Selasa, 19 Juni 2018

The First Ladies of Amboina_(Bag ~ 4)


                                                                       (Bag ~ 4)
                                                         
35.  Balthasar Fredrik Coyett van Formosa (Juni 1701- Mei 17061) 
a.     Constantia Pierraerd2
Balthasar Fredrik Coyett van Formosa lahir di Fort Zeelandia, Taiwan sekitar tahun 16503 (6 Oktober 16524) dan meninggal di Batavia, 19 September 17255. Ia adalah putra dari Fredrik Coyett (Coijet) dan Susana Boudaen6.
Balthasar Fredrik Coyett van Formosa menikah dengan Constantia Pierraerd7, yang merupakan putri dari Sebastian Pierraerd van Utrecht dan Constantia Coymans van Amsterdam8. Constantia Pierraerd lahir di Haarlem pada 21 Mei 16549. Mereka menikah di Batavia pada 8 Mei 168110.  
Istri Balthasar Fredrik Coyett van Formosa ini adalah janda dari Querijn Meyburg11 dan memiliki seorang putri yang bernama Constantia Meyburgh12.
Pasangan ini menikah di Batavia pada 3 April 167313, dan Constantia Meyburgh lahir pada 17 Juni 167714. Querijn Meyburg meninggal di Batavia pada tahun 167815.

Catatan tambahan :
Balthasar Coyet x Constantia Pierraerd:
Ø  Constantia Meyburg (anak tiri) x Coenraad Frederik Hoffmann van Assenheim
Ø  Fredrik Julius Coyett (1680-1736) x Geetruida Margaretha Goosens
Ø  Anthony Balthasar Coyett (1682 - ??) x................
Ø  Susana Julia Coyett (1684 - ??)  x ..............
Ø  Constantin Agustus Coyett  (1688 - ??) x ..............
Ø  Susana Helena Coyett (1690 - 1724) x Pieter Gabrij (1684 – 1729)
Ø  Jan Constantin Coyett (?? - ???) (meninggal di usia muda)

Jejaring keluarga :
§  Suami dari anak tirinya, Coenraad Frederik Hoffmann van Assenheim, adalah seorang Opperhoofd VOC Sumatera Westcust (Pantai Barat Sumatera) : 1710 – 1718
§  Anak mantunya, Geetruida Margaretha Goosens, sebelumnya menikah dengan Michael Westpalm, dan nantinya menikah lagi dengan Gub Jend VOC Johanes Thedens (1741-1743)
§  Anak mantunya, Pieter Gabrij adalah Gubernur VOC Banda (1719-1721) dan Gubernur VOC Ambon (1721-1725)
§  Suami dari tantenya (adik ibunya), Francois Caron adalah Opperhoofd VOC Japan dan Formosa
§  Anaknya Fredrik Julius Coyett


Selasa, 12 Juni 2018

The First Ladies of Amboina_(Bag ~ 2)




        11.    Johan Ottens van Amsterdam (1637-14 Agustus 1641)67
a). Juffrow Elisabeth Goosens van Dantzig68
      Identitas pribadi Johan Ottens, tidak banyak diketahui, nama orang tua dan kapan ia dilahirkan. Namun ia diketahui meninggal di Ambon pada 14 Agustus 164169 saat masih menjabat. Johan Ottens menikah dengan Elisabeth Goosens van Dantzig  di Batavia pada 13 Nov 163670. Istrinya ini kemungkinan besar adalah saudara perempuan dari istrinya Willems Jacob Coster van Akkersloot yaitu Johana Goosens van Dantzig71)

         12. Simon Wouterszoon Dompkens (14 Agustus 1641 – Februari 164272) -à Pejabat
         Identitas pribadi orang ini tidak diketahui, tempat tanggal lahir, nama orang tua dan istri tidak diketahui.

Suasana jalan di kota Ambon tempo doeloe
         13.   Anthonij Caan/Caaen (Feb 1642-13 Sept 164273)  
a). Johanna Gilis Servis74
Anthonij Caaen meninggal di Batavia pada 11 Agustus 164875. Menikah dengan Johana Gilis Servis. Istrinya ini meninggal di Batavia pada 13 Desember 166776.
Ø  Diduga77 putrinya yang bernama Maria Caaen van Pulo Banda menikah dengan  Pieter Mesdag van Amsterdam (1614 - 166378), Sekretaris General Raad van Indie (1640-164579) pada tanggal 30 November 163780
Ø  Putri yang lain bernama Susana Caaen van Batavia menikah dengan Maximilian Bontamps81, seorang Letnan pada tanggal yang sama

Minggu, 10 Juni 2018

Para Penguasa di “Jantung” Uliaser --- pada masa Kolonial (1600an – 1942) --- (Bag ~ 4)


                                                                                                                                                    
D.1. Masa Kekuasaan VOC 1602 – 1799
§                   Bag IV – selesai  ( 1773 – 1798)

II.                   HOOFD  (Opperhoofden)  van  SAPAROUA

1               1)   Johan Constantijn Cruijpenning (1773 –17831)

Johan Constantijn Cruijpenning memulai karirnya di Gubernemen VOC Ambon, pada tahun 17532, saat menjadi seorang Assisten.
Tahun 1754, ia ditunjuk sebagai Cassier (1754 – 17573), menggantikan Isaac Salampesy (1751 -17544), yang meninggal, serta merangkap jabatan sebagai Secretary van Landraad (1754 – 17575), menggantikan Casper Trout (1751 – 17546).
Tahun 1757, ia dipromosikan menjadi Winkelier (1757 – 17617), menggantikan Jacobus Olivier (1751 – 17578), yang dimutasikan menjadi Kasir (1757 – 17579), atau keduanya bertukar jabatan.
J.C. Cruijpenning juga melepaskan jabatan Secretary van Landraad kepada Hendrik Ouman (1757 – 176310).
4 tahun bertugas sebagai Winkelier, Cruijpenning dipromosikan menjadi Hoofd Buru (1761 – 176311) menggantikan Gysbertus Papegay (1751 – 176112), yang meninggal.
Posisi Winkelier yang ditinggalkan Cruijpenning digantikan oleh Jacobus Olivier (1761 – 176213).
2 tahun bertugas di Buru, Cruijpenning dipromosikan ke Gubernemen VOC Macasaar menjadi Winkelier (1763 – 176514), menggantikan Hendrik Wolff (1757 – 176315), yang dimutasikan ke Gubernemen VOC Ambon, untuk menjadi Kassir (1763 – 176516) dan Secretary van Landraad (1763 -???17).
Posisi Hoofd Buru yang ditinggalkan Cruijpenning, digantikan oleh Hendrik Ouman (1763 – 177018)
Selesai bertugas di Macasar, ia ditarik kembali ke Gubernemen VOC Ambon, dan menjadi Hoofd Haruku (1765 – 177319), menggantikan Matheus de Hartog (1761 – 176520), yang dipromosikan menjadi Hoofd Hitu (1765 – 178021).
Mengakhiri tugasnya di Haruku,  ia dipromosikan menjadi Hoofd Saparua (1773 – 1778), menggantikan Jan Willem van Blijdenberg van Calcar (1765 – 1773), yang ditarik ke Batavia. Pos Hoofd Haruku, digantikan oleh Carel Fredrik Treno (1773 – 178222).
Berdinas di Saparua selama 10 tahun, J.C. Cruijpenning dipercayakan menjadi Fiscal (1783 – 178323). Berdinas tidak lama di Fiscal, ia digantikan oleh Lambertus Janszoon Haga (1783 – 178424).
,          
Tentang Keluarga :
                       
Johan (Jan) Constantijn Cruijpenning lahir dari pasangan Jacobus Constantijn Cruijpenning dan Maria Petronella Mars25. Sayangnya, tidak ada sumber yang menyatakan kapan ia lahir, namun dugaan26 penulis, ia lahir sekitar tahun 1729.
J.C. Cruijpenning menikah dengan Barbara Johanna Gledstein pada tanggal 10 April 176127. Barbara Johanna Gledstein  adalah putri dari Carel Gustav Gledstein dengan istri ketiganya, Magdalena Anthonia Schravelaar28.
Ayah mertuanya, Carel Gustav Gledstein adalah bekas Hoofd Buru (1739 – 174929), Hoofd Haruku (1749 – 175130), Fiscal (1751 – 175331).
Ibu mertuanya adalah putri dari Jacobus Schravelaar dan Sara Maria van Bussche32.
Jacobus Schravelaar adalah seorang Kapten Kastil Victoria Ambon33.
Sara Maria van Bussche disebut menjanda pada 5 Mei 173234, meski sumber lain menyebutkan sebelum bulan Februari 173235
setelah Jacobus Schravelaar  meninggal ditahun 173236, menikah lagi37 dengan Jan Elias Mijlendonk, Hoofd Saparua (1737 – 1743).

Sabtu, 09 Juni 2018

Para Penguasa di “Jantung” Uliaser --- pada masa Kolonial (1600an – 1942) --- (Bag ~ 2)


                                                                                                                                                            
D.1. Masa Kekuasaan VOC 1602 – 1799
§                    Bag II ( 1701 – 1731)

II.                   HOOFD  (Opperhoofden)  van  SAPAROUA

1)      Ernst Knipping  van Leiden (Maret 1701- 15 Sept 17021)

Ernst Knipping  van Leiden diketahui pertama kali bertugas di Gubernemen VOC Ambon, saat menjadi Hoofd Buru ditahun 16912. Di Buru, ia menggantikan Pieter de Bock (1689 – 16913), yang dimutasikan ke jabatan Fiscal (1691 – 16924).
2 tahun berdinas  di Buru (1691 – 16934), Ernst Knipping dimutasikan untuk menjadi  
Secretary Raad van Justitie Ambon (Dewan Pengadilan) menggantikan Joannes de Vischer van Leyden (1692 – 16935),  yang ditugaskan menjadi Soldijboekhouder (1693 – 16946).
Posisi Hoofd Buru digantikan oleh Dirk Rauscher (1693 – 17067), yang merupakan bekas Secretary Raad van Landraad (1688 – 16938).
3 tahun bertugas sebagai Secretary Raad van Justitie Ambon (1693 – 16969), ia dimutasikan untuk menduduki jabatan Secretary Raad van Politie dan menggantikan Jan du Rhyn van Palycata (1692 – 169610), yang dimutasikan menjadi Winkelier (1697 – 169811).
Posisi Secretary Raad van Justitie Ambon, digantikan oleh Joost van Castenobel (1696 – 169812), yang merupakan bekas Hoofd Haruku (1694 – 169513).
Ernst Knipping  van Leiden berdinas selama 5 tahun (1696 – 170114) di posisi baru ini.
Kemudian, ia dimutasikan ke Saparua menjadi Hoofd Saparua menggantikan Salomon Storm, yang di promosikan menjadi Secunde Gubernemen VOC Ambon (1701 – 1710).
Jabatan Secretary Raad van Politie digantikan oleh Samuel Rothe van Amsterdam (1701 – 170315).
Bertugas di Saparua hanya 1 tahun lebih, ditahun 1702, ia kembali ke Batavia pada 15 September16 tahun itu. Jabatan Hoofd Saparua digantikan oleh Jacob Cloek (1702 – 1703), yang merupakan mantan Fiscal (1701 – 170217).
Tidak banyak yang diketahui tentang Ernst Knipping  van Leiden, ada sebuah sumber menyebut ia lahir sekitar tahun 166018.  Berdasarkan sumber gereja yaitu Kerkenraad van Batavia, istrinya bernama Maria Dirks (Knipping)19.
Putri mereka, Gehesia Knipping lahir dalam tahun 1679 dan meninggal pada tanggal 17 Desember 170020. Gehesia Kniping dalam sebuah sumber21 menyebutkan menikah dengan Abraham Patras pada 8 Juni 169921. Meskipun, ada juga sumber yang lain22, menyebut jika Abraham Patras menikah dengan Neeltje Brakel23, putri dari Joannes Brakel, Secretary Raad van Justitie Ambon (1698 – 170024).
Pernikahan Gehesia Kniping dengan Abraham Patras, memperoleh seorang putri yang bernama Olympe Josephe Patras, dan lahir pada 5 Juni 170025. Olympe Josephe Patras meninggal dalam usia muda, namun tidak diketahui dengan pasti kapan ia meninggal. Ada yang menyebut, ia meninggal dalam tahun 1700, 1701, namun sebuah sumber menyebut dalam tahun 170226, anak ini masih hidup.
Abraham Patras nantinya kita kenal sebagai Gub Jend VOC (1735 – 1737).
Salah satu keponakan Abraham Patras, yang bernama Anthonie Patras menikah dengan Maria Magdalena van Schine, putri dari Isaac van Schine “III”.
Pernikahan ini akan menghubungkan Ernst Knipping dengan Stephanus Versluijs, yang nantinya menjadi Gubernur VOC Ambon (1725 – 1727).
Jacobus Versluijs yang merupakan adik tiri Stephanus Versluijs menikah dengan Rozina Magdalena Elisabeth van Schine, putri dari Isaac van Schine II atau tante dari  Maria Magdalena van Schine

Para Penguasa di “Jantung” Uliaser --- pada masa Kolonial (1600an – 1942) --- (Bag ~ 3)


                                                                                                  

D.1.      Masa Kekuasaan VOC 1602 – 1799
§          Bag III ( 1731 – 1773)

II.         HOOFD  (Opperhoofden)  van  SAPAROUA

1)       Hendrick Lodewijk des Moulins (14 Feb 1732 -September 17331)
Hendrick Lodewijk des Moulins  pertama kali bertugas di Nusantara pada tahun 17252,  dimana ia menjadi buyten employ Batavia bersama Jacob Lursenius3, yang nantinya akan menjadi Hoofd Saparua 1734 – 1740.   
Tahun 17284, ia diketahui menjadi anggota Comisarizen van de Huwelijkseche en klein zaken (catatan sipil dan pernikahan) Batavia, dimana Presidennya adalah Balthasar Bruyne5, bekas Residen Haruku (1708 – 17106).
3 tahun kemudian, Hendrick Lodewijk des Moulins diketahui mulai berdinas di Gubernemen VOC Ambon, saat menjadi Fiscal di tahun 17317. Ia menggantikan Cornelis Roel (1728 -17318), yang dipromosikan menjadi Secunde Gubernemen VOC Macassar (1731 – 17359).
Berdinas setahun di Fiscal, Hendrick Lodewijk des Moulins dipromosikan menjadi Hoofd Saparua, menggantikan Adriaan Willem Frisvogel (1725 – akhir 1731), yang dipromosikan menjadi Secunde Gubernemen VOC Ambon (1732 – 1737).
Posisi Hendrick Lodewijk des Moulins sebagai Fiscal digantikan oleh Christoffel Godloff Kraus (1732 – Juli 173210).
Berdinas di Saparua, Hendrick Lodewijk des Moulins menjabat posisi Hoofd Saparua hingga meninggal di bulan September 173311. Posisi Hoofd Saparua, digantikan oleh Gebrand Gerbrand van Brandwijk van Blokland, bekas Fiscal (1732 – 1733)

Ia menjadi Residen Saparua di masa pemerintahan Gubernur Amboina Johannes Bernard (1727-1733). Ia adalah hoofd yang juga berpangkat koopman. Dalam laporan umum (algemene missive) Johannes Bernard, anak buah Hendrik Lodewijk de Moulins di Benteng Duurstede adalah sebagai berikut12 :
a)      Koopman / hoofd      :        Hendrik   Lodewijk   des   Moulins
b)      Sergeant                    :     Jacobus Caps (komandan Benteng)
c)      Asisten                      :     Frans Christian Alborg (wakil)
d)      Chirurgijn                 :        Frans Otto Meijer (Dokter bedah tentara)
e)      Konstabel Maat        :        Abraham de Haas, Christoffel Gemeken, Jan Palje, Jan Thijszn, Christoffel Strangman (penanggung jawab gudang artileri/senjata)
f)       Tentara                     : Albert Viveen
g)       Kwartier Meester     :        Hendrik Nievenhuijsen
h)     Bosschieter                :      Hendrik Cament (Polisi Laut/Marinir)

Komandan pos di Hatawano  (Velsen) adalah Volkert Hagemans13, di Porto (Delft) adalah Frans van der Putten14, sedangkan di Nusalaut (Beverwijk) adalah Josephus Constans15.

The First Ladies of Amboina_ (Bag ~ 1)


                                                           
                                                                               Oleh :
                                                                      Adryn Anakotta


         A.  Pendahuluan

Ada idiom yang menyebut “dibalik suksesnya seorang laki-laki, terdapat wanita perkasa”.
Entah wanita yang dimaksud itu, berstatus istri sah, pacar, atau bahkan WIL, pastilah berperanan dalam karir pasangannya. Perempuan atau wanita memiliki “kekuatan” tersembunyi dalam perjalanan kisah hidup manusia, dalam hal ini adalah pria/laki-laki yang berhubungan dengan mereka. Kekuatan yang dimiliki oleh mereka, bisa turut “menyumbang” dalam melejitnya karir laki-laki, bisa juga “menghancurkan” kehidupan laki-laki yang menjadi pasangannya.
Artikel ini berisikan “daftar” para wanita yang menjadi istri dari para pria berkuasa yang dalam sejarah panjang VOC, menjadi Gubernur VOC Ambon. ada beberapa figur Gubernur yang tidak diketahui identitas istri mereka. Hal ini disebabkan keterbatasan penulis. Sampai tulisan ini dimuat, penulis “belum” menemukan informasi tentang istri atau wanita yang pernah menjadi bagian dari kehidupan para figur tersebut. Selain itu, ada beberapa figur Gubernur yang membujang hingga meninggal dunia.
Periode yang “dipilih” oleh penulis adalah rentang sejak “berdirinya” Gubernemen VOC Ambon hingga runtuhnya VOC. Periode itu terentang sejak tahun 1605 – 1796. Pemilihan periode ini hanyalah pertimbangan pribadi, karena “menarik” dari sisi kesejarahan.

Para Penguasa di “Jantung” Uliaser --- pada masa Kolonial (1600an – 1942) ---


                                                                                       
(Lanjutan)


4)   Vincent Gysbert van Moerlag (1648 –165248)
Dalam tahun 164449, ia adalah seorang vaandrig (pendeta militer) berpangkat Letnan, tentara yang tugas utamanya melayani dalam pengabaran injil. Di tahun 164850, ia ditunjuk sebagai Kapten Kastil Victoria menggantikan Jacob Verheyden yang sebelumnya menggantikan Jan Oetgersoon, yang meninggal di tahun 164451. Di tahun 1648, ia ditunjuk sebagai Kapten Kastil Victoria sekaligus menjabat opperhoofd Saparua, pangkatnya  telah menjadi Kapten. Pada tahun 165152, posisi Kapten Kastil Victoria digantikan oleh Cornelis Danen, seorang Letnan yang juga menjadi vaandrig, dan sekaligus merangkap jabatan sebagai Hoofd Haroekoe (1651-1652). 
Tahun 1652, setelah selesai bertugas di Saparoea, ia kembali ke Batavia53. Posisi Hoofd Saparoea digantikan oleh Cornelis Danen/Daenen, kapten kastil dan Hoofd Haroekoe. Vincent Gysbert van Moerlag diketahui hingga Mei  tahun 167454 masih berpangkat Kapten. 

Rabu, 06 Juni 2018

Para Penguasa di “Jantung” Uliaser --- pada masa Kolonial (1600an – 1942) ---

Oleh : Ferdy Lalala
Pengoreksi Naskah : Adryn. Anakotta

A.     Pendahuluan
Licer/Uliaser/Uliasa/Lijaser atau yang akhirnya kita kenal sekarang sebagai Lease, adalah nama bagi gugusan 3 pulau mini, Saparua, Haruku dan Nusalaut yang terletak di selatan pulau Seram. Nama Uliaser atau Lease sudah dikenal sejak zaman sebelum kolonial, meski dimasa kolonial lah, yaitu masa Portugis1, Belanda2, Inggris3 hingga ke zaman Jepang, nama itu secara eksplisit disebut dalam arsip berupa Laporan resmi, Laporan perjalanan dan sebagainya . Arsip-arsip mereka selalu berisikan nama ini, jika mendeskripsikan gugusan yang mereka maksud. Namun sering juga, mereka menyebut nama satu persatu Pulau dalam gugusan itu.
Jika dilihat secara sekilas, pulau Saparua terletak di tengah-tengah ke-3 pulau ini. Pulau Haruku terletak disebelah kiri, pulau Saparua ditengah, dan pulau Nusalaut terletak disebelah kanan agak kebawah. Mungkin karena letak “geografis” itulah, maka tak salah juga, jika pulau saparua bisa dibilang sebagai jantung dari uliaser.
Saat Portugis mulai menginjak kakinya di kepuluan Maluku pada tahun 15124, dan mulai “menata” sistim penjajahan mereka, gugusan pulau-pulau lain dieksplorasi. Tujuan eksplorasi itu, tentunya untuk berhubungan dengan penduduk pribumi dalam rangka pembelian dan perdagangan barang-barang yang dibutuhkan oleh mereka.

Jumat, 13 April 2018

PISARANA, di Ujung Maret



Hai empat kapitan bermata darah
Mungkinkah kalian tersenyum?
Hai empat kapitan berjantung seribu
Mungkinkah kalian menatap?

Nafasmu mungkin tak lagi bersama
Rindumu mungkin t’lah jauh
Tapi gemetarnya hidup tak bisa menghapus jejakmu
Tak mampu lupa akan kepala batu dan kerasnya hati

Hai empat kapitan bernyawa tembaga
Lihatlah anak-anak titisan menari di pelataran altarmu
Hai empat kapitan pisarana
Lihatlah.....

Cintamu akan ruang berteduh
Rindumu akan tempat bercerita
Jadi sumpah, jadi janji yang mesti ditaati
Kami t’lah membalut kepalamu dengan 9 sayap patasiwa

Masuklah kerana janji t’lah dilunasi
Masuklah kerana sumpah t’lah diobati
Hai empat kapitan pohon beringin
Tersenyumlah.....

Riang, Adjelis, Hintaune, Ririnama
Empat kapitan bermata darah
Jagalah kami, jagalah negeri kami
Bersama rumahmu yang selesai dihiasi

__Leparissa Manupalo


Jumat, 09 Februari 2018

INDISCH NEDERLANDER VAN SAPAROEA

 

SOALANDA SAPAROEA


Soalanda. Ya, para tetua Saparua terdahulu menyebutnya dengan nama itu, hingga kini kami pun menyebutnya demikian. Kawasan yang menjadi pemukiman warga keturunan Belanda, berlokasi di Kota Saparua, berada tepat di petuanan/dati milik Soa Pelatu (Titaley) yang diperuntukkan atau di “tukar guling” kepada mereka (?). Di kawasan Soalanda ini, dahulunya berdiri gedung-gedung besar bertiang tinggi mengikuti arsitektur Eropa semisal gedung Saparoea Lagere School (SDN 2 Saparua - sekarang), Saparoea Residente Sectie (Kantor Kecamatan Saparua - sekarang), Residenhuis (Rumah Residen/Rumah Camat – sekarang), Saparoea Landraad Afdeling (Kantor Pengadilan Negeri), Rumah-rumah warga keturunan dan lain sebagainya. Kawasan elite ini dihuni oleh warga kelas satu pada masa itu, karena lokasi pemukiman yang tidak seberapa jauh atau masih satu kawasan dengan Benteng Duurstede, Soalanda pun sangat mudah diawasi oleh serdadu-serdadu Belanda yang memberikan perlindungan dan pengawasan ketat terhadap aset-aset pemerintah Kolonial Hindia Belanda, pada masa itu.

Kantor Kontroliir Saparoea (Kawasan Soalanda)

Hal ini dikonfirmasi oleh Pieter. H. van der Kemp dalam bukunya : Het herstel van het Nederlandsch gezag in de Molukken in 1817 yang terbit tahun 1911. Van der Kemp menulis:

 

Aan de noordzijde aanschouwt men de hoofdplaats Saparoea met fort Duurstede. Schilderachtig doet zij zich voor van de reede gezien lezen wij vooral door het op eene kalkrots gebouwde steenen fort Duurstede. Duizenden klapperpalmeu en andere vruchtboomen overschaduwen de woningen, welke meer van het middelpunt der hoofdplaats zijn verwijderd. Enkele op europeesch-indische wijze gebouwde huizen, onder welke het residentiehuis het voornaamste is, strekken zich achter het fort uit, langs eene breede straat, in eene lijn, nagenoeg evenwijdig aan het strand achter deze rei huizen liggen nog eeuige min of meer op europesche wijze gebouwde huizen, bewoond door mestiezen of burgers (hlm. 469).

 

(terjemahan “garis besarnya” : Di Negeri Saparua terdapat Benteng Duurstede di sekitarnya terdapat beberapa rumah orang Indo Eropa yang berdekatan dengan rumah Residen yang menuju ke arah benteng. Rumah-rumah tersebut adalah milik Kaum Burger atau Mestizo)

Hal mana juga dicatat oleh DS (Dictus – Pendeta) Steven Adriaan Buddingh dalam bukunya (hlm 196-197), yang terbit di Amsterdam tahun 1857 : “Nederlands Oost-Indie Reizen Over Java, Makasar, Madura, Selayar, Ambon, Haroeko, Saparoea, Noesalaut.”

 

Negeri Saparua, diperintah oleh seorang Raja, yang berpenduduk kira-kira 1400 Jiwa. Negeri Saparua adalah negeri yang “lumayan” luas dan terbuka. Cukup banyak tempat yang “kosong” dan “dipenuhi” banyak pohon kelapa, membuat negeri itu nyaman dan sejuk.

Negeri Saparua memiliki beberapa jalan utama yang lebar dan panjang, serta membentang dari barat ke timur “di sepanjang” teluknya. Masih ada juga jalan lain, yang membentang kearah utara, dan saling “berpotongan”.

Sebagian besar rumah, bergaya Eropa, yang bertembok batu, tapi ada juga rumah yang hanya dari bambu atau gaba-gaba.

Dari Rumah Asisten Residen Saparua (di masa itu, pemimpin Saparua dan Haruku disebut Asisten Residen dan berpusat di Negeri Saparua), terlihat ada bangunan batu di tepi teluk, itulah Benteng Duurstede, yang di tahun 1691 dibangun oleh Nicolaas Schagen, Gubernur VOC Ambon (1691 – 1696). Di samping benteng itu, terdapat sebuah gudang cengkih yang besar. Kantor Asisten Residen (Kantor Pemerintahan) terletak di bagian barat dari rumah “dinas” Asisten Residen dan jalannya menuju ke Negeri Tiouw yang terhubung dengan Negeri Saparua.

Di jalan yang “terhubung” itulah, di sekitarnya terdapat gereja dan sekolah, yang bangunannya seperti “menyatukan” kedua negeri itu.

Gereja itu pada tahun 1802 dibangun untuk menggantikan gereja yang berada di sekitar benteng, dan merupakan salah satu bangunan paling indah di Pulau Saparua, selain gereja yang berada di Negeri Waai (Ambon), Siri Sori Kristen, Haria dan Porto. Jumlah penduduk Kristen di dua negeri itu berjumlah 1616 jiwa, termasuk 610 anggota sidi gereja dan 800 anak-anak.

Jumlah orang bebas (burger/borgor) yang beragama Kristen 1256 jiwa. Keturunan orang Eropa hanyalah sebagian kecil saja, bahkan lebih kecil dari populasi orang pribumi.

Jumlah anak-anak sekolah yang tercatat berjumlah 203 siswa yang dipimpin dan dididik oleh seorang Guru Sekolah atau Guru Keliling.


Alun-alun Kota Saparua (Dekat Kawasan Soalanda)


Kawasan Soalanda yang didominasi oleh orang-orang Eropa (kulit putih) tentunya tak bisa lepas dari interaksi sosial yang intens dengan pribumi Saparua, “perjumpaan-perjumpaan”  itu lalu melahirkan keturunan-keturunan Indo Belanda Saparua atau disebut Kaum Burgers/Mestizo. Kawasan dengan kaum Burgers/Mestizo yang ada di dalamnya kemudian dinamai dan dikelompokkan oleh Para Tetua Negeri Saparua menjadi “Soa/Rumatau” berdasarkan genetik/ras yang sama dengan nama “SOALANDA/SOA WALANDA/SOA BELANDA”.

 

Berdasarkan Undang-Undang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tahun 1854 yang menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial. Selama masa pemerintahan, Kolonial Belanda menanamkan sebuah rezim segresi/pemisahan rasial 3 tingkat berdasarkan status/kelas sosial yaitu :

 

1.      Ras kelas pertama : Europeanen/Eropa (kulit putih)  yang meliputi orang Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris dan lain-lain

2.      Ras kelas kedua : Vreemde Oosterlingen/Timur Asing yang meliputi orang Tionghoa/China, Arab, India dan Non Eropa lainnya.

3.      Ras kelas ketiga : Inlander/Pribumi/Penduduk Asli setempat.

 

Akibat dari rezim segresi/pemisahan rasial oleh pemerintah Kolonial Belanda maka timbulah status/kelas sosial yang membedakan dan juga memisahkan pemukiman tempat tinggal warga kelas satu/elite/eropa, warga kelas dua/timur asing dan kelas tiga/pribumi. Beberapa contoh pemukiman warga kelas satu/elite/eropa di Maluku yang rata-rata berdekatan/satu kompleks dengan benteng pertahanan semisal Soalanda di Kota Saparua berdekatan dengan Benteng Duurstede, Harukuij di Negeri Haruku berdekatan/satu komplek dengan Benteng Nieuw Zeelandia, Mardijkers/Mardika di Kota Ambon berdekatan dengan Benteng Victoria dan lain sebagainya. Dari kawasan Soalanda ini pula yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan bermarga Belanda/Eropa di Saparua.

 

“Abrahams, Adriaansz/Adriaans, Bernard, de Fretes, de Haas, de Lima, de Sirat, Engel,  Engelberth, Gaspersz, Hengstz, Hermans, Hogendorp, Jozef/Joseph, Laurens, Meijer/Meyer, Pietersz/Pieters, Ramschie, Rhijbok/Rhebok, Rooij/Rooy, Sichers/Siegers, Sourbag/Sourbeck, Thijssen/Thyssen dan Van den Berg.”


John Thyssen (Burgers Soalanda Saparoea)

Setelah era kemerdekaan pada tahun 1945-1950an, masa di mana pemerintah Kolonial Hindia Belanda harus menyerahkan wilayah kedaulatan Nusantara ke tangan pemerintah Republik Indonesia yang telah resmi memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka, dan secara sah diakui oleh dunia Internasional. Hal itu membuat banyak warga keturunan melakukan eksodus secara besar-besaran ke Belanda, hanya ada sebagian kecil saja yang memilih menetap dan beranak pinak di Indonesia. Hal yang sama dialami juga oleh pribumi dari suku Maluku, Minahasa, Jawa dan lainnya yang berdinas di Konenklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang tidak mau berafiliasi/bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sehingga banyak dari bekas-bekas serdadu ini bersama keluarganya memilih diberangkatkan dengan kapal menuju Camp Penampungan di Belanda. Namun ada juga sebagian bekas serdadu KNIL yang memilih untuk menetap di tanah kelahiran mereka dan bergabung dengan TNI. Bekas-bekas serdadu dan warga keturunan Belanda yang memilih menetap kemudian bersama warga kelas dua (Tionghoa/China, Arab, India dan Non Eropa lainnya) serta warga kelas tiga (Pribumi) menjadi bagian dari Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Sumber:

1.      Catatan Sejarah Negeri Saparua

2.      Pieter. H. van der Kemp dalam bukunya : Het herstel van het Nederlandsch gezag in de Molukken in 1817 yang terbit tahun 1911.

3.      DS (Dictus – Pendeta) Steven Adriaan Buddingh dalam bukunya (hlm 196-197), yang terbit di Amsterdam tahun 1857 :“Nederlands Oost-Indie Reizen Over Java, Makasar, Madura, Selayar, Ambon, Haroeko, Saparoea, Noesalaut

4.      Wikipedia (Ensiklopedia Bebas)

Rabu, 18 Januari 2017

SAPARUA [ Sebagai Sebuah Nama ]


(Perubahan nama Saparua berdasarkan arsip-arsip)

Oleh:
Adryn Anakotta


Pengantar
Artikel ini bisa dianggap sebagai artikel “pelengkap” dari artikel sebelumnya1.  Pada artikel sebelumnya, disajikan penelusuran “sejarah” berdasarkan sumber-sumber sejarah. Artikel ini lebih difokuskan pada “perubahan” nama Saparua dari masa ke masa.
Nama Saparua yang kita kenal, kita ketahui, bahkan mungkin kita telah hafal cara menulisnya, rupanya, mengalami perubahan dari masa ke masa.
Perubahan itu terjadi karena beberapa faktor, bisa karena “ketidaksempurnaan” lidah para pengucap, faktor ejaan di masa itu, atau mungkin karena “gaya bahasa” dari para penulis arsip-arsip itu sendiri.
Lewat artikel ini, penulis bermaksud menyajikan perubahan-perubahan itu, sehingga kita bisa melihat dan memahami “proses” panjang itu sehingga tiba pada hasil yang kita lihat di masa kini.