[G.L. Tichelman]
A. Kata Pengantar
Tulisan pendek yang diterjemahkan ini adalah tulisan dari Gerard Louwrens Tichelman, seorang pejabat yang pernah berdinas di Ambon1, dengan judul Dradendans in de Zuid-Molukken, dimuat di koran De Stem van Ambon, edisi nomor 79, tanggal 24 Desember 1955, halaman 6 di koran itu. Tulisan 4 kolom itu menjelaskan atau menginformasikan tentang sebuah tarian yang biasa diperagakan atau ditampilkan pada perayaan-perayaan yaitu “Dansa Tali”.
Tichelman menjelaskan tentang “asal-usul” tarian ini, mengaitkan tarian ini dengan asal usul yang lebih kuno yaitu labirin, sebuah istilah atau tepatnya istana di masa pra Yunani. Ia juga mengutip pendapat dari F.J.P. Sachse dan A.M. Sierevelt yang juga pernah bertugas di Ambon, tepatnya di wilayah Seram Barat dan Utara, yang menyebut bahwa orang-orang Ambon biasanya mengadopsi atau menyerap dan memodifikasi tarian-tarian dari Eropa, serta bentuk dari sisa-sisa pemujaan terhadap dewa matahari.
Artikel pendek ini hanya menyisipkan 1 foto yang merupakan koleksi foto dari sang penulis, dan kami hanya menambahkan sedikit catatan tambahan dan foto untuk “melengkapi” yang sudah ada. Semoga tulisan pendek ini bisa bermanfaat.
B. Terjemahan
Di beberapa tempat di Maluku Selatan, "dangsa tali," atau tarian benang, dipentaskan di desa-desa di sepanjang pantai pulau-pulau tersebut. Tujuan tarian ini, yang dapat divisualisasikan dalam ilustrasi yang menyertainya, adalah agar benang-benang saling terjalin saat menari, dan kemudian secara ritmis dilepaskan sambil menari. "Dangsa tali" dipentaskan pada acara-acara yang sangat meriah, seperti ulang tahun Yang Mulia Ratu2.

Dansa Tali di Lafa, Seram Selatan, 1920
Bapak C. Wairata meyakinkan saya bahwa tarian ini sekarang juga dipentaskan oleh orang-orang Ambon di kamp-kamp di Belanda. Tarian ini dikatakan memiliki makna budaya-sejarah, sebuah peninggalan dari zaman paling awal, dan dapat ditelusuri kembali ke simbol dari masa lalu yang paling dalam: labirin.
Bentuk labirin ini, yang berasal dari periode paling awal umat manusia, menemukan titik awalnya dalam gerakan ayunan tarian kuno. Labirin adalah kata pra-Yunani dan merupakan nama istana pra-Yunani di Knossos di Kreta. Raja Minos dari Kreta diperagakan tarian labirin di lantai dansa yang dibangun oleh Daedalus. Figur-figur labirin ditempatkan di lantai untuk memandu para penari dalam tarian labirin mereka. Labirin terus berlanjut hingga ke Gereja Katolik dan masih ditemukan sebagai mosaik lantai di gereja-gereja abad pertengahan di Italia, termasuk katedral Chartres, Sens, Arras, St. Omer, dan St. Quentin, serta di Prancis. Ini adalah "chemins de Jerusalem" (jalan Yerusalem). Prof. Dr. G. Van der Leeuw, dalam karyanya "In den Hemel is eenen dans" (A'dam 1930), berbicara tentang tarian sebagai gerakan kosmik kehidupan dan kematian. Gerakan berkelok-kelok tarian "Vlöggelen" di Belanda timur memiliki asal usul yang sangat kuno.
Tarian ini termasuk dalam tarian labirin, yang sebenarnya mewakili lorong-lorong gelap dan tak terhindarkan menuju dunia bawah dan pelarian dari alam kematian, atau dari dunia supernatural. Tarian dangsa tali sangat mengingatkan pada tarian di sekitar tiang Maypole, simbol kesuburan yang melambangkan kebangkitan kembali kehidupan. Tiang Maypole dihiasi dengan pita, dan kaum muda menari di sekitarnya sambil memegang pita-pita tersebut dan bernyanyi. Jenis tarian ini juga terlihat dipentaskan di India dan, dilaporkan, di Kamboja.

Dansa Tali di Galala Ambon, 1908
Seorang ahli tentang Maluku (J.F.P. Sachse3) berpendapat bahwa penduduk Kristen di pulau-pulau tersebut mengadopsi semua tarian Eropa: quadrille, lancers, waltz, polka, dll., dan sangat mungkin bahwa dangsa tali, tarian yang telah mengalami perubahan di sekitar tiang Maypole, juga diperkenalkan dengan cara yang sama. Ahli Maluku lainnya (A.M. Sierevelt4) berpendapat bahwa ini mungkin merupakan sisa-sisa pemujaan matahari, yang jejaknya dapat ditemukan di seluruh Timur Jauh.
Sumpah-sumpah kuno Alfur menunjukkan adanya pemujaan terhadap benda-benda langit, yang dipanggil sebagai saksi. Sumpah-sumpah ini semuanya dimulai dengan kata-kata: "Lanite (langit), Tapéle (bumi), Lématai (matahari), Boulane (bulan). Lagu-lagu dalam "bahasa tanah" (bahasa daerah kuno), yang biasa dinyanyikan oleh "djodjaro" (para wanita muda) dari negorij sambil menari, mungkin telah berkontribusi untuk menjelaskan makna asli dari tarian benang Maluku Selatan.
Saat ini, semua jenis melodi modern ditampilkan selama tarian tersebut. Hal ini masih terlihat dalam tarian Paskah, festival kebangkitan. Labirin juga telah mencapai Inggris dan Skandinavia. Di dekat gereja, jalur untuk tarian ditandai dengan kerucut besar. Di Skansen di Stockholm, para penari dengan kostum rakyat Swedia menampilkan tarian di mana mereka membentuk barisan panjang, yang tampaknya menjadi kusut dalam liku-liku yang rumit, tetapi kemudian dengan cepat terurai. Tarian-tarian ini memiliki makna kosmik, penaklukkan kematian, dan figur labirin yang dihasilkan harus dianggap sebagai semacam peta.
==== selesai ====
Catatan Tambahan
1. G.L. Tichelman (1893 – 1962), bertugas sebagai adspirant Gezaghebber onderafdeeling Wst-Ceram (1917 – Januari 1918), Gezaghebber (Controleur) onderafdeeling Amahai (Januari 1918 – November 1922)
2. Ulang Tahun Yang Mulia Ratu yang dimaksud adalah perayaan Ulang Tahun Wilhelmina, Ratu Belanda, yang biasanya dirayakan setiap tanggal 31 Agustus
3. F.J.P. Sachse, bertugas di Seram barat sebagai Gezaghebber afdeeling van West Ceram (Juni 1904 – Maret 1905, Agustus 1915 – Agustus 1916), juga bertugas di Seram Utara sebagai Gezaghebber Afdeeling van Wahai (Juni 1901 – Juni 1904)
4. A.M. Sierevelt, bertugas di Seram Barat sebagai komandan bivak di Riring (1919) da komandan militer Ambon (1936 – 1940)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar