang totua dolo seng bisa diteruskan lagi...?
Apakah cuma karena egoisme, dendam kesumat...?

Pohon kelapa... Waimoela... Saru
Tiang Belakang... Tionghoa... Soalanda
Kampong Baru... Kampong Jate... Kampong Aboeboe
Tak lupa Dusun-Dusun Salam yang dolo tabakar api amarah
Bukankah katong 1 raja, adat dan budaya...?

Saparua negeri sudah tua
Baileu Pisarana masih badiri, Batu meja terpampang nyata
Lambangkan semangat dan persatuan katong samua
Mari kembalikan jati diri, adat dan budaya
Jangan biarkan terpuruk karena  zaman


(Oleh : Andre Manuhutu)

Kamis, 04 Februari 2016

Tabaos dar Saparua



NKRI... adalah harga mati buat kami Maluku Saparua!!!
Kami butuh diperhatikan bukan diabaikan
Filosofi Bung Karno... INDONESIA TANPA MALUKU BUKANLAH INDONESIA
Begitu pula... MALUKU TANPA SAPARUA BUKANLAH MALUKU
Berikan hak yang setara dengan putra putri daerah lain
Jangan biarkan kami terpuruk dalam penindasan
Semua punya kedudukan yang sama!!!
Jangan datang ke negeri kami dengan ideologi yang memecah belah
Persekutuan, kerukunan agama dan adat istiadat kami junjung
Mengedepankan kepentingan rakyat di atas segalanya
Menengok daerah dan wilayah kami yang tertinggal
Memberikan kepercayaan sepenuhnya untuk kami berkarya
Demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

(Oleh : Andre Manuhutu)

Sabtu, 02 Januari 2016

Kenangan Masa Kecil_Part 2


PERMAINAN ANAK-ANAK DI NEGERI SAPARUA
Penulis : Aldryn Anakotta


1.        Maeng benteng (bentengan)
maeng benteng  adalah “pengembangan” dari permainan enggo lari, namun ada sedikit perbedaan dalam cara permainan dan aturannya. Jika enggo lari tidak “mengenal markas” maka maeng benteng harus menggunakan “markas”. Markas inilah yang disebut benteng sebagai tempat pertahanan.
Permainan ini dilakukan oleh banyak orang dan dimainkan oleh sekurang-kurangnya 2 kelompok dalam 1x permainan, atau lebih banyak kelompok, tentunya dengan kesepakatan di antara para pemain.
Pemilihan anggota kelompok biasanya dilakukan dengan cara hompimpa/gambret atau gambreng. Awalnya 2 orang yang “ditunjuk/dianggap” sebagai pemimpin menggambreng, untuk mencari “pihak lawan dan kawan”. Kemudian diikuti oleh pemain selanjutnya yang dibagi menurut hasil gambreng/gambret mereka.
Setelah terbentuk 2 kelompok yang anggotanya sama banyak, mereka “membuat” benteng. Benteng ini ditandai oleh 1 buah batu. Masing-masing kelompok akan berdiri dengan sebelah kaki menginjak “benteng”. Jarak antar 1 benteng ke benteng yang lain kira-kira 10 meter-an (tergantung kesepakatan para pemain).
Saat permainan dimulai, biasanya “pemimpin/raja” tetap tinggal di benteng, meski bisa juga “menyerang” dengan perhitungan “strategi” yang matang. Hal ini dilakukan karena jika pihak lawan bisa menangkap “raja” maka secara otomatis, permainan berakhir, dan permainan diulang dengan kemenangan/poin bagi pihak yang bisa menangkap raja.
via : mainantradisional.wordpress.com

Minggu, 20 Desember 2015

Puisi Ini Padamu Karena Tak Sempat



Photo by : Evie de Haas

Zeba’ot
- Pada sebuah pagi -

Bisakah kau kupanggil jujaro
perawan setia penjaga dua negeri???
Bisakah kau kusebut mawar
cinta dalam doa berlumut ???

kau telah berbedak... berlipstik di pagi ini...
ramai berwarna lesung pipimu
berembun tirai sakral...
ornamen gaya dalam kosmetika modern...

Bisakah kau kupanggil jujaro
perawan berdiri di tapal batas???
senyum pada duka --- nafas yang jadi hujan
tawa buat suka – dosa mungil yang jadi biasa

kau telah berdandan... pada gaun kembang-kembang
berias bersama parfum... wangi yang tak harus ganjil
mungkin kau tak lagi bertelanjang kaki --- pada kemarin pagi
mungkin kau tak lagi berbaju hitam, kain pikol --- warisan para datuk

bolehkah kau kupanggil nona...
gadis pelintas zaman???
cinta dalam rindu yang tak selesai???
telanjang kaki adalah ragu
baju hitam adalah cemas
kain pikol adalah gugup yang gagap --- saat ini
tapi pernah wangi di masa kecilmu
pernah putih dalam sunyi dan gemetar

pagi ini...
para pecinta datang menatap bulu matamu
para penyuka menemuimu
memasuki kamar tidur, berbaring di ranjang
dan melepas doa dari paru-paru yang gampang salah

Ini pagi...
para pencari mengunjungimu --- berlutut --- dilantai kamarmu
para pendosa menjahit amsal anggrek pelangi...
karena mencintaimu --- cinta yang sering bersungut

bisakah kau kupanggil jujaro
jujaro pisarana --- jujaro lounusa???
bolehkah kau kusebut nona
nona saparua --- nona tiouw ???
rindu pada bibir yang sering bertengkar --- dengan jantung

akh, gadis penjaga dua negeri
perawan pelintas zaman
semoga kau tetap abadi
setia menjaga kami --- anak anak zaman --- dalam kangen dan gelisah!!!

akh, jujaro saparua dan tiouw
tolong titip pesan buat tuan punyamu
maafkan beta
karena tak selalu bisa menciummu...
Seram, desember keduapuluh


(Oleh : Aldrijn Anakotta)

Sabtu, 07 November 2015

Pelangi di Ujung Negeri




Jika hidup adalah siang dan mati adalah malam
maka telah kulewati subuh saat masih kecil
 dengan tangis dan senyum ceria
pada kota di atas karang
saparua yang penuh sejarah duka
kini berubah jadi balada
yang airnya kuminum dan udara sejuk kuhirup
 sejak dalam kandungan ibu

Di atas negeri ini matahari naik
dengan senyum manis bunga cengkih
dan pelangi datang dengan sejuta lagu harapan
lalu orang-orang bersayu panggayo manggurebe toma maju
pada perahu yang kian melaju menembus ombak dan angin timur
semangat itu kian berlalu dan bersatu jadi lagu pelipur rindu

Jika matahari mulai membungkus diri
dan manusia tak lagi peduli pada rumah yang kian runtuh
akan kupahat hatiku pada prasasti tugu negeri
terukir sumpah dan janji kalesang negeri
agar hutan, laut, matahari dan gunung Saniri
 tak tangisi pilu yang telah lama berlalu
agar pahlawan negeri ini tak lagi keluhkan sesal
di sana kurindu mendayung perahu
 gapai pelangi di ujung negeri


Oleh : Marthen Luther Reasoa
Saparua, 26 Maret 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Kenangan Masa Kecil_Part 1

PERMAINAN ANAK-ANAK DI NEGERI SAPARUA

(Penulis : Aldryn Anakotta)

A.      Pengantar
Tulisan ini merupakan “bagian kecil” dari tulisan yang sedang dikerjakan namun belum selesai tentang sejarah sosial di negeri saparoea pada era 1982-1997. Meski cuma “bagian kecil” tapi bisa dikatakan lebih terperinci karena menceritakan tema yang lebih dipersempit dan khusus menyangkut permainan anak-anak di masa kecil dulu. Tulisan ini bersumber dari kenangan masa kecil hingga masa remaja pada  tahun 1983-1994 di negeri saparoea. Berhubung karena bersumber dari kenangan masa kecil, maka tulisan ini adalah pandangan dari penulis, sehingga mungkin saja ada hal-hal yang terlewati atau tidak diceritakan atau tidak “dialami” oleh orang lain. Karena itulah, tulisan ini bisa diharapkan sebagai “pemicu” agar orang lain terkhusus anak-anak negeri saparoea bisa menulis kenangan mereka sendiri. Dengan begitu, makin banyak kenangan masa dulu yang bisa dihadirkan dan saling melengkapi yang lain. Tema yang diangkat dalam tulisan ini adalah tentang permainan anak-anak. Berarti segala hal yang menyangkut jenis-jenis permainan yang dimainkan anak-anak di negeri saparoea di masa yang disebutkan di atas.