[De Preanger Bode & De Sumatra Post]
A. Kata Pengantar
Pada awal Desember, tepatnya tanggal 5 Desember 1913, Charles Bud Robinson Jr (26 Oktober 1871 – 5 Desember 1913), seorang botanis asal Canada, terbunuh karena miskomunikasi dalam percakapan atau salah paham bahasa. Kisah terbunuhnya sang profesor ini secara “gamblang”, setelah puluhan tahun kemudian pernah ditulis oleh Charlotte Rowley (2012)1 maupun oleh Rudy Fofid (2019), jurnalis senior Maluku2. Prof Robinson oleh masyarakat Ambon sering dijuluki “Dokter Bunga”3
Meski kedua tulisan itu “gamblang”, namun faktanya dalam tulisan itu tidak terungkap identitas para pelaku pembunuhan itu. Sebenarnya, hampir 6 bulan setelah kejadian, identitas para pelaku/terdakwa dipublikasikan melalui surat kabar di tahun 1914. Surat kabar-surat kabar dimaksud menurunkan berita persidangan para terdakwa, yang berlangsung pada akhir Maret – awal April 19144. Berdasarkan berita-berita yang dimuat disurat kabar itu, kita mengetahui suasana persidangan, jumlah saksi yang dihadirkan, pengakuan atau keterangan para terdakwa, para saksi serta vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka. Vonis yang dijatuhkan oleh Landraad van Amboina5 kepada pelaku utama yaitu 20 tahun kerja paksa dengan dirantai, serta 5 pelaku lain masing-masing dijatuhi hukuman 8 tahun pada tanggal 2 April 1914.
![]() |
| Dr Charles Budd Robinson Jr (1871 - 1913) |
Menarik, jika kita membaca berita persidangan ini, dimana kita bisa “merekonstruksi” dan mengetahui suasana, kebiasaan persidangan di masa-masa itu, diantaranya keterangan para saksi yang bertentangan, usaha para terdakwa untuk mencari alibi dengan berbohong, usaha para terdakwa untuk mengintimidasi para saksi, atau saksi yang dalam kondisi sakit tetap dihadirkan di persidangan meski harus dengan tandu, serta informasi-informasi lainnya.
Kami mencoba menerjemahkan berita tentang persidangan ini, yang dimuat oleh surat kabar De Preanger Bode edisi nomor 123, tahun ke-19, tanggal 3 Mei 1914 serta surat kabar De Sumatra Post edisi nomor 110, tahun ke-16, tanggal 12 Mei 1914 dengan judul berita De moord op prof Robinson. Disebutkan oleh kedua surat kabar tersebut bahwa berita persidangan ini dikutip dari surat kabar Soerabaja Handelsblad. Sayangnya, kami belum menemukan arsip/dokumen dari surat kabar itu, sehingga tidak mengetahui nomor edisinya, tetapi pasti tanggal edisinya pada bulan April 1914. Pada artikel terjemahan ini, kami hanya menambahkan sedikit catatan tambahan dan beberapa ilustrasi penunjang. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita.
B. Terjemahan [Isi Berita]
Kasus pidana terhadap para pembunuh Profesor Robinson, yang, seperti yang kita ingat, dibunuh secara keji oleh penduduk “pribumi”6 selama eksplorasi di Amboina7, baru-baru ini disidangkan di Pengadilan Distrik di Ambon untuk sidang terbuka. Orang pertama yang didengarkan, seperti yang kita baca di "Soerabaja Handelsblad," adalah terdakwa La Djoe, setelah dakwaan dibacakan kepada semua terdakwa. Terdakwa ini, La Djoe, menyatakan bahwa ia melihat seorang Eropa dan, atas permintaannya, menunjukkan kepadanya tempat di mana ia dapat minum. Terdakwa menggambarkan pria yang dibunuh itu. Kemudian ia menceritakan… bahwa sekitar 2 jam setelah orang Eropa itu melewatinya di pantai, ia mendengar teriakan minta tolong yang keras tiga kali. Mai toeloe akoe!8. Ketika ia berjalan ke sana, ia melihat, di samping jembatan di atas dasar sungai kering, tubuh seorang Eropa tergeletak dengan luka berdarah hebat di bagian belakang kepalanya. Di sebelahnya adalah Kopral La Ongsopagara dari Butonnese9, dengan kapak berdarah di tangannya. Di tangan satunya, ia memegang pedang dan topi, yang merupakan milik orang Eropa itu. Bersamaan dengan La Djoe, datang pula empat terdakwa lainnya, yaitu La Hoemani, La Mini, La Ongso toea, dan La Darane yang berlarian.
La Ongsopagara, sang kopral, berteriak: "Mai toeloe akoe!" Ketika mereka tiba di sana, kopral memerintahkan mereka untuk menghabisi pria itu, yang belum sepenuhnya mati. Mereka melakukannya; La Ongsopagara mengatakan bahwa dia adalah "Blanda potong kapala." Setelah itu, atas perintah La Ongso, mereka membawa mayat itu cukup jauh ke dasar sungai yang kering, dan pada malam hari La Ongso datang memanggil mereka untuk membawa mayat itu ke pantai dan menenggelamkannya di laut. La Hoemani harus memotong daun kelapa; La Ongsoo, sang kopral, ketika mereka duduk di rumah, membungkus mayat itu dengan daun-daun tersebut. Mereka menempatkan mayat yang terbungkus di dalam perahu kecil tanpa sayap dan mengikat perahu itu di belakang perahu layar, setelah itu perahu kecil itu dibalikkan oleh La Ongso pagara, yang mengemudikannya, dan mayat yang penuh batu itu tenggelam.
Setelah itu, mereka kembali ke pantai, dan La Ongso pagara pergi ke rumahnya. La Ongso toea pergi ke rumahnya, dan La Djoe tinggal untuk tidur di perahu layar bersama tiga terdakwa lainnya. Seorang penduduk desa, La Wele, berdiri agak jauh ketika mereka membawa orang Eropa itu di dasar sungai yang kering, tetapi La Wele tidak ikut serta. Pada malam hari, La Wele juga datang dan membantu menempatkan mayat di dalam kolé-kolé. Setelah itu, dia pulang. Terdakwa berikutnya adalah La Mini. Dia adalah seorang pria berusia antara 30 dan 40 tahun; jauh lebih tua dari La Djoe. Dia menyatakan bahwa dia bekerja di rumah La Ongso toea. Dia juga mendengar teriakan "Mai toe oe akoe!" dan bergegas ke sungai kering bersama para terdakwa La Ongso toea, La Hoermani, dan La Darane.
Ia menceritakan kepada Darane kisah yang hampir sama dengan La Djoe. Kemudian La Hoemani tampil. Ia memberikan pernyataan yang hampir sama dengan La Mini. Pria ini sangat sakit sehingga dibawa ke ruang sidang dengan tandu; ia menderita beri-beri. Tepat setelah pukul 2 siang, ketua sidang10 menunda sidang hingga Senin, 30 Maret. Pada pagi itu, pukul 07.30, terdakwa La Ongso toea dibawa masuk pertama, seorang pria berusia sekitar 60 tahun. Ia tidak banyak bercerita selain tentang dua terdakwa La Hoemani dan La Mini. Rumahnya, yang sedang dibangun, terletak dekat dengan tempat kejadian pembunuhan. Ia dan tiga orang lainnya yang berada di rumahnya mendengar teriakan “Mai toeloe akoe!” dan pergi untuk menyelidiki. Ia menggambarkan dengan akurat penampilan dan pakaian orang Inggris itu. Hampir pernyataan yang sama seperti hari sebelumnya menyusul. Kemudian La Darane tampil memberi kesaksian/pernyataan. Ia adalah seorang pedagang tembakau; Berusia antara 30 dan 40 tahun. Beberapa hari sebelum pembunuhan Telaga di Hitoe, ia pergi ke Dosoen Soa untuk membeli tembakau. Karena ia sangat lemah (ia menderita beri-beri), ia diizinkan untuk tetap berbaring di tanah selama interogasi.
Pernyataan-pernyataan hari sebelumnya disampaikan hampir seperti pelajaran yang dihafal secara kolektif. Terdakwa ini meninggal tak lama setelah putusan diumumkan11. Kemudian La Ongso, seorang kopral, terdakwa utama, datang ke hadapan meja. Seorang pria berusia sekitar 55 tahun. Berpenampilan brutal, berpakaian kotor. Ia mengaku telah pergi ke Eri pada hari itu, tetapi ceritanya terdengar sangat tidak masuk akal. Ia dikatakan berbohong tentang semua yang dinyatakan dalam laporan penyelidikan pendahuluan dan agak kasar kepada djaksa12. Ia telah meminjamkan kapaknya kepada La Wele selama beberapa bulan, dan dari seluruh kejadian itu ia hanya tahu apa yang didengarnya selama penyelidikan pendahuluan. Ketua sidang sangat sabar dengannya dan berulang kali memberinya waktu untuk berpikir sejenak. Terasa bahwa pria itu mencari alibi dengan berbohong. Setelah pemeriksaan terhadap terdakwa ini, sidang ditunda hingga Selasa, 31 Maret13. Kemudian giliran para saksi. Saksi pertama yang didengarkan adalah La Wele. Saksi ini awalnya mengelak dan berbohong hingga membuatnya terpojok.
Akhirnya, beberapa hal yang masuk akal muncul dalam ceritanya, yang pada intinya adalah: bahwa ia pergi mengikuti suara teriakan (yang menurutnya ia dengar di malam hari) dan melihat mayat seorang Eropa tergeletak di sana, dengan enam terdakwa berkumpul di sekitarnya. Ia menggambarkan mayat tersebut. Ia memerintahkan putranya, La Djoema, yang awalnya juga ikut, untuk tinggal di belakang. Setelah ia melihat keempat terdakwa (dengan demikian bukan La Hoemani dan La Ongsopagara) kembali ke rumah dengan selamat, ia pun pulang. Di malam hari, La Ongso tiba dan menggantung kapaknya yang berlumuran darah di sebuah talang bambu di halaman rumahnya. Akibatnya, kapak itu berlumuran darah! Setelah itu, La Ongso memanggilnya, dan ia pergi ke pantai, di mana ia membantu menempatkan mayat tersebut ke dalam perahu kano sempit yang ada di ruang sidang. Para terdakwa kemudian turun ke laut dengan perahu layar besar, dengan kolé-kolé di belakangnya. Kemudian ia pulang.
| Mr. Isaac. J. Dermout, Ketua Landraad van Ambon (1910-Maret 1914) |
Pada malam hari, La Ongso melewati rumahnya dengan basah kuyup, mengambil kapaknya dari talang bambu, dan melanjutkan perjalanan ke rumahnya. Saksi berikutnya adalah La Djoema, putra La Wele. Usia La Wele hampir 50 tahun; setelah ragu-ragu, La Djoema mengatakan bahwa ia memang melihat dasar sungai yang kering, tetapi dari kejauhan. Ia juga melihat apa yang terjadi di pantai dari kejauhan pada malam itu. Selanjutnya, La Ané memberi kesaksian. Ini adalah saudara ipar La Ongso pagara. Ia sedang duduk di pohon kelapa di pantai ketika seorang Eropa tiba. Ia terkejut dan berlari ke rumah La Ongso. Orang Eropa itu mengikutinya. Saat ia lewat, ia memanggil wanita bernama Wakera, mengatakan bahwa ia sedang diikuti oleh seorang Eropa. Wanita ini kemudian memberi air kepada orang Eropa itu, seperti yang didengarnya. Ketika ia tiba di rumah La Ongso, ia tidak menemukannya, tetapi beberapa saat kemudian kopral itu pulang. Dia menceritakan apa yang telah terjadi, lalu La Ongso keluar pintu dengan membawa kapak, ke arah yang dituju oleh “orang blanda” itu. Kemudian, ketika djaksa datang ke doesoen untuk menyelidiki, dia ditemukan bersembunyi di dapur rumah La Ongso. Dia mengatakan bahwa dia bersembunyi di sana atas perintah La Ongso. La Ongso menyebut semua ini bohong. Pukul 3 sore, ketua sidang menunda sidang hingga Rabu, 1 April. Kemudian para wanita didengarkan. Sidang yang panjang, tetapi tidak terlalu penting ini, bermuara pada hal ini: para wanita Wakera, Wabenga, Wataramina, Watanse, dan Watimbe, setelah bertele-tele, menyatakan bahwa La Ongso memerintahkan mereka untuk memberi tahu djaksa bahwa mereka belum melihat orang Eropa. Watimbe, ibu mertua La Ongso, mengakui 2 uang kertas sebagai uang yang sebelumnya ia peroleh dari penjualan tembakau. Uang itu ditemukan di rumah La Ongso.
![]() |
Stasiun Radio Nusaniwe Hotel van Aart di Ambon |
Seorang petugas teknis dari stasiun radio di Noesa Nivé juga memberi kesaksian, yang bersepeda melewati warga Kanada yang malang itu di dekat Latuhalat pagi itu. Dia mendeskripsikannya. Deskripsi ini benar. Setelah itu, seorang pembakar kapur memberi kesaksian, yang tampaknya penglihatannya kurang baik. Dia juga melihat Tuan Robinson pagi itu. Juga beberapa pelayan hotel, yang mengatakan bahwa Robinson meninggalkan Hotel Van Aart pukul 6 dan memberikan deskripsi tentang pakaian dan penampilannya. Waktu sudah lewat pukul tiga, dan sidang ditunda hingga Kamis, 2 April. Kemudian istri La Ongso didengarkan; dia menyatakan bahwa dia "sakit hati" (sakit dan marah); karena dia membenci suaminya, yang sering berselisih dengannya. Dia mengatakan, setelah La Ongso memprotes bahwa dia akan didengarkan di bawah sumpah, bahwa La Ongso pergi ke arah Seri dengan kapaknya hari itu. Dia pulang dengan kapak berlumuran darah dan pakaian basah. La Ongso telah mengatakan kepadanya bahwa dia harus pergi ke Eri untuk urusan pajak. Setelah La Ongso memberikan semacam pembelaan, dewan melanjutkan musyawarah rahasia. Setelah sekitar setengah jam, putusan diumumkan: La Ongsopagara, sebagai pelaku utama, 20 tahun kerja paksa dengan rantai; lima terdakwa lainnya masing-masing 8 tahun.
==== selesai ====
Lampiran
A. Terdakwa [Para Pelaku]
1. La Ongso Pagara (usia 55 tahun) : Kopraal [Pemimpin Komunitas Buton]
2. La Hoemani
3. La Mini (usia 30-40 tahun) :bekerja di rumah La Ongso toea
4. La Ongso toea (usia sekitar 60 tahun)
5. La Darane (usia 30-40 tahun)
6. La Djoe
B. Saksi
1. La Djoe
2. La Wele (usia hampir 50 tahun)
3. La Djoema (putra dari La Wele)
4. La Ane : Ipar La Ongso Pagara
5. Wakera
6. Wabenga
7. Wataramina
8. Watanse,
9. Watimbe : Ibu Mertua La Ongso Pagara
10. Pegawai teknis stasiun radio di Nusaniwe
11. Pembakar Kapur
12. Para pelayan Hotel van Aart
13. Istri La Ongso Pagara
C. TKP : di samping jembatan di atas sungai kering atau "mati" (di antara Eri dan Latuhalat)
Catatan Kaki
1. Charlotte Rowley, The murder of Dr Charles Budd Robinson, https://www.kew.org, 2012
2. Rudy Fofid, Tragedi Salah Paham Bahasa, 1913: Doktor Botani Terbunuh Di Ambon, https://malukupost.com/2019/05/tragedi-salah-paham-bahasa-1913-doktor/
3. J.L. Chaillet, Professor Robinson, De Tijd, edisi nomor 20188, tanggal 26 Januari 1914
4. Persidangan perkara mulai berlangsung pada Sabtu tanggal 28 Maret 1914, Senin tanggal 30 Maret 1914, Rabu tanggal 1 April 1914 dan berakhir pada Kamis tanggal 2 April 1914
5. Persoalan hukum yang melibatkan penduduk pribumi biasanya ditangani oleh Landraad, sedangkan untuk orang Eropa ditangani oleh Raad van Justitie
6. Kami menggunakan kata pribumi dalam tanda kutip agar bisa dipahami dalam konteksnya, meski sebenarnya para pelaku adalah orang Buton atau disebut Binungko/Binungko yang berdiam di semenanjung Nusaniwe, Pulau Ambon. Meski orang Buton dianggap sebagai orang luar atau “pendatang” oleh orang Ambon, namun dalam konteks yang lebih luas, mereka tetaplah orang pribumi.
7. Tujuan serta “izin” kedatangan Profesor Robinson di Ambon disebutkan dalam Gouvernement Besluit nomor 2, tertanggal 1 Juli 1913. Profesor Robinson mulai bekerja di Ambon pada pertengahan Juli 1913
§ Lihat J.L. Chaillet, Professor Robinson, De Tijd, edisi nomor 20188, tanggal 26 Januari 1914
8. “Mai Toeloe akoe”, merupakan kalimat dalam bahasa Melayu Ambon, yang bermakna “mari/ayo tolong saya/beta” atau bisa juga “Ibu/Mama tolong saya/beta”.
9. Komunitas-komunitas tertentu disebuah wilayah dipimpin oleh seorang pemimpin dengan gelar-gelar yang diberikan oleh pemerintah. Misalnya komunitas Tionghoa dipimpin oleh pemimpin dengan gelar Kapitein, Mayoor, begitu juga dengan komunitas Arab. Komunitas orang Buton dalam konteks ini dipimpin oleh pemimpin dengan gelar Kopraal.
10. Ketua sidang di sini maksudnya adalah Ketua/President Landraad van Amboina. Pada periode terjadinya kasus pembunuhan ini, Ketua Landraad van Amboina bernama Mr Isaac. J. Dermout yang menjabat sejak 14 Februari 1910 – Maret 1914. Namun, sejak 7 Maret 1914, Mr I.J. Dermout mengambil cuti berlibur ke Eropa selama 11 bulan, sehingga jabatannya ini kosong dan penggantinya yaitu Mr J. Elshout belum tiba di Ambon, maka untuk sementara Ketua Landraad van Amboina dijabat oleh J.S.A. van Dissel, Assisten Resident Afdeeling van Ambon. Jadi ketua sidang dalam persidangan perkara ini bernama J.S.A. van Dissel.
11. Dari informasi ini, dapat “disimpulkan” La Darane meninggal dunia setelah tanggal 2 April 1914, mungkin beberapa hari kemudian.
12. Belum diketahui secara pasti identitas Djaksa yang disebut dalam berita ini. Namun, Kepala Jaksa (Hoofddjaksa) pada Landraad van Ambon pada periode ini bernama A.D. Tuwankotta, sedangkan pembantu jaksa (Adjunct hoofddjaksa) bernama Abdoel Raoef Pelu
13. Ada perbedaan tanggal persidangan kedua menurut surat kabar, surat kabar De Preanger Bode menulis tanggal 30 Maret yang jatuh pada hari Senin, sedangkan De Sumatra Post menulis tanggal 31 Maret yang jatuh pada hari Selasa. Sepertinya ada “kekeliruan teknis” pada De Sumatra Post, karena selanjutnya menulis tanggal 1 April jatuh pada hari Rabu dan tanggal 2 April jatuh pada hari Kamis.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar