Minggu, 15 Mei 2016

Duurstede Untold Stories #2



“Bebatuan Melingkar” itu bercerita
  Bagian II

Akhir Februari 1796, Residen Saparua yang bermarkas di benteng Duurstede dipanggil secara mendadak oleh Gubernur Amboina, Alexander Cornabe yang memerintah sejak 1794 - 1796 untuk menghadap di benteng Victoria Ambon. Cornabe ingin menyampaikan kabar, bahwa kekuasan Belanda di Hindia timur, diserahkan kepada Inggris dengan “dasar hukum” instruksi Raja Belanda Willem V yang dikenal dengan nama Warkat Kew. Munculnya instruksi inipun tak secara tiba-tiba, tapi memiliki cerita panjang sebagai behind the storynya. Di tahun 1780 - 1784, terjadi pergolakan politik di Eropa Barat. Inggris turun ke arena pergolakan berhadapan dengan Perancis sehingga terjadi perang Inggris IV.  Di tahun 1792, saat masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker, Perancis di bawah Louis XIV telah menginvasi Belanda dengan 100.000 pasukannya. Selama tahun-tahun ini VOC di Indonesia semakin terpisah dari negeri Belanda. Pada bulan Desember 1794 - Januari 1795, Perancis di bawah pimpinan Jenderal Pichegru menyerbu Belanda dan berhasil membentuk pemerintahan boneka Perancis, yang dinamai Republik Batavia di bawah perlindungan Perancis. Raja Belanda Willem V melarikan diri ke Inggris dan membentuk pemerintahan “transisi” di negeri Orang. Willem V bersembunyi di kota kecil Kew dekat London. Di kota inilah, Willem V mengeluarkan instruksi yang dikenal dengan “Warkat Kew” yang isinya menyerahkan semua daerah jajahannya di Afrika dan Asia ke tangan Inggris agar tak jatuh ke tangan Perancis. Berbekal dokumen itu, Inggris menduduki Padang dan Malaka di tahun 1795 dan Ambon di tahun 1796. 17 Februari 1796 terjadi pergantian kekuasaan di kota Ambon dari Belanda ke Inggris. Laksamana Pieter Rainier  akhirnya menjadi Gubernur Inggris di kota Ambon (17 februari 1796-desember 1796)  menggantikan gubernur Amboina, Alexander Cornabe asal Belanda. Meski, Ambon telah “dikuasai” Inggris, namun di pusat kekuasaan  VOC Batavia, tetaplah dipegang oleh VOC. Gubernur Jenderal disaat itu adalah Willem Arnold Alting yang memerintah sejak 02 September 1780 – 16 Agustus 1796. Orang ini kelahiran Groningen 11 November 1724, dan meninggal di Kampung Melayu (Batavia) pada 7 Juni 1800. Pertama kali datang ke Hindia Timur, pada tahun 1750 sebagai pedagang yunior (onderkopman) dan karirnya terus berkembang. Tahun 1759, ia menjadi anggota luar biasa Raad van Indie, tahun 1672 menjadi anggota penuh. Saat pemerintahan Gubernur Jenderal VOC  Reynier de Klerk (04 oktober 1777-02 september 1780) ia adalah anggota senior di Raad van Indie dalam pemerintahan de Klerk. Ia pun menggantikan Reynier de Klerk menjadi Gubernur Jenderal VOC. Pada masa pemerintahannya, menantu serta keluarganya banyak yang menempati pos-pos penting VOC yaitu menjadi residen di Pulau Jawa. Salah satu menantunya Johanes Sieberg, malah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan salah satu suami cucunya menjadi Residen Saparua yaitu Johanes Rudolph van Den Berg. Selain itu, Nicholas Engelhaard  yang juga keponakannya, menjadi Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (1801-1808) di masa Johanes Sieberg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (22 agustus 1801-19 oktober 1804). Johanes Sieberg menikah dengan salah satu putri Alting hasil pernikahannya yang pertama dengan Susana Knabe yang bernama Pieternela Gerhardina Alting, sedangkan putrinya yang lain Constantia Cornelia Alting menikah dengan Johan Luberth Umbgrove. Anak mereka adalah Johana Christhina Umbgrove  adalah istri dari Residen Saparua Johanes Rudolph van Den Berg.  Alting menikah untuk kedua kalinya dengan Maria Susana Grebel. Sebelum menikah dengan Alting, Maria Susana Grebel menikah dengan Huyben Senn van Bassel. Anak mereka Maria Wilhelmina Senn van Bassel nantinya menikah dengan Nicholas Enggelhard. Jadi sang keponakan Willem Arnold Alting menikah dengan anak tirinya. Sebuah jejaring keluarga yang saling terikat dengan kuat karena perkawinan “keluar masuk”.

Sabtu, 30 April 2016

Duurstede Untold Stories #1


Penulis : Aldrijn Anakotta

Kenangan Masa Kecil

Bebatuan melingkar itu terasa aneh, misterius dan selalu sunyi, namun seperti yang sering terjadi, jika sebuah bangunan bertumbuh, bersahabat dengan hidup manusia, maka itu dianggap biasa. Tak ada yang spesial di situ. Begitu juga yang terjadi pada bebatuan melingkar itu. Bebatuan yang seperti ditumpuk di atas batu karang itu, layaknya mercusuar yang menjaga “mulut” perairan teluk saparua. Memelototi pulau nusalaut yang mengambang di atas lautan di depan matanya. Menatap pada kesunyian deburan ombak, belitan gelombang, hilir mudiknya para nelayan bertaruh nyawa mencari sesuap nasi dan kehidupan sederhana yang terus berjalan mengalahkan zaman. Ya, batu-batu yang melingkar di atas karang itu, yang kita kenal sebagai benteng Duurstede!!! Sebuah benteng peninggalan bangsa belanda di jantung uliaser, di negeri saparua (Pisarana Hatusiri Amalatu). Seperti sebuah misteri pada masa kanak-kanak, tempat itu hanya cukup dikenal sebagai benteng duurstede, tempat bermain, tempat menonton pertandingan sepak bola, tempat duduk berleha-leha karena angin pantai yang bertiup mengusap rambut dan pipi. Di masa kanak-kanak yang teringat, saat ada pertandingan sepak bola, tempat itu dijadikan “tribun VIP” karena tinggi dibandingkan nonton di pinggiran lapangan. Atau bisa juga tempat itu dijadikan sebagai “solusi terakhir” saat anak-anak tak punya uang membeli tiket masuk untuk menyaksikan pertandingan bola. Jika itu yang terjadi, anak-anak akan berjalan menyusuri tepian pantai, bersembunyi dari tatapan mata para “intel” penjual tiket, memanjat tebing-tebing batu di kaki benteng dengan nafas satu dua, memanjat dinding yang tebal itu, dengan  berbekal potongan kayu yang bersandar, dan akhirnya “free… merdeka” duduk nangkring di “pundak batu” selayaknya para “hooligans” para ultras, penggemar fanatik sepakbola sambil berteriak-teriak. Ada juga tempat lain, di masa kanak-kanak yang dikenal sebagai lubang tikus. Terowongan berbentuk setengah lingkaran yang sempit, dan dipergunakan anak-anak untuk masuk kedalam benteng. Hal itu dilakukan jika anak-anak tak mampu atau tak mau susah-susah memanjat dinding benteng. Lubang terowongan itu kira-kira panjangnya 6 meter dari luar hingga menembus perut benteng. Dan akhirnya tiba di dalam sebagai “the winner” dalam petualangan menaklukan rasa takut untuk tujuan final yaitu menonton sepak bola. Atau tempat itu akan ramai saat peringatan Pattimura Day, setiap tanggal 14 Mei, meski tetap saja “tersingkir” karena TKP-nya lebih banyak berpusat di hutan saniri, lapangan pattimura atau baileu negeri saparua.

Rabu, 13 April 2016

Rekam Jejak


Negeri Pisarana Hatusiri Amalatu Saparoea
Dalam Pusaran Waktu.


Seperti kehidupan, sejarah sebuah negeri atau dalam skop lebih luas yaitu kebudayaan, pastilah mengalami pasang surut dalam jejak-jejak langkahnya. Kebudayaan akan dimulai dengan “kelahiran”, perkembangan pasang surut dan akhirnya mengalami keruntuhan. Itu yang dikatakan Supratikno Raharjo dalam bukunya “peradaban jawa”. Ia mengutip dan memakai analisa sejarahwan Inggris Arnold Toynbee  untuk mengupas peradaban jawa yang berlangsung selama hampir 7 abad. Ada periode Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang berlangsung sejak Mataram Kuno hingga runtuhnya kerajaan Majapahit. Persoalan itupun bisa digunakan dalam memahami jejak langkah sebuah sejarah dari suatu negeri, meskipun ada hal-hal yang tak sama. Hal yang tak sama itu adalah soal keruntuhan, karena tentunya keruntuhan sebuah negeri, tidaklah diinginkan siapapun.
Negeri Saparua atau Pisarana Hatusiri Amalatu juga mengalami sebuah jejak yang panjang. Seperti layaknya manusia, ia juga mengalami kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga saat ini. Jika digunakan umur manusia, negeri itu telah “berumur” hampir 6 abad. Tentunya dalam usia itu, banyak hal yang terjadi, banyak kejadian yang telah mewarnai perjalanan Negeri Saparua. Kejadian-kejadian itu menjadi montase kehidupan sebuah negeri, kalaideskop yang bisa digunakan untuk merenung, belajar serta mengambil manfaat untuk kehidupan serta pertumbuhan sebuah negeri kedepan.
Ini adalah sebagian rekam jejak, yang bisa dicatat, dikumpulkan dan didata. Tentunya rekam jejak itu tak sempurna, karena mungkin saja, banyak yang terlewati, tak tercatat dan dimuat. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mencatat, apa-apa saja yang pernah terjadi dalam rentang waktu yang panjang itu. Rekaman itu pastilah banyak kekurangan, namun kiranya ini bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk “melengkapi” jejak itu.

Senin, 14 Maret 2016

Suara Pasti

Persatuan Anak-anak Saparua Tiouw Nederlands (PASTI NEDERLANDS)

“Tudju djaga manggoestan hutan
Satu djaga, pata berdiri
Putus tandjong langgar lautan
Kumpulan PASTI tetap berdiri”

 

F. A. Aponno [Anggota Kehormatan PASTI]
Adapun hari-hari kehidupan manusia di atas muka bumi ini sebagai mimpi pada malam; umur dan usianja sebagai di padang, jang paginja amat tjantik, petangnja luruhlah ditimpa panas matahari, hilanglah permainja, njahlah semerbaknja; bahkan kadang-kadang sekedjap mata sadja lamanja, sebagai uap djua adanja.
Sambil memikirkan hal jang tersebut itu, jang seorangpun, meski radja jang bangsawan atau orang pandai jang mulia, tiada berkuasa mengubahkan, maka terkenanglah kami anak-anak dua negeri Saparua–Tiouw dalam perantauan di Nederlands akan adjal kami, jang sekali kelak akan bertemu kami masing-masing pada ketika jang tidak disangka dan tidak dikehendaki.

Jumat, 19 Februari 2016

Katorang Pisarana




 Anana cucu Pisarana Hatusiri Amalatu e
Mari katong bangun negeri ini kombali
Beda suku, etnis deng agama bukan penghalang
Kenapa hidop orang totua dolo seng bisa diteruskan lagi...?
Apakah cuma karena egoisme, dendam kesumat...?

Pohon kelapa... Waimoela... Saru
Tiang Belakang... Tionghoa... Soalanda
Kampong Baru... Kampong Jate... Kampong Aboeboe
Tak lupa Dusun-Dusun Salam yang dolo tabakar api amarah
Bukankah katong 1 raja, adat dan budaya...?

Saparua negeri sudah tua
Baileu Pisarana masih badiri, Batu meja terpampang nyata
Lambangkan semangat dan persatuan katong samua
Mari kembalikan jati diri, adat dan budaya
Jangan biarkan terpuruk karena  zaman


(Oleh : Andre Manuhutu)

Kamis, 04 Februari 2016

Tabaos dar Saparua



NKRI... adalah harga mati buat kami Maluku Saparua!!!
Kami butuh diperhatikan bukan diabaikan
Filosofi Bung Karno... INDONESIA TANPA MALUKU BUKANLAH INDONESIA
Begitu pula... MALUKU TANPA SAPARUA BUKANLAH MALUKU
Berikan hak yang setara dengan putra putri daerah lain
Jangan biarkan kami terpuruk dalam penindasan
Semua punya kedudukan yang sama!!!
Jangan datang ke negeri kami dengan ideologi yang memecah belah
Persekutuan, kerukunan agama dan adat istiadat kami junjung
Mengedepankan kepentingan rakyat di atas segalanya
Menengok daerah dan wilayah kami yang tertinggal
Memberikan kepercayaan sepenuhnya untuk kami berkarya
Demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

(Oleh : Andre Manuhutu)

Sabtu, 02 Januari 2016

Kenangan Masa Kecil_Part 2


PERMAINAN ANAK-ANAK DI NEGERI SAPARUA
Penulis : Aldryn Anakotta


1.        Maeng benteng (bentengan)
maeng benteng  adalah “pengembangan” dari permainan enggo lari, namun ada sedikit perbedaan dalam cara permainan dan aturannya. Jika enggo lari tidak “mengenal markas” maka maeng benteng harus menggunakan “markas”. Markas inilah yang disebut benteng sebagai tempat pertahanan.
Permainan ini dilakukan oleh banyak orang dan dimainkan oleh sekurang-kurangnya 2 kelompok dalam 1x permainan, atau lebih banyak kelompok, tentunya dengan kesepakatan di antara para pemain.
Pemilihan anggota kelompok biasanya dilakukan dengan cara hompimpa/gambret atau gambreng. Awalnya 2 orang yang “ditunjuk/dianggap” sebagai pemimpin menggambreng, untuk mencari “pihak lawan dan kawan”. Kemudian diikuti oleh pemain selanjutnya yang dibagi menurut hasil gambreng/gambret mereka.
Setelah terbentuk 2 kelompok yang anggotanya sama banyak, mereka “membuat” benteng. Benteng ini ditandai oleh 1 buah batu. Masing-masing kelompok akan berdiri dengan sebelah kaki menginjak “benteng”. Jarak antar 1 benteng ke benteng yang lain kira-kira 10 meter-an (tergantung kesepakatan para pemain).
Saat permainan dimulai, biasanya “pemimpin/raja” tetap tinggal di benteng, meski bisa juga “menyerang” dengan perhitungan “strategi” yang matang. Hal ini dilakukan karena jika pihak lawan bisa menangkap “raja” maka secara otomatis, permainan berakhir, dan permainan diulang dengan kemenangan/poin bagi pihak yang bisa menangkap raja.
via : mainantradisional.wordpress.com