Selasa, 24 Juli 2018

Muar, Vull, Licer, Lijasser, Lyaser, Vleasser, Ulliasser, Honomoa hingga Saparoua


                              ---- Jejak-jejak sebuah “nama” dalam Arsip dan Sumber
                                                  serta Perbincangan dalam ruang waktu ----
                                                                (Bag I - Lanjutan)

Oleh
Adryn Anakotta & Kotje Novaria Anakotta/W


Peta dari Diogo Ribeiro (1525)

Bukti-bukti selanjutnya akan dipaparkan oleh penulis untuk menyajikan serta “menguatkan” ketiga pemahaman ini.

1.     6 tahun kemudian, ditahun 1562, sebuah surat dari Frater Pero Mascarenhas kepada Frater Antonio Quadros di Goa India dan surat ini ditulis dari Ternate pertanggal 16 April 16521. Surat ini berisikan “19 point” dan nama negeri Oma (Homa) serta Hatuhaha (Atuaas) ditulis secara eksplisit dalam surat ini. Nama Oma (Homa) tertulis pada point ke-4, 5, 6, sedangkan Hatuhaha (Atuaas) pada point ke-5.

Fragmen dari isi surat itu sebagai berikut :

(point 4) : Esta cruesa ustavao com os christao, porque chados a hum lugar que se chama Homa .............................
(point 5) : Este laguar de Homa com todas estas vexa........ ..pelejando os mais dos dias huns christaos arrenegados que se chamao os Atuaas..........A este laguar de Homa foi Capitao d’el rei de Ternate................
(Point 6) : Esta huma molherzinha christa em Homa de qual parece que...............

Jacobs memberikan catatan kaki pada kata-kata yang digarisbawahi oleh penulis (dalam teks catatan kaki bernomor 7 dan 8)

Jacobs menulis demikian (no 7 dan 8)2 :

The Kampong Oma on the south coast of Haruku, one of the Ulliaser islands east of Ambon
(Negeri Oma terletak dipantai selatan pulau Haruku, salah satu pulau dari gugusan Uliaser, yang letaknya disebelah timur pulau Ambon)

People of Hatuhaha, which is the name of the North part of Haruku, but a that time still a kampong there, the present day Rohomoni on the West Coast. A present Rohomoni is a muslim kampong and Oma is a christian village.
The Relacao Vasconcelos calls this Hatuhaha : Athua Grande in opposition to Athua pequeno, which is the kampong Tuhaha in Saparua. The towns now lying on the coast were in those days pitched on heights more inland
(penduduk) Hatuhaha adalah nama untuk wilayah yang terletak di bagian utara pulau Haruku, tetapi dimasa itu (maksudnya dimasa surat ini ditulis), hanya berupa atau merujuk pada negeri Rohomoni, yang dimasa sekarang terletak di pantai bagian barat. Dimasa sekarang negeri rohomoni adalah negeri muslim dan negeri Oma adalah negeri Kristen.
Relecao Vascencelos (maksudnya menurut buku yang berjudul Relecao Vascencelos) menyebut Hatuhaha ini (maksudnya Hatuhaha dalam surat ini) adalah Athua Grande (Hatuhaha besar) berbeda dengan Athua Pequeno (Hatuhaha Kecil) yaitu negeri Tuhaha yang terletak di pulau Saparua)

Jacobs mengutip sumber dari Valentyn3 dan Ioan Petri Maffei SJ4 untuk menguatkan catatan kaki diatas

2.      Surat dari Brother Fernao Osario SJ kepada Kaum Jesuit di College Santo Antao Portugis tertanggal 15 Februari 1563, dan ditulis di Ternate5
Surat ini berisi “36 point” dan secara eksplisit menyebut/menulis nama pulau Nusalaut (Rosolao) pada point ke-12 dan Oma (Homa ) pada point ke-18.

Isi surat itu sebagai berikut :

Point (12) : ...............queimarao hum luguar de christaos em huma ilha que se chama Rosolao, que esta obra de oito legoas de Ative .................
Point (18): Em este tempo vierao dous Portuguezes em huma laguar que se chama Homa, da outra Banda, a chamar algum dos Padres.............

Huberts Jacobs memberikan catatan kaki pada kata-kata itu (no 25 dan 32)6

Jacobs menulis :

Nusalaut, the smallest of the three Uliaser island
(Nusalaut, pulau terkecil dari ketiga pulau pada gugusan Uliaser)

Oma in Haruku.
(Negeri Oma di Pulau Haruku)

Peta dari Gaspar Viegaz (1537)

3.      Surat dari Brother Manuel Gomes SJ kepada Kaum Jesuit di India tertanggal 15 April 1564 dan ditulis di Hatiwe7
Surat ini berisi “30 point”, nama negeri Ullath (Ulate), Oma (Homaa) dan Hatuhaha (Atuaa) ditulis secara eksplisit pada point ke-25 dan 28.

Isi surat itu sebagai berikut :

Point (25): Dahy o mandou o Padre chamar para homandar a lugar chamado Ulate .......
Point (28) : ........a hum lugar chamado Homaa............hum lugar grande de mouros chamado Atuaa..................

Jacobs menulis catatan kaki untuk kata-kata itu (no 32, 33 dan 35 dan 36)8

Ulat in Saparua. The nearby Muslim village was Sirisori (no 32)
(Negeri Ullat di Pulau Saparua, berdekatan dengan Siri sori (islam) yang merupakan negeri muslim)
From the description it clearly appears that formerly Ulat was not situated on the coast, but more inland on a hill (no 33)
(dari deskripsi/gmbaran ini (maksudnya deskripsi pada point 27), dengan jelas bahwa negeri Ullath pada awalnya letaknya tidak di tepi pantai, tetapi di perbukitan / gunung)
Oma in Haruku. The name Oma is also used for the entire island and for its south half
(Negeri Oma di pulau Haruku. Nama Oma juga digunakan untuk keseluruhan pulau itu dan atau untuk wilayah daerah bagian selatan (pulau itu)
Hatuhaha on Haruku also used as name of its North half
(Hatuhaha di pulau Haruku, nama ini juga digunakan untuk wilayah bagian utara (dari pulau itu))

4.      Surat dari Frater Pero Mascarenhas kepada Kaum Jesuit di India, tertanggal 15 Juni 1570, yang ditulis di Ambon9
Surat ini berisi “ 37 point” di mana negeri Sirisori (Fore-sore), Ullath (Ulate), Tuhaha (Tua), Iha/Ihamahu (Hiamao), Lease (Lliaser) pada point 12, 13, 19, 35.

Fragmen surat itu sebagai berikut :

Point (12) : ...............esperaodo pera a ylha de Fore-sore  .............os Principais do lugar de Ulate.........
Point (13) ...............terra visitar o lugar de Tua ..............
Point (19) :............a lugar de Hiamao
Point (35) : .........este lugares forao de Oma e alguns outros do Lliaser

Jacobs menulis catatan kaki (no 12,13,15,25)10

Ø  Sirisori in Saparua, at present a double kampong : Sirisori Kristen and Sirisori islam
(Negeri Sirisori di pulau Saparua, dimasa sekarang merupakan negeri “kembar” yaitu Sirisori Kristen dan Sirisori Islam)
Ø  Ulat, a little south of Sirisori along the same coast, its people appear to be Christians already
(Negeri Ullath, negeri yang terletak sedikit ke arah selatan dari Sirisori dan menempati wilayah di sepanjang pantai yang sama dengan Sirisori. Masyarakat negeri Ullath telah lebih dulu memeluk agama Kristen sebelumnya)
Ø  Tuhaha at present on the north coast of saparua, formerly near ulat and sirisori more inland on a hill. One should remember that all the village situated at present on the coast were lying, at the time, at some distance from it in the mountains
(Tuhaha di masa sekarang terletak di pantai utara pulau Saparua, pada awalnya berdekatan dengan negeri Ullath dan Sirisori di wilayah pegunungan. Hal pertama yang harus dipahami bahwa semua negeri yang di masa sekarang terletak di tepi pantai, pada awalnya berada di wilayah pegunungan)
Ø  Ihamahu in Saparua, on the north coast
(Negeri Iha /Ihamahu, negeri yang terletak di pantai utara (pulau saparua)

Untuk point ke-35, Jacobs juga menampilkan varian penulisan nama “lease” yang dikenal dimasa itu, yaitu Licar, Lliacer dan Liasor11

Anonymous Map (1535)

5.     Surat dari Frater Jeronimo de Olmedo SJ kepada kaum Jesuit di Goa India, tertanggal 12 Mei 1571, dan ditulis di Ambon12. Surat ini berisikan “28 point” dan nama Hatuhaha, Oma (Homa), Sirisori (Sore-zore) dan Ullath (Ulate) ditulis dalam surat secara eksplisit.

Fragmen surat itu sebagai berikut :

Point (5) : presa que despois disto fizerao foi na lugar de Atuaa.........
Point (7) : ............de christaos que se chama Homa ...............
Point (11) : ...........que se chama Sore-zore...........
Point (11)...........Ubra huma legoa chamado Ulate

Jacobs memberikan catatan kaki untuk kata Atuaa, dan menulis sebagai berikut13 :

Hatuhaha in Haruku, now the name of the north of the island, comprising four muslim village, formerly identical with one of them, Rohomoni on the west coast. It is the Athua-grande of some Portuguese sources, in opposition to the Athua-pequeno which is Tuhaha in Saparua.
(Hatuhaha di pulau Haruku, nama wilayah di bagian utara pulau (haruku), yang terdiri dari 4 negeri muslim, yang salah satunya merujuk pada negeri Rohomoni, yang dimasa sekarang terletak di pantai barat. Hatuhaha ini (di pulau haruku) juga disebut sebagai Athua grande (Athua besar) dalam beberapa sumber Portugis, sedangkan pada sisi lain, ada nama Athua Pequeno (Athua kecil), yang merujuk pada negeri Tuhaha di pulau Saparua)

6.      Pada indeks nama di akhir buku volume pertama ini, Huberts Jacobs memberikan deskripsi penjelasan sebagai berikut14 :

Ø  Hatuhaha : on Haruku island, is present day Rohomoni and comprises some more villages, is called Athua grande
Ø  Ihamahu (Hiamao) : Village in Saparua
Ø  Nusalaut (Rosolao) : one of the Ulliaser islands
Ø  Oma (Homa)  : Village in Haruku, borders on Hatuhaha
Ø  Saparua : island near Ambon, formerly Liase of Ulliaser
Ø  Sirisori (Sorecore) : Village in Saparua, formerly name of Saparua island
Ø  Tuhaha (Tua/Tuaha/Tuhaa) : Christian Village in saparua
Ø  Ulat : Village of Saparua
Ø  Uliaser (Liasse, Liaser) : name formerly used for Haruku

Penjelasan tentang kata Saparua, Sirisori dan Uliaser yang ditulis oleh Jacobs :
Maksud Jacobs saat menulis penjelasan Sirisori yang menyebut bahwa formerly name of Saparua island (nama awal yang digunakan untuk pulau saparua) adalah menurut konteks surat yang menyebut Sirisori (Foresore/Sorecore) sebagai negeri tapi juga “mewakili” nama pulau. Hal ini harus dipahami sebagai sedikit keliru dengan memahami konteks waktu di saat itu serta terbatasnya pemahaman geografi, begitu juga dengan penjelasan tentang kata Uliaser yang menyebut nama awal yang digunakan untuk pulau Haruku. Bukan maksud bahwa nama Uliaser adalah nama lama untuk pulau Haruku, tetapi nama yang disebut dalam surat Louis Frois SJ yang kembali sedikit keliru seperti saat ia menyebut Sirisori.
Pada surat ini, saat ia ingin merujuk pulau Haruku ternyata ia menulis kata Liasse (yang sebenarnya keliru), dan saat ia ingin merujuk Lease, ia menulis Sirisori sebagai sebuah negeri tapi juga sebuah nama pulau

7.   Information (keterangan) dari Frater Afonso Pacheco kepada Frater Everard Mercurian di Roma pada November 157715. Surat ini berisikan “2 point” dan secara umum mendeskripsikan wilayah “Maluku” serta menyampaikan data golongan orang Katholik di wilayah itu.


Fragmen surat itu sebagai berikut :

     Point (1) : Las Malucas son infinitas islas : entre ellas grandes de 300 legoas como Morotai, y de 150 como Morotia, y outras pequenas de 4 como Ternate, y 20 como Amboino, Tidor, Oliazer, Nuzelao, Athua, Ouma, Abouro.


Hubberts Jacobs memberikan catatan kaki pada kata-kata yang digarisbawahi (no 2-6)16

Ø  Oliazer : Uliaser, in Indonesian Lease, is now the collective name of the three island east of Ambon : Haruku, Saparua and Nusalaut, but in 16th century it was mostly used for the island of saparua only
(Uliaser, dalam padanan bahasa indonesia disebut lease, di masa sekarang merupakan nama untuk gugusan 3 pulau yang terletak di sebelah timur pulau Ambon, yaitu pulau Haruku, Saparua dan Nusalaut, tetapi pada abad 16, kata uliaser hanya digunakan untuk pulau Saparua)
Ø  Nuzelao : Nusalaut
Ø  Athua : Athua is an ambigous name in the Portuguese sources. Sometimes it stands for Hatuhaha which is the north part of haruku (also athua grande), other times it stands for Tuhaha, a village in saparua (also athua pequeno)
(Athua merupakan nama yang ambigu dalam sumber-sumber portugis. Terkadang digunakan untuk merujuk hatuhaha di sebelah utara haruku, tapi terkadang juga merujuk pada negeri Tuhaha di pulau saparua)
Ø  Ouma : Oma, village on the south coast of haruku. The name also used for the south half of the island and sometime for haruku itself
(Oma, nama sebuah negeri di pantai selatan haruku. Nama ini juga digunakan untuk wilayah  selatan pulau haruku, tapi kadang-kadang sebagai nama pulau haruku secara keseluruhan)
Ø  Abouro : Aboru, another village on the south coast of haruku, east of oma
(Aboru, nama negeri lain yang terletak di pantai selatan pulau haruku dan di sebelah timur negeri oma)

8.      Surat dari Fransisco Chaves dan Frater Duarte Leitao kepada Frater Everard Mercurian, di Roma tertanggal 20 November 157917. Surat ini berisikan “11 point” dimana pada point 7 itu disebutkan para Misionaris kadang-kadang mengunjungi kepulauan “Lease”. Pada surat itu tertulis Ilhas do Liaser18.

Fragmen surat itu adalah :

Point (7) : Fazem entre o ano algumas saidas as ilhas do Liaser e a outras de christao que distao..............

Peta dari Fernao vaz Dourado (1571)

9.   Surat dari Frater Manuel Texeira kepada Frater Everard Mercurian di Roma tertanggal 30 Januari 158019. Surat ini berisikan “8 point”, dimana pada point ke-8 menyebutkan tentang kunjungan misionaris ke kepulauan “Lease”. Pada point itu tertulis secara eksplisit Ilhas de Liacer20.

Fragmen surat itu sebagai berikut :

Point (8) : Que foy o irmao visitar o christao das ilhas de Liacer, e que nesta visitacao...........

10.  Surat dari Frater Bernadino Ferari kepada Frater Everard Mercurian di Roma tertanggal 12 Mei 1581 dan ditulis dari Ambon21. Surat ini berisikan “18 point” dimana pada point ke-17 berisikan rencana dirinya untuk berkunjung ke kepulauan “Lease”. Pada point ke-17, Ferari menulis Isole/Isola dell Iliacer22.

      Fragment surat itu :

Point (17) : ..............tanto in questa isola de Amboino come quelle dell isole dell Iliacer e dopo tornarme..............

11.  Surat dari Frater Antonio Marta kepada Frater Claudio Acquaviva tertanggal 30 Mei 1587 dan ditulis di Ambon23. Surat ini berisikan “15 point”. Pada point ke-2, Marta “mendeskripsikan bahwa gugusan pulau Ambon, bukanlah “Maluku” tapi hanya bagian dari wilayah itu. Ia juga menjelaskan bahwa gugusan pulau Ambon dan sekitarnya terdiri dari beberapa pulau. Pada point ini ia menulis Liacer24.

      Fragment surat itu :

      Point (2) : Amboino non e propriamente Maluco, ma e una parte di quest’ archipelago per si, che sotto ‘l suo nome contiene Veranula, Homa, Liacer et Ruscelao.


       Jacobs menulis catatan kaki (no 2)25 :

       Veranula (Waranula) : stands for west Seram

       Homa : for Haruku

       Liacer : for Saparua

       Ruscelao : for Nusa Laut

 

   Wessel menerjemahkan point 2 dari surat Martha dalam bahasa Belanda, dan menulis demikian26 :


     Amboina is niet eigenlijk Maluco, maar vormt een gedelte dezer einlandenwereld. Behalve omvat het Veranula (Ceram), Homa (Haroekoe), Liacer (Saparoea) en Roscelao (Noessa Laoet)


Mungkin di antara surat-surat sebelumnya, ini merupakan deskripsi paling jelas dan eksplisit tentang pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya, terutama tentang istilah Lease dan tetangganya.
Ini juga merupakan bukti sahih bahwa sejak awal, minimal di masa Portugis, nama Lease adalah nama “lama” untuk dan hanya untuk pulau Saparua.

12.  Surat dari Frater Pero Nunes kepada Frater Claudio Acquaviva tertanggal 5 Juni 1587 dan ditulis di Ambon27. Surat ini berisikan “12 point”, dimana penyebutan Rocelao pada point ke-7 dan islas del Liacer pada point ke-828.


Isi surat itu :

Point (7) : ............el padre su vista por una isla que ilaman Rocelao
Point (8) : En las demas islas del Liacer allo el padre mismo despensere............

13.  Surat Frater Antonio Marta kepada Frater Claudio Acquaviva tertanggal 15 Mei 1592 yang ditulis di Ambon29.  Surat ini berisikan “14 point” dimana penyebutan Liacer dan Roscelao ada pada point 1230.

 

       Isi surat itu :

 

  Point (12) : ............una delle isole de Amboino, chamada Liacer, et ancora otra chiamata Roscelao ...................

 

     Jacobs menulis catatan kaki tentang kata Liacer31 :

 

     Liacer : called at present day Saparua

    (dimasa sekarang disebut (dikenal) dengan nama Saparua)

 


14.   Surat dari Lorenso Masanio kepada Frater Claudio Acquaviva tertanggal 15 Mei 1593 dan ditulis di Ambon32. Surat ini berisikan “15 point” dimana penyebutan Isola de Liaser dan Tua (Tuhaha) pada point ke-10 serta Liaceri (penduduk pulau Lease/saparua) pada point ke-1233.

      Fragmen surat itu sebagai berikut :

 

  Point (10) : ..........un giorno cometter un noste forte nel isola del Liaser, chamato Tua....................

      Point (12) : Li Liaceri pigliarno una champana de bandanesi con alguna gente

 

      Jacobs memberikan catatan kaki tentang kata Tua (no 23) dan Liaceri (33)34 :

 

     Tua : Tuhaha in Saparua island. It is now on the north coast, but at the time it was on a hill more inland toward the south, near Sirisori and Ulat

     (Tua : Negeri Tuhaha di pulau Saparua, yang dimasa kini terletak pada pantai utara pulau saparua, tetapi dimasa itu terletak di pegunungan dibagian selatan berdekatan/berbatasan dengan negeri Sirisori dan Ulat)

      Liaceri : here, people of saparua

      (Liaceri) : di sini (maksudnya menurut konteks surat ini) adalah penduduk pulau saparua

 ------------------------------------------------------------

Kita perlu “berhenti” sebentar di sini, karena sejak tahun 1593 – 1599, surat-surat yang dikirim oleh para misionaris Portugis tidak lagi secara eksplisit menulis tentang “lease” dalam surat mereka.
Pada tahun 1596, untuk pertama kalinya armada bangsa Belanda, memasuki kawasan “nusantara”. Armada penjelajah pertama bangsa Belanda ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di pelabuhan Banten (sumber Belanda menyebutnya Bantam) pada 22 Juni 159635

Kita berhenti sebentar, untuk melihat laporan-laporan awal para penjelajah Bangsa Belanda, apakah mereka mendeskripsikan tentang kawasan “lease” atau hanya mendeskripsikan secara umum kawasan itu, atau bahkan tidak sama sekali.

Setahun sebelum kedatangan de Houtman, di negeri “Belanda” terbit sebuah buku yang menjadi kunci pembuka era eksplorasi ke dunia timur oleh bangsa “Belanda”. Pada tahun 1595, terbit buku Itinerario near oost ofte Portugaels Indien (Catatan Perjalanan ke Timur/Hindia Portugis)36, yang ditulis oleh John Huyghen van Linschoten.
Buku ini merupakan hasil “pengalaman” Linschoten saat bekerja di Goa India, selama 5 tahun sebagai Sekretaris Archibisop Goa, Vicente de Fonseca37.
Ia adalah seorang “Belanda” yang bekerja sejak tahun 1584 – 1589, dan sejak awal Januari 1589 berlayar ke Cochin serta kembali ke Portugal pada awal tahun 1592. Pada bulan september 1593, ia kembali ke rumah orangtuanya di Enkhuizen.
Isi buku ini tidak mendeskripsikan kawasan “Lease” hanya menjelaskan tentang Pulau Ambon, Banda dan Maluco (Ternate dan sekitarnya)38.
Pulau Ambon dideskrispikan hanya dalam1alinea saja39
Begitu juga jurnal-jurnal perjalanan van Houtman pada tahun 1596 itu, jurnal perjalanannya hanya menyebut Maluku/Ternate (Moluco), Banda (Bandam) dan Ambon (Aboyno)40 secara umum saja

2 tahun kemudian, pada tahun 1598, tidak kurang dari 5 ekspedisi, jumlah seluruhnya 22 kapal meninggalkan Belanda menuju Hindia Timur. 13 Kapal melewati Tanjung Pengharapan, 9 kapal melewati Selat Magellan. Armada besar ini dipimpin oleh Jacob Cornelis van Neck, Wybrand Van Warwijk, dan Jacob Van Heemskerck.
Armada besar ini berangkat dari pelabuhan Texel pada 1 Mei 159841

Van Neck tiba di Banten (Bantam) setelah 6 bulan berlayar42.
Armada Van Warwijk dan Van Hemskerck kemudian menuju ke Ambon. Pada tanggal 3 Maret 159943 Jacob van Hemskerck tiba di pantai Hitu, Pulau Ambon, dan kembali menuju serta tiba di Banda pada 15 Maret 1599. Dalam Jurnalnya yang dibuat di Banten pada 20 Januari 1600, Wybrand van Warwijk, menyebut Ambon dengan kata Ambona dan Caboina44.

(saat tiba di pantai Hitu, Armada van Warwijk kemudian menuju ke Ternate pada bulan Mei 1599, dan kembali dari Ternate sekitar bulan Agustus menuju Belanda. Ia tiba di Banten dan menulis jurnal ini)

Armada van Hemskerck “menetap sebentar” di Banda hingga Juli 1599, dan kembali menuju Banten pada Agustus 1599.
Selain Jurnal yang dibuat oleh van Warwijk, Jacob van Heemskerck juga menulis jurnal perjalanan itu.
Pada jurnalnya, ia menyebut bahwa tanggal 3 Maret 1599, armada mereka tiba di Hitu. Ia menyebut Hitu dengan nama Ytu/Itu45
Ia menyebut pulau Seram sebagai eylant Ceyran/Ceyra/Seyra dan Ambon dengan kata Ambuona, Anbuena46.
Setelah tiba di Hitu pada 3 Maret 1599, mereka kemudian kembali menuju Banda. Armada ini dari Hitu berangkat pada 11 Maret 1599 dan melalui timur pulau Ambon dan memasuki jalur pulau Seram pada tanggal 13 Maret 1599.
Heemskeerk menulis “pengalaman” tanggal 13 Maret pada hari sabtu itu sebagai berikut47:

Penulis menggaris bawahi kalimat dalam jurnal van Heemskeerk itu.

Terjemahan garis besar dari kalimat itu :

Kapal Zeelandia (salah satu kapal dari armada itu) bergerak melalui jalur barat daya pulau Seram dan terlihat lebih kurang 8 mil di bagian selatan pulau itu terdapat 5 dari 6 pulau yang di dalamnya dengan/ termasuk pulau Ambon (Anbuena).

De Jonge juga memberikan catatan kaki (no 2) dan menulis48 :

Haroekoe, Honimoa (Saparua), Noesa-laut en eenige andere kleinere eilanden

(maksud de Jonge adalah 5 pulau kecil itu adalah pulau Haruku, Honimoa/Saparua, Nusalaut dan satu pulau kecil di sekitarnya (kemungkinan adalah pulau Molana – catatan tambahan dari penulis))

Heemskeerk tidak menulis secara eksplisit nama-nama pulau yang ia maksudkan dengan 5 buah pulau itu, tapi De Jonge memberikan catatan kaki untuk menjelaskan maksud kalimat Heemskeerk. Tentunya pemahaman ini berasal dari “visualisasi” perjalanan armada Heemskeerk yang berasal dari jurnal itu.
Jika kita membacanya secara teliti, maka visualisasi perjalanan itu, adalah armada itu berlayar dari Hitu, memutar ke arah timur pulau Ambon, memasuki “celah” antara tanjung Liang dan Waipirit, bergerak di sepanjang pantai selatan pulau Seram, dan (mungkin) berbelok di depan tanjung Kuako Amahai Soahuku, berlayar di “belakang” pulau Saparua dan menuju ke pulau Nusalaut.
Visualisasi ini diperkuat oleh jurnalnya pada tanggal 14 Maret yang menyebut bahwa mereka “melewati” pulau Nusalaut (Nosolao/Nusola)49

Peta dari Bartolomeu Velho (1560)

Sementara itu sekitar bulan Mei 1599, berangkat Armada yang dipimpin oleh Steven van der Haghen dari negeri “Belanda”. Armada ini berlayar selama 10 bulan, tiba pada 13 Maret 1600 di Banten, dan tiba sekitar bulan Mei 1600 di pantai Hitu

------------------------------------------------------------
Agar penyajian artikel ini bisa dibaca secara kronologis, maka kita berhenti sebentar dan kembali ke surat-surat dari Para Misionaris Katholik Portugis. 


==== Bersambung ====


Catatan Kaki :

1.   Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 344-354

2.     Idem (hlm 348)

3.     Valentyn, Francois. Oud en Nieuw Oost Indie (twede deel) Beschyving van Amboina Vervattende......., Joannes van Braam, Dordrecht, 1724, hlm 94-95 atau 91-95

4.     Maffei, Ioan Petri SJ, Relacao Vasconcelos, 1600,hlm 231 - 233

5.     Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 362-379

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm180 no 7

6.     Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), cat kaki no 25 dan 32,hlm369 dan 372

7.     Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 439-455

8.     Idem (hlm 452-454)

9.     Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 593-611

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hal 49-50 dan hlm 182 no 10

10.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), cat kaki no 12,13,15, dan 25, hlm 600, 602

11.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 610

12.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), hlm 617-629

13.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), cat kaki no 12, hlm 619-620

14.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 1 (1542-1577), Institutum Historicum Societatis Iesu, Roma, 1974, chapter VI (Documents), Indeks, hlm 727, 728, 740, 741, 748, 750, 754

15.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 9-10

16.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), cat kaki no 2-6, hlm 9-10

17.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 58-62

18.  Idem (hlm 61)

19.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 64-67

20.  Idem (hlm 66)

21.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 97-106

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hal 186, Ferari, Bernadino, no 1

22.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hal 105

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 73

23.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm191-198

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hal 188, Marta, Antonio, no 1

24.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606 ), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 192

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 85

25.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606 ), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 192

26.  Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 85

27.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 204 - 210

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 188, Nunez, Pero, no 4

28.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 207, dan 208

29.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 326-331

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm188, Marta, Antonio, no 10

30.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 330

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 99

31.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), catatan kaki, hlm 330

32.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 346-354

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 191, Masonio, Lorenzo, no 1

33.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hlm 351 dan 352

·         Wessels, C. De Geschiedenis der RK Missie in Amboina (1546-1605), Nijmegen Utrecht, 1926, hlm 116

34.  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606 ), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), catatan kaki, hlm 351 dan 352

35.  Rouffaer, G.P en Ijzerman, J.W, De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indie onder Cornelis de Houtman, 1595 – 1597, eerste boeck van Willem Lodewycksz, Martinus Nijhoff, S,Gravenhage, 1915, capiteel 16, hlm 71-77

36.  Burnel, Arthur Coke, The voyage of Jhon Huyghen van Linschoten to the East Indies : from the old old English translation, 1598, first book, the first volume, London, 1885, Introductio, hlm xxx

37.      Idem (hal xxv)

38.      Burnel, Arthur Coke, The voyage of Jhon Huyghen van Linschoten to the East Indies : from the old old English translation, 1598, first book, the first volume, London, 1885, chapter xx, hlm 115-118

39.      Idem (hlm 116)

40.      Rouffaer, G.P en Ijzerman, J.W, De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indie onder Cornelis de Houtman, 1595 – 1597, eerste boeck van Willem Lodewycksz, Martinus Nijhoff, S,Gravenhage, 1915, capiteel 19, Hal 100, capitel 29, hlm 125

41.      De Jonge, J.K.J.De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-indie (1595-1610), tweede deel, S’Gravenhage, Martinus Nijhoff, Amsterdam, Frederik Muller, 1864, hlm 203

42.      Idem (hlm 205)

43.      Idem (hlm 207),

44.      Brief van Wybrand van Warwijk, geschreven den 20 January 1600 in,t schip Amsterdam, voor Bantam (dimuat dalam De Jonge, J.K.J. De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-indie (1595-1610), tweede deel, S’Gravenhage, Martinus Nijhoff, Amsterdam, Frederik Muller, 1864, hlm377, 378)

45.      Journaal gehouden door den vice-admiraal Jacob van Heemskeerk 1598-1600, (dimuat dalam De Jonge, J.K.J. De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-indie (1595-1610), tweede deel, S’Gravenhage, Martinus Nijhoff, Amsterdam, Frederik Muller, 1864, hlm419)

46.      Idem (hlm 422, 423, 424, 425)

47.      Idem (hlm 425)

48.      Idem (cat kaki no 2, hal 425)

49.      Idem (hlm 425, 426)

3 komentar:

  1. Luarbiasa isi blog ini, beta seperti ada di ruang Katalog Perpustakaan. Referensi yang hebat dan tentu beta kasi apresiasi yang tak terhingga. Danke sudara tuang. Beta kebetulan beta juga Bloger, dan konsen untuk Maluku dengandgl ruang lingkupnya.
    Ini alamat Blog beta ; http://alifurusupamaraina.blogspot.com/
    E-mail ; Komunitasembun90green@gmail.com

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Danke bung M. Thaha Pattiiha atas apresiasinya... tapi mungkin pujiannya terlalu "berlebihan"... ya mungkin dengan blog sederhana ini, ktong bisa menyumbang sedikit terhadap kebiasaan literasi buat generasi muda Maluku.... ya siap tau katong bisa saling "membagi" dan katong juga bisa belajar banyak dari blog yang bung punya...dnke banya bung...

      Hapus
    2. ooo ia... beta lupa... mungkin abang bisa menshare artikel yang ada di blog abang ke grup Facebook kami, Walang Bastori Saparoea...tujuannya agar para anggota mempunyai banyak artikel-artikel senada untu dibaca... dnke...

      Hapus