Selasa, 20 Desember 2022

“Keganasan” Etnis dalam Perang Kolonial Orang Maluku dalam Militer Belanda di Indonesia, 1945 - 1949

 

 (bag 2 - selesai)

 

Gert Oostindie

&

Fridus Steijlen


  1. Kesaksian : Sejarah Lisan

Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti Belanda menciptakan koleksi sejarah lisan yang ekstensif berdasarkan wawancara (kembali) dengan migran dari Hindia Belanda, serta veteran dari perang kolonial terakhir35. Secara potensial, koleksi kesaksian veteran yang dihasilkan, dapat memberikan beberapa nuansa penggambaran orang Ambon dalam korpus dokumen-dokumen pribadi yang diterbitkan. Sayangnya, kecuali wawancara yang dilakukan sebelumnya oleh Museum Sejarah Maluku dan oleh Fridus Steijlen untuk KITLV setelah penerbitan buku Soldaat in Indonesie, sebagian besar veteran yang diwawancarai adalah penduduk asli Belanda, sehingga korpus ini mengalami bias yang sama. Tema karakter multikultural tentara kolonial dan, khususnya, kesetiaan dan kekuatan militer tentara Ambon dibahas dengan beberapa frekuensi dalam koleksi ini, meskipun pewawancara umumnya tidak akan mendorong orang-orang yang diwawawancarai untuk mengomentari masalah terakhir. Apa yang muncul dari wawancara ini tampaknya sangat mirip dengan argumen yang diberikan oleh para veteran dalam dokumen-dokumen pribadi yang diterbitkan. Akan tetapi, karena dalam kumpulan-kumpulan tersebut yang diwawancarai kebanyakan adalah warga sipil, maka muncul pula cerita lain, misalnya tentang sikap berani personil KNIL Maluku sebelum invasi Jepang :

Pada tahun 1941, kami tahu perang akan terjadi. [.........] Di kesatuan, ada yang takut, tetapi tidak begitu dengan orang Ambon. Itu adalah pertarungan peperangan, mereka selalu setia kepada Ratu

A. Von der Oelsnitz, Perwira KNIL36


Sebuah cerita menceritakan tentang tentara Maluku yang melindungi warga sipil Eropa dan Indo-Eropa dari kekerasan oleh barisan pemuda Indonesia, atau membalas dendam :

Di Batavia kami pergi ke kamp lain, [yaitu] Batalyon 10, dimana kami tempati sementara waktu. Di sana mereka mulai menembak, dan kamp itu diserang. Tetapi kamp itu dipertahankan oleh orang Ambon. Jadi, sebenarnya orang Indonesia tidak memiliki kesempatan.

Anita van der Els-Vertregt37

 

Kami lolos tepat waktu, tetapi ada orang Indo-Eropa yang masih ada di luar sana [........] Saya menghormati orang Ambon. Mereka berkata : Kami bertugas sampai jam 2 siang atau 4 sore. Setelah itu kami tidak mengatakan apa-apa, tetapi kami pergi sendiri, kami naik truk dan kami pergi menjemput keluarga itu. Anak-anak Indo-Eropa juga terlibat, tidak hanya orang Ambon. Tetapi saya bertanya-tanya apakah kami akan berhasil tanpa orang Ambon, apakah kami masih akan berada di sana.

C.S. Brender a Brandis38

 

Di batalyon X ada seorang sersan Ambon, [namanya] Tuan Pieterse. Dan Tuan Pieterse pergi menjemput para wanita dan anak-anak [yang dalam situasi bahaya]. Ketika saya tahu hal ini, saya menelpon Tuan Pieterse dan bilang kepadanya bahwa Ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya juga ada di luar sana. Dia berkata OK dan pergi menjemput mereka.

Ferry Schram39

 

Inggris tidak mengizinkan kami apapun. Kami sama sekali tidak menyukainya, jadi kami memutuskan untuk membunuh semua orang Indonesia di sekitar kamp. Semua orang keluar dan kami menangkap polisi, karena di Bandung, sekutu/rekan-rekan berdiam di bagian utara, sedangkan bagian selatan adalah tempat orang Indonesia. Di bagian utara ada beberapa perwira polisi Indonesia. Kami membunuh mereka satu demi satu di tempat, atau kami membawa mereka bersama kami ke kamp. Di kamp itu, ada juga orang Ambon, [......] mereka kembali ke barak sebagai militer. Mereka sangat marah sehingga mereka membunuh orang Indonesia di depan pintu gerbang kamp Tjihapit

Boy Peppelaar40

 

                Kisah-kisah lain menceritakan tentang keganasan tentara Maluku selama konfrontasi militer dengan musuh yaitu orang Indonesia :

Saya terlibat dalam beberapa aksi; saya pergi dengan kapal angkatan laut dan diikutsertakan pada unit KNIL. Saya hanyalah seorang operator telegraf. Saya memiliki pistol Tomy (Tommy gun) dan revolver tetapi tidak tahu menggunakannya. Tetapi di situ ada orang Ambon, mereka memanggil saya Oom [Paman]. Mereka berkata : “Jangan takut, kita jaga”. Itu berarti : do not be afraid, we will take care of you.

J. Bennewitz, Operator Telegraf41

 

Seorang tentara pergi ke toilet di tengah malam dan dia bertemu seorang laki-laki yang memegang pisau besar di tangannya. Jadi tentara itu lari. Tetapi laki-laki itu juga lari, ia adalah seorang pelopper (pejuang kemerdekaan), dan ia lari menuju kawat berduri. Kamp tersebut dijaga oleh orang Ambon. Mereka menangkap laki-laki itu, dan saya harus bilang.......kami penasaran dan mendatangi petugas jaga yang juga orang Ambon. Cara laki-laki itu diperlakukan.....kami pikir itu terlalu berlebihan dan berteriak “apakah itu perlu??”, “ itu terlihat seperti SS”. Itu adalah konfrontasi pertama kami dengan peristiwa-peristiwa yang terkadang disangkali di antara para veteran.

Leo Schipper, Sukarelawan Perang42.

 

Ada cukup ekses. Mereka tidak pernah mengatakan apa-apa soal itu, karena saat itu normal. [...........] Saya menyaksikan sekelompok orang Ambon menginterogasi 4 atau 5 orang Indonesia. Mereka menggunakan kawat besi, yang mereka panaskan di atas api, dan kemudian begitulah. Begitulah yang terjadi. Dan apakah orang-orang ini bersalah atau tidak, itu membuatku muak. Tetapi apa yang harus dilakukan. Kamu tidak bisa melawan orang Maluku Selatan. Ia akan mengambil klewangnya dan membunuhmu. Mereka adalah orang gila. Mereka adalah tentara yang baik, tetapi terkadang bertindak terlalu jauh.

Guus Nijs, Tentara KNIL, bekas tawanan perang Jepang43


Pengalaman ini terjadi di Bali. Kemudian di Jawa ia menyaksikan adegan lain:

Itu terjadi di Jakarta dari semua tempat. Beberapa relawan perang [Belanda] membuat komentar [tentang perilaku orang Maluku]. Kemudian orang Ambon mengejar para sukarelawan perang ini. Mereka harus lari untuk hidup mereka. Orang-orang ini [Ambon] benar-benar gila, tetapi mereka melanjutkan. Mereka tidak pernah dituntut44

Sebelum dia menyebut apa yang dia sebut 'berlebihan' oleh orang Maluku, Guus Nijs telah menjelaskan mengapa dia dan tentara lain berpikir orang Maluku bisa berbahaya, karena baru saja dibebaskan dari kamp tawanan perang Jepang dan memiliki keluarga di 'garis depan':

Kami penuh dendam dan penuh rasa sakit. […] Jika di atas itu, Anda dibom sampai mati dengan propaganda anti Indonesia… maka Anda tidak bisa berpikir jernih lagi, itu tidak mungkin. Anda tidak bisa berpikir, Anda adalah bom hidup. Sesederhana itu.45

Di truk ada tiga orang Ambon di sisi kiri, tiga di kanan dan tujuh orang dengan senapan Bren di kap mesin. […] Kami harus mengangkut bahan bakar pesawat dari Kemayoran melalui Polonia dan sebuah kampung, yang saya lupa namanya, yang terkenal dengan sikap agresifnya di antara penduduk Indonesia. […] Mereka (orang Ambon) mengambil pertama bendera Belanda yang mereka temukan dan meletakkannya di depan mobil. […] Kami pergi ke sana, dan saya ingin mengemudi dengan cepat. 'Knock, knock, knock', 'pelan pelan', mengemudi perlahan, matikan [mobil] perlahan, 'kalau tidak, kita tidak bisa membidik'. Mereka menunggu saat, menantang: siapa yang berani, siapa yang menembak lebih dulu.

hans schleidt, volunteer at a military airport after the Japanese capitulation46

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para prajurit KNIL Maluku yang menolak penyerahan kekuasaan kepada angkatan bersenjata Indonesia setelah penyerahan kedaulatan pada bulan Desember 1949, seperti kisah ini, di Bandung, setelah pasukan TNI pertama datang ke kota:

Sebagian besar anak laki-laki di barak kami adalah milik kami, tetapi ada juga orang Indonesia di sana-sini, atau orang Menado atau orang Ambon. Beberapa kali terjadi di pagi hari ketika Anda bangun, sebuah sepeda hilang dan beberapa senjata api, dan orang Ambon itu telah menghilang. Dia telah mengambil pistol dan sepeda dan menghilang ke pegunungan, di mana ia bergabung dengan kekuatan lain, bukan dengan Belanda tetapi melawan otoritas yang muncul di Indonesia. Orang Ambon sama sekali tidak setuju dengan proses pemindahan ke pihak Sukarno. Mereka mundur dan memulai perang kecil mereka sendiri.

t. kwikkers, Air Force47

4.     Suara-suara Orang Maluku

Selama beberapa dekade terakhir, Museum Sejarah Maluku telah menghimpun koleksi sejarah lisan yang luas tentang kehidupan di kepulauan Maluku, pendudukan Jepang, partisipasi orang Maluku dalam konflik Belanda-Indonesia, upaya gagal untuk mendirikan negara Maluku yang terpisah, demobilisasi orang Maluku yang tak diminta, dan migrasi ke serta integrasi ambivalen di Belanda. Tak heran, kesetiaan orang Maluku kepada Belanda dan perasaan dikhianati oleh Belanda kerap dibahas dalam koleksi ini. Sebaliknya, peran tentara Maluku dalam perang jarang muncul, meskipun kaum muda Maluku ingat bahwa di rumah, ayah mereka selalu berbicara tentang ketangguhan mereka selama konflik tersebut (lihat juga Steijlen 2016b). Tampaknya diamnya publik diciptakan di sekitar masalah ini. 

Oleh karena itu, kami memutuskan untuk melakukan wawancara di antara kelompok-kelompok terakhir bekas prajurit Maluku, dimana kali ini Steijlen menanyakan kepada mereka tidak hanya tentang keseluruhan pengalaman mereka selama dan setelah perang, tetapi juga secara khusus memunculkan komentar mereka tentang pengalaman perang dan interaksi mereka dengan tentara Belanda. Mengikuti preferensi orang yang diwawancarai, percakapan ini dilakukan terutama dalam bahasa Melayu Maluku, diselingi dengan Bahasa Belanda. Kendala bahasa jelas merupakan bagian dari penjelasan mengapa orang-orang ini tidak diwawancarai secara sistematis oleh peneliti Belanda sebelumnya. Tapi yang lebih penting, fokus sebelumnya adalah pada frustrasi utama tentara Maluku – yaitu, keluarnya mereka yang tidak terduga dari tentara setibanya di Belanda pada tahun 1951, dan cara mereka diperlakukan setelah itu – daripada pengalaman mereka selama periode 1945 – 1950.

19 tentara KNIL Maluku diwawancarai dari hampir 40 orang yang dapat kami lacak – yang lain sudah terlalu tua dan sakit untuk diwawancarai, atau tidak mau diwawancarai48. Mayoritas laki-laki yang diwawancarai disebut sebagai soldadu muda, yang memasuki dinas setelah Perang Dunia II; mereka yang bertugas sebelum perang disebut “tentara tua”, atau soldadu tua. 

Mengingat kiasan loyalitas tradisional, bahkan “abadi” terhadap kolonialisme Belanda, pertanyaan pertama adalah apakah orang Maluku yang bergabung dengan KNIL setelah perang memang dimotivasi oleh loyalitas atau penentangan seperti itu terhadap Revolusi Indonesia. Sebagian besar bekas tentara KNIL yang diwawancarai menyangkal hal ini, dengan alasan mereka mendaftar hanya karena ingin mencari nafkah, cari makan, atau ingin melihat sesuatu tentang Indonesia. Mendaftar KNIL di Maluku itu mudah, karena segera setelah kapitulasi Jepang, perekrut asal Belanda mengunjungi desa-desa Maluku untuk merekrut pemuda, bahkan jauh dari Ambon, di tenggara Pulau Kei dan di Pulau Buru yang berpenduduk sedikit49.

Saya mendaftar KNIL karena pengumuman Belanda untuk semua pemuda di Ambon untuk berdinas karena situasi di Jawa. Ada keadaan darurat. Saya mendaftar KNIL pada 13 November 1946 dan dilatih selama 6 bulan. Setelah itu saya dikirim ke Sulawesi – ke Pare-pare, Watampone, dan Mandar untuk berpatroli. Kemudian Bandung memerintahkan militer ke Jawa untuk membantu Belanda di sana50

Beberapa tahu sedikit tentang situasi di Jawa :

                Saya ingin membantu orang-orang kami yang ditawan oleh [pasukan] bambu runcing [merujuk pada revolusioner muda yang dipersenjatai dengan tongkat bambu runcing], untuk membebaskan mereka, karena banyak juga orang Ambon yang ditangkap dan dibunuh51.

Yang lain menggarisbawahi keberanian mereka :

                Tetapi di manapun orang Maluku berada, mereka tidak takut. Orang Maluku tidak takut. Kalaupun ada perang, kami tidak takut mati52.

Para veteran Maluku yang kami wawancarai di Belanda, semuanya bertugas di KNIL. Namun, mereka tahu bahwa orang Maluku lainnya telah bergabung dengan tentara Republik. Konfrontasi sesekali tidak terelakkan :

Kami bersama batalyon KNIL yang hanya terdiri dari orang Ambon. Kami semua adalah tentara baru Ambon (teken soldadu baru). Kami bertemu dengan orang Ambon lain [diduga dari pihak lain], yang berkata kepada kami : kalian menjilat pantat Belanda –kemong paling jilat pantat Belanda. Sersan Manuhutu menjawab : “Apa yang kamu katakan?”. Dia meletakkan klewang di leher [laki-laki lain]. Saya tidak akan pernah melupakan Sersan Manuhutu. Orang Ambon melawan orang Ambon53

Orang-orang yang diwawancarai membenarkan dengan agak santai, bahwa orang Maluku berperang di kedua sisi, tetapi tampaknya hanya ada sedikit ruang untuk berpindah ke pihak lain setelah perang benar-benar dimulai. Jadi, terutama pada awal perang dan setelah penyerahan kedaulatan, tentara KNIL bergabung dengan tentara Indonesia. 

                Adapun gambaran bahwa tentara KNIL Maluku ini tidak proporsional dalam hal kekerasan, beberapa veteran dengan retoris menjawab bahwa orang Maluku tidak mungkin lebih jago, galak, daripada yang lain, karena mereka ketat dan mengikuti aturan tentara, merujuk pada aturan dasar atau kepatuhan mereka terhadap nilai-nilai Kekristenan :

Di tentara tidak ada perbedaan, kami harus bertindak sesuai dengan disiplin militer. Itu membuat kami menjadi satu. [.........] Ada juga Muslim di tentara, tetapi kami memiliki disiplin militer, sebuah buku, semacam kode etik. Dengan semua aturan yang ditulis dalam bahasa Melayu54.

Tetapi mereka takut akan Tuhan. Orang Maluku pertama-tama takut pada Tuhan. Anda tidak bisa melakukan kesalahan apa pun. Tidak dengan mulutmu dan tidak dengan tanganmu55.

 

Berbeda dengan posisi ini, anak-anak veteran berbagi cerita tentang ayah mereka yang membual tentang kekerasan. Pada salah satu wawancara, seorang keponakan yang diwawancarai juga hadir. Ayahnya yang sudah meninggal adalah seorang (anggota) Baret Hijau. Meskipun ayahnya tidak pernah membicarakannya, dia yakin ayahnya terlibat dalam banyak pembunuhan

Keponakan : Ayah saya adalah salah satu anggota Baret Hijau. [.........] Orang-orang “gila”. [........] Saya melihat bahwa ketika mereka meninggal dunia, mereka memiliki waktu yang sangat sulit. Mereka membunuh orang. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Jika anda bertanya kepada orang yang lebih tua untuk memberitahu anda tentang perang, mereka tidak akan mau. Anggota Baret tidak mau. Ini terlalu intens. Mungkin mereka membunuh terlalu banyak orang56.

Veteran Maluku lainnya memiliki citra yang sama pada pasukan khusus Maluku.

                Ketika mereka [Baret Hijau] memasuki sebuah desa, mereka sangat kejam. Jika mereka bertemu seseorang, mereka tidak akan menanyai mereka. Ketika mereka menangkap seseorang, mereka akan segera membunuhnya57.

“Membunuh sebelum mereka membunuhmu” adalah penjelasan yang sering terdengar, disajikan sebagai pembenaran untuk kekerasan. Dan memang, para veteran Maluku lainnya tidak segan-segan berbicara tentang perilaku kekerasan. Seorang veteran Maluku lainnya, seorang anggota Baret Hijau membenarkan hal ini.

Kami sudah tahu di mana musuh berada di peta. Saya selalu berada di depan. Ketika saya melihat 2 orang. Saya menunjukan hal itu dengan 2 jari ke atas. [Jika] 5 orang, maka 5 jari ke atas. Suatu kali kami menahan 5 orang. Kami bertanya kepada mereka : “mau ke mana?”. Lalu kami menembak mereka. Itu sangat buruk58.

Brutal dan kriminal memang, tetapi menurutnya mereka membunuh tawanan mereka karena ini perintah dari komandan Belanda mereka.

Tapi jika kita menangkap seseorang, kita membunuhnya. Kami mendapat perintah dari seorang komandan Belanda tentang tentang apa yang harus dilakukan jika anda melihat seseorang : [yaitu] tembak. Itu saja59.

Tidak semua orang mau mengikuti perintah seperti itu. Veteran Maluku lainnya menceritakan situasi di mana mereka membebaskan tahanan tanpa memberitahu komandan mereka, memalsukan menembak mereka, atau hanya menolak untuk menembak.

Jika saya sedang berpatroli dan kami melihat orang-orang duduk di sana, apakah kami akan menembak mereka? Bukan saya. Saya akan mengatakan kepada teman saya : “Kamu yang tembak. Itu gerilyawan”. Tetapi mereka [gerilayawan] tidak bisa bergerak, mereka sangat lemah. Komandan berkata : “tembak dia”. Saya tidak bisa menembak orang begitu saja. [.........] Itu satu hal ketika mereka melawan saya, tetapi hal yang berbeda ketika mereka “tidur”60.

Kadang-kadang kelelahan, mungkin kelelahan berperang, digunakan sebagai alasan untuk membunuh :

Dan setelah baku tembak, kelompok saya menembak orang-orang di sana. Pertama, karena anda lelah, maka anda tidak tahan dengan apa pun, dan anda menjadi marah. Dan kalau marah, ya tembak saja61.

                Veteran terakhir ini menunjukan kelompok etnis lain di KNIL yang menurutnya bisa lebih kejam. Dia menyebut orang Timor dari Pulau Timor, dan “Keiezen” dari Pulau Kei di bagian tenggara Maluku. Dalam wawancara lain, yang terakhir disebut-sebut lagi rentan terhadap kekerasan.

Ya, ada Keiezen juga. Benar-benar brutal, ya. Mereka dengan mudah melakukan kekerasan fisik. Benar. Langsung dipukuli62.

Menurut veteran yang sama, orang Bugis dari Makasar juga rentan menggunakan kekerasan :

                Saya pernah melihat orang Bugis. Bahwa mereka tidak hanya akan menendang orang di jalan. Mereka ingin mendengar informasi, tetapi jika informasinya tidak diberikan, mereka akan mulai memukuli63.

Veteran ini kemudian melanjutkan untuk menciptakan kontras yang tajam antara kelompok etnis ini dan karakter orang Maluku Tengah yang dianggap lebih santai :

Tahanannya hanya laki-laki. Ada perempuan di rumah-rumah itu, tetapi kami tidak tahu apakah mereka milik para laki-laki itu. Kami mengambil orang-orangnya. Sungguh, mereka diperlakukan dengan baik. Di antara anak-anak kami, tidak ada yang tidak bisa menahan amarahnya64.

Seorang veteran lain menunjuk ke tentara KNIL Jawa yang kejam, dan terkejut dengan kekerasan mereka karena berperang “dengan orang mereka sendiri” :

Prajurit KNIL Jawa kemudian memukuli serdadu TNI. Saya sendiri tidak pernah memukul siapa pun. Mereka juga manusia. Jika anda menjawab dengan jujur, saya akan membebaskan anda. [.........] Jika diperhatikan, orang Ambon jarang memukul. Lebih banyak orang Jawa yang memukul orang-orang65.

Kesaksian-kesaksian ini, masing-masing tampaknya memberikan “beban” kepada kelompok etnis lain. Bagaimana ini dibandingkan dengan para veteran Belanda yang mengklaim bahwa khususnya “orang Ambon” melakukan kekerasan yang tidak proporsional ?. Bagaimana komunikasi mereka saat itu, bagaimana hubungan mereka?. Kalau dipikir-pikir, sebagian besar veteran Maluku positif tentang militer Belanda yang bekerja bersama. Tapi ada jarak yang jelas, secara budaya dan dalam hal bahasa. Kendala bahasa bisa menjadi masalah.

Suatu hari saya berjaga-jaga. Saya mengambil teropong dan melihat banyak orang mendekat dengan senjata. Itu adalah TNI. Saya menelpon pos komando. Letnan menjawab, yang berbicara kepada saya denga dialog Groningen. Saya tidak mengerti sepatah kata pun. Saya berpikir : apakah ini orang Inggris? Ada juga pasukan Inggris. Nomor teleponnya benar. Tapi saya tidak mengerti. Apakah orang itu orang Inggris? Orang Groningen? Saya marah, saya melihat TNI datang. Tapi saya tidak mengerti mereka yang di telepon. [........] Saya meletakkan telepon sambil berkata, “sialan”66.

Orang Maluku melihat tentara Belanda sebagai pendatang baru tanpa pengalaman, membutuhkan perlindungan. Ini sangat sesuai dengan kenangan Belanda yang dikutip di atas. Pemuda-pemuda Belanda yang datang disebut tentara susu, milk army, atau hijau. Salah satu veteran Maluku menyebut label ini dan mengatakan dia dan kawan-kawan Maluku lainnya juga disebut tentara susu, tetapi ia kemudian berkata, “kami orang Maluku”, memberi isyarat untuk berdiam, dan “kemudian tidak mengatakan apa-apa lagi” (Steijlen 2016b). Tentara Maluku, demikian kenang para veteran, sangat perhatian terhadap tentara muda Belanda.

Ada situasi dengan sekelompok orang Belanda dari Groningen. Terkadang mereka berteriak : “Ibu...Ibu..”. Saya berkata, kalian tidak boleh memanggil ibu kalian, kalian harus berperang. Apakah kalian berani atau tidak, kalian harus menembak!. Jika kalian tidak menembak, kalian akan mati. Mereka adalah para pelajar yang harus pergi ke Indonesia akibat wajib militer. Tanpa berpengalaman dengan senjata67.

Sebagai contoh kelemahan atau kerentanan tentara Belanda, 2 veteran menyebut cara tentara Belanda dapat dengan mudah tergoda oleh gadis-gadis Indonesia, yang mungkin pernah menjadi agen musuh :

Para wajib militer Belanda itu belum mengenal orang Jawa. Orang Belanda mencintai gadis-gadis itu. Itu sebabnya mereka mati dengan mudah68.

Tahukan anda mengapa banyak personil KNIL terbunuh? Mereka dirayu dan dipikat oleh wanita cantik. Hal itu akan dimulai dengan “ayo” dan kemudian anda tidak akan melihatnya lagi. Mereka tidak pernah kembali. Tapi [trik] itu tidak berhasil dengan orang Ambon69.

5.     Kesimpulan

Analisis saat ini hampir tidak multi vokal seperti yang kita inginkan, jika hanya karena kita belum bisa memasukan perspektif Indonesia. Selama perang, orang-orang Indonesia yang pro republik jelas-jelas memusuhi rekan-rekan senegaranya yang masih berperang di pihak kolonial. Orang Maluku atau, lebih luas lagi, partisipasi militer orang Indonesia dalam ketentaraan Belanda bukanlah tema utama dalam historiografi Indonesia, yang cenderung meremehkan persaingan internal selama revolusi Indonesia – baik bersifat regional,, etnis, agama, atau politik (McGregor, 2007). Jika ada, kecurigaan tentang aspirasi orang Maluku-Belanda yang tersisa untuk Republik Maluku Selatan, daripada kenangan pengkhianatan orang Maluku selama revolusi, ditampilkan dalam historiografi dan mungkin juga dalam pemikiran kontemporer yang lebih luas di Indonesia. 

Jadi, kesimpulan apa yang bisa kita ambil?. Pertama, kontruksi pasca perang dari semacam loyalitas tradisional Maluku yang terbukti dengan sendirinya terhadap kolonialisme Belanda, dan khususnya kepada karajaan Belanda, sebagian besar hanyalah mitos, yang sudah menjadi tradisi yang diciptakan sebelum Perang Dunia II. Di sisi lain, banyak orang Maluku mulai melihat diri mereka setia kepada rezim kolonial dan bertindak sesuai dengan itu. Justru karena alasan inilah, Jepang menahan tawanan perang Maluku dan tidak melepaskan mereka, atau memperkerjakan mereka dalam pasukan tambahan, tidak seperti tentara KNIL Jawa (Chauvel, 1990: 189).

Setelah kapitulasi Jepang, ketika Belanda mulai membangun kembali KNIL, bekas tawanan perang Maluku dimobilisasi. Pada saat yang sama, tentara baru direkrut di kepulauan Maluku. Jadi, kontingen Maluku di KNIL pasca perang adalah tentara muda (soldadu muda) dan tentara tua (soldadu tua).

Pada saat yang sama ketika Belanda mulai merekrut untuk KNIL, orang Maluku lainnya, terutama di Jawa, bergabung dengan perjuangan Republik dan bergabung dengan laskar (milisi) Maluku di ketentaraan Indonesia. Kebanyakan orang Maluku yang bergabung dengan KNIL antara tahun 1945 dan 1949, melakukannya terutama untuk alasan pragmatis, yaitu untuk memperoleh pekerjaan dan melarikan diri dari kepulauan Maluku. Hanya sedikit yang didorong oleh pengetahuan tentang apa yang terjadi di Jawa, termasuk serangan terhadap orang Maluku yang pro-Belanda. Pada akhirnya, sangat sulit untuk memastikan apakah pendaftaran perekrutan KNIL Maluku ini karena karir yang menjanjikan, terinspirasi oleh kesetiaan etnis tentara kepada Belanda, atau hanya mencari peluang baru setelah 3,5 tahun ditindas oleh Jepang.

Bagaimana dengan citra kekerasan tentara KNIL Maluku? Ada banyak indikasi yang menggarisbawahi gagasan bahwa tentara Maluku yang lebih berpengalaman dan garang secara agresif melindungi warga sipil di pihak Belanda, dan memperkenalkan pemuda wajib militer Belanda pada bahaya kehidupan di Indonesia, dan membantu mereka bertahan dari perang gerilya. Para veteran dan warga sipil Belanda mengomentari hal ini dengan rasa terima kasih dan kekaguman yang bercampur aduk. Dalam komunitas veteran Maluku di Belanda, citra pejuang ini dijunjung tinggi, dan beberapa dari mereka menjelaskan bahwa mereka harus melindungi tentara muda Belanda yang baru, tidak berpengalaman, dan naif itu. Perlindungan ini pasti akan menambah citra prajurit yang pemberani dan setia. Pada saat yang sama, dapat dengan mudah dibayangkan bahwa ini menghasilkan sikap tegas di antara orang-orang Maluku, untuk menunjukan kepada tentara Belanda bahwa mereka adalah pemandu – orang dalam yang sebenarnya tahu tentang budaya, bahasa dan bahaya. Merekalah yang benar-benar “mengetahui” bahaya dan bila perlu menggunakan kekerasan – singkatnya, semua hal yang membuat mereka populer sebagai ahli-ahli lokal di garis depan.

Dalam dekade-dekade sebelumnya, sebagian besar wawancara dengan para veteran Maluku berfokus pada frustrasi di sekitar RMS, pelepasan tidak terduga dari tentara setibanya di Belanda, dan tantangan integrasi di Belanda. Sementara  para veteran Maluku berbicara tentang kekejaman perang di barisan mereka sendiri dan secara informal selama pertemuan masyarakat, mereka tetap diam mengenai masalah sensitif ini di depan umum dan dalam komunikasi publik. Dalam wawancara terakhir kami, subjek tetap “halus” dan karenanya sulit untuk “ditangani”. Mungkin sebagian dari penjelasannya adalah bahwa mereka yang kami wawancarai adalah rekrutmen muda, soldadu muda, yang kurang intensif terlibat dalam situasi pertempuran yang buruk dibandingkan dengan soldadu tua. Generasi terakhir sudah meninggal ketika kami melakukan wawancara terakhir70.

Ini tidak serta merta menghilangkan kemungkinan bahwa orang Maluku terlibat secara tidak proporsional dalam kekerasan yang berlebihan. Seperti yang dikemukakan, bukti yang tersedia memberikan beberapa alasan untuk mendukung gagasan ini, tetapi sekali lagi, bias dalam materi sumber ini terlalu jelas. Sebagian besar kisah kekerasan berlebihan yang dilakukan oleh orang Maluku, diceritakan oleh para veteran Belanda. Mungkin ada motif mementingkan diri sendiri yang berperan dalam menyalahkan orang lain atas kekerasan yang tidak bisa lagi diabaikan, mekanisme umum yang digunakan untuk menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain, yang dalam kasus ini, mungkin lebih dinodai oleh anggapan rasis. Jadi, meskipun kita tidak dapat menerima begitu saja kenangan ini, terlalu mudah untuk mengabaikannya begitu saja sebagai fiksi. Kesimpulan yang serius adalah bahwa pertanyaan itu tetap terbuka, dan tidak jelas apakah pertanyaan itu dapat dijawab sama sekali atas dasar penelitian empiris. 

Namun jelas, wawancara dengan soldadu muda tidak secara langsung mengkonfirmasi peran kekerasan tertentu dari tentara Maluku dalam kekerasan tersebut. Secara tidak langsng, orang-orang yang diwawancarai menggarisbawahi citra tentara yang tak kenal takut dan, lebih jauh lagi, potensi mereka untuk melakukan tindakan kekerasan. Seperti yang dikatakan oleh seorang veteran Maluku yang disebutkan di atas dengan sedikit berani, “jangan main-main dengan orang Maluku!”.

Sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan artikel ini, ada bias yang menghalangi dalam sumber-sumber yang tersedia, yang belum dapat dikoreksi dalam wawancara terakhir kami. Wawancara memang memberikan informasi baru tentang cara tentara Maluku memandang hubungan mereka dengan Belanda,dan bagaimana mereka memandang kontribusi mereka sendiri. Pada akhirnya, penelitian kami tidak menghasilkan bukti kuat untuk menolak atau mendukung sepenuhnya hipotesis bahwa tentara Maluku terlibat secara tidak proporsional dalam kekerasan ekstrim, tetapi penelitian ini jelas melawan mitos bahwa peran mereka dalam kekerasan tersebut harus dijelaskan oleh tradisi berperang yang secara inheren. Meskipun orang Maluku sendiri berkontribusi keabadian mitos “etnis perang”, menjelaskan sikap dan perilaku orang Maluku melalui bingkai Orientalis tetap menjadi jalan buntu.

Semua ini tidak mengurangi fakta bahwa perekrutan orang Maluku di KNIL dan pasukan komando dan penempatan mereka di lapangan, perang kontra-gerilya dan interogasi tahanan Indonesia oleh dinas intelijen menempatkan mereka, seperti tentara KNIL lainnya, pada suatu tempat dimana sebagian besar kekerasan orang Belanda yang kita ketahui dilakukan. Jadi memang, mereka mungkin sering digunakan untuk melakukan pekerjaan kotor untuk atasan Belanda mereka dan rekan-rekan sederajat. Selain itu, tampaknya seiring dengan berlanjutnya perang, loyalitas orang Maluku ini kepada pihak Belanda menjadi semakin renggang, yang menempatkan mereka pada dilema eksistensial yang tidak asing bagi tentara Belanda, yang bisa begitu saja pulang kembali ke “rumah”. Tetapi sekali lagi, kita tidak bisa mengasumsikan hubungan langsung, apalagi hubungan sebab akibat antara kesulitan ini dan timbulnya kekerasan ekstrim.

Gajah dalam ruangan dalam diskusi ini pada dasarnya bukanlah etnis Maluku yang diasumsikan, melainkan rantai komando dan karenanya tanggung jawab Belanda. Politisi Belanda mengizinkan komandan militer untuk melakukan perang sesuai keinginan mereka. Dalam peraturan yang berkelanjutan, yang terakhir mendesak para prajurit di lapangan untuk tetap berpegang teguh pada aturan perang yang “layak” dan untuk melindungi warga sipil sebanyak mungkin (Limpach, 2016: 603-5). Namun, dalam praktiknya, kekerasan yang berlebihan dimaafkan dan oleh karena itu dibiarkan menjadi bahan struktural dari cara perang yang dilakukan. Mengkambinghitamkan satu etnis tertentu, dan kelompok non-metropolitan, kelompok non-kulit putih, untuk bagian yang tidak proporsional dalam kekerasan ini melewatkan poin yang lebih penting dari tanggung jawab utama, dan impunitas71. Dan ini, tentu saja, adalah bias yang hampir semua studi tentang dugaan “keganasaan etnis tentara” berusaha dipertanyakan

 

====== selesai ======

 

Catatan Kaki

35.     The largest and most systematic was the Stichting Mondelinge Geschiedenis Indonesië (smgi, Foundation for the Oral History of Indonesia); this collection is available through the University Library Leiden.The NederlandsVeteraneninstituut interviewed 1,200 veterans, roughly one quarter of whom served in the Netherlands East Indies. These interviews can be accessed through https://www.veteraneninstituut.nl/onderzoek/interviewcollec tie/. Over the years, the Moluks Historisch Museum (Moluccan Historical Museum) interviewed many Moluccans, among them Moluccan veterans: https://www.museum‑maluku .nl/. In the framework of the large research programme ‘Independence, Decolonization, Violence and War in Indonesia, 1945–1949’, several Indonesian and Dutch veterans have been interviewed for the Witnesses and Contemporaries project: https://www.ind45‑5 .org/en/witnesses‑contemporaries. In 2016 and 2017, in an attempt to compensate for the absence of Moluccan voices in Soldaat in Indonesië, Fridus Steijlen interviewed 19 Moluccan former knil soldiers living in the Netherlands; this collection will be archived in the University Library of Leiden University.

36.    smgi interview 1005.1 track 04, dated 2-4-1997.

37.     smgi interview 1381.1 track 09, dated 24-8-1999.

38.     smgi interview 1085.1 track 08, dated 24-6-1997.

39.    smgi interview 1561.1 track 09, dated 28-9-2000.

40.    smgi interview 1178.1 track 05, dated 18-11-1997.

41.      smgi interview 1037.1 track 11, dated 7-5-1997.

42.     smgi interview 1597.1 track 05, dated 7-6-2000.

43.     smgi interview 1608.2 track 10, dated 3-7-2000.

44.     smgi interview 1608.2 track 10, dated 3-7-2000.

45.     smgi interview 1608.2 track 10, dated 3-7-2000.

46.    smgi interview 1394.2 track 08, dated 13-5-1999.

47.     smgi interview 1032.1 track 18, dated 13-5-1997.

48.     Interviews were held in 2016 and 2017. All interviewees were contacted through family members and local key persons in the Moluccan community. The interviews were conducted by Fridus Steijlen. At some occasions, interns or a colleague joined the interview. Because of the small number of elderly people in the Moluccan community in the Netherlands and the possiblesensitivity of the topic, we only use initials in this article and only mention the date of the interview.

49.    Interviews J.H. 1-12-2016 and M.S. 11-7-2016.

50.    Interview N.T. 7-7-2016.

51.      Interview A.F. 14-7-2016.

52.     Interview P.N. 28-7-2016.

53.     Interview N.T. 7-7-2016.

54.     Interview A.F. 14-7-2016.

55.     Interview P.N. 28-7-2016.

56.    Nephew of L.R., interview 15-3-2017.

57.     Interview P.S. 23-7-2016.

58.     Interview J.H. 1-12-2016.

59.    Interview J.H. 1-12-2016.

60.    Interview P.N. 12-4-2017.

61.     Interview P.T. 21-6-2016.

62.    Interview E.M. 27-6-2016.

63.    Interview E.M. 27-6-2016.

64.    Interview E.M. 27-6-2016.

65.    Interview B.F. 30-5-2016.

66.    Interview N.L. 24-6-2016.

67.    Interview P.T. 21-6-2016.

68.    Interview B.F. 30-5-2016.

69.    Interview N.T. 7-7-2016.

70.    Also, the majority of soldadu tua did not migrate to the Netherlands in 1951, as they had already returned to the Moluccan islands or were enlisted in the Indonesian army in 1950.

71.      On the crucial issue of impunity, see Brocades Zaalberg and Luttikhuis 2020.

 

 

References

  • Bergh, Nico van den and Constant van Casteren (2001). Respect en erkenning:Veteranen
    Schaijk-Reek in Nederlands-Indië 1945–1950. N.p.: n.n.
  • Brandt, Willem (1947). Demarcatielijn. The Hague: Van Hoeve.
  • Brocades Zaalberg, Thijs (2015). ‘The civil and military dimensions of Dutch counterinsurgency on Java, 1947–1949’, The British Journal for Military History 1–2:67–83.
  • Brocades Zaalberg, Thijs and Bart Luttikhuis (2020). ‘Extreem geweld in dekolonisatieoorlogen in vergelijkend perspectief’, bmgn 35:34–51.
  • Chauvel, Richard (1990). Nationalists, soldiers and separatists. The Ambonese islands from colonialism to revolt 1880–1950. Leiden: kitlv Press.
  • Dames, G.W.T. (1954). Oom Ambon van het k.n.i.l. The Hague: Humanitas.
  • Frederick,William H.(2012). ‘The killing of Dutch and Eurasians in Indonesia’s national
    revolution (1945–1949): A “brief genocide” reconsidered’, Journal of Genocide Research 14–3/4:359–80.
  • Geijn, Arie van de and Cor van den Heuvel (2006). Nooit vergeten, djangan lupa: Een
    geschiedenis van de jongens uit Puiflijk, Horssen, Druten, Deest en Afferden in Indië en
    op Nieuw Guinea tussen 1945 en 1963. Wijchen: Historische Vereniging Tweestromenland.
  • Giebel, C. (1976). Morotai: De bevrijding van de Grote Oost en Borneo (april 1944-april
    1946). Franeker: Wever.
  • Heshusius, A. (1988). Het knil van tempo doeloe. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw.
  • Kaam, Ben van (1977). Ambon door de eeuwen. Baarn: Anthos.
  • Kahin, George (1970). Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
  • Klumper-Eleveld, Inge (2010). Een zoektocht naar Jan de foerier: Een gewone Steenwijker in de Oost. Steenwijk: Klumper-Eleveld.
  • Kruls, H.J. (1947). Op inspectie. Amsterdam: Elsevier.
  • Kuipers, Gerrit and Jan (2015). Kennemers, watermannen en rijstvogels. N.p.: Brave New Books.
  • Limpach, Rémy (2014). ‘Business as usual: Dutch mass violence in the Indonesian war of independence 1945–49’, in: Bart Luttikhuis andA.DirkMoses(eds), Colonialcounterinsurgency and mass violence: The Dutch Empire in Indonesia, pp. 64–90. London: Routledge.
  • Limpach, Rémy (2016). De brandende kampongs van General Spoor. Amsterdam: Boom.
  • Limpach, Rémy (2021). ‘De krijgsmacht overzee, 1945–1950/1962’, in: Petra Groen et al.,
    Krijgsgeweld en kolonie. Opkomst en ondergang van Nederland als koloniale mogendheid. 1816–2010, pp. 351–78. Amsterdam: Boom
  • Litjens, J.H.G. (2020). Namen in Roermond. Soesterberg: Aspekt.
  • Lorenz, Chris (2014). ‘Can a criminal event in the past disappear in a garbage bin in the present?: Dutch colonial memory and human rights: The case of Rawagedeh’, in: Marek Tamm (ed.), Afterlife of events: Perspectives of mnemohistory, pp. 219–41. Basingstoke: Palgrave Macmillan.
  • Matanasi, Petrik (2007). knil Bom Wakti Tinggalan Belanda. Yogyakarta: Media Pressindo.
  • McGregor, Katherine E. (2007). History in uniform: Military ideology and the construction of Indonesia’s past. Singapore: National University of Singapore Press.
  • McMillan, Richard (2005). The British occupation of Indonesia 1945–1960. Britain, the Netherlands and the Indonesian revolution. London: Routledge.
  • Molegraaf, Johan (2009). ‘Op de thee bij Hatta’, Historische reeks Land van Heusden en Altena 18:67–68.
  • Mooij, Erik (2007) Onze joôs in de tropen 1945–1950. Hoogwoud, Opmeer: Stichting Hoochhoutwout en Stichting Historisch Spanbroek-Opmeer.
  • Moor, J.A. de (1999). Westerling’s oorlog: Indonesië 1945–1950. Amsterdam: Balans.
  • Muller, J. (1995). Doorbraak naar het onvoltooid verleden: Autobiografie van eensergeant van het v.m.Koninklijk Nederlands Indisch Leger tijdens deTweedeWereldoorlog tegen Japan. Leiderdorp: Printshop Ouwehand Beheer.
  • Oostindie, Gert (2011). Postcolonial Netherlands: Sixty-five years of forgetting, commemorating, silencing. Amsterdam: Amsterdam University Press.
  • Oostindie, Gert (in cooperation with Ireen Hoogenboom and Jonathan Verwey) (2015). Soldaat in Indonesië: Getuigenissen van een oorlog aan de verkeerde kant van de geschiedenis. Amsterdam: Prometheus.
  • Oostindie, Gert (2019) ‘Trauma and the Dutch decolonization war in Indonesia, 1945–
    1949’, in: Ron Eyerman and Giuseppe Scortino (eds), The cultural trauma of decolonization. Colonial returnees in the national imagination, pp. 85–110. Basingstoke: Palgrave Macmillan.
  • Oostindie, Gert, Ireen Hoogenboom and Jonathan Verwey (2018). ‘The decolonization war in Indonesia, 1945–1949: War crimes in Dutch veterans’ ego documents’, War in History 25–2:254–76.
  • Penders, Peter (2016). Veldpost Sumatra. Leeuwarden: Uitgeverij Elikser. Put, Paul van der andAlexRoelofs(2001). Dikke zoenvoorMoeke:Brievenvaneensoldaat in Indië 1949–1950. Zutphen: Hameland Pers.
  • Scagliola, Stef (2014). ‘Cleo’s “unfinished business”: Coming to terms with Dutch war crimes in Indonesia’s war of independence’, in: Bart Luttikhuis and A. Dirk Moses (eds), Colonial counterinsurgency and mass violence: The Dutch Empire in Indonesia, pp. 240–60. London: Routledge.
  • Schoeren-Brummans, Lisette (2014). Indië 1947–1948: Een prachtig land in oorlog. Soest:
    Boekscout.nl.
  • Schüssler, Bert (1998). Naar eer en geweten. Diemen: Bookmakers.
  • Smeets, Henk and Fridus Steijlen (2006). In Nederland gebleven. De geschiedenis van de
    Molukkers 1951–2006. Amsterdam: Bert Bakker/mhm.
  • Snijtsheuvel, Karel C. (1958). Onthullingen van achter het bamboegordijn. Breda: Neerlandia.
  • Steijlen, Fridus (1994). ‘Molukse militairen, een nuancering’, Vraagstelling 1–2:65– 75.
  • Steijlen, Fridus (1996a). rms: Van ideaal tot symbool. Moluks nationalisme in Nederland 1951–1994. Amsterdam: Spinhuis.
  • Steijlen, Fridus (1996b). ‘Hostage-taking actions by Moluccans in the Netherlands’, Ethnos-Nation 4–4:97–111.
  • Steijlen, Fridus (2010). ‘Moluccans in the Netherlands: From exile to migrant’, Review of
    Indonesian and Malaysian Affairs 44–1:143–62.
  • Steijlen, Fridus (2015). ‘In and out of uniform. Moluccan soldiers in the Dutch colonial army’, in: Eric Storm and Ali Al Tuma (eds), Colonial soldiers in Europe, 1914–1945. ‘Aliens in uniform’ in wartime societies, pp. 229–40. London: Routledge.
  • Steijlen, Fridus (2016a). ‘Molukkers in Nederland, een sociale geschiedenis van uitersten’, Groniek: Historisch Tijdschrift 208/209:219–36.
  • Steijlen, Fridus (2016b). ‘Glinsterende ogen van 90-plussers’, (Digital) NewsletterMoluccan Historical Museum (September 2016). http://85.158.251.41/wps/portal/muma/ !ut/p/c1/04_SB8K8xLLM9MSSzPy8xBz9CP0os3gTL09fCxNDMwN3Pz8DA0cDEz9j
    0wAvI9NAY6B8JJK8gZuzkYGRsbG3iWWgkZG7pSkB3X4e‑bmp‑gW5EeUApiDVxA!!
    /dl2/d1/L2dJQSEvUUt3QS9ZQnB3LzZfNEpJTTg0MTYwR05OMDBBMDROMzVQSj
    I1OTA!/
  • Streets, Heather (2004). Martial races: The military, race and masculinity in British imperial culture, 1857–1914. Manchester: Manchester University Press.
  • Vaders, Ger (1989). IJsbloemen en witte velden: Ger V. en een spoor van geweld. Baarn: Anthos.
  • Venner, Dominique and Jeanette de Vries-Spoor (1982). Westerling, ‘de eenling’ (translation of Westerling, guerilla story. Paris: Hachette, 1977). Amsterdam: Spoor.
  • Westerling, Raymond (1952). Mijn mémoires. Antwerpen: Vink.
  • Wijk, J.M. van (ed.) (2001). Voor orde en vrede. Barneveld: Gebr. Koster.
Zentgraaff, H.C. (1938). Atjeh. Batavia: De Unie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar