Senin, 13 Januari 2014

Nyanyian Kemenangan

KAPATA SIWALIMA

KAPATA  dengan kata lain adalah “Nyanyian”, berisikan syair tuturan yang penuh makna. Diiringi oleh suara Tifa dan Kuli Bia (Tahuri), kapata dinyanyikan/dituturkan secara berulang-ulang oleh Mauweng (Penghulu Adat) sambil menarikan Tarian Maku-Maku. Tarian ini dipimpin oleh para Kapitan kemudian diikuti sambil berpegangan tangan/bakukele oleh Raja, Malessy, Anak-anak Soa dan masyarakat negeri sehingga membentuk barisan panjang atau lingkaran. Tarian Maku-Maku adalah tarian penyemangat perang dan sukacita kemenangan, juga sebagai simbol  yang  menunjukkan rasa ungkapan syukur kepada  UPU AMAN LANITE  (Tuhan pencipta langit dan bumi) atas terjadinya sebuah peristiwa adat yang baik seperti “Angka Raja/Pelantikan Raja, Panas Pela Gandong dan lain-lain.

Kapata Siwalima dan Tarian Maku-Maku adalah bagian tak terpisahkan dalam sebuah prosesi adat negeri-negeri di Maluku, dalam Bahasa Tana disebut sebagai SIKANTARO LEKAHUA atau menyanyi sambil menari disertai dengan mengkonsumsi Apapua yang terdiri dari  sirih, pinang, kapur sirih, tabaku (tembakau) dan sopi (sejenis arak asal Maluku). Siwalima sendiri adalah akronim dari kata  PATASIWA dan PATALIMA. Patasiwa adalah perkumpulan 9 soa yang turun dari Nunusaku dan mendiami pesisir, sedangkan  Patalima adalah perkumpulan 5 soa yang mendiami pegunungan.
Di Negeri Saparua juga mengenal Kapata Siwalima, mengingat latar belakang leluhur Negeri Saparua yang berasal dan terpancar dari NUNUSAKU di Pulau Seram menyatu dengan yang lain di Hutan Aikasiro (Souku/Soahuku) dan mengangkat sumpah sebagai saudara. Seperti yang tergambar pada nyanyian Kapata Bahasa Tana ini.

Tui-Tui a Heilete,  Heilete... (Ada banyak orang berjalan berpencar-pencar seperti tui-tui “Musang”)
Heilete, Nunusaku Nunusaku o... (Mereka terpancar dari Nunusaku)
Riai Moma, Taralele Taralele... (Tiba di suatu tempat lalu membuat perjanjian)
Taralele, Moria la samo, Moria la samo... (Membuat perjanjian sebagai saudara kandung untuk saling peduli/menjaga satu dengan  yang lainnya)
Uru Siwarima, Uru Siwarima o, Uru Siwarima, Uru Nusa Ina o... (Manusia-manusia siwalima, manusia-manusia Nusa Ina)
Mae sama ito, Sama ito mae  o... (Mari kita sama-sama)
Sama ito mae,  ito lekahua  o... (Mari kita sama-sama menari maku-maku)
Upu Patasiwa toti apapua mae... (Tuhan/Bapa patasiwa sudah menyediakan segalanya)
Apapua mae,  Upu Patasiwa  o... (Hidangan  sudah tersedia, mari kita menikmatinya)
Nunusaku  o,  Nunusaku Nunu  o... (Kembalilah ke Nunusaku)
Nunu Nusa Ina,  Nunu Siwarima o... (Kembalilah ke nusa ina, ke tanah asal anak cucu siwalima).
Upu lepa pela,  Upu ina lepa o... (Datuk-datuk mengatakan).
Kwele batai telu kuru Siwarima  o... (3 batang air “sungai Tala, Eti dan Sapalewa adalah milik anak cucu Siwalima).
Sei hale hatu,  Hatu lisa pei  o... Sei lesi sou, Sou lesi pei  o... (Siapa memindahkan batu, batu akan menimpahnya/Siapa yang melanggar sumpah/berbuat salah akan mendapatkan hukuman).

Merujuk kepada Tradisi Kapata dan Tari-Tarian sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan leluhur  secara turun-temurun kepada anak cucu Siwalima, menjadikan tradisi bernyanyi dan menari sangat  mengakar dalam kehidupan orang Maluku yang terkenal mempunyai jiwa seni tinggi. Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi muda Maluku untuk memperkenalkan Kultur Siwalima yang kita punyai kepada dunia, biar mereka tahu “Katorang Juga Bisa”.
Lawamena hiti hala, Lawamena haulala (Maju kamuka pikul masalah rame-rame, jangan undur e/Maju terus pantang mundur). 
                                                                            
Dari berbagai sumber sejarah di Maluku

2 komentar:

  1. Lawa mena = lari ke depan
    Hau = cium
    Lala = darah

    (Dalam keadaan perang: lari ke depan (menuju ke musuh) Sebab sudah cium darah!

    BalasHapus