- Kata Pengantar
Orang Bugis-Makasar
seperti juga orang-orang Cina/Tionghoa di Propinsi Maluku dewasa ini, dianggap
sebagai bagian integral dari masyarakat Ambon, meskipun kadang-kadang dengan
sikap “sinis” dianggap sebagai orang dagang, atau kaum pendatang.
Jejak mereka, terkhususnya komunitas Bugis-Makasar di kepulauan ini, bukanlah
baru “seumur jagung”. Keberadaan mereka di wilayah Maluku, “terdeteksi” pada
permulaan abad ke-17, bahkan beberapa puluh tahun sebelum periode ini.
Almarhum Richard
Zakheus Leirissa, mengkaji eksistensi mereka di kota-kota pelabuhan Ambon dan
Ternate sepanjang abad ke-19 melalui artikel ini. Artikel ini aslinya berjudul The Bugis-Makassarese in the port
towns; Ambon and Ternate through the nineteenth century, yang
dimuat pada jurnal Bijdragen tot de Taal,- Land-, en Volkenkunde, volume 156,
no 3 tahun 2000. Pada volume 156 ini, jurnal ini mengambil tema besar Authority and enterprise among the
people of South Sulawesi, dan artikel Leirissa
ini ditempatkan pada halaman 619 – 633, selain artikel-artikel lain dari
beberapa sejarahwan seperti Anthoni Reid, Christian Pelras, J. Noorduyn, Anton
Lucas, Chris de Jong dan lain-lain.
Leirissa memfokuskan
kajian tentang komunitas Bugis-Makasar pada 2 kota pelabuhan, Ambon dan
Ternate, sepanjang abad ke-19. Ia misalnya, menyebut bahwa komunitas ini telah
eksis minimal sejak tahun 1680 di Ternate. Sedangkan di Ambon, ia menyebut
mengutip Gerrit J Knaap, bahwa sejak 1667, komunitas Bugis-Makasar tinggal di
“lingkungan” atau wijk yang
bersebelahan dengan pemukiman orang-orang Cina, yang lokasinya di sebelah
selatan benteng Victoria. Bahkan pada
awal abad ke-19, komunitas itu memiliki pemimpin sendiri yang biasa disebut kapitein der Maccassaren.
Dengan
informasi-informasi penting ini, maka kami menyajikan artikel itu untuk dibaca
dan dinikmati di blog ini. Artikel sepanjang 15 halaman dan 11 catatan kaki
ini, kami bagi menjadi 2 bagian, agar lebih “santai” untuk diikuti. Namun,
sayangnya, artikel Leirissa ini, tidak disertai bibliografi, sehingga mungkin
sedikit “merugikan” bagi orang-orang yang ingin membaca/mempelajari
referensi-referensi tersebut lebih lanjut. Leirissa hanya memberikan nama penulis
buku/artikel, yang ia kutip tanpa judul buku atau artikel yang ia gunakan itu,
misalnya (Stapel 1922). Ketiadaan “bibliografi” ini, yang coba kami tambahkan
dalam catatan tambahan pada artikel terjemahan ini. Namun, perlu dipahami, apa
yang kami lakukan, bukanlah bibliografi dari artikel Leirissa. Kami hanya
menambahkan catatan, sepanjang yang kami ketahui saja, jika tidak kami ketahui,
kami tidak menambahkannya. Selain itu, kami juga menambahkan beberapa ilustrasi
pada artikel terjemahan ini.
Akhir kata, selamat
membaca.... selamat menikmati... semoga pengetahuan bersejarah kita semakin
bertambah.....
- Terjemahan : Kutu Busu
Pendahuluan
Para
pedagang dari Sulawesi Selatan telah menjadi pengunjung ke kepulauan Maluku
sejak sekurang-kurangnya abad ke-17 (Tiele 1886 – 95a). Pada tahun
1605, VOC mendirikan kubu pertahanan pertamanya di Ambon, dan sepanjang paruh
pertama abad itu, mencoba untuk memperluas monopoli atas perdagangan
rempah-rempah di kepulauan itu dengan mencegah semua pedagang bukan Belanda
untuk berpartisipasi dalam perdagangan yang menguntungkan ini. Tetapi
perdagangan rempah-rempah ini berkembang menjadi ketertarikan para pelaut
berani dari Sulawesi bagian selatan, yang, dengan dukungan finansial dari
pedagang-pedagang asing di Makasar – utamanya Inggris, Denmark, dan Portugis - yang sering berhasil menghindar dari
pengawasan kapal-kapal VOC dan dengan demikian mampu memasuki wilayah-wilayah
“terlarang” dengan kapal-kapal mereka untuk berdagang melalui cara barter di
dalam beberapa desa di sekitar Ambon. Penaklukan Makasar oleh VOC pada
pertengahan abad ke-17 (Stapel 1922b) mengakhiri masa kejayaan
perdagangan Bugis-Makasar di Maluku. Meskipun begitu, sekolompok kecil etnis
ini tinggal di kota Ambon dan Ternate, seperti juga di bagian-bagian lain
kepulauan itu.
Saya
(penulis) tidak bermaksud dalam kajian ini untuk menyajikan sumber lengkap
tentang perdagangan Bugis-Makasar di Maluku; tujuan utama di sini adalah pada
struktur komunitas Bugis-Makasar di kota-kota pelabuhan Ambon dan Ternate,
sepanjang abad ke-19, terkhususnya peranan dari pemimpin kelompok-kelompok
teresebut. Perbedaan antara Ternate dan Ambon akan juga ditekankan1
Latar Belakang Kategori-kategori
Pertama,
beberapa catatan tentang kategori geografis yang digunakan dalam artikel ini
harus dijelaskan. Sebagai label geografis, Ambon digunakan dalam 5 kategori
wilayah demarkasi yang berbeda :
- Nama Pulau
- Bagian dari administrasi di bagian selatan Maluku
- Karesidenan di Maluku Tenga
- Kota Pelabuhan di pulau Ambon
- Penduduk pribumi di karesidenan (itu)
Ternate
digunakan dalam 4 kategori wilayah yang berbeda yaitu:
- Kerajaan / Kesultanan
- Pulau
- Karesidenan
- Kota Pelabuhan
Dalam artikel ini, kata Ambon dan Ternate
digunakan untuk pelabelan kota-kota pelabuhan dengan nama itu, terkecuali dijelaskan
sebaliknya.
Lagi
pula, kategori-kategori berbeda dari kaum urban ditemui dari sumber-sumber
material. Para pegawai VOC dan pejabat-pejabat sebelumnya sejak masa VOC
merupakan kaum Eropa. Sekelompok orang Eropa itu menikah dengan wanita lokal,
dan anak mereka dikenal sebagai mestiezen (mestizo), suatu
kategori demografis yang sungguh penting di kota Ambon (Bleeker 1856, II: 74c).
Kategori-kategori lain mencakup sejumlah tipe-tipe berbeda “orang luar” – kaum
migran (dan keturunan mereka) dari luar wilayah lokal, termasuk para pedagang, orang
dengan spesialisasi pekerjaan, pekerja umum, dan lain-lain. Di antara
orang-orang luar itu, orang-orang China termasuk yang penting seperti kelompok
etnis pribumi lainnya dari Nusantara, termasuk Bugis-Makasar, Melayu dan Jawa.
Sejak abad ke-19, sejumlah orang Arab juga menetap di 2 kota ini.
Penghuni
kota itu juga dirujuk sebagai kaum burger, sebuah kategori
berbeda kedalam Europeesche
burgers (termasuk mestizo), Chinese burgers, dan
Moorsche burgers. Kategori
terakhir ini termasuk kaum Muslim yaitu
Bugis-Makasar, Melayu dan Jawa, begitu juga kaum Arab. Proses urbanisasi yang
berlangsung di Ambon pada abad ke-19, sejumlah inlandsche burgers atau
“burger pribumi” muncul2. Akhirnya mereka menjadi kaum urban di kota
Ambon, seperti di beberapa kota Maluku Tengah lainnya, termasuk Hila dan Larike
(di pulau Ambon), Kayeli (di pulau Buru), Haruku dan Saparua (Bruyn Kops 1895d).
Pedagang-pedagang
“asing” selalu ditempatkan di wilayah terpisah di kota-kota pelabuhan, jauh
sebelum kedatangan VOC. Perbedaan wilayah sangat kuat khususnya antara pedagang
Cina dan Muslim. Sejak awal abad ke17, Belanda menerapkan pengaturan seperti
ini, dan tetap tertinggal hingga minimal abad ke-19.
Sebagai
bagian dari sistem sosial kolonial, komunitas-komunitas asing diatur dan
dipantau oleh otoritas kota-kota pelabuhan. Kaum Cina, sebagai contohnya, telah
disediakan sejak awal pemukiman mereka dengan pimpinan mereka sendiri, dengan
gelar-gelar mereka seperti kapitein dan luitenant (Hoetink
1922e). Pemimpin kaum burger Belanda juga memiliki gelar. Selanjutnya,
setelah unit-unit dari penjaga kota (schutterij) didirikan di
kota-kota itu pada paruh pertama abad ke-19, pelaksanaan ini diperluas hingga
termasuk pemimpin-pemimpin komunitas Bugis – Makasar di Ternate. Demikian, maka
gelar kapitein der
Maccassaren ada di Ternate. Kasus di kota Ambon
sedikit berbeda, karena tidak ada kapitein der Maccassaren yang
dilaporkan di kota Ambon, meskipun beberapa komunitas Bugis-Makasar termasuk
dalam schutterij.
Penataan
sosial politik seperti ini termasuk sejumlah kelompok etnis berlanjut hingga
dekade pertama abad ke-20. Maka, pelaksanaan seperti itu terjadi juga dalam
bagian lain dari Hindia Belanda, kaum pribumi Maluku dibagi menjadi Christen inlanders dan
Mohameedaansche
inlanders (Adatrechtbundels 1913: 193). Terminologi
burgers kemudian
“digunakan” dalam dokumen-dokumen resmi.
Kampung Makasar di Ternate
Keberadaan
komunitas Bugis-Makasar di Ternate diketahui telah eksis minimal sejak tahun
1680. Sebagian besar dari generasi awal pemukim adalah para pedagang yang
menetap, sebelum Belanda mampu menerapkan kontrol atas perdagangan di pulau
–pulau Kesultanan Ternate pada tahun 1607. Gubernur VOC Ternate, Robertus
Padtbruggef, menginstruksikan para anggota komunitas perdagangan
untuk tinggal di bagian utara Benteng Oranye (dibangun tahun 1607), berbatasan
dengan Soa Siu, wilayah dari Sultan Ternate. Karena mayoritas para pedagang Islam
“asing” adalah orang Makasar, maka tempat itu dikenal sebagai kampung
Makassar. Tetapi, di samping orang Makasar, sejumlah orang Melayu dan Jawa
juga diizinkan tinggal di wilayah itu (De Clercq 1890: 17g). Sebelum
pasukan penjaga kota di Ternate dibentuk, unit-unit pasukan Bugis-Makasar,
Melayu dan Jawa, dipimpin oleh Tete, yang telah membantu pasukan Belanda selama
pemberontakan di Tidore dan Halmahera. Unit ini kemudian digabungkan kedalam
pasukan penjaga kota, dan pemimpinnya menggunakan gelar kapitein der
Maccassaren. Keterlibatan orang-orang “asing” ini dalam pasukan penjaga
kota berlanjut hingga dekade terakhir abad ke-19 (Staatsblad 1896, no
203), meskipun orang-orang Jawa dikeluarkan dari pasukan penjaga kota di tahun
1838 (Staatsblad 1838, no. 22). Institusi kapitein der Maccassaren tetap berfungsi hingga abad ke-20.
Para pemimpin Bugis-Makassar di
Maluku, seperti juga para pemimpin komunitas Cina, hingga tahun 1866, bertanggungjawab
kepada resident-magistraat, pejabat
tinggi pemerintah yang bertanggung jawab untuk urusan-urusan “dalam negeri”.
Sebagai “orang asing”, orang Bugis-Makasar di Ternate dibagi dalam
“lingkungan-lingkungan” (wijken),
masing-masing dengan kepala lingkungannya sendiri (wijkmeester), yang bertanggungjawab kepada kapitein. Resident-Magistraat di Ternate sebenarnya hanya seorang
pengawas, karena sebagian besar urusan internal masyarakat diserahkan kepada kapitein der Maccassaren. Sepanjang
sebagian besar abad ke-19, seorang kapitein
tidak hanya bertanggungjawab untuk menjaga lingkungan, tetapi juga menjabat
sebagai kepala/pimpinan otoritas keagamaan di komunitasnya. Karena itu,
tugasnya termasuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan dan warisan
berdasarkan hukum dan peraturan Islam (Staatsblad
1859, no 20). Maklum, Islam adalah kekuatan pengikat yang kuat di komunitas
“asing” ini.
Lokasi “lingkungan” atau
“distrik” untuk komunitas Bugis-Makasar di utara benteng Oranye, membuat mereka
berdekatan dengan “lingkungan” (dalam bahasa lokal disebut soa) dari subjek Sultan atau Soa Siwa (Van Fraasen 1987h).
Meskipun Bugis-Makasar, seperti orang Cina, dianggap sebagai subjek Belanda,
peluang besar untuk berinteraksi dengan subjek dari Sultan, pastilah ada.
Ternate sekitar tahun 1865 |
2 kategori penghuni lainnya,
yaitu Chinezen dan Europeesche burgers, yang diberi
“lingkungan” sendiri di sebelah kastil, juga mempertahankan nilai-nilai budaya
mereka sendiri. Burgers ini, termasuk
mestizos, dipimpin oleh kapitein der burgerij dan mengikuti
hukum dan peraturan Belanda (Bakhuizen van den Brink, 1915i). Tidak
berbeda dengan orang Cina di Ambon, orang Cina di Ternate mengadopsi banyak
kebiasaan mestizo Belanda dan memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa
ibu mereka. Namun, tidak seperti orang-orang di Ambon, mereka lebih suka
menjadi orang Kristen (De Clercq, 1890: 13). Pada abad ke-18, “lingkungan”
orang-orang Kristen dikenal sebagai kampung
Borgor Mardika, tetapi kemudian seluruh wilayah itu, lebih dikenal sebagai kampung serani. “Lingkungan” ini juga
dikenal sebagai kampung Melayu, sesuai
dengan nama sebelumnya dari pusat kerajaan – Malayo (Staatsblad 1913, no 7). Anggota-anggota dari masing-masing kelompok
etnis menyatakan suatu preferensi untuk bekerja dengan jenisnya sendiri.
Pedagang kaya terutama, menggunakan rekan-rekan yang stratanya lebih rendah,
untuk melakukan kerja manual untuk operasi perdagangan mereka, seperti yang
dilakukan kapten laut/kapal (anakoda)
di kapal dagang mereka. Interaksi antara berbagai kelompok etnis, terjadi
terutama dalam konteks infrastruktur yang ditetapkan oleh otoritas kota-kota
pelabuhan, terutama di pasar (pasar
kompeni). Dalam konteks demikian, penggunaan bahasa Melayu sangat
mendominasi.
Data-data kearsipan tidak
menunjukan kesan, bahwa orang Bugis-Makasar sangat penting sebagai pedagang di
Maluku bagian utara di abad ke-19. Sebagian besar dari mereka adalah buruh
kasar, nelayang, tukang kebun sayur, dan pedagang kaki lima. Sebagian besar
perdagangan antar pulau dan antar wilayah ada di tangan sejumlah pedagang Cina
dan Belanda (T6,7,42,54,80,112,121,141). Pedagang Makasar, Bugis, dan Mandar
dari Sulawesi bagian selatan secara teratur mengunjungi Ternate dan Tidore
dengan kapal layar mereka (padewakang (Makasar),
padduakeng (Bugis)), untuk berdagang
dengan masyarakat setempat, baik dengan atau tanpa izin berlayar dari pihak
berwenang di Sulawesi, tetapi pedagang tersebut tidak pernah menjadi bagian
dari kampung Makasar.
Perayaan Hari Ratu Belanda di Ternate, 1898 |
Namun, kadang-kadang
arsip menyediakan dokumen bagi kita, yang menggambarkan sejumlah orang yang
berusaha, yang memiliki keberanian untuk melampaui infrastuktur yang
diberlakukan sejak awal abad ke-17. Kasus-kasus langka ini ditemui terutama pada
data-data orang yang ditangkap dan dijatuhi hukuman mati atau dikirim sebagai
budak pekerja ke perkebunan pala di Kepulauan Banda. Contoh-contoh semacam ini,
memberi kita gambaran tentang relasi yang lebih luas, yang dipelihara
orang-orang Bugis-Makasar dengan bagian-bagian lain dunia maritim di Indonesia
Timur.
Contoh yang menarik
adalah kasus Haji Umar (sekitar 1717 – 1808). Meskipun, awalnya tinggal di kampung Makasar di Ternate, ia kemudian
pindah ke “lingkungan”orang “ asing” lainnya di Tidore yang dikenal sebagai kampung Jawa. Ayahnya, yang menikah
dengan seorang wanita pribumi dari Tidore, adalah orang Makasar, dan mungkin
juga dari kampung Makasar sendiri.
Haji Umar mempertahankan hubungan baik, tidak hanya dengan para pedagang dari
Sulawesi Selatan – ia sendiri menikah
dengan seorang wanita dari Mandar – yang mengunjungi Maluku secara
sembunyi-sembunyi, tetapi juga dengan koloni-koloni bajak laut Magindanao,
seperti di Tolitoli (Tontoli dalam sumber arsip). Koloni ini pada waktu itu
dipimpin oleh Syarif Mohammad Taha, yang putranya, Syarif Jafar, menemani Haji
Umar dalam sejumlah ekspedisi perdagangan di Maluku bagian utara. Kekayaan Haji
Umar meningkat dengan munculnya Pangeran Nuku sebagai Sultan Tidore selama
kuartal terakhir abad ke-18, dan tahun-tahun pertama abad ke-19 (Katoppo,
1984). Dia menjadi salah satu orang terpercaya di lingkaran Pangeran Nuku, yang
dianggap sebagai pemberontak oleh Belanda. Haji Umar ditangkap oleh Belanda
pada tahun 1805 setelah kematian Pangeran Nuku, dan ia sendiri dihukum mati
pada tahun 1808 (T 81, 121, 185).
Sebagai sebuah unit
budaya, pemukiman kampung Makasar tampaknya
mengalami penurunan yang sangat cepat selama dekade terakhir abad ke-19. F.S.A
de Clercq, yang merupakan Resident Ternate pada tahun 1880-anj sama
sekali tidak terkesan oleh penduduk kampung,
karena “ saat ini, tidak ada satu pun dari mereka yang dapat membuktikan
asal Makasar, dan bahasa mereka sendiri, sebagian besar tidak diketahui di
antara mereka” (De Clercq, 1890: 17). Integrasi dengan subjek-subjek
Kesultanan, dengan demikian harus menjadi karakteristik komunitas ini.
Dengan demikian,
tidak mengherankan bahwa dalam laporan resmi tahunan pada paruh kedua abad
ke-19, jumlah orang Bugis-Makasar jauh lebih kecil daripada orang Cina, yang
pada gilirannya, jumlahnya lebih besar daripada Belanda dan Europeesch burgers lainnya. Angka-angka
berikut diambil dari laporan tahunan para pejabat Hindia Belanda di Ternate (T
160,162). Angka sekitar 2.000 yang diberikan oleh de Clercq (1890: 18), mungkin
termasuk mereka yang sudah terintegrasi kedalam masyarakat Ternate, sedangkan
laporan tahunan hanya menyebutkan orang-orang yang terlibat dalam schutterij Ternate.
Tabel
1
Populasi
Ternate
1878
|
1880
|
1884
|
1887
|
|
European burgers
|
285
|
254
|
300
|
308
|
Chinese burgers
|
401
|
480
|
467
|
383
|
Islamic burgers (Bugis-Makasar, Jawa,
Melayu, Arab dan lain-lain
|
77
|
107
|
101
|
77
|
=====
bersambung =====
Catatan Kaki :
- Bahan yang digunakan untuk artikel ini diambil dari arsip kependudukan Ternate dan Ambon di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Koleksi Ambon, yang terbesar dari arsip residensi, terdiri dari 1.651 bundel, sedangkan koleksi Ternate hanya memiliki 429 bundel. Kutipan dari bahan-bahan ini dalam artikel ini diberikan dengan menyatakan modal awal koleksi (A = Ambon atau T = Ternate), diikuti oleh jumlah bundel.
- Proses dimana kategori burger inlandsche terbentuk dibahas di bawah ini
Catatan Tambahan :
- Pieter Anthonie Tiele, Bouwstoffen voor de Geschiedenis der Nederlanders in den Maleischen Archipel, volume 1 & 2, Martnius Nijhoff, 1886, 1890.
§
J.E. Heeres, Bouwstoffen voor de Geschiedenis der Nederlanders in den Maleischen
Archipel, volume 3, Martnius Nijhoff, 1895
- F.W. Stapel, Het Bongais Verdrag, University of Leiden, Leiden, 1922
- Pieter Bleeker, Reis door de Minahasa en den Molukschen Archipel gedaan in de maanden September en Oktober 1855 in het gevolg van den Gouverneur Generaal Mr A.J. Duymaer van Twist, 2 volume, Lange & Co, Batavia, 1856
- G.F. de Bruijn Kops, Eenige giepen uit de geschiedenis der Ambonsche Schutterij (Burgerij), L.M.H. Thorig, Amboina, 1895
- B. Hoetink, Chinese Officieren te Batavia onder de Compagnie (dimuat dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde,volume 78 (1922), hal 1-136)
- Robertus Padtbrugge menjadi Gouverneur van Molukken (Ternate) pada periode 1677 – 1682. Ia kemudian dimutasikan menjadi Gouverneur van Amboyna 1683 – 1687.
- F.S.A. de Clercq, Bijdragen tot de kennis der Residentie Ternate, E.J. Brill, Leiden, 1890
- Chr. F. Van Fraasen, Ternate : de Molukken en de Indonesische Archipel. Van Soa-organisatie en vierdeling: Een studie van traditionele samenleving en cultuur in Indonesie, 2 volume, Ph.D. Thesis, University of Leiden, 1987
- Ch.R. Bakhuizen van den Brink, De Inlandsche Burgers in de Molukken (dimuat dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde, volume 70 (1915), hal 569 – 649)
- F.S.A. de Clercq menjadi Resident van Ternate pada periode Januari 1885 – September 1888. Ia menggantikan Resident sebelumnya D.F. van Braam Morris (1883 – 1885), dan digantikan oleh J. Bensbach (1888 – 1895)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar