Negeri Pisarana
Hatusiri Amalatu Saparoea
Dalam Pusaran Waktu.
Seperti
kehidupan, sejarah sebuah negeri atau dalam skop lebih luas yaitu kebudayaan,
pastilah mengalami pasang surut dalam jejak-jejak langkahnya. Kebudayaan akan
dimulai dengan “kelahiran”, perkembangan pasang surut dan akhirnya mengalami
keruntuhan. Itu yang dikatakan Supratikno Raharjo dalam bukunya “peradaban
jawa”. Ia mengutip dan memakai analisa sejarahwan Inggris Arnold Toynbee untuk mengupas peradaban jawa yang
berlangsung selama hampir 7 abad. Ada periode Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang
berlangsung sejak Mataram Kuno hingga runtuhnya kerajaan Majapahit. Persoalan
itupun bisa digunakan dalam memahami jejak langkah sebuah sejarah dari suatu
negeri, meskipun ada hal-hal yang tak sama. Hal yang tak sama itu adalah soal
keruntuhan, karena tentunya keruntuhan sebuah negeri, tidaklah diinginkan
siapapun.
Negeri Saparua atau Pisarana Hatusiri Amalatu juga mengalami sebuah jejak yang
panjang. Seperti layaknya manusia, ia juga mengalami kelahiran, masa
kanak-kanak, remaja, dewasa hingga saat ini. Jika digunakan umur manusia,
negeri itu telah “berumur” hampir 6 abad. Tentunya dalam usia itu, banyak hal
yang terjadi, banyak kejadian yang telah mewarnai perjalanan Negeri Saparua.
Kejadian-kejadian itu menjadi montase kehidupan sebuah negeri, kalaideskop yang
bisa digunakan untuk merenung, belajar serta mengambil manfaat untuk kehidupan
serta pertumbuhan sebuah negeri kedepan.
Ini
adalah sebagian rekam jejak, yang bisa dicatat, dikumpulkan dan didata.
Tentunya rekam jejak itu tak sempurna, karena mungkin saja, banyak yang
terlewati, tak tercatat
dan dimuat. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mencatat, apa-apa saja yang pernah
terjadi dalam rentang waktu yang panjang itu. Rekaman itu pastilah banyak
kekurangan, namun kiranya ini bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk
“melengkapi” jejak itu.