Jumat, 26 Agustus 2016

Upulatu Maralatu Pisarana Hatusiri Amalatu


Yana Hatusiri Sopa Solohua o
Sopa Solohua Pala e, Latu Horoil o
Ale Sopa e, Sopa Solohua e
E Yana Pisarana Hutu Sambi Mese-Mese o

Upulatu e Latu Hatusiri o
Solohua Apaem Unalatu Horoil o
Ale Solo e, Solohua Apaem e
E Latu Horoil o, Waka Poso Pamahanu Pisarana o

Upulatu e, Latu Hatusiri o
Poso Ni Makana Pamahanu Pisarana o
Ale Poso, Poso Ni Makana e
E Solohua Memberkati Hutaneil o

Kamis, 14 Juli 2016

MENYOAL NAMA SAPAROEA

 

Sebuah Kajian Berdasarkan Beberapa Sumber 

Oleh:

Adryn Anakotta


Kaart van de Oeliassers

Senin, 20 Juni 2016

V O C (The Dutch East India Company)




Gubernur Jenderal VOC  

19 Dec 1610 - 06 Nov 1614  Pieter Both                            (b. 1568 - d. 1615)
06 Nov 1614 - 07 Dec 1615  Gerard Reynst                          (b. c.1568 - d. 1615)
19 Jun 1616 - 21 Mar 1619  Laurens Reael                          (b. 1583 - d. 1637)
30 Apr 1618 - 01 Feb 1623  Jan Pieterszoon Coen (1st time)        (b. 1587 - d. 1629)
01 Feb 1623 - 30 Sep 1627  Pieter de Carpentier                   (b. 1586 - d. 1659)
30 Sep 1627 - 21 Sep 1629  Jan Pieterszoon Coen (2nd time)        (s.a.)
25 Sep 1629 - 27 Sep 1632  Jacques Specx                          (b. 1585 - d. 1652)
27 Sep 1632 - 01 Jan 1636  Hendrik Brouwer                        (b. 1581 - d. 1643)
01 Jan 1636 - 19 Apr 1645  Antonio van Diemen                     (b. 1593 - d. 1645)
19 Apr 1645 - 26 Apr 1650  Cornelis van der Lijn                  (b. 1608 - d. 1679)
26 Apr 1650 - 19 May 1653  Carel Reyniersz                        (b. 1604 - d. 1653)
19 May 1653 - 04 Jan 1678  Joan Maetsuyker                        (b. 1606 - d. 1678)
04 Jan 1678 - 25 Nov 1681  Rijcklof van Goens                     (b. 1619 - d. 1682)
25 Nov 1681 - 11 Jan 1684  Cornelis Speelman                      (b. 1628 - d. 1684)
11 Jan 1684 - 24 Nov 1691  Joanes Camphuys                        (b. 1634 - d. 1695)
24 Sep 1691 - 15 Aug 1704  Willem van Outhoorn                    (b. 1635 - d. 1720)
15 Aug 1704 - 30 Oct 1709  Johan van Hoorn                        (b. 1653 - d. 1711)
30 Oct 1709 - 17 Nov 1713  Abraham van Riebeeck                   (b. 1653 - d. 1713)
17 Nov 1713 - 12 Nov 1718  Christoffel van Swoll                  (b. 1668 - d. 1718)
13 Nov 1718 - 08 Jul 1725  Henricus Zwaardecroon                  (b. 1667 - d. 1728)
08 Jul 1725 - 01 Jun 1729  Matthaeus de Haan                      (b. 1663 - d. 1729)
01 Jun 1729 - 09 Oct 1731  Diederik Durven                        (b. 1676 - d. 1740)
28 May 1732 - 10 Mar 1735  Dirk van Cloon                         (b. 1684 - d. 1735)
11 Mar 1735 - 03 May 1737  Abraham Patras                         (b. 1671 - d. 1737)
03 May 1737 - 06 Nov 1741  Adriaan Valckenier                     (b. 1695 - d. 1751)
06 Nov 1741 - 28 May 1743  Johannes Thedens (acting)              (b. c.1680 - d. 1748)
28 May 1743 - 01 Nov 1750  Gustaaf Willem baron van Imhoff        (b. 1705 - d. 1750)
01 Nov 1750 - 15 May 1761  Jacob Mossel (acting to 1752)          (b. 1704 - d. 1761)
15 May 1761 - 28 Dec 1775  Petrus Albertus van der Parra          (b. 1714 - d. 1775)
28 Dec 1775 - 03 Oct 1777  Jeremias van Riemsdijk                 (b. 1712 - d. 1777)
04 Oct 1777 - 01 Sep 1780  Reinier de Klerk                       (b. 1710 - d. 1780)
                           (acting to 9 Oct 1778)
02 Sep 1780 - 16 Aug 1796  Willem Arnold Alting                   (b. 1724 - d. 1800)
16 Aug 1796 - 22 Aug 1801  Peter Gerhardus van Overstraten        (b. 1755 - d. 1801)
22 Aug 1801 - 19 Oct 1804  Johannes Siberg (arrived Apr 1802)     (b. 1740 - d. 1817)
19 Oct 1804 - 14 Jan 1808  Albertus Henricus Wiese                (b. 1761 - d. 1810)
14 Jan 1808 - 16 May 1811  Herman Willem Daendels                 (b. 1762 - d. 1818)
16 May 1811 - 18 Sep 1811  Jan Willem Janssens                    (b. 1762 - d. 1838)

Selasa, 31 Mei 2016

Duurstede Untold Stories #3



“Bebatuan Melingkar” itu bercerita
  Bagian III

J.J. Rizal sejarahwan asal Betawi, dalam acara Flashback di MetroTv yang ditayangkan pada 06 Maret 2016 dengan judul “Kanal Molenvliet, Riwayatmu dulu dan kini” berkata: 
“...Generasi pertama VOC yang datang ke Hindia Timur adalah para pengecut, “sang anak mama/mami (The moma’s boys)...”
 Mereka datang dengan banyak kenangan tentang perang 80 tahun di negaranya, dan ingin “menghadirkan” semua kenangan tentang tempat kelahiran mereka itu dalam bentuk bangunan-bangunan di tanah jajahan yang baru (Indonesia). Dari bentuk bangunan (benteng), rumah, arsitektur penataan sebuah kota hingga penamaan semuanya didasari oleh kenangan emosional itu... kira-kira begitulah maksud dari J.J. Rizal tadi.

Het Fort Duurstede (Photo by : Ambonesia Foundation)

Minggu, 15 Mei 2016

Duurstede Untold Stories #2



“Bebatuan Melingkar” itu bercerita
  Bagian II

Akhir Februari 1796, Residen Saparua yang bermarkas di benteng Duurstede dipanggil secara mendadak oleh Gubernur Amboina, Alexander Cornabe yang memerintah sejak 1794 - 1796 untuk menghadap di benteng Victoria Ambon. Cornabe ingin menyampaikan kabar, bahwa kekuasan Belanda di Hindia timur, diserahkan kepada Inggris dengan “dasar hukum” instruksi Raja Belanda Willem V yang dikenal dengan nama Warkat Kew. Munculnya instruksi inipun tak secara tiba-tiba, tapi memiliki cerita panjang sebagai behind the storynya. Di tahun 1780 - 1784, terjadi pergolakan politik di Eropa Barat. Inggris turun ke arena pergolakan berhadapan dengan Perancis sehingga terjadi perang Inggris IV.  Di tahun 1792, saat masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker, Perancis di bawah Louis XIV telah menginvasi Belanda dengan 100.000 pasukannya. Selama tahun-tahun ini VOC di Indonesia semakin terpisah dari negeri Belanda. Pada bulan Desember 1794 - Januari 1795, Perancis di bawah pimpinan Jenderal Pichegru menyerbu Belanda dan berhasil membentuk pemerintahan boneka Perancis, yang dinamai Republik Batavia di bawah perlindungan Perancis. Raja Belanda Willem V melarikan diri ke Inggris dan membentuk pemerintahan “transisi” di negeri Orang. Willem V bersembunyi di kota kecil Kew dekat London. Di kota inilah, Willem V mengeluarkan instruksi yang dikenal dengan “Warkat Kew” yang isinya menyerahkan semua daerah jajahannya di Afrika dan Asia ke tangan Inggris agar tak jatuh ke tangan Perancis. Berbekal dokumen itu, Inggris menduduki Padang dan Malaka di tahun 1795 dan Ambon di tahun 1796. 17 Februari 1796 terjadi pergantian kekuasaan di kota Ambon dari Belanda ke Inggris. Laksamana Pieter Rainier  akhirnya menjadi Gubernur Inggris di kota Ambon (17 februari 1796-desember 1796)  menggantikan gubernur Amboina, Alexander Cornabe asal Belanda. Meski, Ambon telah “dikuasai” Inggris, namun di pusat kekuasaan  VOC Batavia, tetaplah dipegang oleh VOC. Gubernur Jenderal disaat itu adalah Willem Arnold Alting yang memerintah sejak 02 September 1780 – 16 Agustus 1796. Orang ini kelahiran Groningen 11 November 1724, dan meninggal di Kampung Melayu (Batavia) pada 7 Juni 1800. Pertama kali datang ke Hindia Timur, pada tahun 1750 sebagai pedagang yunior (onderkopman) dan karirnya terus berkembang. Tahun 1759, ia menjadi anggota luar biasa Raad van Indie, tahun 1672 menjadi anggota penuh. Saat pemerintahan Gubernur Jenderal VOC  Reynier de Klerk (04 oktober 1777-02 september 1780) ia adalah anggota senior di Raad van Indie dalam pemerintahan de Klerk. Ia pun menggantikan Reynier de Klerk menjadi Gubernur Jenderal VOC. Pada masa pemerintahannya, menantu serta keluarganya banyak yang menempati pos-pos penting VOC yaitu menjadi residen di Pulau Jawa. Salah satu menantunya Johanes Sieberg, malah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan salah satu suami cucunya menjadi Residen Saparua yaitu Johanes Rudolph van Den Berg. Selain itu, Nicholas Engelhaard  yang juga keponakannya, menjadi Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (1801-1808) di masa Johanes Sieberg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (22 agustus 1801-19 oktober 1804). Johanes Sieberg menikah dengan salah satu putri Alting hasil pernikahannya yang pertama dengan Susana Knabe yang bernama Pieternela Gerhardina Alting, sedangkan putrinya yang lain Constantia Cornelia Alting menikah dengan Johan Luberth Umbgrove. Anak mereka adalah Johana Christhina Umbgrove  adalah istri dari Residen Saparua Johanes Rudolph van Den Berg.  Alting menikah untuk kedua kalinya dengan Maria Susana Grebel. Sebelum menikah dengan Alting, Maria Susana Grebel menikah dengan Huyben Senn van Bassel. Anak mereka Maria Wilhelmina Senn van Bassel nantinya menikah dengan Nicholas Enggelhard. Jadi sang keponakan Willem Arnold Alting menikah dengan anak tirinya. Sebuah jejaring keluarga yang saling terikat dengan kuat karena perkawinan “keluar masuk”.

Sabtu, 30 April 2016

Duurstede Untold Stories #1


Penulis : Aldrijn Anakotta

Kenangan Masa Kecil

Bebatuan melingkar itu terasa aneh, misterius dan selalu sunyi, namun seperti yang sering terjadi, jika sebuah bangunan bertumbuh, bersahabat dengan hidup manusia, maka itu dianggap biasa. Tak ada yang spesial di situ. Begitu juga yang terjadi pada bebatuan melingkar itu. Bebatuan yang seperti ditumpuk di atas batu karang itu, layaknya mercusuar yang menjaga “mulut” perairan teluk saparua. Memelototi pulau nusalaut yang mengambang di atas lautan di depan matanya. Menatap pada kesunyian deburan ombak, belitan gelombang, hilir mudiknya para nelayan bertaruh nyawa mencari sesuap nasi dan kehidupan sederhana yang terus berjalan mengalahkan zaman. Ya, batu-batu yang melingkar di atas karang itu, yang kita kenal sebagai benteng Duurstede!!! Sebuah benteng peninggalan bangsa belanda di jantung uliaser, di negeri saparua (Pisarana Hatusiri Amalatu). Seperti sebuah misteri pada masa kanak-kanak, tempat itu hanya cukup dikenal sebagai benteng duurstede, tempat bermain, tempat menonton pertandingan sepak bola, tempat duduk berleha-leha karena angin pantai yang bertiup mengusap rambut dan pipi. Di masa kanak-kanak yang teringat, saat ada pertandingan sepak bola, tempat itu dijadikan “tribun VIP” karena tinggi dibandingkan nonton di pinggiran lapangan. Atau bisa juga tempat itu dijadikan sebagai “solusi terakhir” saat anak-anak tak punya uang membeli tiket masuk untuk menyaksikan pertandingan bola. Jika itu yang terjadi, anak-anak akan berjalan menyusuri tepian pantai, bersembunyi dari tatapan mata para “intel” penjual tiket, memanjat tebing-tebing batu di kaki benteng dengan nafas satu dua, memanjat dinding yang tebal itu, dengan  berbekal potongan kayu yang bersandar, dan akhirnya “free… merdeka” duduk nangkring di “pundak batu” selayaknya para “hooligans” para ultras, penggemar fanatik sepakbola sambil berteriak-teriak. Ada juga tempat lain, di masa kanak-kanak yang dikenal sebagai lubang tikus. Terowongan berbentuk setengah lingkaran yang sempit, dan dipergunakan anak-anak untuk masuk kedalam benteng. Hal itu dilakukan jika anak-anak tak mampu atau tak mau susah-susah memanjat dinding benteng. Lubang terowongan itu kira-kira panjangnya 6 meter dari luar hingga menembus perut benteng. Dan akhirnya tiba di dalam sebagai “the winner” dalam petualangan menaklukan rasa takut untuk tujuan final yaitu menonton sepak bola. Atau tempat itu akan ramai saat peringatan Pattimura Day, setiap tanggal 14 Mei, meski tetap saja “tersingkir” karena TKP-nya lebih banyak berpusat di hutan saniri, lapangan pattimura atau baileu negeri saparua.

Rabu, 13 April 2016

Rekam Jejak


Negeri Pisarana Hatusiri Amalatu Saparoea
Dalam Pusaran Waktu.


Seperti kehidupan, sejarah sebuah negeri atau dalam skop lebih luas yaitu kebudayaan, pastilah mengalami pasang surut dalam jejak-jejak langkahnya. Kebudayaan akan dimulai dengan “kelahiran”, perkembangan pasang surut dan akhirnya mengalami keruntuhan. Itu yang dikatakan Supratikno Raharjo dalam bukunya “peradaban jawa”. Ia mengutip dan memakai analisa sejarahwan Inggris Arnold Toynbee  untuk mengupas peradaban jawa yang berlangsung selama hampir 7 abad. Ada periode Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang berlangsung sejak Mataram Kuno hingga runtuhnya kerajaan Majapahit. Persoalan itupun bisa digunakan dalam memahami jejak langkah sebuah sejarah dari suatu negeri, meskipun ada hal-hal yang tak sama. Hal yang tak sama itu adalah soal keruntuhan, karena tentunya keruntuhan sebuah negeri, tidaklah diinginkan siapapun.
Negeri Saparua atau Pisarana Hatusiri Amalatu juga mengalami sebuah jejak yang panjang. Seperti layaknya manusia, ia juga mengalami kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga saat ini. Jika digunakan umur manusia, negeri itu telah “berumur” hampir 6 abad. Tentunya dalam usia itu, banyak hal yang terjadi, banyak kejadian yang telah mewarnai perjalanan Negeri Saparua. Kejadian-kejadian itu menjadi montase kehidupan sebuah negeri, kalaideskop yang bisa digunakan untuk merenung, belajar serta mengambil manfaat untuk kehidupan serta pertumbuhan sebuah negeri kedepan.
Ini adalah sebagian rekam jejak, yang bisa dicatat, dikumpulkan dan didata. Tentunya rekam jejak itu tak sempurna, karena mungkin saja, banyak yang terlewati, tak tercatat dan dimuat. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mencatat, apa-apa saja yang pernah terjadi dalam rentang waktu yang panjang itu. Rekaman itu pastilah banyak kekurangan, namun kiranya ini bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk “melengkapi” jejak itu.