Minggu, 29 Desember 2019

Kota Kaum Urban : Kota Ambon pada akhir abad ke-17 (bagian 2 - selesai)


Oleh : Gerrit J Knaap





 
Struktur Ekonomi
 
         Apakah Kota Ambon mendominasi pedesaan di sekitarnya?. Dari sudut pandang politik, hal demikian tentu saja terjadi. Pemerintah Gubernemen Amboina bermarkas di kota. Tetapi apakah mendominasi secara ekonomi pedesaan di sekitarnya juga?. Sekali lagi, pertanyaan ini dapat dijawab dengan tegas. Kota adalah saluran di mana semua impor dan ekspor berlangsung, paling tidak setelah VOC menaklukkan perlawanan terakhir rakyat Ambon terhadap kekuasaannya dalam tahun 1650-an. Semua keputusan penting mengenai satu-satunya barang ekspor penting Ambon, yaitu cengkeh, dilakukan oleh VOC, yang telah menetapkan monopoli perdagangan dalam produk ini dalam tahun  1640-an. Dominasi itu, bagaimanapun, adalah urusan VOC; komunitas warga tidak mengambil bagian di dalamnya hingga tingkat yang substansial. VOC telah melarang warga untuk menanam atau berdagang cengkeh. Dengan demikian, satu-satunya peluang yang dimiliki warga untuk berpartisipasi dalam ekonomi internal (bersifat lokal), adalah dalam perdagangan eceran, terutama barang impor seperti tekstil dan tembikar Cina. Peluang mereka di bidang ini masih terbatas karena perekonomian orang Ambon sangat berorientasi hanya sekedar menyambung hidup. Terbukti ada sedikit ruang untuk penetrasi ekonomi yang agak tertutup ini. Warga juga tidak banyak berpartisipasi dalam hubungan perdagangan eksternal Ambon, karena kapal-kapal kompenilah yang  membawa seluruh ekspor cengkeh. Kapal-kapal warga dengan tujuan perdagangan keluar Ambon, itu nyaris tidak ada, yang berarti bahwa keuntungan perdagangan asing terus terjadi karena perdagangan dibatasi dalam skop lokal. Apalagi VOC, selalu takut bahwa seseorang mungkin mengancam monopoli cengkehnya, menetapkan batasan pada rute dan tujuan pengiriman swasta30
         Pemeriksaan struktur ekonomi internal kota mengungkapkan, bahwa pada tahun 1694 lebih dari 40 persen dari total populasi pria dewasa, atau 540 orang dari sekitar 1250 orang, bekerja pada VOC, suatu jumlah yang sangat besar. Sejumlah  318 orang, bekerja pada sektor militer yang merupakan bagian terbesar di dalam struktur  VOC, sedangkan angkatan laut, pengrajin, dan sektor perdagangan masing-masing memiliki 83, 60, dan 45 orang. Kota Ambon bukan hanya pusat pemerintahan tetapi juga kota garnisun. Banyak pegawai kompeni, khususnya yang ada di kelompok militer, harus hidup dengan gaji kecil, yang hanya dibayarkan sesekali. Bagian yang lebih besar dari gaji disimpan oleh kompeni, yang akan dibayar hanya ketika pegawai mundur dari pekerjaan. Pengecualian terhadap aturan ini dimungkinkan, misalnya, ketika seseorang menikah di Asia dan harus menghabiskan gaji untuk kehidupan rumah tangganya. Di dalam seluruh provinsi Amboina pada tahun 1694, jumlah total gaji tahunan untuk semua pegawai kompeni sekitar f 200.000a. Hanya f 120,000, atau sekitar 60 persen, yang benar-benar dibayar; sisanya tetap tersimpan di kas keuangan kompeni31.  
         Sebagai gambarannya, ada beberapa contoh pembayaran kepada pegawai kompeni: seorang prajurit menerima pembayaran gaji bulanan sebesar f 9, sersan dan assistent (juru tulis) sebesar f 20, pendeta hampir sebesar f 100, dan Gubernur sebesar f 200. Selain itu, setiap pegawai menerima kostgeld (uang duduk): prajurit f 4 per bulan, sersan dan juru tulis hampir f 10, dan pendeta kira-kira f 30. Gubernur menerima hampir f 75 ditambah f 60 sebagai biaya untuk menjamu tamu resmi Gubernur.
Para pegawai  juga memperoleh  jatah perbekalan dari gudang-gudang kompeni. Pangkat yang lebih rendah harus puas dengan jatah beras satu orang. Semakin tinggi pangkat seseorang, semakin ia menerima lebih . Gubernur, misalnya, dapat memperoleh  jatah bir, mentega, cuka, anggur Persia, dan sebagainya. Ransum beras tahunannya sebesar 3.000 kg, sedangkan jatahnya untuk anggur Eropa adalah 700 liter32

         Para pejabat tertinggi, seperti gubernur, pedagang senior, dan kapten, termasuk kelas terkaya di kota. Selain penghasilan yang disebutkan di atas, gubernur juga mendapatkan hak eksklusif untuk perikanan di tempat-tempat tertentu di teluk Ambon hak overwichten, yaitu, bobot tambahan yang terjadi pada cengkeh yang akan diekspor ke Batavia. Bobot tambahan ini adalah bobot hasil cengkeh yang lebih terhidrasi dalam rentang periode antara pengiriman cengkih dari penduduk desa (saat pembelian – catatan tambahan) dan pengiriman dari Ambon. Nilai rata-rata dari bobot tambahan ini adalah sebesar f 4.000 hingga f 5.000 setiap tahun. Selain itu, Gubernur menerima sebagian kecil dari omzet beras dan tekstil India milik kompeni. Pedagang senior juga memiliki penghasilan tambahan dari perdagangan cengkeh. Dia dan asistennya mengharuskan  penduduk desa Ambon membayar biaya kemasan 0,5 lbb  untuk  pengiriman setiap kantong cengkih. Karena setiap kantong tidak boleh lebih berat dari 0,5 lb, pedagang senior dapat memperoleh “keuntungan” melalui perhitungan perbedaan antara total perkiraan (secara teoritis) dan total pengiriman cengkih yang sebenarnya. Pedagang senior itu juga terlibat dalam pembelian arak dari kru kapal kompeni yang tiba, yang kemudian ia jual ke penduduk kota. Penjualan arak tampaknya telah menjadi bisnis yang paling penting bagi kapten juga. Dia nampaknya merupakan salah  satu dari pemasok utama bagi garnisun. Gubernur, pedagang senior, dan kapten juga menjadi peminjam modal kepada pembudidaya cengkih asal Ambon, pegawai-pegawai VOC, dan warga kota, seperti yang terjadi dalam tubuh VOC sendiri. Mereka selalu bisa mendapatkan sesuatu dari penyuapan untuk masalah promosi pegawai tingkatan rendah atau dalam masalah tuntutan hukum. Akhirnya, ada kemungkinan memeras orang Ambon dengan tidak menyerahkan seluruh pembayaran untuk pengiriman cengkeh atau dengan memaksakan mereka bekerja sebagai bentuk “wajib kerja” tambahan untuk Gubernur atau pejabat-pejabat tinggi lainnya33.
              Praktik-praktik ini sebagian legal, sebagian ilegal. Garis antara keduanya tidak selalu mudah untuk digambarkan. Kadang-kadang, Pemerintah tertinggi di Batavia berusaha untuk mengatasi yang paling banyak melakukan pelanggaran serius dengan menyelidiki perilaku orang tertentu, seperti yang terjadi pada  Gubernur Jacob Copsc pada tahun 1672. Dia dituduh menggunakan para budak, pengrajin, pekerja wajib kerja, dan bahan bangunan dari kompeni untuk membangun setidaknya dua puluh empat rumah miliknya sendiri. Dia juga tampak sebagai mitra "tak terlihat" dalam monopoli pertanian arak dan monopoli untuk ekstraksi sagu di hutan milik kompeni. Selain itu, ia juga sebagian memiliki empat kapal pribadi. Ketika semua ini terungkap, Cops menjawab bahwa ia telah secara sah membayar semua yang dibutuhkan untuk membangun rumah-rumahnya, tetapi, sayangnya, sudah lupa persis berapa banyak. Mengenai keterlibatannya dalam semua jenis kontrak pertanian dan di kapal pribadi, ia menyatakan bahwa ini tidak dianggap ilegal dan menunjukkan contoh perilaku Cornelis Speelmand, penakluk Makassar34. Cops ditarik pulang kembali ke Batavia, yang tentu saja demikian tidak berarti bahwa penggantinya tidak bertindak dengan cara yang sama. Kemungkinan mereka tidak terlibat secara luas seperti Cops dan / atau lebih berhasil menyembunyikan transaksi mereka dari pantauan Batavia.
         Kegiatan ekonomi "resmi" VOC, mengungkapkan omset besar cengkeh yang ada, dikumpulkan dari penduduk desa di provinsi Ambon di bawah ketentuan monopoli, dan diekspor ke Batavia melalui Kota Ambon. Kegiatan ini — terlepas dari kegiatan legal dan ilegal yang disebutkan sebelumnya oleh para pegawai kompeni — bagaimanapun juga, memberikan banyak penghasilan ke VOC cabang Ambon. Pada setiap akhir tahun keuangan, catatan cengkeh “dihapuskan” dari buku: dalam kurun waktu satu tahun, seluruh panen dikumpulkan dan beralih ke Batavia, baik secara fisik maupun administratif. VOC cabang Amboina juga mendapatkan surplus pada perdagangan yang kurang penting, yang jumlahnya hanya sebagian kecil dari total pengeluarannya.Pada tahun 1694-1695 misalnya, pemerintah VOC di Victoria menghabiskan f 193.000 terhadap saldo kredit f 70.000. Angka 70.000 ini diwujudkan dengan dua cara: secara komersial dan fiskal. Secara komersial, setiap saat VOC menjual beras dan barang-barang manufaktur, seperti paku, layar, dan sebagainya, kepada orang-orang swasta. Sejauh ini, item perdagangan yang paling menguntungkan, yang menghasilkan sekitar 28.000 per tahun, adalah penjualan tekstil India di gudang-gudang kompeni di depan kastil. Hanya lebih dari setengah pengembalian yang direalisasikan secara fiskal. Di sini satu pemberitahuan subdivisi antara pendapatan yang diperoleh langsung,  melalui para pegawai VOC sendiri dan secara tidak langsung melalui pajak petani-petani35.
         Penghasilan langsung yang terealisasi dari sumber-sumber fiskal, berasal dari hal-hal seperti biaya kecil untuk melegalkan dokumen hukum dan pemberian tindakan aman untuk pengiriman swasta, pungutan pada bea ekspor impor, ijin pembangunan rumah atau seru /sero ( bangunan semi permanen untuk penangkapan ikan) di pangkalan laut kota Ambon, serta pemungutan pajak dari pedagang keliling yang berjualan di pasar36. Pendapatan yang secara tidak langsung terealisasi umumnya berasal dari pajak-pajak pertanian yang merugi. Fenomena ini terutama terkait dengan ekonomi perkotaan dan telah dilakukan sejak sekitar tahun 1620. Setelah beberapa perubahan, lembaga ini mencapai bentuk puncaknya pada paruh kedua abad ini. Sekitar tahun  1694, jumlah total pajak pertanian berjumlah sekitar f 34.000 per tahun. Sejauh ini bentuk yang paling penting dari pajak pertanian adalah itu dari arak dan sageru, yang menghasilkan f 24.000. Sageru adalah minuman dari pohon mayang yang diproduksi secara lokal, suatu penjualan yang dikenai pajak yang kecil. Arak adalah minuman keras yang disuling dari sageru  dan sangat terkenal di kalangan penduduk kota. Pajak yang dikenai pada petani dan mitranya memberikan hak eksklusif untuk membuat dan mengirimkan arak ke pihak swasta dan tempat-tempat hiburan. Ia juga memiliki hak untuk mengenakan pajak arak yang diimpor. Bisnis yang cukup penting ini biasanya ada di tangan orang Cina, tetapi kontrol atas hal itu sering ditentang oleh para pemimpin warga kaum Eropa. Untuk menyelesaikan hal ini, mereka mengajukan banding ke pemerintah VOC. Namun, upaya mereka kadang-kadang berhasil untuk sementara waktu, namun pada akhirnya orang China selalu menang pada kasus ini37

         Pada sektor swasta ekonomi perkotaan, seperti di hampir setiap kota pra industri, besar segmen populasi masih berorientasi pertanian. Pada semua bagian warga kota, semua orang berorientasi pada pekerjaan pertanian, namun orang China dan Makasar, terutama mengkhususkan diri pada pengembangan hasil panen tanaman pangan, meskipun dalam skala kecil. Warga kaum Eropa yang kaya, memiliki beberapa sapi yang memproduksi susu dan mentega untuk dipasarkan. Pada komunitas Eropa – meztiso dan Mardijker-Makasar, terdapat beberapa pemburu, nelayan, penyadap arak dan akhirnya pemotong/pengambil kayu bakar. Pada semua kelompok etnis, Cina, Eropa-mestizo serta orang Mardijker-Makassar, beberapa figur yang  perlu diperhatikan, yang dengan bantuan budak, bekerja sebagai tukang kayu, pandai besi, tukang batu, penjahit, atau pembuat sepatu. Lalu beberapa orang-orang, khususnya dalam kelompok Eropa-mestizo, menjalankan tempat-tempat hiburan. Pada tahun 1662, ada sekitar 30 pemilik tempat-tempat hiburan dan pemilik penginapan. Selain itu, ada orang-orang, pria maupun wanita, mungkin terutama dari kaum china dan kelompok mardijker-makasar, merupakan pedagang biasa di pasar. Pada tahun 1675, jumlah mereka kira-kira sembilan puluh. Orang Cina adalah penjaja keliling bagi orang –orang Ambon dan berkeliling di desa-desa. Sebagian besar pedagang kecil ini mendapatkan barang dagangan mereka dari pedagang besar yang biasanya orang Cina juga. Pada akhir dari abad ketujuh belas, ada sekitar sepuluh pedagang yang lebih besar. Mereka mendominasi distribusi tekstil India dari gudang pakaian kompeni kepada konsumen. Warga kota kaum Eropa terkemuka sekali lagi mengeluh pahit tentang dominasi ini, tetapi tidak berhasil38.  
         Pedagang Cina yang lebih besar adalah pengusaha yang kuat, seperti halnya para penyuling arak, yang biasanya mempekerjakan setidaknya dua belas budak, untuk menjaga agar bisnis ini tetap berjalan. Adalah sulit untuk memperkirakan jumlah penyulingan ini. Bukti dari tahun 1670-an menunjukkan bahwa jumlahnya bervariasi antara dua dan tujuh dan bahwa Cina mendominasi perdagangan ini. Orang China dan beberapa warga Eropa juga unggul dalam pekerjaan penggergajian; setiap pabrik biasanya mempekerjakan beberapa lima belas hingga dua puluh budak. Berapa banyak pengusaha yang terlibat dalam profesi ini, tidaklah diketahui. Bisnis lain yang berkembang, terutama pada akhir abad ketujuh belas, disebabkan oleh kegiatan pembangunan bangunan-bangunan VOC adalah produksi ubin dan batu bata. Rata-rata pekerjaan ubin dan batu bata dioperasikan oleh sekitar 20 budak dan 3-4 kerbau, serta mampu menghasilkan pendapatan f 3000-4000 pertahun. Orang-orang China memiliki 6 atau 7 diantara pekerjaan itu, sedangkan warga Eropa memiliki 3 hingga 439
         Sebagaimana dinyatakan, Kota Ambon adalah kota pelabuhan eksternal. Itu juga sebagai pusat untuk perdagangan lokal, tetapi saya (penulis) tidak memiliki angka tentang sejauh mana fenomena ini.
Perdagangan terkhususnya produksi bahan makanan secara lokal, terutama produk sagu dan ikan, juga tekstil, alat-alat besi kecil. Tembikar dan garam. Untuk perdagangan eksternal perlu diperhatikan bahwa pada paruh terakhir ketujuh belas abad, sepuluh hingga lima belas kapal VOC dan tiga puluh hingga lima puluh kapal milik pribadi yang disebut setiap tahun.Kapal-kapal kompani berfungsi sebagai penghubung komunikasi dengan Batavia dan provinsi tetangga,Ternate, Banda, dan Makassar dan terutama digunakan untuk membawa pasukan, amunisi, dan semua jenis peralatan. Kapal-kapal itu juga membawa tekstil impor dari India, beras Jawa, dan mata uang Eropa. Mata uang dibayar untuk satu-satunya kargo ekspor penting, cengkeh, yang sekitar 600.000 lbs dikirimkan setiap tahun. Kapal-kapal pribadi yang dimiliki,harus berangkat dengan muatan yang hampir kosong seperti biasanya, terlepas dari monopoli cengkeh VOC, tidak ada barang ekspor yang berharga. Kapal-kapal itu kembali
dengan banyak tekstil produksi Sulawesi, beras dari Jawa dan Makassar, tembikar Cina dan Tonkin yang diambil di Batavia, dan, akhirnya, para budak orang Bali, Makassar, Bugis, dan Buton yang dibeli di Batavia atau Makassar. Impor budak, bagaimanapun, secara bertahap dibatasi oleh pemerintah karena takut mereka yang berasal dari wilayah tertentu, terutama orang Bali dan Makassar, yang dianggap "berbahaya." Apakah kebijakan pembatasan ini memiliki dampak nyata atau tidak, bagaimanapun juga sulit dikatakan40.
         Kapal-kapal yang lebih besar milik VOC yang disebutkan, pada pangkalan laut kota Ambon, tidak memiliki penggalangan sebagai “markasnya”. VOC cabang Ambon hanya memiliki beberapa kapal kecil untuk angkutan lokal dan / atau tugas patroli. Pada tahun 1694, jumlahnya tiga buah. Hanya satu yang dianggap sebagai jumlah kapal milik pribadi yang digunakan untuk perdagangan internal atau perjalanan ke provinsi tetangga berdasarkan informasi dari tahun 1680-an. Jumlahnya mungkin sekitar dua puluh tiga, yang semuanya bisa membawa tidak lebih dari beban 30 last (1 last sama seperti 2.000 kg). Jumlah kapal dengan kapasitas lebih dari 30 last berlayar ke Makassar atau Jawa dan Batavia, terhitung sekitar 21, – 1 lebih banyak dari tahun 1679-1680 . Pada tahun itu, tujuh dari dua puluh satu kapal milik orang Eropa, sepuluh milik China, dan empat milik warga pribumi. Sekali lagi, orang Cina memainkan peran yang lebih penting daripada kelompok lain. Kapal-kapal yang lebih besar ini, menurut Valentijn, biasanya diawaki masing-masing sekitar lima belas pelaut, yang berarti bahwa jumlah pelaut di Kota Ambon setidaknya tiga ratus orang. Banyak dari mereka direkrut dari segmen penduduk miskin kaum pribumi, dengan bayaran  f 9 per bulan41


Demografi

Menurut angka populasi, Kota Ambon menyaksikan pertumbuhan yang stabil pada keseluruhan abad ketujuh belas. Ketika Belanda mengambil alih dari Portugis pada tahun 1605, populasi hanya terhitung sekitar 100 orang.  Tepat setelah tahun 1610, sudah ada lebih dari 1.500 penduduk. Pada tahun 1673, populasinya berjumlah 4.089 dan pada tahun 1694 berjumlah 5.487. Pada tahun 1673, jumlah keseluruhan dari kelompok pegawai VOC dan keluarga mereka, kaum Eropa, China dan penduduk pribumi masing-masing sebanyak 1.198, 748, 967 dan 1.176 orang. Pada tahun 1694, jumlah ini berkembang menjadi masing-masing 1.500, 1.868, 1.109 dan 1.010 orang. Perubahan/perpindahan banyak orang asal Asia ke warga kaum Eropa pada akhir tahun 1680an telah dibahas42.
Dari sekitar tahun 1670 dan seterusnya, VOC mengadakan sensus tahunan di provinsi Amboina. Sensus dari tahun 1671 hingga tahun 1695, datanya tetap tersimpan, dan sejauh menyangkut penduduk orang-orang Ambon telah dianalisis secara kritis pada kesempatan lain 43. Tentang dasar dari sensus ini, zielsbeschrijvingen (deskripsi cacah jiwa), juga memungkinkan untuk menganalisis komposisi populasi perkotaan. Salah satu fakta paling mencolok yang berasal dari analisis ini adalah bahwa jumlah budak selalu melebihi setengah dari total populasi, biasanya antara 50 dan 60 persen. Untuk populasi orang dewasa (karena anak-anak tidak terdaftar menurut jenis kelamin), rasio jenis kelamin yang tidak seimbang sangat mencolok: hanya 40 persen adalah perempuan — hasil dari proporsi yang tinggi pegawai kompeni yang belum menikah, dan rasio jenis kelamin yang tidak setara di antara para budak, yang akan dibahas nanti44
Berdasarkan sensus, kita juga dapat memperkirakan komposisi etnis kota populasi. Untuk populasi non-budak, hampir 50 persen berasal dari Asia Tenggara, terutama Berasal Melayu-Indonesia (Ambon, Mardijker, Makassar, dll), diikuti oleh 25 persen dari Eropa dan 15 persen asal Cina. Orang Asia Tenggara masing-masing terdiri dari penduduk kaum pribumi dan / kaum Eropa; mayoritas kaum Eropa dan Cina ada dalam kelompok VOC dan warga kota kaum Cina.  Ketika seseorang memperhitungkan populasi budak, gambaran situasi yang lebih lengkap muncul. Karena lebih dari 90 persen budak memiliki latar belakang etnis Asia Tenggara, tidak mengherankan untuk menemukan bahwa 75 persen dari total populasi berasal dari Asia Tenggara. Kurang dari 5 persen orang Asia Tenggara berasal dari kota Ambon, yang mengarah pada kesimpulan bahwa Kota Ambon adalah
jelas kota kaum migran/ urban Asia Tenggara. Yang dimaksud dengan "imigran" adalah orang non-Ambon yang pernah tinggal di kota selama satu, dua tahun, atau kadang-kadang bahkan hingga tiga generasi. Dibandingkan dengan 70 persen mayoritas imigran Asia Tenggara, segmen kaum Eropa dan Cina hanya minoritas kecil45.
Sensus tahun 1694 telah dianalisis secara rinci untuk memperoleh informasi tambahan tentang pola dan perilaku demografis. Namun, analisis ini berfokus pada apa yang akan disebut sebagai populasi yang "menetap". “ Menetap” didefinisikan di sini sebagai "memiliki atau tinggal di rumah tangga dan / atau struktur keluarga”.

Tabel 1. Populasi penduduk menurut kategori tempat tinggal/menetap (tahun 1694)


Kelompok VOC
Warga kaum Eropa
Warga kaum China
Warga Kaum Pribumi
Total
Tidak menetap
558
-
-
-
558
Berpindah-pindah/tidak menentu
65
38
21
42
166
Populasi menetap
877
1.830
1.088
968
4.763
Total Populasi
1.500
1.868
1.109
1.010
5.487

558 orang yang tidak menetap ini ditemukan seluruhnya dalam kelompok VOC. Jumlahnya terdiri dari 409 pegawai VOC dan 149 orang lainnya. Kategori "orang lain" ini terdiri dari, misalnya, 23  orang yang hidup miskin yang kehidupannya dibiayai oleh Dewan Diakonia serta 101 orang adalah tahanan. Kelompok pegawai VOC yang tidak menetap ini, termasuk para pegawai yang tidak semua diketahui namanya, yang hanya dirujuk adalah jumlahnya saja, dimana 75 orang adalah pelaut biasa serta 234 orang adalah tentara biasa. Pegawai-pegawai yang tidak diketahui namanya ini, pasti tinggal di barak di dalam kastil/benteng Victoria. Kategori populasi yang menetap dan berpindah-pindah/tidak menentu ini, terdiri dari orang-orang yang namanya secara individu ditulis dalam sensus. Perbedaan antara populasi menetap dan yang berpindah-pindah/tidak menentu adalah berdasarkan pada apakah orang tersebut memiliki pasangan pria atau wanita dan atau anak-anak atau budak atau terdaftar tanpa pasangan, anak atau budak. Ketika kriteria ini diterapkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak laki-laki harus dianggap sebagai pemukim yang tidak menetap/tidak menentu. Bagaimanapun juga, ada pengecualian dalam penerapan kriteria yang dibuat ini, khususnya untuk beberapa orang perempuan yang terdaftar secara individu tanpa kerabat atau budak. Biasanya mereka ini diberi label “janda” atau “wanita bebas”, yang dapat diartikan sebagai petunjuk bahwa wanita-wanita itu memiliki rumah tangga yang terpisah, yang membenarkan mereka termasuk dalam kategori pemukim yang menetap.

Menurut kriteria ini, mudah untuk menetapkan bahwa hanya 12,5 hingga 24,5% dari total 542 pegawai kompeni yang tinggal di kota, tinggal di rumah tangga dan / atau struktur keluarga. Dari personil kompeni yang tinggal di pos-pos provinsi Amboina, 18%, lebih atau proporsi yang kurang lebih sama, terbiasa dengan kehidupan keluarga. Dari pegawai kompeni yang menetap tinggal di kota, tidak mengherankan  untuk mengetahui bahwa 78% nya adalah kelahiran Eropa. Untuk bagian yang lebih kecil dari warga etnis Eropa yang menetap, persentase ini bahkan lebih tinggi, yaitu 86%.
31% dari pegawai kompeni serta 42% dari warga kaum Eropa berasal dari Eropa yang bukan orang Belanda.

Pasar di Ambon

Masing-masing 50% dan 77%,  laki-laki Mardijkers pada warga kota kaum Eropa dan kaum pribumi, dilahirkan di provinsi Amboina. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa kelas Mardijkers, etnis non Ambon, pada paruh kedua abad ke-17, mungkin harus dianggap sebagai generasi kedua atau ketiga kelompok budak yang telah dimerdekakan. Sebaliknya, kelompok orang-orang Makassar dan orang-orang terkait, yang dianggap sebagai semua suku Sulawesi dan Nusa Tenggara, umumnya bukan kelahiran Ambon. Akibatnya, kategori ini harus diberi label sebagai, generasi pertama para budak yang dimerdekakan. Bagian selatan Pulau Sulawesi, termasuk Buton, tampaknya menjadi tempat kelahiran bagi 60 dan 52 persen dari orang-orang ini pada warga kota kaum Eropa dan kaum pribumi. Pada kedua warga kota itu, 39% dan 36& orang Makasar dan masyarakat terkait, dilahirkan di Nusa Tenggara, yang berarti bahwa etnis mereka biasanya berasal dari Bali, Timor, atau Bima. Sayangnya, dalam semua kasus laki-laki Cina pada warga kota kaum China, tempat kelahirannya tidaklah diketahui. Jadi kita hanya bisa menduga, bahwa mereka pasti dilahirkan di Tiongkok atau di daerah lain Asia Tenggara, dimana kaum migran China tinggal.

Dimungkinkan juga, untuk mengatakan sesuatu tentang tempat kelahiran perempuan sebagai kepala keluarga karena ketika sebuah rumah tangga tidak memiliki laki-laki sebagai kepala keluarga, nama dan tempat lahir kepala wanita malah terdaftar. Sebagian besar wanita ini adalah janda. 50%  warga kota kaum Eropa, berasal dari Sulawesi dan Nusa Tenggara; sedangkan untuk warga kota kaum China dan kaum pribumi, masing-masing berjumlah 54% dan 56%, yang menunjukan bahwa pola rekrutmen pasangan-pasangan pernikahan dari laki-laki warga kota, sebagian besarnya membebaskan wanita budak kesukaan mereka.

Tabel 2.  Komposisi rumah tangga populasi menetap (tahun 1694)


Kelompok VOC
Warga kaum Eropa
Warga kaum China
Warga Kaum Pribumi
Total
Jumlah rumah tangga
89
257
130
197
673
Kepala keluarga laki-laki
68
193
91
149
501
Kepala keluarga perempuan
21
64
49
48
172
Rata-rata jumlah anggota
9,85%
7,12%
8,37%
4,91%
7,08%
Rata-rata jumlah anak
1,03%
0,91%
1,25%
0,88%
0,99%
Rata-rata jumlah para budak
6,55%
4,34%
5,53%
2,29%
4,26%

Yang paling mencolok adalah relatif kecilnya rata-rata rumah tangga pada masyarakat kaum pribumi, yang dihasilkan dari kenyataan bahwa rumah tangga seperti itu, tidak mampu bersaing dengan rumah tangga kelompok lain sejauh menyangkut kepemilikan budak. Pada warga kota kaum pribumi, jumlah rata-rata budak bahkan tidak melebihi 50% dari total keanggotaannya.  Pada semua kelompok, jumlah anak adalah sama. Pastinya, kota kaum migran ini tidak mungkin mempertahankan jumlahnya melalui reproduksi alami.


Tabel 3. Proporsi (dalam %) penyebaran etnis berdasarkan kepala rumah tangga (tahun 1694)


Laki-laki
Perempuan
Warga Eropa
16,77
2,33
Warga Mestizo
6,59
7,56
Warga China
19,56
11.05
Warga Mardijker
25,55
27,32
Warga Makasar dan lainnya
29,54
49,42
Warga Ambon
2,00
2,33
Total
100%
100%

Persentase kaum laki-laki, tidaklah mengejutkan mengingat apa yang telah dikatakan sebelumnya. Cukuplah untuk mengatakan bahwa, laki-laki kaum Eropa dapat ditemui pertama pada kelompok VOC, dan kedua pada warga kota kaum Eropa, kaum mestizo sebagian besar adalah warga kota kaum Eropa, dan orang China paling banyak adalah warga kaum China. Kaum Mardijkers muncul pertama pada kaum pribumi, dan kedua pada warga Eropa. Kaum Makasar dan kelompok masyarakat terkait lainnya, malah sebaliknya, mereka paling banyak terkonsentrasi pada warga Eropa dan setelah itu, ada di masyarakat kaum pribumi. Diantara rumah tangga yang kepala rumah tangganya adalah perempuan, pada kelompok kaum Makasar (misalnya para budak yang relatif baru dibebaskan) jumlah relatif besar. Penekanan lebih khusus pada perempuan yang menjadi kepala rumah tangga pada kelompok warga kaum China. Lebih dari separuh jumlah mereka nampaknya berasal dari kelompok kaum Makasar dan kurang dari separuh adalah orang China asli. Hal ini perlu diwaspadai ketika seseorang menafsirkan pola pernikahan laki-laki warga kaum China, dimana nampaknya sebagian besar istri-istri mereka berasal dari orang China asli. Bagaimanapun juga, cukup banyak dari wanita-wanita ini adalah bekas budak dari Sulawesi Selatan atau perempuan asal Bali47.

Tabel 4. Proporsi (dalam %) penyebaran pola pernikahan dari laki-laki kepala rumah tangga (1694)


Laki-laki kaum Eropa
Laki-laki kaum Mestizo
Laki-laki kaum China
Laki-laki kaum Mardijker
Laki-laki kaum Makasar dan lain-lain
Tidak menikah
13,10
35,48
20,41
12,50
4,73
Istri Eropa
29,76
-
-
-
-
Istri Mestizo
25,00
32,36
-
0,78
-
Istri China
1,19
3,23
66,33
0.78
-
Istri Mardijker
17,86
19,35
4,08
73,44
17,57
Istri Makasar
7,14
6,45
-
2,34
-
Istri Ambon
5,95
6,45
-
2.34
-
Total
100%
100%
100%
        100%
           100%

Jelas, hampir tidak mungkin bagi orang non-Eropa untuk menikahi seorang istri Eropa. Pria Eropa lebih suka menikahi wanita Eropa, meskipun pasangan mestizo juga populer. Pria Mestizo berada dalam situasi yang sulit karena banyak wanita mestizo menikah Orang Eropa. Rupanya, sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak menikah lagi daripada memilih pasangan dari kelompok etnis Asia Tenggara. Seperti disebutkan sebelumnya, persentase orang Cina yang menikah dengan wanita Cina terlalu tinggi dalam tabel ini; cukup banyak yang disebut perempuan Cina ini berasal dari kelompok Makassar. Akhirnya, Mardijker dan Orang Makassar lebih suka menikahi wanita dari etnis mereka sendiri. Mereka pasti tidak punya pilihan lain

Tabel 5. Jumlah rata-rata anak dan budak berdasarkan kelompok pernikahan


Pernikahan
Anak-anak
Para Budak
Eropa - Eropa
25
0.92
20,64
Eropa - Mestizo
21
1,33
5,86
Eropa - Mardijker
15
1,40
2,93
Mestizo - Mestizo
10
2,90
23,80
China – “China”
65
1,55
6,95
Mardijker - Mardijker
94
1,26
1,26
Makasar - Makasar
115
0,80
2,25

Karena menyangkut jumlah anak, kelompok kecil pernikahan kaum mestizo-mestizo dengan rata-rata anak-anak 2,9%  cukup baik. Jumlah anak terendah direalisasikan oleh kelompok orang-orang Makassar-Makassar yang relatif besar: hanya 0,8 anak per pernikahan. Fakta ini tidak sulit untuk dijelaskan karena kurang lebih sesuai dengan situasi dalam populasi budak dari mana generasi bebas pertama ini berasal. Karena pasangan ini pasti sudah cukup tua ketika dimerdekakan, sangat mungkin bahwa mereka tidak akan mampu memiliki sejumlah besar anak-anak. Dalam pernikahan dengan pria Eropa, rata-rata jumlah anak meningkat sesuai dengan derajat "Asia" dari istri mereka. Sehubungan dengan jumlah budak-budak, mereka memiliki kecenderungan berlawanan yang dapat dilihat,namun: semakin banyak orang Asia yang menjadi istrinya, semakin sedikit budak yang mereka miliki. Rata-rata budak yang tinggi dalam pernikahan Eropa – Eropa, umumnya ada pada pejabat tinggi VOC dengan pasangan mereka, meski begitu kalah dari pernikahan mestizo – mestizo. Namun, garis keturunan mestizo yang dijelaskan di sini, sudah lama ada di Indonesia dan biasanya ditemui pada kalangan warga kota terkemuka.
Sebagaimana dinyatakan, para budak adalah kelompok terbesar di kota Ambon. Pada tahun 1694, mereka berjumlah 2.870 orang, atau 52,3%  dari total populasi. Budak-budak ini hampir seluruhnya direkrut dari etnis Asia Tenggara, meskipun orang dapat berasumsi bahwa pada paruh pertama abad ini, ketika VOC belum sepenuhnya didirikan di jaringan perdagangan budak Asia Tenggara, jumlah budak India pasti masih cukup tinggi. Sangat jarang budak Asia Tenggara berasal dari Ambon sendiri.  Sebagian besar dari mereka berasal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Nusa Tenggara. Etnis Makassar-Bugis dan Bali terbukti paling populer di kalangan pemilik budak karena keterampilan ekonomi mereka48

Pekerjaan para budak sangat bervariasi. Budak mengolah tanah dan memancing. Budak
melayani tuan mereka di rumah mereka: mereka membersihkan rumah, memasak makanan, pergi ke pasar, membawa pulang kayu bakar, dan menemani tuan atau nyonya mereka ketika mereka
pergi keluar. Budak juga adalah pengrajin yang terampil. Beberapa dari mereka bekerja di penyulingan arak, ubin dan batu bata, atau penggergajian kayu, sedangkan yang lain, terutama yang dimiliki oleh elit VOC, dipekerjakan oleh VOC ketika kekurangan bantuan. Budak yang paling terpercaya dikirim oleh
tuan mereka sebagai pedagang dalam pelayaran lokal. Akhirnya, wanita Makassar dan Bali
sering digunakan sebagai selir, terutama oleh orang Cina. Kadang-kadang “hubungan haram” ini disetujui ketika selir “naik pangkat” saat menjadi istri resmi tuannya lewat pernikahan. Beberapa contoh terakhir dari penggunaan budak menunjukan bahwa relasi antara tuan dan budak cukup baik. Namun,
cukup sering, hubungan menjadi tegang. Sepanjang abad dapat ditemui banyak referensi tentang buronnya para budak yang kadang-kadang menjadi berbahaya, merampok para pelancong di wilayah-wilayah terpencil pulau itu. Hubungan itu tegang juga terlihat dari undang-undang VOC tentang budak. Di satu sisi, pemerintah berusaha mencegah terjadinya ekses perlakuan terhadap budak oleh pemiliknya, tetapi di sisi lain, tindakannya kejam terhadap para buron dan / atau budak yang secara fisik menentang tuan mereka49.

Meskipun 52,3% dari total populasi kota adalah budak, ketika seseorang mengecualikan populasi bebas yang menetap dan tidak pasti menetap, proporsi budak tampaknya 60,3 %. Mereka kurang lebih terdistribusi secara merata pada empat kategori populasi dengan pengecualian penduduk kaum pribumi, yang hanya 46,7 % budak, dapat dianggap sebagai kelompok termiskin. Dari 2.870 budak, 51,6 persen adalah laki-laki dewasa; 33,5, wanita dewasa; dan 14.9, anak-anak. Proporsi pria dewasa dibandingkan wanita dewasa adalah 1: 0,65, sedangkan wanita dewasa dibandingkan dengan anak-anak adalah 1: 0,45. Dari angka ini, orang dapat berasumsi bahwa pemilik budak sangat menyukai budak laki-laki, mungkin karena mereka lebih berguna untuk pekerjaan berat dan produktif. Jumlah kecil anak-anak memperjelas bahwa impor budak dilakukan terus-menerus pada tingkat yang memuaskan. Kebijakan VOC untuk melarang impor budak yang tidak dapat diandalkan dari Bali dan Sulawesi Selatan pada tahun 1666, 1683, dan 1688, masing-masing harus, karenanya, menjadi ancaman besar bagi ekonomi penduduk perkotaan. Statistik populasi per periode kemudian, seperti tahun 1694 atau tahun 1708, masih menunjukkan jumlah budak yang tinggi, yang berarti sangat tidak mungkin larangan ini diberlakukan secara efektif50.



Tabel 6. Distribusi pemilik budak (tahun 1694)


Kelompok VOC
Warga kaum Eropa
Warga kaum China
Warga kaum Pribumi
Total
Jumlah para budak
583
1.116
719
452
2.870
Jumlah rumah tangga
89
257
130
197
673
Rumah tangga tanpa budak
24,74%
40,08%
25,38%
41,62%
35,66%
Rumah tangga dengan 1 atau 2 budak
22,47%
29,18%
26,92%
32,99%
28,97%
Rumah tangga dengan 3 – 10 budak
33,71%
22,18%
31,54%
21,32%
25,26%
Rumah tangga dengan 11 budak atau lebih
19,10%
8,56%
16,15%
4,06%
10,10%

Lagi-lagi data tersebut menggambarkan bahwa penduduk asli adalah kategori termiskin di antara populasi yang menetap. Warga kaum Eropa adalah yang termiskin berikutnya, sebagaimana dibuktikan oleh 40% rumah tangga tanpa budak. Namun sebagian besar mereka ditemui di antara kelompok kaum Makasar dan Mardijker, khususnya kelompok yang secara umum memiliki banyak etnis dengan kaum pribumi. Warga kaum Cina hampir sama kayanya dengan kelompok VOC , yang mencerminkan bahwa Cina mendominasi sektor ekonomi swasta dalam perdagangan dan keahlian.
Pegawai-pegawai VOC yang menetap, kelompok yang mendominasi administrasi dan urusan ekonomi VOC, bagaimanapun, adalah yang terkaya.

Untuk presentasi ini saya bermaksud untuk menyajikan pemilik budak terbesar menurut sensus tahun 1694, seperti mereka yang memiliki setidaknya 41 budak, namun warga pribumi dan warga kaum China, tidak banyak  yang memiliki banyak budak. Pada warga kota kaum pribumi, pemilik budak yang paling kaya adalah Kapitein Jan Tsjonge dengan 31 budak. Ia adalah seorang Kristen Ambon, kelahiran China, yang menarik adalah fakta bahwa kepemimpinan warga kelompok ini, secara bertahap berasal dari orang-orang China Kristen dan kemudian asal Mestizo. Pemilik budak yang paling kaya, dari anggota warga kaum China adalah Kapitein Limkitkof dengan 37 budak. Pada kelompok VOC, ada 2 orang yang memiliki lebih dari 40 budak, yang pertama adalah Gubernur Nicolaas Schagheng, dari kota kecil di Belanda, Wijk bij Duurstede, dengan jumlah 92 budak, serta yang kedua berasal dari perwakilan kelas Mestizo kelahiran Ambon, Pieter Nuytsh, yang naik derajat ke level menengah pada tenaga pembukuan dengan 49 budak. Warga kaum Eropa ada 5 orang yang memiliki lebih dari 40 budak, diantaranya adalah Kapitein  dengan 177 budak, sejauh ini adalah pemilik budak terkaya di provinsi Amboina. Namanya adalah Jochem Engeli, ia dilahirkan di Danzig Jerman, sekarang Gdansk Polandia, juga bekas kapitein Hans Grooj dengan 46 budak. Selanjutnya, ada Adriaan Kakelaark dengan 44 budak, kelahiran Veere, sebuah kota kecil di Zeeland, salah satu provinsi di Republik Belanda. Ketiganya merupakan mantan pegawai kompeni. Ada juga 2 orang kaya, pemilik budak dari kelas mestizo lokal, keduanya lahir di dekat Banda, tetapi dengan nama yang “berbau” sangat Belanda. Mereka adalah Jan de Ruyterl dan Frans Colijnm, yang masing-masing memiliki 64 budak dan 41 budak.

Rumah sakit lama sekaligus Kantor Raad van Politie di Ambon


Kesimpulan

                    Kota Ambon “didirikan” oleh Portugis tepat setelah pendirian benteng mereka di pantai Teluk Ambon pada tahun 1576. Kota itu tidak memiliki pendahulu dari kaum pribumi. Karena itu, diperlukan untuk memodifikasi suatu gambaran, bahwa di Asia Tenggara, “Manila dan Batavia adalah  pemukiman perkotaan yang secara harfiah dimulai dari “inisiatif” oleh orang Eropa sepanjang abad ke-16 dan 17”51. Jika seseorang mencoba untuk melihat melampaui kota-kota besar di kekaisaran kolonial, kita harus menyimpulkan bahwa kota Ambon, serta Zeelandia di Taiwan, pada pinggiran Asia Tenggara, juga dibuat melalui “inisiatif”52. Kita seharusnya tidak mengesampingkan kemungkinan, bahwa penelitian lebih lanjut ke daerah lain akan menghasilkan lebih banyak contoh dari fenomena ini.
                    Berdasarkan analisis, terutama demografis, dimungkinkan untuk mendefinisikan Kota Ambon sebagai kota migran Asia Tenggara, di mana elemen laki-laki secara tidak proporsional besar dan jumlah anak relatif kecil. Akibatnya, satu-satunya cara bagi kota untuk mempertahankan pertumbuhan jumlah penduduk atau setidaknya tetap stabil, adalah dengan cara menarik migran baru.
Untuk yang cukup besar luasnya, migrasi ini “dipaksakan”; misalnya, pegawai kompeni yang dikirim bertugas, atau budak diperlakukan sebagai komoditas oleh pedagang. Populasi budak adalah yang paling banyak banyak pada beragam kelas di kota. Namun, penduduk asli Ambon tidak ada di populasi perkotaan. Pada periode ini orang Ambon masih merupakan fenomena pedesaan.

                    Kekuasaan politik di kota ada di tangan minoritas Belanda, khususnya kaum elit Belanda yang berkerja untuk VOC. Lembaga yang mengatur kota itu kebanyakan berasal dari Belanda tetapi hanya sejauh tidak mengancam aturan VOC. Akibatnya, seseorang tidak menemukan institusi khas Belanda seperti vroedschap (dewan perwakilan kota) dan Walikota, direkrut dari jajaran elit borjuis perkotaan. Sebaliknya, gubernur dan rekannya Dewan Politik memegang tampuk pemerintahan kota. Namun, untuk mengatasi situasi non-Belanda yang khas, VOC telah sebagian menyesuaikan pemerintah kota dengan keadaan setempat dengan, misalnya, mengatur semua etnis yang signifikan di wilayah mereka sendiri dan menyediakan mereka dengan kepemimpinan mereka sendiri.
Praktek ini dicontoh  dari pusat perdagangan pra-kolonial Asia Tenggara. Elit VOC tidak hanya memerintah kota tetapi juga merupakan salah satu kelompok ekonomi yang paling kuat juga karena Kompeni pada saat yang sama merupakan organisasi ekonomi. Elit ini tidak hanya membuat keputusan tentang perdagangan dan urusan fiskal VOC tetapi juga mendapatkan uang yang cukup banyak dari tempat lain. Yang kedua terbanyak kelompok ekonomi yang kuat adalah elit warga Cina, yang kurang lebih mendominasi sektor swasta.
                   
                    Seperti dalam semua masyarakat kolonial, faktor etnis memainkan peran penting, misalnya dalam akses ke kekuasaan, dalam status, dalam pernikahan, dan stratifikasi sosial. Pembagian penduduk non-VOC menjadi Warga negara Eropa, Cina, dan pribumi menarik perhatian ke tingkat yang cukup besar pemisahan administrasi formal. Segregasi ini, bagaimanapun, agak tidak sempurna karena :
1.        tidak ada cukup orang Eropa atau bahkan mestizo untuk mengisi jajaran warga Eropa, yang akibatnya harus diisi dengan etnis Asia murni seperti Mardijkers dan Makassar dan
2.       kurangnya Wanita Eropa, mestizo, dan Cina sebagai mitra pernikahan untuk pria Eropa dan Cina, yang akibatnya harus mencari pasangan di komunitas migran Asia Tenggara dan paling tidak di antara budak perempuan yang menarik.

Selain itu, di Kota Ambon pemisahan administratif yang tidak sempurna tidak diparalelkan dengan satu spasial karena, secara umum, tidak ada tempat tinggal khusus yang dirancang untuk etnis secara khusus.
             Karakter kolonial dari struktur internal kota dapat dibedakan dalam dominasi politik oleh minoritas Eropa. Dalam hubungan eksternal, karakter kolonial mengekspresikan dirinya dalam fungsi kota sebagai bagian dari jaringan komersial dan politik yang didirikan untuk mengekstraksi sumber daya, dalam hal ini cengkeh, dari populasi subjek. Apalagi kota adalah saluran yang melaluinya semua kegiatan kaum penjajah dimaksudkan untuk mengendalikan dan menembus masyarakat pribumi sehingga dapat menemukan caranya. Singkatnya, kota ini menghubungkan metropolis dengan penduduk yang dijajah53.  Pada pertengahan abad ketujuh belas, daerah pedesaan Ambon telah banyak berubah. Budidaya cengkeh dibawa Monopoli VOC, lanskap politik pribumi ditata ulang untuk membuat kontrol untuk VOC lebih mudah, dan sebagian populasi dikonversi dari agama Katholik ke Protestan. Namun, perubahan ini tidak dapat dikaitkan dengan komunitas kaum urban kota Ambon, sebagai pelaksana utama perubahan, VOC  yang berkarakter kolonial tentu saja bukan fenomena yang hanya terbatas di kota Ambon. Keputusan untuk mengatur perkembangan, adalah sebagian diambil oleh otoritas di benteng Victoria. Para direktur di Belanda dan Pemerintahan tertinggi di Batavia juga memainkan peran mereka dalam proses-proses ini.

             Perbandingan hasil analisis ini dengan literatur tentang kota-kota kolonial Belanda lainnya di Asia selama periode "rezim Ancien" juga menarik. Pelopor luar biasa di  bidang studi ini, tentu saja, De Haan, dengan dua volume karyanya di Batavia54. Karyanya telah sangat mengesankan, sehingga tidak sampai tahun 1970an ada penelitian baru tentang subjek ini dilakukan. Jelas bahwa sejumlah besar fenomena ditemukan di Batavia juga bisa dilacak di permukiman lain. Secara umum, ini berlaku untuk komposisi multietnis populasi dan struktur kelembagaan, yang selalu, bagi sebagian orang mencontoh dari Batavia.
             Jean Gelman Taylor, salah satu penulis yang baru-baru ini melakukan penulisan ulang sebuah volume Sejarah Batavia, menarik perhatian pada peran pasangan perempuan kelahiran Asia, khususnya Eropa dan mestizo, dimana pegawai kompeni pada wilayah ini menghubungkan “klan” yang lebih tinggi pada jajaran pemerintah55. Seperti yang sudah ditunjukkan oleh Heather Sutherland, peran perempuan dalam perebutan kekuasaan di lingkaran kompeni, pasti berbeda di permukiman VOC di luar Batavia karena pegawai VOC paling sukses hanya bertahan di tempat itu selama beberapa tahun saja.
Akibatnya, peran itu seharusnya lebih terlihat dalam kelas warga kota kaum Eropa yang menetap secara permanen56. Data untuk pola pernikahan mestizo, di Kota Ambon, jumlah budak, dan posisi Jan de Ruyter dan Frans Colijn, dapat menjadi ilustrasi situasi ini. Jelas, sebagaimana ditekankan oleh Taylor, para wanita itu menjadi pasangan orang Eropa warga kota dan pegawai kompeni, sebagian besar merupakan pembawa budaya mestizo, yang didefinisikan sebagai budaya campuran dengan beberapa elemen Eropa dan Asia57. Pengaruh mestizo pada budaya, dengan unsur-unsur lain, bagaimanapun juga seharusnya terwujud dalam diri orang Cina warga kota, di mana banyak pria Cina menikahi wanita Bali atau Makassar. Akhirnya, kaum migran lain, seperti Mardijkers dan Makassar, pasti sampai tingkat tertentu secara budaya ditarik ke pusat mestizo juga, karena setelah menjadi orang Kristen, mereka telah menyalin nilai-nilai dan kebiasaan orang Eropa. Selain mengadopsi agama, misalnya, mereka juga mengganti pakaian dan kebiasaan minum mereka.

             Sejarawan Batavia lainnya, Leonard Blusse, menyajikan kepada para pembaca banyak sudut pandang yang “menarik”.  Titik permulaannya adalah spasial : Batavia terdiri dari 2 bagian, sebuah kastil/benteng dan sebuah kota, yang pertama menjadi landasan dalam jaringan perdagangan Eropa dan yang kedua adalah basis pada perdagangan Asia Tenggara dan jaringan migrasi orang Cina. Di kastil itu tinggal Orang Eropa, yang memegang kekuasaan politik, dan di kota,  Blusse menggambarkan komunitas pedagang Cina, yang memegang kekuatan ekonomi. Secara demografis, orang Cina juga menjadi kelompok dominan58. Gambaran kekuasaan politik di tangan Kekuasaan Belanda dan ekonomi, setidaknya untuk sebagian besar di tangan orang Cina,  juga situasi demikan terjadi di Kota Ambon. Dari sudut pandang demografi, orang Cina sama sekali tidak dominan di Kota Ambon. Apakah mereka berada di Batavia, seperti yang dinyatakan Blusse, tergantung pada bagaimana seseorang ingin menafsirkan statistik, karena jelas bahwa orang Cina hanya bisa disebut etnis dominan secara demografis ketika budak tidak dianggap/tidak dihitung. Saat kelompok budak dianggap/dihitung, kaum China hanya sekitar 20% dari populasi. Dari data Blusse, tidaklah jelas apa pasangan  pernikahan laki-laki China, namun biasanya wanita Bali, termasuk dalam 20% ini. Jika para wanita ini dan mayoritas budak pada dasarnya berasal dari Asia Tenggara, mungkin saja Batavia, seperti kota Ambon juga, setidaknya secara demografis, telah menjadi kota migran Asia Tenggara juga.

             Kota-kota VOC selain ibu kota, seperti Colombo di Sri Lanka, Melaka di Malaysia, Zeelandia di Taiwan, dan Makassar di Indonesia, juga menarik perhatian59. Seperti Kota Ambon, kota-kota ini, pada paruh kedua abad ketujuh belas, memiliki populasi sekitar 5.000. Namun, situasi Colombo berbeda dari yang lain, tidak hanya karena kota itu berada di luar seperti kebiasaan orang-orang Asia Tenggara, tetapi juga karena perhatian utamanya adalah aspek demografis, meninggalkan aspek lain dari sejarah perkotaan di luar fokusnya. Ini menggambarkan situasi demografis populasi intramuras tahun 1694, yang mana di Kota Ambon dapat juga dibandingkan kurang lebih dengan kelompok VOC dan warga kota kaum Eropa. Tampaknya Kelompok Eropa dan mestizo memiliki perilaku demografis yang serupa dengan yang ada di Kota Ambon60. Di pinggiran Asia Tenggara, kota Zeelandia di Taiwan yang relatif memiliki sejarah singkat: didirikan pada tahun 1624 dan dihancurkan pada tahun 1662 oleh panglima perang Tiongkok, Zheng Cheng-Zongn. Konsep Blusse tentang kota kolonial Cina di bawah perlindungan Belanda, tidak diragukan lagi lebih terwujud secara ideal di Zeelandia daripada di Batavia61.

             Di Melaka dan Makassar situasinya serupa dengan yang ada di Kota Ambon dan Batavia, yang dapat diamati: elit VOC memegang kekuasaan politik dan lembaga pemerintahan kota yang berasal dari Belanda tetapi dimodifikasi untuk situasi kolonial dan diadaptasi dengan fenomena asli Asia Tenggara
seperti tingkat otonomi tertentu untuk etnis besar. Elit VOC memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian juga. Tampaknya, bahwa Orang Cina, mungkin, secara ekonomi tidak sekuat di Batavia atau di Kota Ambon. Di Melaka, mereka “dikontrol” oleh orang India dan Melayu dan, di Makassar, oleh orang Melayu, mereka semuanya komunitas perdagangan terampil yang sudah memainkan peran penting sebelum kedatangan Belanda. Rupanya, orang Cina tidak menemui kekosongan ekonomi di permukiman ini. Sangat mungkin bahwa di Melaka, seperti di Makassar dan Kota Ambon, Orang Asia Tenggara jumlahnya dominan. Atas dasar informasi yang dikemukakan oleh Andaya itu, meski agak sulit untuk menarik kesimpulan demografis. Sutherland menyajikan lebih lanjut detail yang memfasilitasi perbandingan yang lebih dekat62. Salah satu fakta yang mencolok adalah rasio jenis kelamin di antara populasi orang dewasa di Makassar jauh lebih seimbang daripada di kota Ambon.
Suatu penjelasan yang mungkin adalah bahwa Makassar terletak di daerah penyedia budak, yang membuat perekrutan pasangan wanita untuk pria asing relatif mudah. Asumsi bahwa mayoritas budak di Makassar berasal dari Sulawesi Selatan, adalah sesuatu yang mungkin dapat disimpulkan bahwa kota Ambon tempat semua budak yang diimpor, adalah kota dengan karakter migran yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Makasar.
==== selesai ====
 
Catatan Kaki
30.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 22-23, 218-222
31.      VOC 1551: zielsbesch, 1573: 508r-519v
32.     Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 284; F.W. Stapel (editor), Pieter van Dam: Beschrijvinge van de Oost-Indische Compagnie, Rijks Geschiedkundige Publication 87 (The Hague: Nijhoff, 1943), 3: 230, 265-266, 286; C.R. Boxer, The Dutch Searbone Empire 1600-1800, (London: Hutchinson, 1977), hal 300-301
33.     Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 275,278,287-289,299-300; Knaap, Kruidnagelen.........., hal 243-245
34.    VOC 1286:572v-578r; 1297:482v-486r
35.     VOC 1573:508r-519v; Knaap, Kruidnagelen.........., hal 220-221, 223-224
36.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 177, 211-212, 216, 218, 221
37.     VOC 1535:28v, 104v; 1556:71v; W.Ph.Coolhas, Jan Pietersz Coen, Bescheiden omtrent zijn bedrijf in Indie (The Hague: Nijhoff, 1953), vol 7b: hal 969-970;  Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 258,341; Knaap, Kruidnagelen.........., hal 187-188
38.    VOC 1240:728; Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 257-258, 269,349-350; Knaap, Kruidnagelen.........., hal 211, 224
39.    VOC 1271:32r, 1309:824v res; 1334:74r res; Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 257; Knaap, Memories....hal 251, 281
40.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 134-135, 212, 219-222
41.     VOC 914:1390-1391; 1356: Dagregister Victoria, 1551: zielsbeschr; Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 348
42.    Knaap, Memories....hal 11; VOC 1293: zielsbeschr.; 1551: zielbeschr
43.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 99-137, 279-282
44.    VOC 1293, 1385, 1551: zielsbesch
45.    Ibid
46.    VOC 1551: zielsbeschr
47.    Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 259
48.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 128-133
49.    Knaap, Kruidnagelen.........., hal 133-136
50.    Valentijn, Oost-Indien, Beschr, hal 342, 344; Knaap, Kruidnagelen.........., hal 135
51.      Blusse, Strange Company........., hal 78
52.     J.L. Oosterhoff, Zeelandia, a Dutch Colonial city on Formosa (1624-1662) dimuat dalam Colonial Cities.Essays on Urbanism in a Colonial Context, Editor R.J. Ross dan G.J. Telkamp (Dordrecht: Nijhoff, 1985), hal 51
53.     A.D. King, Colonial Cities: Global Pivots of Change ) dimuat dalam Colonial Cities.Essays on Urbanism in a Colonial Context, Editor R.J. Ross dan G.J. Telkamp (Dordrecht: Nijhoff, 1985), hal 13-15
54.    F. De Haan, Oud Batavia, 2 volume (Batavia: Kolff, 1922)
55.     J. Gelman Taylor, The Social World of Batavia European and Eurasian in Dutch Asia (Madison: Wisconsin, 1983), hal 34, 50-51
56.    H. Sutherland, Ethnicity, Wealth and Power in Colonial Makassar: a Historiographical Reconsideration, dimuat dalam The Indonesia City. Studies in Urban Development and Planning, Editor P.J.M. Nas, Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land – en volkenkunde 117 (Dordrecht: Foris, 1986), hal 50
57.     Taylor, Social World........, hal 17-19
58.    Blusse, Strange Company........., hal 74, 83-84
59.    G.J. Knaap, Europeans, Mestizo’s and Slaves: The Population of Colombo at the End of the Seventeenth Century, dimuat pada Itenerario 52 (1981), hal 84-101; B. Watson Andaya, Melaka under the Dutch, dimuat dalam Melaka. The Transformation of a Malay Capital c 1400-1980, editor Kernial Singh Sandu dan P. Wheatley (Kuala Lumpur:Oxford, 1983), 1: 195- 241; Oosterhoff, Zeelandia......., hal 51-63; Sutherland, Makassar......., hal 37-55
60.    Knaap, Colombo......., hal 88, 91-96
61.     Oosterhoff, Zeelandia......., hal 52, 54-58
62.    Andaya, Melaka.........hal 198-213; Sutherland, Makassar...., hal 41-42, 48-50



Catatan tambahan (dari kami)
a.  f atau fl adalah lambang mata uang Belanda pada abad ke-17, yang bernama florin. Nama lainnya adalah Gulden.
b. Lb atau juga ditulis lbs adalah kata singkatan “libra” yang bermakna keseimbangan atau berat. Kata lb atau lbs bermakna sama dengan kata pound, yaitu ukuran berat. Kata Pound diambil dari kata latin “pendere” yang berarti “menimbang” yang maknanya sama dengan “libra” atau lb/lbs. 1 lb kira-kira sama dengan 0,4 kg, jadi 0,5 lb pada artikel ini, sama dengan 0,23 kg.
c.  Jacob Cops menjadi Gubernur van Ambon sejak Mei 1669 hingga April 1672. Sebelum menjadi Gubernur Ambon, ia menjadi anggota extraordinair Raad van Indie (1663-1675), kemudian menjadi Gubernur van Banda (1665 -1669). Di Ambon, ia menggantikan Pejabat Anthonie Hurdt van Middelburgh (1667 – 1669), pada tahun April 1672, Jacob Cops ditarik kembali ke Batavia, posisinya digantikan kembali oleh Anthonie Hurdt van Middelburgh (1672 – 1678).  
Setelah ditarik kembali ke Batavia, beberapa tahun kemudian, Ia ditunjuk sebagai Gubernur van Macassar (1678 – 1684) hingga meninggal pada 10 November 1684. Pada saat Jacob Cops menjadi Gubernur Ambon, putranya Johanes Cops menjadi penguasa distrik Larike/ Hoofd van Larike (1670 – 1673).
d. Knaap menulis dengan eksplisit bahwa Jacob Cops membela diri dengan cara, salah satunya mencontohkan soal perilaku Cornelis Speelman. Pada saat Jacob Cops menjadi Gubernur Ambon, Cornelis Speelman menjabat sebagai anggota extraordinair Raad van Indie (1667-1671), kemudian anggota Raad van Indie (1671-1678). Speelman kemudian menjadi Direktur Jenderal VOC (1678 -1681) dan mencapai posisi puncak menjadi Gub Jend VOC (1681-1684). Perilaku korupsi yang dilakukan oleh Cornelis Speelman adalah saat ia menjabat sebagai Gubernur VOC Koromandel (juni 1663 – september 1665). Ia dituduh melakukan perdagangan ilegal, sehingga bisa membeli berlian kepada istrinya Petronella Maria Wonderaer.
e.        Menurut sumber Valentyn, Jan Tsjong menjadi kapitein der Mestizo (1685-1687, 1689-1691, 1693-1695). Ia meninggal pada tangga 4 Maret 1695.  Posisi kapitein digantikan oleh Boudeweij Clooster de Jonge (1695 -1698)
f.         Menurut sumber dari Valentyn, Lim Kitko menjadi Kapitein der Chinesse pada periode 1687 – 1696. Ia menggantikan Que Sengko (1674-1684)
g. Nicolaas Schaghen menjadi Gubernur van Ambon sejak 19 Mei 1691 – 7 Juli 1696. Ia menggantikan Gubernur sebelumnya Dirk de Haas (April 1687 – Mei 1691). Schaghen meninggal saat menjabat, dan digantikan oleh Secunde Cornelis Stuul (Juli 1696 –April 1697) sebagai pejabat.
h.  Menurut sumber dari W.Ph. Coolhas, Pieter Nuyts adalah seorang burger di kota Ambon dalam tahun 1689, tahun 1692 telah menjadi boekhouder (tenaga tata buku). Sumber dari Valentyn menyebut sejak tahun 1696 -1712 ia menjadi onderkoopman (pedagang muda). 1712 -1713 ia menjadi Koopman dan meninggal tahun 1713. Tahun 1705 – 1706 menjadi Soldijboekhouder.
i.   Menurut sumber Valentyn, Joachim/Jochem Engel van Bartenstein menjadi Kapitein burger kaum Belanda sejak tahun 1684 -1708 hingga meninggal pada 5 Oktober 1708. Ia menggantikan Hendrik Leidecker van Gelder (1679 – 1691). Hendrik Leidecker van Gelder menikah dengan  Cornelia Snaats, yang kemudian menikah lagi dengan Francois Valentyn.
j.   Hans Groo van Dantzig menjadi Kapitein menggantikan Joachim/Jochem Engel pada periode 1692 -1705. Sebelumnya ia menjadi Letnan kaum burger Belanda (1686 -1692)
k. Adriaan Kakelaar van ter Vere menjadi Cassier (1684-1686), Dispensier (1684-1686), Winkelier (1685 -1690), Letnan kaum burger Belanda (1698-1700, 1701-1703, 1705-1706). Putranya bernama Johanes Kakelaar, pernah menjadi Sekretaris Chinese Boedel meester (1714-1715), Sekretaris Huwalijke zaken (1715-1715), Sekretaris Landraad van Ambon (1715-1720), Resident van Buru (1720 - ??).
l.         Jan de Ruyter  menurut arsip gereja sejak tahun 1673 sebagai pemilik perkebunan dan juga anggota Kerkenraad van Ambon
m.     Frans Colijn dalam tahun 1691 disebut dalam MOG Gubernur Dirk de Haas sebagai salah satu kaum burger. Menurut arsip gereja, dalam tahun 1694, ia adalah salah satu anggota Kerkenraad (Dewan Gereja) van Ambon
n. Zheng Cheng – Zong atau Cheng Cheng Kung atau Zheng Chenggong (1624-1662 dalam arsip-arsip VOC sering disebut Coxinga. Ayahnya bernama Zheng Shilong (1604-1661).
§  Lihat Tonio Andrade, How Taiwan became Chinese



1 komentar: