Minggu, 15 Mei 2016

Duurstede Untold Stories #2



“Bebatuan Melingkar” itu bercerita
  Bagian II

Akhir Februari 1796, Residen Saparua yang bermarkas di benteng Duurstede dipanggil secara mendadak oleh Gubernur Amboina, Alexander Cornabe yang memerintah sejak 1794 - 1796 untuk menghadap di benteng Victoria Ambon. Cornabe ingin menyampaikan kabar, bahwa kekuasan Belanda di Hindia timur, diserahkan kepada Inggris dengan “dasar hukum” instruksi Raja Belanda Willem V yang dikenal dengan nama Warkat Kew. Munculnya instruksi inipun tak secara tiba-tiba, tapi memiliki cerita panjang sebagai behind the storynya. Di tahun 1780 - 1784, terjadi pergolakan politik di Eropa Barat. Inggris turun ke arena pergolakan berhadapan dengan Perancis sehingga terjadi perang Inggris IV.  Di tahun 1792, saat masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker, Perancis di bawah Louis XIV telah menginvasi Belanda dengan 100.000 pasukannya. Selama tahun-tahun ini VOC di Indonesia semakin terpisah dari negeri Belanda. Pada bulan Desember 1794 - Januari 1795, Perancis di bawah pimpinan Jenderal Pichegru menyerbu Belanda dan berhasil membentuk pemerintahan boneka Perancis, yang dinamai Republik Batavia di bawah perlindungan Perancis. Raja Belanda Willem V melarikan diri ke Inggris dan membentuk pemerintahan “transisi” di negeri Orang. Willem V bersembunyi di kota kecil Kew dekat London. Di kota inilah, Willem V mengeluarkan instruksi yang dikenal dengan “Warkat Kew” yang isinya menyerahkan semua daerah jajahannya di Afrika dan Asia ke tangan Inggris agar tak jatuh ke tangan Perancis. Berbekal dokumen itu, Inggris menduduki Padang dan Malaka di tahun 1795 dan Ambon di tahun 1796. 17 Februari 1796 terjadi pergantian kekuasaan di kota Ambon dari Belanda ke Inggris. Laksamana Pieter Rainier  akhirnya menjadi Gubernur Inggris di kota Ambon (17 februari 1796-desember 1796)  menggantikan gubernur Amboina, Alexander Cornabe asal Belanda. Meski, Ambon telah “dikuasai” Inggris, namun di pusat kekuasaan  VOC Batavia, tetaplah dipegang oleh VOC. Gubernur Jenderal disaat itu adalah Willem Arnold Alting yang memerintah sejak 02 September 1780 – 16 Agustus 1796. Orang ini kelahiran Groningen 11 November 1724, dan meninggal di Kampung Melayu (Batavia) pada 7 Juni 1800. Pertama kali datang ke Hindia Timur, pada tahun 1750 sebagai pedagang yunior (onderkopman) dan karirnya terus berkembang. Tahun 1759, ia menjadi anggota luar biasa Raad van Indie, tahun 1672 menjadi anggota penuh. Saat pemerintahan Gubernur Jenderal VOC  Reynier de Klerk (04 oktober 1777-02 september 1780) ia adalah anggota senior di Raad van Indie dalam pemerintahan de Klerk. Ia pun menggantikan Reynier de Klerk menjadi Gubernur Jenderal VOC. Pada masa pemerintahannya, menantu serta keluarganya banyak yang menempati pos-pos penting VOC yaitu menjadi residen di Pulau Jawa. Salah satu menantunya Johanes Sieberg, malah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan salah satu suami cucunya menjadi Residen Saparua yaitu Johanes Rudolph van Den Berg. Selain itu, Nicholas Engelhaard  yang juga keponakannya, menjadi Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (1801-1808) di masa Johanes Sieberg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (22 agustus 1801-19 oktober 1804). Johanes Sieberg menikah dengan salah satu putri Alting hasil pernikahannya yang pertama dengan Susana Knabe yang bernama Pieternela Gerhardina Alting, sedangkan putrinya yang lain Constantia Cornelia Alting menikah dengan Johan Luberth Umbgrove. Anak mereka adalah Johana Christhina Umbgrove  adalah istri dari Residen Saparua Johanes Rudolph van Den Berg.  Alting menikah untuk kedua kalinya dengan Maria Susana Grebel. Sebelum menikah dengan Alting, Maria Susana Grebel menikah dengan Huyben Senn van Bassel. Anak mereka Maria Wilhelmina Senn van Bassel nantinya menikah dengan Nicholas Enggelhard. Jadi sang keponakan Willem Arnold Alting menikah dengan anak tirinya. Sebuah jejaring keluarga yang saling terikat dengan kuat karena perkawinan “keluar masuk”.

Uniknya lagi, Alting pernah menolak Johanes Sieberg untuk menjadi Direktur Jenderal Perdagangan saat ia menjadi Gubernur Jenderal VOC. Seperti “dejavu”, kasus pada masa Joan van Hoorn “terulang” pada masa Alting dan Sieberg, namun secara “terbalik”. Jika Van Hoorn (menantu) digantikan oleh Riebeek (mertua), maka Alting (mertua) nanti akan diganti oleh Sieberg (menantu). Alexander Cornabe yang digantikan oleh Pieter Ranier, sebelum menjadi Gubernur Amboina, ia  adalah Gubernur Maluku yang memerintah sejak 1780-1793. Meski Amboina telah diserahkan kepada Inggris namun Gubernur Maluku tetaplah diduduki oleh orang-orang VOC. Gubernur Maluku pada masa itu adalah J Ekenholm (1793-1796) dan Johan Godfried Burdach (1796-1799). Selain Residen Saparua, turut juga dipanggil Residen Haruku untuk menghadap Alexander Cornabe di akhir Februari 1796 itu. Setelah kembali pulang,  di awal bulan Maret, residen Haruku mengundang Raja-raja, Patih dan orang kaya pulau Haruku untuk datang di benteng Zeelandia di negeri Haruku. Di pulau Saparua, Residen Saparua mengundang Raja-raja, Patih dan orang kaya pulau saparua dan nusalaut untuk datang di benteng Duurstede. Saat para raja, patih, orang kaya dari pulau saparua dan nusalaut berkumpul, terlihat bendera Union Jack telah berkibar di benteng dan beberapa kapal inggris berlabuh di perairan teluk saparua, dekat benteng Duurstede. Mulai saat itu, residen saparua dan haruku diduduki oleh residen inggris. Bulan berganti-bulan, tahun berganti tahun, Gubernur Amboina (Residen Inggris) terus berganti dari Pieter Ranier ke William Jones (desember 1796-01 februari 1799), ke Roberth T Farquhar (01 februari 1799-16 januari 1802) dan ke James Oliver (16 januari 1802-04 maret 1803). Gubernemen Maluku baru bisa dikuasai oleh Inggris sejak Roberth T Farquhar menjadi Residen Maluku (21 juni 1801-1801) dan menggantikan Gubernur Maluku terakhir asal belanda Willem Jacob Cransen (13 september 1799-21 juni 1801). Farquhar kemudian digantikan oleh H Webber (juni 1801-1803).

Sementara itu di pusat kekuasaan VOC Batavia, terjadi juga perubahan di tubuh Gubernur Jenderal VOC, William Arnold Alting digantikan oleh Peter Gerhardus van Overstraten yang secara resmi menduduki jabatannya sejak 16 Agustus 1796 hingga 22 Agustus 1801. Dia kelahiran Bergen op Zoom Belanda pada 17 Februari 1755 dan meninggal di Batavia pada 22 Agustus 1801 pada usia 46 tahun. Ia adalah Gubernur Jenderal VOC terakhir, dan sekaligus Gubernur Hindia Belanda pertama. Pada 31 Desember 1799, nun jauh di kampung halamannya VOC telah runtuh alias bubar karena bangkrut. Sejak 01 Januari 1800, kekuasaan VOC (heeren 17) diambil alih oleh pihak kerajaan dalam hal ini adalah Raja Belanda. Perlu dipahami saat VOC berkuasa (1602-1799), Indonesia disebut sebagai Hindia Timur, dan penguasa VOC di Hindia Timur disebut Gubernur Jenderal VOC, namun sejak bangkrut, Indonesia disebut Hindia Belanda dan penguasanya disebut Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Penunjukan Gubernur Jenderal yang selama ini dilakukan oleh Heeren 17, sekarang harus direstui oleh Raja Belanda. Saat Peter Gerahardus van Overstraten meninggal secara tiba-tiba pada 22 Agustus 1801, yang menggantikannya adalah Johannes Sieberg, meski kenyataannya Sieberg baru tiba di Batavia pada april 1802. Secara resmi ia menjadi Gubernur Jenderal VOC Hindia Belanda pada 22 Agustus 1801 – 19 Oktober 1804. Ia kelahiran Rotterdam pada 14 Oktober 1740 dan meninggal di Batavia 18 Juni 1817.

Sementara itu, di tahun 1802, terjadi perjanjian antara Inggris dan Belanda untuk mengembalikan semua daerah jajahan Belanda yang dikenal dengan nama perjanjian Amiens. Maret 1803, Maluku kembali ke kekuasan Belanda. Inggris tak terima dan berperang dengan belanda, Di tahun itu juga mereka kembali berperang, dan Belanda meminta bantuan Perancis  yang sejak 1795 telah berada di kekuasan Perancis untuk melawan Inggris. Perancis menang dalam perang eropa itu dan Napoleon Bonaparte naik tahta . Sehubungan dengan sentralisasi kekuasaan yang semakin besar, Napoleon menunjuk adiknya Louis Napoleon menjadi penguasa Belanda  (atas nama Raja Perancis) di tahun 1806. Dipusat kekuasaan Hindia Belanda di Batavia terjadi perubahan Gubernur Jenderal VOCeral dari Johannes Sieberg ke Albertus Henricus Wiesse (19 oktober 1804 – 14 januari 1808). Di tahun 1808, Louis Napoleon mengirim Marsekal Herman William Daendels ke Batavia untuk menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (atas nama Raja Perancis) untuk menggantikan Albertus Henricus Wiesse. Sementara itu di Maluku dan Ambon pun mengalami perubahan, sejak Maret 1803, Maluku dan Ambon termasuk Saparua, Haruku dikembalikan lagi ke belanda yang sebelumnya dikuasai oleh Inggris. Di Maluku, gubernurnya Pieter Adrianus Goldbach (1803-1804) menggantikan H. Webber (Inggris), sedangkan diambon Carel Lodwijk Wieling (1803-1804) menggantikan James Oliver (Inggris). Carel Lodwijk Wieling kemudian menyerahkan kekuasaan kepada William Cransen (1804-1808) dan kembali menjadi Gubernur Maluku (1804-1809) yang berkedudukan di Ternate. Begitu juga yang terjadi di Saparua dan Haruku, Residen Inggris yang berkuasa sejak 1796 diganti oleh Residen Belanda. Di saparua, residennya adalah Kruipenning. Kruipening menginstruksikan kepada rakyat pulau saparua kalau segala peraturan inggris selama ini dihapus, dan diberlakukan lagi aturan belanda.

Seperti yang diceritakan di atas, 28 Januari 1807, Louis Napoleon mengirim William Daendels ke Batavia atas usul Napoleon Bonaparte. Melalui perjalanan panjang, lewat kepulauan Canary, ia tiba di Batavia pada 5 Januari 1808 dan berkantor di Buitenzorg (Bogor). 4 bulan kemudian ia memulai “mega Project” jalan dari anyer ke Panarukan pada Mei 1808. Sebenarnya jalan ini bukan dimulai dari anyer, karena jalan dari anyer ke Batavia telah ada sebelum Daendels tiba. Jadi ia hanya memulainya dari Cisarua ke Panarukan. Kontraversi terjadi dalam pembangunan jalan ini disebabkan karena banyak pejabat tidak menyukai Perancis tetapi setia kepada dinasti oranye yang masih mengungsi di Inggris sejak 1795. Banyak pejabat yang dipecat oleh Daendels, diantaranya Nicholas Engelhard, sang keponakan Willem Arnold Alting yang menjabat sebagai Gubernur Pantai Timur laut jawa (1801-1809) sejak masa Gub Jend VOC Johanes Sieberg. Selain itu, Residen Manado, Carel Christofel Prediger (26 november 1803-1809) yang sebelumnya pernah menjadi fiscal (jaksa penuntut) di Ternate dipecat juga. Nicholas Engelhard kembali dipulangkan ke Belanda. Sang adiknya, Peter Engelhard yang menjadi Residen (minister) Jogja tidak dipecat namun terus mengirim informasi tentang kekejaman Daendels. Tahun 1808, terjadi perselisihan diambon, gubernur Amboina William Cransen (1804-1808) dengan komandan militer yang datang ingin melaksanakan instruksi Daendels. Cransen dipecat dan diperintahkan kembali ke Batavia. Daendels menarik Gubernur Maluku yang selama itu berkedudukan di Ternate untuk menggantikan Cransen. Ia adalah  Carel Lodwijk Wieling yang sebelumnya adalah Gubernur Amboina sebelum digantikan William Cransen. Dengan pemindahan ini, maka gubernemen Maluku di hapus dan kekuasaannya diletakan langsung di bawah Gubernemen Amboina. Namun Wieling melakukan bunuh diri di Benteng Victoria karena tak mampu mengatasi tekanan jiwa. Posisinya diganti oleh J. E. Von Jett sejak 1808 – Maret 1809, kemudian diganti  oleh L. Heukevlugt yang menjadi Prefektur kepulauan Maluku (1809-1810).

Kekurangan uang kontan dalam menghadapi serangan Inggris, menyebabkan Daendels memerintahkan supaya diadakan penghematan di segala bidang, kecuali untuk pertahanan. Gubernur mengeluarkan instruksi supaya rakyat di tiap-tiap negeri membayar sendiri guru-gurunya. Sampai saat itu Kompenilah yang membayar guru-guru. Bayaran itu tidak seberapa, tetapi berarti besar bagi guru-guru. Belum lagi diambil langkah selanjutnya, gaji guru telah dihentikan. Guru-guru tidak sudi hidup dari belas kasihan rakyat. Rasa angkuh mereka untuk menerima sedekah dari rakyat, menyebabkan dalam waktu singkat mereka hidup merana. Dapat dimengerti bila kegelisahan timbul di semua negeri Kristen. Timbullah kebencian yang mendalam dalam kalbu guru-guru itu terhadap Belanda. Karena besar pengaruh mereka di kalangan rakyat dan kebencian itu tidak disembunyikan, maka bertambah membara kebencian rakyat terhadap Pemerintah Belanda. 

William Daendels memerintah sejak 14 Januari 1808 – 16 Mei 1811, dan dipanggil pulang oleh Napoleon Bonaparte untuk menghadapi Prusia dalam perang Eropa. Ia digantikan oleh Jan William Jansens, sang lelaki kelahiran Nijmegen 12 Oktober 1762 dan meninggal di Den Haag pada 23 Mei 1823. Ia memerintah sangat singkat sejak 16 Mei 1811 – 18 September 1811. Inggris mulai menyerang Hindia Belanda sejak Daendels di panggil pulang. 1 tahun sebelumnya 16 Februari 1810, inggris berhasil menaklukan Ambon. Gubernur Amboina, Jean Philipe Francois Filz (maret 1809-19 februari 1810) yang menjadi komandan militer ambon, menyerah pada Kapten Edward Tucker. Ambon diambil alih, Banda juga jatuh dan akhirnya Ternate juga dikuasai oleh Inggris pada 31 Agustus 1810. 1 tahun kemudian pusat kekuasan belanda di Batavia, menyerah pada inggris. Thomas Stamford Bingley menyerang dan memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan William Jansens menandatangani penyerahan kekuasaan kepada inggris lewat Kapitulasi Tuntang. Sejak itu hindia belanda di kuasai Inggris. Thomas Stamford Raffles memerintah sejak September 1811 - Maret 1816, dan kemudian menyerahkan kekuasan kepada Jhon Fendal Jr (maret 1816-19 agustus 1816). Saat inggris memerintah, Raffles dan Fendal bergelar Gubernur Letnan Jenderal Hindia Belanda.  

Untuk kedua kali Maluku jatuh ke tangan Inggris. Untuk kedua kali timbul harapan bagi rakyat Ambon, Lease dan Seram akan perbaikan hidup. Menarik pelajaran dari masa pendudukan yang pertama, segera Pemerintah Inggris mengeluarkan pengumuman dan peraturan yang disiarkan kepada raja-raja, patih dan rakyat. Maksudnya untuk mendapat dukungan dan simpati rakyat, sehingga tercegah timbulnya perlawanan bersenjata.

Diberitakan kepada-segenap rakyat Maluku, bahwa Belanda sebagai suatu bangsa sudah lenyap dan tidak akan bangkit lagi. Negara Belanda sudah dimasukkan ke dalam Kekaisaran Perancis. Jadi untuk selanjutnya rakyat Maluku akan diperintah oleh bangsa Inggris. Pertama-tama tunggakan gaji guru-guru segera dibayar dan keadaan yang sudah-sudah dipulihkan. Kedua,verplichte leverantien dihapus, rempah-rempah dibayar kontan dan harga bahan pakaian diturunkan. Ketiga, kerja rodi diperingan, sedangkan upah para pekerja kuarto dari satu menjadi tiga "Ropijn".

Selama pemerintahan Inggris berjalan banyak uang beredar dalam masyarakat. Di samping "ropijn" beredar juga mata uang "matten", sedangkan uang kertas ditiadakan. Karena pegawai-pegawai dan kaum militer Inggris bergaji cukup tinggi dan banyak mengeluarkan uang, bertambah banyak pula uang dalam sirkulasi. Hasil produksi rakyat dibayar cukup wajar. Kesejahteraan dipertinggi lagi dengan pembentukan satu korps militer Ambon, sebesar lima ratus orang, yang bergaji cukup tinggi dan berseragam baik. Gaji mereka dapat membantu keluarga dan sanak-saudara mereka di negeri-negeri. Pemerintahan negeri diperlunak. Raja-raja dan patih tidak diperbolehkan menghukum rakyat. Yang bersalah harus diajukan kepada pemerintah. Jika rakyat mengadukan rajanya kepada Pemerintah Inggris, karena sesuatu tindakan yang tidak benar atau tidak adil, kerapkali kepala itu dipecat tanpa didengar lagi, seperti terjadi dengan raja-raja Pelauw, Kailolo dan Aboru. Kebebasan ini, terutama kebebasan kaum muda di negeri-negeri, mempunyai akibat buruk bagi Belanda bila nanti mereka kembali lagi sesudah Pemerintah Inggris berakhir.

Pada masa pemerintahan Inggris yang kedua inilah, mungkin Thomas Matulessy dan Anthone Rhebok menjadi Anggota Korps Lima Ratus antara 1810 atau 1811, sebuah korps rancangan Raffles di Ambon. Tahun perkiraan ini dikarenakan saat menjadi anggota korps 500 itulah, Thomas Matulessy mendengar dari komandannya jika Daendels telah meninggalkan Hindia Belanda. Daendels meninggalkan Hindia Belanda pada 16 Mei 1811 seperti dituturkan di atas.

Saat menjadi anggota korps 500 itulah ia berkenalan dengan seorang wanita bernama Elizabeth Gassier. Saat berkenalan, Elizabeth Gassier bekerja di keluarga White, seorang syahbandar pelabuhan ambon. Ia juga adalah istri dari Eliza Titaley, lelaki negeri saparua yang telah “berpisah” karena Eliza Titaley telah dibawa ke Jawa sebagai Tentara Belanda. Pemerintahan Inggris di Maluku terus berlangsung, di Amboina residen terus berganti, dari Edward Tucker (19 februari 1810-juni 1810), ke M.H. Court (juni 1810-februari 1811) serta William Byam Martin (februari 1811-25 maret 1817). Sementara itu, sejak Maluku jatuh ke tangan Inggris, Maluku “diperintah” oleh Komandan Militer,  tercatat :  S. Kelly (military commander) (1809-desember 1811) digantikan oleh Forbes (1811), kemudian W. Ewer (1811-1813) dilanjutkan oleh W.G. Mackenzie (1st time) (1813-1815), diganti oleh  R. Stuart (1815-1816) dan terakhir kepada W.G. Mackenzie (1816-20 april 1817).

Mungkin antara 1810 hingga 1816an itulah, terdengar kabar dari karesidenan Saparua, terjadi pembunuhan Residen Inggris di Saparua.  Menurut orang Inggris residen itu bertindak terlalu keras terhadap penyelundupan. Tetapi orang Belanda mengatakan bahwa tindak-tanduknya yang tidak senonoh terhadap seorang gadis cantik di Saparua menyebabkan ia menjadi korban pembunuhan. Pemerintah Inggris menuduh Raja Ullath, Jeremias Latuihamallo alias Salemba, sebagai biang keladi. Ia ditangkap, diadili lalu dibuang ke Madras. Setelah masa pembuangannya, ia kembali ke Saparua dan berdiam di Porto, negeri asalnya.

Sementara itu, di Eropa terjadi lagi pergolakan, Perang Eropa berkecamuk di medan pertempuran Waterloo di Belgia pada tanggal 18 Juni 1815. Pertempuran itu menentukan nasib Napoleon Bonaparte dengan kekaisaran Perancisnya. Pertempuran itu menentukan pula masa depan negara-negara Eropa yang sedang saling menghancurkan. Perancis kalah. Napoleon pun dibuang ke Saint Helena di Pulau Elba. Sebab itu lawan-lawannya berkumpul di Wiena pada tahun itu juga untuk mengatur kembali tata kehidupan bernegara dari bangsa-bangsa Eropa yang telah diobrak-abrik oleh Napoleon, dan di situ pula diatur kembali milik dan status jajahan di Asia. Saat mendengar kekalahan Napoleon Bonaparte di pertempuran Waterloo, dan Inggris yang keluar sebagai pemenang harus melaksanakan Traktat London, yang dibuatnya dengan Belanda dalam tahun 1814. Traktat London! Itulah sumber penyerahan kembali Indonesia kepada Belanda. Sumber yang dikukuhkan dalam musyawarah bangsa-bangsa Eropa di Wiena (Konggres Wina), Raffles pun kembali ke Inggris dan menyerahkan kekuasaan kepada Jhon Fendall Jr sebagai masa transisi peralihan kembali kekuasan dari Inggris ke Belanda sebagai akibat Traktat London. Belanda kembali merdeka karena Perancis telah kalah dan mengangkat kaki dari Belanda. Raja baru belanda Willem VI berkuasa, ia segera bergerak untuk melaksanakan Traktat/Konvensi London itu. Ia kemudian membentuk Komisioner Pengambilalihan Hindia Belanda dari Inggris. Komisi ini terdiri dari 3 orang yaitu Cornelis Theodorus Elout, Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen, Arnold Adrian Buyskess. Mereka segera menuju Batavia, dan pada 19 Agustus 1816, mengambil alih kekuasaan dari Jhon Fendall Jr. Beberapa bulan kemudian, mereka mengirim  komisioner pengambilalihan kepulauan Maluku dari tangan inggris. Komisi ini dipimpin oleh Nicholas Engelhard dan J.A. van Middelkoop. Mereka berdua tiba diambon pada 18 Maret 1817. Komisioner ini “diiringi” oleh 7 kapal, terdiri atas kapal perang dan kapal pengangkut. Kapal Maria Reygerbergen dikomandani oleh Overste Hugo Cornets de Groot, Kapal Perang Nassau dikomandani oleh Sloterdijk, Kapal Perang Lversten dipegang P.M. Dietz. Kapal-kapal pengangkut diketahui bernama Swallow, Salambone dan Malabar.

Dalam iring-iringan itu juga terdapat “calon” Residen Saparua yang baru, Johanes Rudolph van den Berg, dan keluarganya. Perundingan pelaksanaan Traktat London menghasilkan persetujuan pada tanggal 14 Maret dan baru ditandatangani pada tanggal 24 Maret, oleh Martin, Engelhard dan van Middelkoop. Tanggal 20 Maret Burfhgraaff dilantik sebagai residen di Hila dan keesokan harinya sebagai residen Larike. Pada hari itu juga Johannes Rudolph van den Berg dilantik sebagai residen Saparua. 25 Maret 1817 bertempat di Rumah Gubernur Maluku (Residen Inggris) yang berkawasan di Batu Gajah Ambon, terjadi serah terima kekuasaan. Rakyat Ambon menyaksikan upacara penurunan bendera Inggris dan penaikan bendera Belanda. Penurunan Union Jack disambut oleh kapal perang Nassau dengan tiga puluh tiga tembakan meriam, sedangkan sebuah kapal Inggris membunyikan dua puluh satu tembakan. Dari benteng Victoria berdentum tembakan yang sama jumlahnya sebagai tanda penghormatan dan terima kasih. Kemudian tri warna merah-putih-biru dinaikkan dengan sambutan tembakan meriam yang sama pula jumlahnya dari kedua kapal perang tadi dan Benteng Victoria. Sesudah itu van Mideelkoop dilantik sebagai gubernur Maluku. Lalu disusul dengan penyerahan kekuasaan dari Residen Martin kepada Van Middelkoop dan Engelhard. Dalam menyusun dan menjalankan pemerintahan gubernur itu didampingi oleh Engelhard. Pada hari itu juga Uijtenbroek dilantik sebagai residen Haruku.  Tentang rumah Residen Inggris yang jadi tempat serah terima kekuasaan, rumah itu semula berfungsi sebagai rumah sakit, dibangun oleh Gubernur Amboina Arnold de Vlaming van Oudshoorn (1647-1650), tetapi kemudian direnovasi kembali oleh Gubernur Amboina Nicholaas Schagen (1691-1696) karena telah mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi pada tahun 1674 (tsunami ambon). Sejak saat itu, rumah sakit tersebut beralih fungsi menjadi kantor peradilan. Pada lantai kedua bangunan itu, ditempatkan “Raad van Justitia” (pengadilan untuk pegawai VOC dan warga kota). Di lantai dua itu pula terdapat kantor dari “Weeskamer” (balai peninggalan harta) dan “Commissarissen der Huwelijkzaken” (kantor urusan pernikahan). Perubahan rumah itu menjadi Rumah Residen Amboina dilakukan oleh Gubernur Amboina Simon Adriaan Van der Stel (1706-1720). Kompleks itulah yang pada abad ke-19 berubah menjadi kediaman resmi gubernur maluku dan kini menjadi Markas KODAM XVI Pattimura yang berlokasi di Batu Gajah.

Beberapa hari kemudian dilantik juga Berkhof sebagai Residen Banda Naira. Akhir bulan Maret 1817, armada kapal perang memasuki perairan teluk saparua, di muka benteng Duurstede. Kapal perang itu membawa Residen Saparua yang baru, Johan Rudolph van den Berg, sang istri Johana Christhina Umbgrove dan ketiga anak mereka yang masih kecil, Jean Luberth van den Berg (5 thn), Johanes Gerardus van den Berg (3 thn) dan Johanes Rudolph van den Berg (8 bln). Sang Residen yang baru ini adalah anak dari Johanes Gerardus van den Berg dan Maria Elizabeth Coest. Sang istri berayahkan Johan Luberth Umbgrove dan beribukan Constantia Cornelia Alting. Sang ayah mertua adalah bekas Residen Cirebon yang berkuasa pada 1792 - 1797. Ibu mertuanya adalah putri dari Willem Arnold Alting yang pernah menjadi Gubernur Jenderal VOC. Nicholas Engelhard yang melantiknya adalah “bapa mantu” karena merupakan saudara sepupu ibu mertuanya, yang juga menikah dengan putri tiri Willem Arnold Alting karena pernikahan keduanya dengan MS Grebel. Penunjukan dirinya menjadi residen saparua merupakan “rekomendasi wanjakti” Johanes Sieberg yang pernah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan juga “bapa mantu” karena menikah dengan tante kandung istrinya. Ayahnya, Johanes Gerardus van den Berg juga bukan orang “sembarangan”. Ayahnya  pernah menjadi notaris di pusat kekuasaan VOC Batavia pada 1770 - 1775 dan Residen Jogjakarta pada 1798 - 1803 saat ia berumur 10 tahun. jadi saat ia menjadi residen saparua, ia baru berumur 29 tahun. Keluarga besarnya merupakan keluarga berpengaruh yang memiliki “jejak panjang” dalam tubuh VOC. Ia merupakan  anggota “ring 1” dan penunjukan dirinya tentulah memiliki tujuan serta akibat jejaring keluarganya itu.

Setelah tiba di saparua, 1-2 hari kemudian residen inggris di saparua kembali mengundang para raja, patih dan orang kaya pulau saparua dan nusalaut untuk datang ke benteng Duurstede. Tujuannya untuk menyaksikan upacara serah terima residen baru. Sejak saat itulah, Van den Berg mulai melakukan “aksinya”. Dari kantor gubernur dikeluarkan bermacam-macam putusan yang merehabilitasi peraturan-peraturan di zaman Kompeni. Monopoli berlaku lagi. Perdagangan bebas dilarang dan tindakan diambil terhadap pedagang-pedagang yang melanggarnya. Kembali mereka dicap "penyelundup", Tindakan Gubernur Middelkoop dalam bidang keuangan sangat menggelisahkan, baik pegawai-pegawainya sendiri dan kaum militer maupun rakyat. Karena tidak ada uang, maka diedarkan kembali uang kertas yang sangat dibenci itu. Tindakan itu tidak terpuji dan tidak disetujui oleh Engelhard oleh karena kantor penukaran belum diorganisasi dan dibuka. Walaupun demikian dilaksanakan juga. Tindakan ini menjadi permulaan pertengkaran antara kedua pembesar itu. Uang kertas dalam kenyataannya tidak bisa ditukar. Di seluruh Indonesia Timur hanya ada tiga buah kantor penukaran.

Rakyat menjadi makin gelisah. Mereka menolak menerima uang kertas itu. Mereka teringat kembali akan pengalaman di zaman Daendels. Di dalam peredaran dan simpanan mereka masih ada uang ropijn Inggris dan uang matten Spanyol, perak dan emas. Tetapi celakanya bagi rakyat di Saparua, jika uang kertas itu ditolak, si penolak ditangkap oleh residen lalu dihukum cambuk dengan rotan. Sebaliknya jika rakyat membeli sesuatu di gudang atau toko gubernemen dan membayar dengan uang kertas, pegawai residen tidak bersedia menerimanya. Mereka diharuskan membayar dengan uang perak.

Lain lagi pendirian Residen Berkhoff di Banda tanggal 9 April dia menulis surat kepada gubernur Maluku seperti berikut : "...Saat ini saya merasa tidak berwewenang untuk mengesahkan pembayaran dengan uang kertas, tanpa ada sesuatu pengumuman yang mendesak atau tanpa ada sesuatu jaminan. Tanpa itu dikhawatirkan akan timbul ketidak percayaan dan mungkin agitasi. Apa lagi pengalaman di masa lampau di wilayah ini meninggalkan bekas yang mendalam...".

Jujurkah ? Beranikah ? Mungkin ! Mungkin pula ada motif yang lain, yaitu membela rakyat Belanda dan turunannya yang menghuni Kepulauan Banda. Maklumlah, masyarakat Banda bukan masyarakat kulit hitam, jadi untuk apa mereka harus disusahkan ?

Lagi-lagi keluar perintah untuk kerja rodi. Rakyat diharuskan membuka kebun cengkeh dan pala untuk kepentingan gubernemen. Saparua telah mulai dengan penanaman pala sebanyak tujuh ratus lima puluh pohon, yang dibebankan kepada rakyat. Penanaman pala ini dilakukan sebagai percobaan, karena sampai saat ini hanya Banda yang diizinkan menanam pala. Belum lagi selesai pekerjaan ini datang lagi perintah untuk membuka kebun kopi. Kayu diperlukan oleh gubernemen dalam jumlah yang banyak untuk tonggak-tonggak pangkalan angkatan laut, untuk memperbaiki kerusakan berat pada benteng, rumah sakit tentara, gedung-gedung di Banda dan pos-pos di Leitimor. Kapal perang "Nassau" memerlukan kayu bakar dua ratus vadem dan Reybersbergen tiga puluh enam vadem (per vadem enam kaki kubik, berharga empat ropijn). Sekalipun harga telah ditentukan, tetapi pembayarannya sangat seret. Rakyat negeri-negeri yang langsung diperintah dari benteng Nieuw Victoria mengalami keseretan yang menjengkelkan. Tanda penyerahan kayu diterima dari opsir zeni. Dari orang ini ke superintendent atau pengawas umum pemerintahan negeri untuk disetujui, kemudian ke pemegang buku untuk diberi fiat, baru dapat diambil uangnya di kantor keuangan. Urusan yang berbelit-belit dan birokratis ini memakan waktu berhari-hari, kadang-kadang berminggu-minggu. Kesempatan terbuka bagi pegawai-pegawai untuk memotong disini, mengurangi di sana dan memeras lagi. Maklumlah pegawai-pegawai itu masih banyak dari rezim lama, yaitu rezim Kompania Walanda, yang terkenal dengan korupsi dan pemerasan. Di daerah-daerah residen baru boleh membayar, sesudah mendapat izin dari gubernur untuk mengeluarkan sejumlah uang yang disetujuinya, lebih mendongkolkan lagi, dibayar dengan uang kertas. Dalam rangka kerja paksa komandan militer memerintahkan tiap negeri supaya menyediakan dua buah arombai dengan masnaitnya untuk pelayaran secara teratur ke pos Baguala, kewajiban ini melanjutkan ketentuan lama semasa Kompania yang sudah dihapus oleh Inggris.

Tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa gubernur pernah membela nasib rakyat terhadap begitu banyak tuntutan dari fihak militer. Jika gubernur berhasil mendapatkan serdadu untuk berdinas di Maluku saja, maka komandan militer tidak menyetujuinya. la berpendapat bahwa seorang serdadu dapat dikirim kemana saja diperlukan oleh gubernemen. Ini yang ditentang oleh rakyat. Pemuda-pemuda tidak mau masuk dinas militer untuk diangkut ke Jawa. Tantangan ini yang memusingkan Residen van den Berg. Apalagi menghadapi rakyat Saparua dan Nusalaut yang sudah dipengaruhi oleh Thomas dan kawan-kawannya, bekas prajurit-prajurit Inggris, yang banyak terdapat di negeri- negeri.

Inilah kegagalan Engelhard yang mengeluarkan instruksi untuk merekrut serdadu Ambon bagi Jawa. Belanda memerlukan empat ratus orang. Hanya tiga puluh tiga orang memasuki dinas militer, memenuhi panggilan itu. Itu pun sebagian besar orang-orang Jawa yang berdiam di Ambon. Kewajiban rakyat seolah-olah tidak habis-habis. Dendeng, ikan kering dan garam harus pula diserahkan kepada gubernemen. Bertambah berat tugas rakyat. Bertambah gelisah seluruh rakyat Ambon, Lease dan Seram.

Di negeri-negeri tersiar kabar bahwa sekolah-sekolah akan ditutup. Terutama di Saparua isyu ini menambah kegelisahan masyarakat. Disini tersiar kabar bahwa guru-guru akan diberhentikan dan anak-anak akan disekolahkan di kota Saparua. Benarkah hal ini ? Dalam suratnya kepada para komisaris di Ambon tertanggal 15 April, Residen van den Berg menulis bahwa persekolahan akan hancur sama sekali jika Pemerintah Belanda tidak membayar para guru seperti di zaman Kompeni. Pemerintah Perancis (Daendels) dalam tahun 1810 telah menghentikan pembayaran gaji guru-guru dan memerintahkan rakyat tiap-tiap negeri untuk membayar guru-guru mereka. Tindakan itu sangat merugikan. Oleh karena itu residen tidak akan mengadakan perubahan apapun.

Inilah nasihat residen kepada para komisaris sebagai jawaban atas surat mereka mengenai rencana untuk mempersatukan sekolah-sekolah di ibukota Keresidenan Saparua. Mereka hendak mengikuti contoh pemerintah Inggris yang mempersatukan sekolah-sekolah kecil di sekitar kota dalam satu sekolah besar di Kota Ambon. Bukan maksud para komisaris untuk memperbaiki pendidikan, tetapi untuk menghemat uang negara, sehingga beban sekolah-sekolah yang tidak digabungkan dapat ditanggung oleh negeri masing-masing. Advis residen ini adalah pendapat yang bijaksana. Ini berarti guru-guru akan tetap menerima gaji mereka. Tetapi hal ini tidak diketahui oleh rakyat. Residen tidak dapat mengatasi isyu-isyu yang telah tersiar di dalam masyarakat Saparua dan Nusalaut. Jadi akhirnya tuduhan rakyat terhadap pemerintah Belanda, bahwa gubernemen akan menutup sekolah-sekolah dan akan memecat guru-guru, harus dipikul oleh Van den Berg

Saparua adalah pulau yang terpadat penduduknya, kira-kira dua belas ribu orang, dan tanahnya tersubur. Oleh karena itu hasil produksi cengkih juga sangat besar. Kata orang Belanda "Saparua is het neusje van de zalm" (Saparua adalah hidung ikan zalem). Hidung ikan zalem adalah bahagian yang paling enak. Jadi Saparua merupakan bagian yang paling empuk, paling basah, paling enak untuk menjadi kaya dengan cara pemerasan dan lain-lain tindakan yang tidak halal. Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa Sieberg mengusulkan “anak mantunya” kepada Komisioner Pengambilalihan kepulauan Maluku agar menjadi Residen Saparua.

Kebencian rakyat Saparua dan Nusalaut makin meningkat karena residen dan pegawai-pegawainya menjalankan instruksi dari gubernur dengan keras. Tanpa kebijaksanaan, dengan sikap seorang ambtenar penjajahan yang otoriter, tanpa pengertian terhadap persoalan-persoalan masyarakat dan terhadap manusia Lease. Tindakan-tindakannya sangat menyakitkan hati, misalnya, residen memaksa rakyat membuat garam untuk gubernemen, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Residen mengadakan perjalanan keliling untuk cacah jiwa yang ada hubungan dengan kerja rodi dan pajak. Siapa tidak muncul atau terlambat datang dicambuk dengan rotan. Dalam kesempatan berkeliling itu ia memerintahkan kaum borgor untuk kerja paksa. Siapa yang hendak bebas harus memberi uang sogok kepada residen. Tetapi residen mempunyai alasan. Dalam masa berakhir pemerintahan Inggris terjadi manipulasi dengan surat bebas. Surat itu dapat dibeli dari pegawai-pegawai Inggris. Maklumlah para pemuda dan kaum lelaki sudah jemu dengan kerja rodi, kerja kuarto dan berjenis-jenis kewajiban. Jadi mereka cari jalan apa saja untuk mendapatkan surat bebas itu. Pencatatan jiwa penduduk itu menimbulkan pula kecurigaan di antara kaum lelaki. Mereka khawatir dipaksa memasuki tentara Belanda lalu diangkut ke Jawa. Yang selalu menggelisahkan mereka ialah apabila mereka dibawa ke Jawa, Siapa yang akan memberi makan dan memelihara anak-isteri dan orang tua mereka? Itulah sebabnya, setiap kali residen datang, banyak laki-laki yang meninggalkan negeri pergi ke hutan.

Sering residen menuntut, mengadili, menjatuhkan vonis dan menghukum sendiri orang-orang yang bersalah. Tanpa pemeriksaan yang teliti dan adil, orang yang bersalah dihukum berat, dipukul dengan rotan atau dihukum kurungan dalam kamar gelap di benteng. Kaum borgor yang bersalah sering dicambuk dengan rotan dengan cara seperti mencambuk anak negeri. Mereka diikat pada tiang atau pohon kemudian dicambuk. Menurut peraturan seorang borgor harus ditiarapkan di alas bangku baru dipukul dengan tali pengganti rotan. Dua orang kawan Thomas Matulessy, yaitu Anthonie Rhebok dan Philip Latumahina, keduanya borgor dan berusia sekitar tiga puluh lima dan empat puluh tahun dicambuk seperti orang biasa. Dalam versi Belanda, mereka dituduh memicu keributan dan mengganggu “kamtibmas” karena mabuk sageru (saguwer) dan berkelahi.

Dalam waktu yang begitu pendek, belum sampai sebulan setengah, van den Berg telah menyulut sumbu dinamit bagi meledaknya suatu revolusi rakyat yang paling berdarah. Dinamit kebencian berpuluh-puluh tahun terhadap penjajah Belanda tidak dapat lagi ditahan lagi dan meledaklah.

05 April 1817 Johan Alexander Neijs sebagai Residen Ternate dilantik. Awal april mulai terdengar isu pemberontakan di karesiden Pulau Haruku. Selama april itulah, suasana memanas di pulau haruku. Pada akhir April 1817, suasana di negeri-negeri di Pulau Saparua dan Nusalaut makin menjadi tegang dan panas. Bermacam berita menggelisahkan rakyat, antara lain bahwa kaum lelaki akan dipaksakan untuk memasuki tentara Belanda dan akan dikirim ke Batavia. Berita ini bersumber pada pengumuman J. van Middelkoop, yang seperti disebut di atas menyebabkan bekas prajurit Inggris dan orang-orang borgor yang menganggur meninggalkan Ambon dan berpindah ke Saparua.

Philip Latumahina, seorang bekas juru tulis Residen van den Berg, menyiarkan berita itu ke mana-mana. Sebagai seorang borgor ia pernah dicambuk dengan rotan oleh residen bersama dengan Anthonie Rhebok dengan alasan berkelahi. Kemudian ia diberhentikan. Philip tidak pernah lupa akan penghinaan itu. 

Akhir dan awal mei tahun itu, beredar gosip pemberontakan yang terus bergaung di lingkungan benteng Duurstede. Residen mendapat laporan-laporan yang saling bertentangan, ada yang membenarkan, ada juga yang membantahnya. Hal ini diperparah dengan kemampuan bahasa melayu ambon Residen yang sangat lemah. Ia tidak “nyambung”. Sang juru tulisnya sang (Scriba) Ornek yang beberapa waktu sebelumnya menggantikan Philiph Latumahina lebih menguasai kondisi psikologis masyarakat saparua-nusalaut.

Minggu pertama Mei itu, seorang Haria Pieter Matheos Souhoka, datang melapor tentang isu pemberontakan yang semakin menguat. Untuk mengkonfirmasi laporan ini, Residen memanggil raja Booi dan Nolloth ke benteng Duurstede, namun mereka berdua membantah laporan orang Haria itu. Akibatnya Pieter matheos Souhoka dicambuk karena dianggap berbohong !!!

2 hari kemudian, sang istri Raja Nolloth, yang biasa dipanggil Nyora Nolloth datang bertamu ke benteng dan “ngopi” dengan sang istri Residen. Sambil ngopi itulah, sang Nyora “membenarkan laporan Souhoka alias informasi yang diberikan itu “A1”. Pemberontakan telah “hamil tua” dan tinggal menunggu hari untuk “meledak”. Raja Sirisori Serani dan Ameth sebenarnya ingin melapor juga kepada Residen, namun takut diketahui karena itulah, mereka ke ambon secara diam-diam dan melapor langsung kepada J. Middelkoop. Namun “anehnya” laporan inipun tak dipercayai oleh para pembesar di Ambon. Raja Ameth disuruh pulang, Raja Sirisori Serani ditahan.

14 Mei 1817 pagi, di hutan Saniri diperbatasan Negeri Sirisori Serani dan Tuhaha, berlangsung musyawarah. Yang hadir adalah para pemimpin “pemberontak” Johannis Matulessia dan Anthone Rhebok dari Saparua, Philip Latumahina dengan adiknya Lukas dari Paperu, Said Perintah dari Sirisori Islam, kakak beradik Pattiwael dari Tiouw. Lukas Selano kapitan dari Nolloth, Lukas Lisapialia alias Aron kapitan dari Ihamahu, pemuda Titaley dari Saparua, kapitan Aipassa dari Tuhaha, kapitan Nanulaitta dan Hehanussa dari Booi dan kapitan Watimury alias Kakirussi dari Porto. Di pertemuan itulah Thomas Matulessy diangkat sebagai pemimpin perlawanan dan waktu penyerangan diputuskan, hari “H” adalah 16 Mei 1817. 

15 Mei 1817, van den Berg “meluncur” ke Porto karena menerima laporan malam sebelumnya jika rakyat porto mulai “bergerak”. Sebelum ke porto, ia singgah di rumah Raja haria untuk meminta laporan kejadian sebenarnya. Di haria, ia “terperangkap” karena rakyat yang mengetahui kedatangannya, mencari dan berniat membunuhnya. Dalam keadaan gawat dan terjebak ia menulis surat kepada komandan benteng Duurstede. "Sersan datanglah segera dengan dua belas orang bersenjata lengkap untuk membebaskan saya. Seluruh rakyat berontak. Datanglah segera." Surat itu dibawa oleh dua orang laki-laki Haria. Seterima surat itu juru tulisnya, Ornek, disertai beberapa orang, segera menuju ke Haria. Tetapi di Haria pun mereka disambut oleh tembakan pasukan rakyat. Tangan Ornek kena peluru. Melihat begitu banyak orang bersenjata, ia tergesa-gesa kembali. Dengan dikawal dua puluh orang borgor, seorang kopral dan dua belas prajurit, untuk kedua kalinya, Ornek menuju Haria. Turut pula raja Ameth. Tetapi setiba di tempat yang sama, terjadi tembak menembak yang ramai. Tangan seorang prajurit Belanda hancur kena tembakan. Pasukan Belanda diserang pasukan rakyat yang besar jumlahnya. Sebab itu Ornek memerintahkan pasukan mundur kembali lagi ke Saparua.

 Di pagi itu juga, Ornek sang juru tulisnya menulis surat ke Ambon, ditujukan langsung ke Gubernur Amboina J Middelkoop. Sang istri Residen, Johana Christina Umbrgrove-van den Berg juga menulis surat kepada pamannya, Nicholas Engelhard. Sang residen berhasil kembali ke benteng karena Thomas Matulessy melepaskannya. Saat tiba di benteng, ia berusaha mengirim surat ke ambon untuk meminta bantuan, namun gagal karena orang yang disuruhnya ditembak di tengah jalan.
 
Malamnya, sang residen “dikagetkan” dengan kedatangan Phillip Latumahina dan Anthone Rhebok. Mereka bertamu sekaligus “memantau” sistim pertahanan lawan. Meski benci kepada sang Residen yang pernah menghukum mereka berdua beberapa waktu lalu, namun rencana “memata-matai” kekuatan lawan harus diteruskan. Sang residen akhirnya membuka pintu dan menerima mereka, dan dijamu dengan minum anggur. Sambil minum, ia meminta maaf karena pernah menghukum mereka (hukuman cambuk dihapuskan pada 1860). Philip Latumahina bahkan diizinkan tidur malam itu dalam benteng, sedangkan Anthone Rhebok diminta untuk mengantar surat residen ke Sirisori Serani. Surat itupun tak pernah sampai ke alamatnya !!! Surat itu ditempelkan Anthone Rhebok pada tiang di pasar saparua.

Melihat kondisi yang mengkhawatirkan, sersan Bombardier Verhagen, malam itu menyelamatkan anak perempuannya yang bernama Maria. Maria adalah anak hasil “kumpul kebonya” dengan seorang perempuan pribumi Saparua. Anak perempuan berusia 13 tahun itu dihitamkan mukanya dan diturunkan dengan menggunakan tali di belakang benteng sebelah selatan.  Maria pun menghilang menemui keluarga ibunya di malam itu…

Pagi-pagi 16 Mei 1817, Philip Latumahina meninggalkan benteng dengan setumpuk informasi berharga tentang keadaan benteng Duurstede. Siangnya pasukan perlawanan telah siap menyerang benteng Duurstede. Sebelum menyerang, diadakan ibadah yang dipimpin oleh Guru Kepala J. Sahetapy.  J. Sahetapy menggunakan “ayat emas” yaitu Mazmur 17 yang adalah Litani Raja Daud sebagai “dasar” penyerangan. Di masa itu (1817), ada 3 schoolmester (guru jemaat/Guru Kepala) yang bertugas di Pulau Saparua, H. Risakotta yang bertugas  di Porto, Strudick yang bertugas di Haria dan  J. Sahetapy yang bertugas di Saparua. Catatan harian dari Rissakota tentang perlawanan rakyat saparua di bawah komando Thomas Matulessy inilah yang disebut sebagai Porto Report atau laporan Porto. Catatan ini banyak dipakai sebagai sumber penulisan sejarah Perang Pattimura. Salah satunya digunakan oleh keturunan Jean Luberth van den Berg van Saparoea untuk menulis tentang kehidupan leluhur mereka. Buku ini terbit pada  tahun 1942 dalam Bahasa Belanda 1942 Berg J. v.d. "Herinneringen mijner jeugd/Jean Luberth van den Berg van Saparoeadan diindonesiakan dengan judul Kenang-kenangan masa remaja Jean Luberth van den Berg van Saparoea”.

Benteng Duurstede akhirnya diserang pada siang itu, korban pertama yang jatuh adalah Sersan Bombardier Verhagen. Ia berusaha menahan serangan dari pintu benteng Duurstede. Sang Juru Tulis Ornek juga menjemput maut, meski sempat meloncat dinding benteng. Sang Residen yang terkena pelor jatuh dan diseret kemudian diikat dan ditembak. Sang istri dan kedua anaknya pun diseret dari tempat persembunyian mereka di gudang cengkih dalam benteng, kemudian dibunuh. Sang anak tertua Jean Luberth van den Berg, bersembunyi di tumpukan beras, namun ditemukan karena terdengar suara tangisan. Sang budak asal paperu yang jadi pelayan membawanya ke Thomas Matulessy dan pasukan penyerangan. Pasukan mendesak agar ia juga dibunuh, tetapi Salomon Pattiwael memohon agar anak ini tak dibunuh, dan ia menjamin akan memelihara anak ini. Permintaan ini disetujui Thomas Matulessy. Anak ini pun selamat dari tragedi yang menimpa keluarganya. Ayah, ibu dan kedua adiknya telah tewas… darah berlumuran di dalam benteng… benteng bermandikan darah ayah, ibu, adik-adik, serta pegawai-pegawai ayahnya. Pos komando belanda yang menjadi pusat pemerintahan dan rumah tinggal residen hari itu jatuh ke tangan Thomas Matulessy dan kawan-kawan.

Siang itu juga, di ambon di markas Gubernur, geger… Mereka baru saja menerima surat dari Scriba (juru tulis) Ornek dan Istri Residen yang dikirim satu hari sebelumnya. Rapat kilat segera diadakan, Jacobus Albertus van Middelkoop, Nicholas Engelhard, Letkol. Krayenhoff dan Laksamana Q.M.R. Verhuell berdebat panas. Verhuell mengusulkan agar segera dikirim kapal perang ke saparua dan menawarkan dirinya sendiri untuk memimpin eksepedisi ini. Usul ini diterima !!!
Saat pasukan sedang disiapkan oleh Verhuell, datang perintah dari Gubernur dan Ketua Komisi, agar pengiriman pasukan dibatalkan !!!

Sore menjelang malam…
Rapat dilakukan lagi, Letkol Krayenhoff ditunjuk untuk menyusun suatu pasukan ekspedisi. Krayenhoff menugaskan  Mayor Beetjes untuk memimpin pasukan ini.
Ekspedisi ini terdiri atas 3 pasukan : Pasukan infantri Belanda di bawah komando Kapten Staalman dan Letnan Verbruggen, Pasukan infantri Jawa di bawah komando Letnan Abdulamana, Pasukan Marinir dari kapal perang Evertsen dan Nassau di bawah komando Letnan Laut, Munter de Jong, Scheidius, Musquetier, Rijk Ian de Jeude. Turut juga Raja Sirisori Serani Johanes Salomon Kesaulija, yang beberapa minggu sebelumnya menghadap Gubernur Amboina untuk melaporkan rencana pemberontakan Thomas Matulessy dkk.

17 Mei 1817, pasukan penumpas meluncur ke Saparua. Mereka melewati Passo, pasukan kecil dikirim ke Haruku untuk mempersiapkan transportasi dan mengambil pasukan sisa di Passo. Mayor Beetjes melanjutkan ke Suli. Namun tak ada angkutan ke saparua. Beetjes menyita arombai di negeri itu dan memaksa rakyat mengantarnya ke Haruku. Ia bersama pasukannya baru tiba di Haruku pada 19 Mei 1817.

20 Mei 1817, di pagi buta…
Terlihat ekspedisi Beetjes menyeberang dari Hulaliu menuju teluk Haria.

20 Mei 1817, jam 08.00 pagi
Ekspedisi ini memutar haluan dan menuju ke Saparoea melewati tanjung Booi.  Pukul 10 pagi, armada ini terlihat muncul di Teluk Saparoea. Memutar ke timur menuju Waihenahia namun tak bisa mendarat karena ombak besar, Mayor Beetjes memerintahkan memutar balik menuju pantai Waisisil !!!

Beetjes menyiapkan pasukannya untuk mendarat. Pasukannya dibagi dalam tiga divisi. Ketiga-tiganya akan bergerak menyusur pantai menuju ke benteng Duurstede. Divisi pertama dipimpin oleh Letnan Verbruggen, disertai Kadet 't Hooft yang membawa bendera tri warna untuk dikibarkan di benteng. Divisi kedua dipimpin Staalman dan akan menyusul pasukan di bawah komando Beetjes.

Di pantai Waisisil ini, menjadi ladang pembantaian bagi pasukan Belanda. Air laut di perairan waisisil merah darah… Sekali lagi “tumbal” benteng Duurstede memakan korbannya… Dari ratusan pasukan belanda itu, hanya kira-kira 30 orang yang berhasil melarikan diri kembali ke ambon. Ada juga yang tertawan, Van Hamer dan Leidemeyer, demikian nama kedua orang tawanan itu, sangat beruntung, karena mendapat pengampunan dari Thomas Matulessy. Yang satu karena memperlihatkan tanda rajah di tangannya dan mengaku orang Inggris. sedangkan yang lain adalah pemukul genderang dan penjahit.

20 mei 1817, saat pasukannya dibantai, Gubernur Maluku J.A. Middelkoop mengeluarkan maklumat. Besoknya, ia menerima laporan tentang pembantaian pasukannya di Waisisil.

9 hari kemudian di Haria, lahirlah Proklamasi Haria (29 Mei 1817) yang ditandatangani oleh Raja, Patih, Orang kaya Pulau Saparua, Nusalaut dan beberapa utusan dari Seram.
            
Setelah Ekpedisi Mayor Beetjes gagal total di pantai waisisil, Gubernur Amboina Jacobus Albertus van Middelkoop  dan Komisaris Pengambil alihan Kepulauan Maluku, Nicholas Engelhard memutuskan mengirim ekspedisi penumpasan kedua di bawah komando Overste Hugo Cornets de Groot. Dalam ekspedisi ini terdapat 3 kapal perang : Maria Reygersbergen, Iris dan The Dispatch. The dispatch adalah kapal perang Inggris yang turut membantu. Kapal Perang Maria Regersbergen dipimpin oleh Overste Hugo Cornets de Groot sekaligus panglima tertinggi ekspedisi kedua ini. Iris dipimpin oleh kapten kapal Overste Pool, sedangkan The Dispatch dipimpin oleh kapten kapal Overste Grozier.

04 Juli 1817 : Ekspedisi ini meninggalkan pelabuhan Ambon menuju pulau Saparua.

09 Juli 1817 : Ekspedisi ini muncul di perairan utara Hatawano, menyusuri pantai Itawaka dan Nolloth

Hampir 1 bulan lamanya mereka bernegosiasi dengan pasukan Thomas Matulessy, namun negosiasi buntu.  03 agustus 1817, ekspedisi ini berhasil untuk merebut benteng Duustede dari pasukan Thomas Matulessy yang menguasainya sejak 16 Mei 1817. Letnan Ellinghuyzen komandan pasukan pendaratan diangkat oleh Cornets de Groot  menjadi komandan benteng Duurstede pada hari itu juga, 1 bulan kemudian, 03 September 1817  Letnan Ellinghuyzen diganti dengan Kapten Lisnet.

Meski belanda telah menguasai benteng Duurstede, namun belum bisa memadamkan pemberontakan di kalangan rakyat. Operasi penumpasan kedua inipun tidak mengalami kemajuan dalam operasi mereka. kondisi ini terus dilaporkan oleh van Middelkoop dan Engelhard ke Batavia. Mereka meminta bantuan langsung dari Batavia. Permintaan ini disetujui oleh Gubernur Hindia Belanda Godert Alexander Gerard Philiph van der Capellen. Sang Gubernur Jenderal memutuskan mengirim rekannya sang ahli pertempuran laut yang berpengalaman di medan pertempuran perang Eropa semasa Perang Napoleon Bonaparte beberapa tahun lalu.
Tanggal 26 Juni 1817 Buyskes berangkat ke Surakarta melalui darat. Tanggal 27 Juli ia meninggalkan Surabaya menuju Ambon dengan kapal perang Prins Frederik, disertai oleh dua buah kapal pengangkut penuh dengan serdadu, mesiu, peluru, senjata dan lain-lain keperluan. Tentara yang dibawanya terdiri dari dua ratus lima puluh empat orang dibawah pimpinan Kapten Gezelschap dan duaratus limapuluh orang dipimpin oleh Mayor Meyer dan Vermeulen Krieger serta turut pula Pendeta Lenting.

01 September 1817, Laksamana Madya Arnold Adrian Buyskess tiba di Ternate dari Batavia – Surakarta-Surabaya, 12 September 1817 Buyskes bersama Residen Ternate J.A. Neijs bertolak ke Ambon, 18 hari kemudian mereka menginjak kakinya di Ambon, tanggal 30 September 1817.

Buyskess segera mengadakan perombakan di tubuh pemerintahan. Gubernur Amboina, Jacobus Albertus van Middelkoop dipecat dan dikirim pulang ke Batavia, Engelhard diperintahkan bertugas menyelesaikan masalah di Banda namun ia menolak dengan alasan sakit, dan dikirim pulang ke Batavia. Hari itu  juga 30 September 1817, J.A. Neijs (Residen Ternate) kemudian menjadi Residen Ambon, dan juga Residen Saparoea menggantikan Johanes Rudolph van den Berg yang telah tewas 4 bulan yang lalu…

Sang ahli pertempuran laut itu pun menggelar strategi perang untuk menghadapi strategi perang Thomas Matulessy. Ia mempertaruhkan nama baiknya. Operasi penumpasan jilid ketiga pun siap diluncurkan. 11 oktober 1817, pasukan bantuan dari Ternate tiba di Ambon. Pasukan dari ternate itu terdiri dari Alifuru Tidore dan Ternate. Pasukan Ternate dipimpin oleh Pangeran Tusan dan pasukan Tidore oleh Kimelaha Dukimi. Jumlah mereka sekitar seribu lima ratus orang. Dalam hari-hari berikutnya menyusul kora-kora lainnya, sehingga menjadi empat puluh buah. Dengan bantuan beberapa ribu Alifuru Ternate dan Tidore ini, berhasillah Buyskes menjalankan politik memecah-belahnya. Buyskes mengorganisasi angkatan lautnya. Pada waktu itu kapal perang Maria Reygersbergen berada di Saparua. Iris dan The Dispatch sedang berpatroli di perairan Lease. Di Ambon ada Evertsen, Nassau dan Anna Maria. Armada itu diperkuat dengan kedatangan Prins Frederik. Swallow dibeli dari Inggris dan diganti namanya menjadi Zwaluw. Kemudian datang pula Venus. Di samping itu tersedia empat puluh kora-kora, sejumlah kapal angkutan dan barkas.

23 Oktober 1817, kapal perang Evertsen dibawah komando  Q.M.R. Verhuell diluncurkan ke Saparua di benteng Duurstede, 24 Oktober Kapal Perang maria Reysbergen juga merapat. Selama 1 minggu itu terjadi pertempuran, dan pasukan belanda pun belum mengalami kemajuan.

02 November 1817, saat Eversten berlabuh di perairan teluk saparua, pelayan dari Salomon Pattiwael secara diam-diam naik ke kapal perang itu dan melaporkan jika anak sang residen yaitu Jean Luberth van den Berg masih hidup. Selama 8 hari sejak hari itu terjadi pertarungan strategi perang yang lihai… Thomas Matulessy seorang sersan Mayor Korps 500 melawan ahli strategi pertempuran laut Laksamana Arnold Adrian Buyskess. Kepulauan Uliaser dikepung dari laut. Blokade laut dijalankan. Pasukan perlawanan terjepit di kiri dan kanan.

11 November 1817, Thomas Matulessy tertangkap di hutan perbatasan Booi-Haria karena pengkhianatan Raja Booi. Thomas Matulessy menyerah pada Kapten Pieterszeen. Malam itu juga Philip Latumahina tertangkap oleh Letnan Veerman. 2 hari kemudian 13 November 1817, Anthone Rhebok juga tertangkap. Di hari yang sama Guru Kepala H. Risakotta menyerah pada overste Groot di Haria. Ia kemudian menyerahkan catatan hariannya itu. Pasukan alifuru Ternate dan Tidore menyusuri hutan-hutan untuk menemukan Jean Luberth van den Berg namun tak berhasil. 12 November 1817, A.A. Buyskess tiba di saparua setelah mendengar Thomas Matulessy tertangkap.  1 hari kemudian, tepatnya 13 November 1817, Salomon Pattiwael mengantar Jean Luberth van den Berg dan Maria Verhagen ke kapal Evertsen. Rupanya selama itu (5 bulan 27 hari) sejak 16 Mei 1817, Jean Luberth van den Berg, Maria Verhagen, saudari perempuan Maria dan bersembunyi di Hutan Rila, Negeri “Lama” dalam petuanan Negeri Saparua. Beberapa hari di pertengahan November kelabu itu alias November Rain, banyak pemimpin perlawanan tertangkap, termasuk guru kepala Jacob. Sahetapy. Semuanya dibawa ke kapal perang Evertsen. Termasuk juga pemimpin perlawanan dari Pulau Nusalaut, Paulus Tiahahu dan anak gadisnya, wanita kabaresi Christina Martha Tiahahu yang baru berusia 17 tahun.

Beberapa hari kemudian kapal itu menuju Nusalaut untuk mengeksekusi Paulus Tiahahu di Benteng Beverwijk. 17 November di benteng itu dieksekusi Paulus Tiahahu yang dilakukan oleh pasukan alifuru. Guru Soselisa diminta berdoa untuk melepaskan kepergian sang pahlawan dari Nusalaut itu. Ia diikat dan ditembak oleh pasukan alifuru ternate dan tidore. Pembunuhan tragis itu disaksikan oleh putri semata wayangnya…

Di hari itu juga A.A. Buyskess memerintahkan untuk mendirikan benteng di Porto yang benama Delft, Nolloth yang bernama Velsen dan Ouw yang bernama Hollandia.

18 November 1817, kapal perang evertsen menuju ambon. Setiba di ambon mereka dikurung di benteng Victoria. Buyskes membentuk satu tim untuk menginterogasi para tawanan. Diawal desember para pemimpin perang dihadapkan pada Ambonsche Raad van Justiti (Dewan Pengadilan di Ambon). Dewan ini diketuai oleh JHJ Moorrees dan beranggota JJ Bruins, JH Martens, J. de Keyzer, JH van Schuler, LH. Smits dan G. Reis. Bertindak sebagai fiskal adalah penuntut umum RH. Cateau van Rosevelt dan Sekretaris JB. Timmerman. Vonis hukuman diputuskan : Eksekusi Mati dengan cara di gantung terhadap pemimpin-pemimpin Pemberontakan yaitu Thomas Matulessy, Kapitang Said/Sayat Parentah, Anthone Rhebok dan Philiph Latumahina. Hukuman tambahan dikenakan pada Thomas Matulessy yaitu mayatnya akan dimasukan dalam kurungan besi dan dipertontonkan kepada rakyat.

16 Desember 1817
Tempat : Depan Benteng Niew Victoria yaitu Alun-alun kota Ambon       (Lapangan Merdeka Ambon Sekarang)
Jam : 07.00 WIT
Terpidana Mati : Thomas Matulessy, Kapitang Said/Sayat Parentah, Anthone Rhebok dan Philiph Latumahina, Melchior Kesaulija
Urutan Eksekusi : 1. Philiph Latumahina, 2. Anthone Rhebok, 3. Melchior Kesaulija. Said/Sayat Parentah, 4. Thomas Matulessy

Surat Keputusan Eksekusi Anthony Rhebok ditandatangani oleh A.A. Buyskess pada 13 Desember 1817 dengan nomor 131. Sedangkan untuk Philip Latumahina bernomor 129, Melchior Kesaulija bernomor 132. 

Saat eksekusi inilah, Jean Luberth van den Berg dihadirkan untuk melihat para pembunuh ayahnya… dengan maksud untuk membalas sakit hati karena kematian keluarganya. Beberapa bulan kemudian, Jean Luberth di kirim ke Soerabaia (Surabaya) ke rumah Kakek dan neneknya. Sebagai ucapan terima kasih dan kebahagiaan karena salah satu cucunya bisa hidup, di tahun 1821, sang kakek Johanes Gerardus van den Berg memberikan/menghadiahkan  sebuah orgen kepada Gereja Nicholas di Wijhe Belanda.

Di masa dewasa, Jean Luberth van den Berg, memohon kepada Statuten General (Parlemen Belanda) agar namanya di tambahkan menjadi Jean Luberth van den Berg van Saparoea… hingga sekarang seluruh keturunannya menyandang nama van den Berg van Saparoea!!!

Saat tali akan menjerat lehernya Thomas Matulessy hanya mengucapkan kata-kata : SALAMAT TINGGAL TUAN-TUAN !!!   atau Vaarweel Heeren.

Akhir Desember 1817, kapal perang everstsen berangkat ke Pulau Jawa tigapuluh sembilan orang tawanan dibawa pula ; antara lain Christina Martha. Gadis ini sangat tertekan jiwanya sehingga menolak makan dan diobati ketika berada dalam sel. Verheull mencoba membujuk dan menghiburnya, tetapi sia-sia. Tubuhnya makin lemah dan ketika Evertsen baru meninggalkan Tanjung Alang, Christina menghembuskan nafasnya yang penghabisan pada tanggal 02 Januari 1818. Jenazahnya diturunkan dan diserahkan kepada Laut Banda. 01 Januari 1818 kala malam menjelang, kapal Eversten berada di antara pulau Buru dan Manipa; Martha Christina Tiahahu, pamit untuk selama-lamanya. Verhuel dan ABK kapal sempat menangis saat mengiringi kepergiannya, jelang pergantian hari jasadnya dilarung ke laut Banda dalam satu upacara militer di atas kapal.

Pada upacara pemakamannya Q.M.R Ver Huell menulis catatan harian:
“...Saya turunkan mayatnya pada malam hari dengan teduh dalam laut; tentu dengan hati yang terharu, sedikit banyak dengan air mata. Selaku seorang anak perempuan yang mencurahkan cinta kasih kepada ayahnya, tidak pernah ia tinggalkan dalam hari ketuahannya, sekalipun di medan tempur yang berbahaya, tetap berada pada sisinya. Sifat pendekar, berani, kesatria baik di medan tempur maupun sampai pada detik-detik terakhir dimana ayahnya akan dihabiskan. Ia masih berusaha sekuat tenaganya untuk dapat menyelamatkan ayahnya...”
 
Tanggal 16 Januari 1818 rakyat Ambon menyaksikan hukuman gantung atas Kapitan Lukas Lisapaly alias Aron dari  Ihamahu. la dipersalahkan mengangkat senjata menyerang Benteng Duurstede, berkomplotan membunuh guru dari Amahai serta kakak dan anak-anaknya dan berkomplotan membunuh Julianus Tuwankotta, kakak Patih Akoon. Tanggal 26 Januari Lukas Selano, kapitan dari Nolloth menjalani hukuman gantung. Tanggal 02 Februari sekali lagi rakyat Ambon menyaksikan pelaksanaan hukuman gantung atas Jakobus Pattiwael, patih Tiouw.

Tanggal 25 Februari Buyskes meninggalkan Ambon. Ia kembali pulang dengan senyum lebar, ia telah berhasil memenangkan pertempuran. Ia berhasil dalam strategi perangnya. Ia pulang untuk melaporkan keberhasilan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tumbal benteng Duurstede telah memakan banyak korban dalam 7 bulan itu. Banyak darah yang mengalir di sepanjang tanah Uliaser. Seperti layaknya jantung yang jadi pusat kehidupan, benteng Duurstede yang terletak tepat di jantung uliaser itu bisa sebagai pusat kehidupan dan juga bisa jadi maut jika jantung ditikam dan mengeluarkan darah. Jantung itu mulai mengeluarkan darah di awal 1812an saat residen inggris dibunuh, dan terus mengucurkan darah, hingga 5-6 tahun kemudian saat para pemimpin perang Pattimura mengucapkan selamat tinggal kepada tanah tumpah darah… saat jantung ditikam dan mengeluarkan darah, maka tak menunggu waktu yang lama, pusat pendistribusian oksigen ke seluruh tubuh akan perlahan mulai keteteran. Otak sebagai markas besar tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Ia terus menuntut pasokan oksigen dari jantung namun tak dilayani lagi. Perlahan-lahan otak akan mengalami maldisfungsi dan gagal. Itu mengakibatkan efek berantai… anggota tubuh tak berfungsi dan akhirnya mati…

Seperti itu jugalah yang dialami oleh benteng Duurstede… sejak saat itu… benteng Duurstede seperti mati… tak pernah lagi bersuara… diam dan catatan sejarah tak pernah lagi menceritakannya… bahkan saat 128 tahun berlalu sejak perang itu membakar saparua  dan Indonesia Merdeka, Duurstede tetap bersembunyi dalam bisu… menutup mulut rapat-rapat… yang ada hanyalah bangunan tua setengah melingkar yang cuma berdiri siang malam di atas batu karang, melihat kehidupan yang terus berjalan. 

199 tahun terus merayap dalam deraian waktu hingga hari ini… hampir 2 abad… benteng itu jadi saksi dan juga tumbal... saat malam, batu-batu melingkar itu seperti monumen yang menyeramkan… gelap… bahkan saat tiap tahun, saat peringatan hari pattimura, batu-batu melingkar itu terpinggirkan dalam riuh rendah peringatan… 


Bersambung ..........( Lihat Edisi Ketiga )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar