Minggu, 18 Oktober 2026

Catatan mengenai Sumpah Alifuru Seram

 

[G.L. Tichelman] 

 

A.     Kata Pengantar

Tulisan pendek yang diterjemahkan ini adalah tulisan dari G.L. Tichelman, seorang pejabat pemerintah kolonial yang pernah bertugas di Pulau Seram, Maluku, dalam periode tahun 1916 – 19221, dengan judul Aanteekeningen betreffende Ceramsche Alfoeren-eeden yang dipublikasikan atau diterbitkan di Jurnal Kolonial Tijdschrift, edisi tahun ke-11 (Elfde Jaargang), tahun 1922, halaman 520 – 528.

Jika sekilas kita membaca judul tulisan ini, dapatlah diketahui bahwa sang penulis menyajikan dan menjelaskan mengenai sumpah atau kutukan yang selalu dipakai atau dipergunakan oleh Alifuru yang berada di Pulau Seram, Maluku. Ia menampilkan 4 contoh sumpah/kutukan, dimana 2 contoh dari Patalima (bahasa Waraka dan Laha-Hunusy), 1 contoh dari Patasiwa Hitam (bahasa Elpaputih) serta 1 contoh dari Patasiwa Putih (bahasa Amahai).

Menarik saat membaca informasi atau penjelasan dari penulis, bahwa ritual sumpah/kutukan ini dilakukan di antara waktu/periode dari matahari terbit dan matahari terbenam, dilakukan di tengah atau berdiri di bawah langit terbuka dan di bawah sinar matahari penuh, kepala terangkat menatap langit, juga tersedia mangkuk/wadah yang berisikan arak/sopi dengan sedikit air dan beberapa tetes darah, dimana di dalam mangkuk tersebut berisi bubuk mesiu, peluru, serta moncong senapan, tombak, parang dan panah “ditancapkan” ke dalam mangkuk/wadah tersebut. 

Tulisan 9 halaman ini berisikan 9 catatan kaki, dimana 2 catatan kaki “berada” pada terjemahan isi sumpah dalam bahasa Belanda. Kami hanya menambahkan 1 catatan kaki dan 1 foto ilustrasi dalam terjemahan ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita dalam memahami sejarah kehidupan leluhur kita di masa lalu.

 

B.     Terjemahan

Orang Kristen, dan juga Muslim di Ceram, umumnya tidak terlalu mempedulikan sumpah mereka. Orang Ceram yang lebih beradab sangat cepat bersiap untuk menyatakan [kata] "brani soempah" mereka dengan tangan terangkat. Dalam kasus yang sangat serius, orang Kristen harus mengucapkan sumpah di gereja di atas "peti-derma" (peti persembahan). Ia memang menghormati sumpah ini. Saat mengucapkan sumpah bagi orang Kristen, perlu diingat bahwa kedua jari telunjuk kanan diangkat bersamaan saat mengucapkan kata-kata: "Dengan kebenaran, toeloeng beta, Toehan Allah, jang maha koewasa". Beberapa orang percaya, bahwa jika jari telunjuk dan jari tengah hanya dipisahkan, "Kakoewatan" dari sumpah tersebut akan hilang. Tanpa takut akan konsekuensi buruk, seseorang tidak perlu terlalu teliti dengan kebenaran dan hanya kebenaran.

Orang Alfur (Pagan) sangat menghargai sumpah mereka dibandingkan orang Kristen atau Muslim. Pengambilan sumpah Alfur tidak dilakukan di mana-mana dengan cara yang sama persis. Secara umum, terdapat kemiripan antara Alifuru Patasiwa-hitam, Patasiwa-poetih, dan Patalima, baik dari segi bentuk upacara maupun isi dan maksud dari rumusan sumpah. Sedikit arak atau sopi ditambahkan ke dalam semangkuk air, ditambah sejumput bubuk mesiu dan beberapa tetes darah. Sebuah peluru dimasukkan ke dalam campuran ini. Kemudian, moncong senapan, tombak, parang, dan busur panah ditancapkan ke dalamnya, diikat bersama. Orang yang mengucapkan sumpah memegang ikatan senjata tersebut, lalu orang yang mengucapkan sumpah, dengan kepala terangkat ke langit, melafalkan rumusan sumpah dengan sangat keras. Beberapa orang mengalami ekstasi dan akhirnya, gemetar seluruh tubuh, mengeluarkan raungan yang sesungguhnya. Setelah melafalkan rumusan sumpah, orang yang mengucapkan sumpah mengayunkan seikat senjata di atas kepala orang yang mengucapkan sumpah, sehingga orang yang mengucapkan sumpah tersebut terciprat cairan yang ada di dalam mangkuk, setelah itu orang yang mengucapkan sumpah diberi sedikit campuran tersebut untuk diminum.

Di desa-desa yang terletak di Teluk Taluti, tidak ada alkohol yang ditambahkan ke dalam air, mungkin karena pengaruh Islam. Namun, selain senjata yang telah disebutkan, sepasang gunting, pisau, dan jimat (batu, yang dikenal sebagai batu batu berhala) juga diletakkan di dalamnya. Upacara pengucapan sumpah Alifuru bisa sangat mengesankan. Orang yang ditunjuk untuk mengucapkan sumpah Alifuru adalah Tuan atau Raja Tanah (Amana-poeno). Tetua di desa, kepala desa, atau Kapala Soa juga terkadang mengucapkan sumpah. Apakah orang yang mengucapkan sumpah tersebut menganut agama Kristen atau Muslim tidaklah relevan. Di antara Alifuru Patasiwa-hitam, beberapa orang terkadang ikut serta dalam upacara tersebut dengan penuh pengabdian, bahkan mereka yang tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut. Seringkali Alamanan2, Anakotta3, Maoewens4, Latoe5, dan Kapala-soa6 adalah, singkatnya, para pejabat di desa. Mereka yang hadir memastikan bahwa tidak setetes pun dari mangkuk yang disiapkan di dalam hidangan tersisa. Dengan perhatian yang khusyuk, yang jelas dipenuhi dengan kesungguhan yang mendalam pada saat itu, setelah pengucapan sumpah, semua orang menikmati seteguk minuman. Sumpah biasanya dimulai dengan suara "O" atau "E" yang bergema keras dan panjang.

Di antara Alifuru Patasiwa-hitam, adalah kebiasaan bahwa mereka yang memegang bundel senjata kadang-kadang membacakan sumpah bersamaan dengan itu, sekarang mengeluarkan teriakan "hio" yang lantang di setiap frasa. Sumpah harus diucapkan antara matahari terbit dan matahari terbenam. Menurut beberapa pendapat, orang yang mengucapkan sumpah dan orang yang mengucapkan sumpah harus berdiri di bawah langit terbuka dan di bawah sinar matahari penuh. Sumpah lain yang patut disebutkan adalah sumpah yang digunakan di kalangan Alifuru di desa-desa yang terletak di Teluk Taluti. Ketika seorang Alifuru di sana ingin memperkuat kata-katanya, untuk bersumpah atas ketidakbersalahannya, dan dalam kasus serupa, ia mengambil sedikit tanah ke dalam mulutnya, menelannya, lalu menggigit parangnya. Alfur yang menegaskan kata-katanya dengan tindakan ini layak mendapat kepercayaan tanpa syarat. Berikut beberapa bentuk sumpah dalam Bahasa Tanah.

 

§  Patasiwa-hitam (bahasa Elpaputih)

 

O! Lanite! Oehoewe! Hoe-lane! Riamata-i!

Pelemasa Pele-awa7. Tawaeni. Waele

Hoewai siwa. Laweri siwa

Wosoe-wosoe siwa. Nifa patola siwa.

Mananate-mananate siwa.

Ririfane-ririfane siwa. Hahoe neneri siwa.

 

Wehena nei Kompania i-lepe

damei wauw ami roea nei o. na

si-soeka na si-milopi tola roemai

 

Parimoeri toti-toti leoe-leoe

seina i-lesi Kompania ni-tita

 

Lanite. Oehoewe. a-seseroei o

A-famata-i o.

I-sai lauwaha i-moko i-mata o.

Hoewai siwa noe-ane-i o

Laweri siwa noe-laweri-ni o

Wosoe siwa noe-ane-i o

 

I-toti ria moeri, nifa patola

siwa noe-ane-i o.

Mananate siwa noe-ete-i o

Ririfane siwa noe-ete-i o

Hahoe neneri siwa noe-wela- i o

Naka siwa noe-ane-i o.

Harimau siwa noe-ane-i o.

I-saa i-manahoe mata o.

Maselete hoetoe-siwa noe-fa- mata-i o.

I-moetoeroe i-mata o

I-hanoe i-mata o

I-toewe i-mata o

I-ele i-mata o

I-mata o.

I-mata roema e-molo na o.

 

Sebapoe i-lesi Kompania ni- tita. Sebapoe i-lesi wake o

Wehena nei o.

Roea-si si-soepoe roemai o.

Na waele lale-i, si-soepoe roe-mai na lakine o

Roea-si tasi moesai ti o

Hahalane moesai ti o.

Roea-sisi-oenoe si ane toela roemai o.

Satoe roepa wari-ni wa-i o.

Roeasisatroe toela roemai tama ni a o

Roemsi seina i-lesi wake nei o

 

E-miki e-wauwe-i o.

E-pila e-wauwe-i o

 

I-mata

I-mata

I-mata o.  

 






 

 

n  Patasiwa-Putih (bahasa Amahei)

 

Oepoe Allah hatala hoeolo

Inao lapoeano. Hoerano. Riamaano. Peleawa. Pelemasa.

Woei laoewaha, moeria hoho sawa

Osoe siwa ne kolom

Laweri siwa ne werim.

Woei ria moeri moeralao siwa ne okom

 

Inja patola siwa ne kolom

Hahoe siwa ne welam

Oe maa.

Maa roemah molono

Sisio poerakao ne soehoe se-mian-doeno

Kalau pisara aja (ne) maantah

(of wel: oe-pisara hole Kompania.) 

 



 

 

n  Patalima (bahasa Waraka)

 

Lanite. Takoele. Poetonolo

Sani jahoe. Poelane. Liamatai

Ileme peloe, ileme tawali.

 

Mi-lilae soewe kela rile

Matae i-sapoe Kompania ni

sanasile, ni taloe-taloe

 

Sanasila

Pikaimoeli

I-tai wa-laoe-papa, wosoea10

lawelia noe ane-i.

 

I-tai wa-raja moeli, manata,

lilihana noe ete-i i-mata.

 

Jakale e-sikine i-mata

Waele hanoe-i i-mata.

Silikini i-mata.

 

I-rila i-mata.

I-ira i-mata.

I-ira i-mata.

I-mata.  

 



 

n  Patalima (bahasa Laha-Hoenoesy)

 

Oepoe Allah taala

Hatoe-sili.

Sopa-sopaloe

 

Pinatoea. Manaoloe. Hi-jano.

Leamataan

Moekahasieji-iwaelo inoi

 

Soepaja kiejee-i perkara inoi

iefaliesatie.

 

Se-i ne-i sesalahan ne mata.

Tatoepela-i ne mata

Eoehoese, eahasi, ne mata

 



 

Amahei, (Ceram) 28 Februari 1922.

G. L. TICHELMAN

 

====== selesai=====

 

Catatan Tambahan:

Screenshoot yang ditampilkan berisikan 2 bahasa, dimana bahasa Belanda (di sebelah kanan) merupakan terjemahannya, yang otomatis merupakan interpretasi/penafsiran penulis terhadap kata/kalimat yang ada pada isi sumpah/kutukan. Tentunya, penafsiran terjemahan yang dilakukan oleh penulis, tidak bisa langsung divonis salah, tetapi perlu dimaknai dan dipahami dalam konteks waktu dan situasinya, sehingga mungkin saja agak “berbeda” dengan pengertian kita di masa kini. Menyadari “keterbatasan” itu, maka kami secara “teknis” tidak menerjemahkan bahasa Belanda itu ke dalam bahasa Indonesia. Kami sengaja memberikan “ruang kosong” terhadap penafsiran yang bisa terbentuk dari para pembaca yang lebih tahu, mengerti, dan memahami isi sumpah serta artinya baik dalam konteks kata per kata maupun kalimat secara utuh.

 

Catatan Kaki

1.      G.L. Tichelman tiba di Ambon pada Oktober 1916, mulai bertugas pada tahun 1917-1918 di Seram-barat (Piru) sebagai adspirant Gezaghebber atau calon Gezaghebber, kemudian menjadi Gezaghebber/Controleur onderafdeeling van Amahai pada periode Januari 1918 – Oktober 1922.

2.     Alamanan(e) = Juru Bicara.

3.     Anakotta (Mauwen Anakotta) = Imam Besar/Pendeta Agung.

4.     Mauwen = Imam/Pendeta.

5.     Latoe = Pemimpin/Kepala Negeri.

6.     Kapala-soa = Kepala/Pemimpin Soa. (Soa dapat dimaknai sebagai kelompok keluarga)

7.     Juga bisa disebut: mata-awa.

8.     Mata rumah = eigenlijk geslacht.

9.     Tasi = mede bewaarplaats van sirih-pinang (tempat penyimpanan bersama sirih-pinang)

10.   Haai = Wooi (Bahasa Waraka)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar