Selasa, 09 Januari 2024

Suatu Pertunjukan Kompeni : [Lukisan] Pulau Ambon (thn 1617) dalam Lanskap Sosial – Politik VOC (bag 2)


Oleh

Stephanie Glickman

[University of Vermont & Northwestern University]

 

Pandangan "Nilai nominal" Ambon

Namun penaklukan VOC atas Ambon pada tahun 1605 hampir tidak dirahasiakan dari publik Belanda. Sebagai akuisisi teritorial utama VOC pertama di luar negeri, berita tentang Ambon menyebar dengan cepat. Sejarah Amsterdam dari Pontanus yang dibahas di atas (1611, 1614) mencakup kisah singkat tentang penaklukan yang dilakukan oleh Laksamana VOC Steven van der Haghen, serta gambar kuasi kartografi dari Ambon (gbr. 8). Citra paling baik dicirikan sebagai gambaran yang sangat skematis tentang pulau itu daripada representasi yang akurat atau objektif. Ini hanya menunjukkan semenanjung pulau yang lebih rendah, yang sebelumnya memiliki akurasi kartografi yang mendukung simetri yang menyenangkan secara estetika.

Koran-koran yang diterbitkan segera setelah penaklukan itu, juga menggabungkan penaklukan Ambon yang fantastis dengan catatan singkat. Dengan judul “gambaran penaklukan pulau dan kastil Amboina yang benar dan berkesan” (1606), cetakan banyak lembar dikeluarkan oleh “pemeriksa buku” VOCa di Amsterdam, Barend Lampe dan G.Kick26. Cetakan profil garis-garis pantai dan pegunungan di [lukisan] View of Ambon, “dihiasi” dengan prasasti kaligrafi dan merayakan penindasan VOC terhadap armada Portugis dan penaklukan benteng Nostra Senhora de Annunciada di Ambon, pangkalan operasi Portugis, yang segera diubah namanya menjadi benteng Victoria. Lampe dan Kick, yang menerbitkan cetakan atas inisiatif pribadi mereka, mendedikasikan cetakan itu untuk Direktur VOC Amsterdam dan juga van der Haghen, laksamana yang tidak hanya memimpin armada kemenangan di Ambon pada Februari 1605, tetapi juga merebut benteng Portugis di dekat Tidore pada Mei 1605. Cetakan dan, mungkin, penghormatan tinggi diberikan kepada van der Haghen dalam prasasti cetakan itu jelas tidak menyenangkan para Direktur VOCb. Meskipun para Direktur Amsterdam membayar Lampe dan Kick 50 Flemish pound (300 gulden) atas inisiatif mereka, mereka [para Direktur] menghentikan produksi cetakan dan menginstruksikan para “pemeriksa buku” untuk tidak lagi mengambil citra perusahaan (kompeni) atas keinginan sendiri27. Penaklukan yang dilakukan van der Haghen, bagaimanapun, adalah fakta sejarah yang harus dihadapi para Direktur nanti, ketika pada tahun 1620 van der Haghen mengajukan protes tentang [lukisan] View of Ambon. 

Ambon adalah sebuah pulau di kepulauan Maluku yang terletak di sebelah timur pulau Sumatera dan Jawa, di Pasifik Selatan. Dinamai Amboina oleh Portugis yang tiba pada dekade kedua abad ke-16 dan mengklaimnya sebagai wilayah mereka pada tahun 1527, Ambon adalah sumber utama untuk cengkeh dan titik “pusat/simpul” atau “penting” pada rute perdagangan Eurasia. Pelaut-pelaut Belanda pertama kali melakukan perdagangan di sana pada tahun 1599, ketika 4 kapal Belanda yang dikomandani oleh Wybrand van Warwijck dan Jacob van Heemskerk mencapai pantai pulau itu dengan selamat28/c. Tak lama kemudian, pada tahun 1601, diterbitkan jurnal perjalanan dari penjelajah Jacob van Neck, yang berpergian dengan armada itu, menghadirkan kepada pembaca Belanda, dengan gambar skematis topografi dan penduduk Ambon29. Gambaran tentang View of Ambon dari jurnal van Neck menawarkan penggambaran pulau yang disederhanakan, dengan beragam penghuninya yang digambarkan dan diberi label di latar depan (gbr 9)30. Dalam teks jurnalnya, van Neck dengan kuat menggambarkan banyak “hal-hal di sana sangat murah”, menulis bahwa di pulau itu “seorang laki-laki mungkin punya 80 jeruk untuk kancingnya”. Terbukti terheran-heran oleh keramahtamahan penduduk Ambon yang ramah, van Neck memuji Ambon dan Hindia Timur secara umum sebagai tempat keberlimpahan yang bersifat paradisial – tempat dimana “begitu banyak kebun buah-buahan” dapat diperoleh dengan harga yang sangat murah dari “one Tinne Spoone”31.

Laksamana VOC, Steven van der Haghen, dengan cara yang sama diterima oleh penduduk Ambon dalam 2 kali kesempatanc. Pada tahun 1600 dan 1605, para penguasa setempat memberi sambutan hangat dan murah hati kepada van der haghen dan berjanji untuk memberikan kontrak monopoli cengkih kepada pedagang Belanda32/d. Upaya-upaya pedagang Portugis untuk memaksa perdagangan cengkeh antar pulau ke tangan mereka telah melemahkan hubungan mereka dengan populasi di situ, yang saat ini melihat upaya misionaris Portugis dalam hal konversi ke agama Katolik dengan jijik. Metode operasi van der haghen memberi kesan positif kepada penduduk Ambon. Ia beroperasi dengan negosiasi dan konrak, alih-alih dengan pemaksaan, jika memungkinkan. Ketika armada van der Haghen tiba pada tahun 1605, para penguasa setempat mengenali para pelaut dan serdadu Belanda sebagai sesama musuh Portugis, dan menawarkan dukungan untuk serangan Belanda terhadap benteng Portugis di pulau itu33. Waktu terbukti matang untuk pendirian pangkalan permanen VOC dari operasi-operasi VOC, dan armada van der Haghen berhasil mengusir Portugis dari wilayah mereka pada tahun yang sama. Para Direktur VOC kemudian menunjuk Frederick de Houtman, bukan van der Haghen, sebagai Gubernur pertama kompeni di Ambon (1605 – 1611).

Dikarenakan arsip-arsip kartografi VOC dijaga dengan baik, baru pada saat penciptaan [lukisan] View of Ambon, sebuah citra semipublik berskala besar secara akurat menggambarkan kontur-kontur pantai pulau itu. Kartografi view of ambon dan kontur konseptual mencerminkan pengamatan, perhitungan, dan keahlian dari 2 afiliasi VOC. Yang pertama adalah de Houtman, bekas Gubernur Ambon dan tokoh utama dalam pembuatan peta laut dan bintang di belahan bumi selatan untuk apa yang disebut voorcompagnieën (sebelum kompeni) dan VOC. Yang kedua, David de Meyne (1569 – sebelum 1620), adalah pengukir dan  pembuat peta yang dikaitkan dengan lukisan itu34. Setelah kembalinya de Houtman ke Belanda, Direktur VOC Amsterdam pada tahun 1617 menugaskannya dengan tugas menyediakan “peta yang terampil” (eene bequame karte) tentang Ambon, “dengan skala yang sempurna dan memiliki orientasi kompas”35. Sebagai komisi yang paling awal mencatat untuk dekorasi Aula Utama Gedung VOC, lukisan View of Ambon memberikan kesaksian tentang cara akurasi kartografi dan tampaknya obyektivitas tidak hanya melayani tujuan praktis dan taktis VOC, tetapi juga retorika visual promosi diri.

[Lukisan] View of Ambon menunjukkan pulau seolah-olah dilihat dari atas. Mata orang yang melihat dengan mudah melewati apa yang tadinya, pada kenyataannya, medan yang cukup bergunung36. Pengamatan yang cermat mengungkapkan bahwa desa-desa di pulau itu diberi label dengan rapi untuk identifikasi, hingga penguasa lokal dan pusat-pusat kekuasaan di pulau itu, dalam cara, yang diwakili di peta. Desa Hyto (juga Hitoe, Hietto, atau Hiettoelamma) di sebelah kiri atas memiliki sejumlah bangunan besar yang menandakan kepentingannya dalam lanskap politik lokal. Tiga puluh (30) desa Ambon lainnya mengakui otoritas Hyto di sekitar waktu penciptaan lukisan itu37. Lebih besar dari kehidupan dan di dekat pusat komposisi berdiri benteng Victoria, dikelilingi oleh jalan-jalan, bangunan, dan rerumpunan yang tertata rapi di ujung panjang sumbu perspektif. Metode kartografi dan perspektif piktorial berlapis tidak ada satu pun, sudut pandang subjektif dan dengan demikian menyajikan pandangan yang tampaknya obyektif dari pulau itu. Prasasti tekstual dan orientasi yang tumpang tindih bekerja melawan persepsi orang yang melihat tentang resesi spasial, meningkatkan karakter 2 dimensi dan dokumenter lukisan itu. Lukisan memunculkan kesan informasi yang dikumpulkan, disusun, dan diletakkan di atas permukaan. Kumpulan kartografi dan informasi komersial pada akhirnya mencerminkan dan mewakili titik pandang yang mencakup semua badan otoritas perusahaan VOC yang kuat.

Tatanan bergambar dan objektivitas yang tampak dari View of Ambon tentu meyakinkan pemirsa abad ke-17 bahwa pulau itu dikelola dalam tata administrasi yang baik oleh VOC dan, khususnya, oleh Gubernur Belanda pertama di pulau itu, yaitu de Houtman. Yang mencolok dalam lukisan itu adalah ruang yang dikhususkan untuk potret de Houtman, dibingkai oleh cartouchef rumit yang mengklaim lebih banyak ruang gambar dari penggambaran benteng Victoria. Diapit oleh [gambar] lumba-lumba dan trompet dan “dimahkotai” oleh dewa laut, yaitu Neptunus, de Houtman menunjuk dengan tongkatnya ke kompleks benteng Ambon. Tongkatnya sejajar dengan sumbu perspektif kompleks dan dengan demikian meluruskan urutan lukisan dengan rasa kapasitas/kemampuan de Houtman untuk tatanan administrasi.

Dengan dimasukannya [potret] de Houtman, View of Ambon tidak hanya menggabungkan orientasi kartografi dan perspektif tetapi juga menggabungkan 2 mode gambar yang sudah lam dihargai karena menyediakan persamaan yang benar dan setia dari subjek mereka : pembuatan peta dan potret. Memang lukisan itu diberi judul dalam bahasa Belanda, Gezicht op Ambon, menggemakan penggabungan mode ini, seperti istilah Belanda gezicht yang menandakan “pandangan” atau “pemandangan” serta “wajah” atau “tampilan”. Tautan antara pembuatan peta dan pembuatan gambar yang berasal dari zaman kuno – setidaknya sedini geografi Ptolemy (sekitar tahun 150 M). Yang penting, itu diperlukan tidak hanya pendidikan tentang sejarah kartografi tetapi dalam pendidikan tentang budaya visual Belanda modern awal dan, khususnya, dalam studi Stevlana Alpers tentang seni Belanda, The art of describing (1983)38

Seperti yang ditulis Alpers, dalam bukunya Ptolemy, Geography, bertujuan untuk mengartikulasikan dan “membedakan antara pengukuran atau perhatian matematis geografi (berkaitan dengan [mewakili] keseluruhan dunia) dan yang deskriptif dari korografi (berkaitan dengan [mewakili] tempat-tempat tertentu” melalui analogi dengan pembuatan peta. Analogi Ptolemy, bahwa “geografi berkaitan dengan deskripsi seluruh kepala, chrografi dengan ciri-ciri inividual seperti mata atau telinga” membangkitkan potret, dan pelatihan dan ketrampilan para praktisi geografi dan chorografi sesuai dengan ahli matematika dan sang seniman masing-masing39. Ahli humanis dan ahli matematika renaissance, Petrus Apianus memberikan ekspresi bergambar untuk hubungan yang analog ini dalam Cosmographia-nya (edisi pertama tahun 1524), dimana ilustrasi geografi dicapai dengan memasangkan gambar-gambar dari peta dunia dan kepala di profile, dan ilustrasi kereografi gambar kota, telinga, dan mata (gbr 10).

Bagi Alpers, analogi Ptolemy menawarkan silsilah antik untuk argumen ambisiunya (ambisi Alpers) menyangkut sifat deskriptif keseluruhan seni Belanda abad ke-17. Dia (Alpers) berpendapat bahwa gambar dan mode pembuatan gambar Belanda mengaburkan perbedaan antara mengukur, merekam, menulis, dan membayangkan dengan cara yang sesuai dengan pemahaman modern awal tentang hubungan tersebut antara melihat dan mengetahui40. Klinkert, seorang sarjana tentang cetakan peta-berita Belanda abad ke-16 dan ke-17 yang sering menggabungkan kartografi dan potret, membahas barang antik tradisi chrografi juga, mencatat bahwa “chrografi Ptolemaic menyiratkan obyektivitas dan presisi”41. Yang patut ditekankan di sini adalah fakta bahwa geografi dan chrografi Ptolemy adalah tidak ditawarkan sebagai analog dengan pembuatan gambar pada umumnya melainkan dengan genre artistik tertentu potret, sebuah genre yang dihargai karena kemampuannya untuk melestarikan persamaan yang benar dan faktual dari subjeknya setidaknya sejak Natural History-nya Pliny (sekitar tahun 79 M). Rincian ini tidak disebutkan dalam kajian Alpers dan Klinkert. Untuk esai ini, hubungan tersebut menggarisbawahi gagasan dan mungkin pemahaman awal pemirsa modern tentang View of Ambon sebagai gezicht (tampilan, wajah) : kemiripan yang benar dan akurat dimaksudkan untuk diambil pada nilai nominal.

Dalam cetakan-cetakan sebelum View of Ambon, penggabungan kartografi dan potret seringkali mempromosikan kesamaan yang dapat diandalkan dari suatu kelompok atau identitas perusahaan. Cetakan tersebut juga dapat berfungsi untuk memperingati kontribusi individu tunggal untuk tujuan perusahaan tertentu. Pengukir dan pembuat peta, David de Meyne, yang dikreditkan sebagai “asisten” pelukis View of Ambon, pasti memahami potensi bentuk gambar hibrida ini, karena karya-karyanya yang dicetak sebelumnya menggabungkan peta, pemandangan, dan potret. Pada tahun 1610, misalnya, de Meyne menerbitkan Universi Orbis Tabula De-Integro Delineata, sebuah peta dunia besar yang dihiasi dengan potret inset dari pengelana keliling dunia (gbr 11). Dalam komposisi de Meyne, navigator keliling Belanda pertama, Olivier van Noort (navigasi keliling tahun 1598 – 1601) digabungkan dengan para pendahulunya, Ferdinand Magellan, Francis Drake, dan Thomas Cavendish. 4 wajah pria, yang dibingkai dan disatukan oleh sebuah cartouche rumit dan tulisan pujian, sebagian besar adalah ruang Samudera Pasifik luas yang mereka lintasi dengan terkenal. Van Noort, Magellan, Drake, dan Cavendish dengan demikian ditorehkan ke dalam pandangan dunia baru, lebih akurat, dan lebih komphrensif yang membantu terciptanya pelayaran komersial dan eksplorasi mereka. 

Format de Meyne menggemakan bahwa dari peta dunia yang mungkin lebih dikenal pada proyeksi Mercator yang dikeluarkan oleh Jodocus Hondius the Elder (1563-1612), Nova et exacta totius orbis terrarum descriptio geografisica et hydrographica (1608) (gbr 12). Di sini, potret dari 4 navigator digabung oleh Ptolemy dan diatur secara kronologis dalam cartouche terkait, dengan prasasti tanggal perjalanan mereka. Peta inset miniatur menunjukkan rute dan perubahannya dibuat untuk “gambar dunia” sebagai hasilnya. Menghuni ruang peta yang diberikan ke Antartika yang sebagian besar tidak diketahui dan tidak dipetakan, potret-potret itu bisa jadi berfungsi untuk meningkatkan kesenjangan informasi dan secara estetika menyeimbangkan komposisi-nya Hondius42. Namun, potret semacam itu, memberikan lebih dari sekedar lebih penuh atau hiasan. Penambahan potret yang konsisten ke peta cetak Belanda pada abad ke-17 akan mengangkat pelaut Belanda yang termashyur ke status heroik dan legendaris dalam sejarah negara berkembang43.

Kira-kira sejajar dengan peta dunia oleh de Meyne dan Hondius, cetakan koran berita besar-nya Claes Jansz Visscher, The Battle of Gibraltar (1607), juga menggabungkan potret, peta, dan banyak pemandangan untuk memperingati kepahlawanan maritim (gbr 13). Dalam hal ini, tokoh yang dihormati adalah laksamana Jacob van Heemskerk. Van Heemskerk dipekerjakan pada tahun 1599 oleh para pedagang Belanda dan termasuk di antara pelaut Belanda pertama yang menginjakan kaki di pantai Ambon. Pada tahun 1607, ia memerintahkan armada Belanda yang mengejutkan kapal-kapal Spanyol di teluk Gibraltar dan akhirnya menghancurkan armada Spanyol. Koran berita tentang Visscher menyajikan banyak informasi visual yang dipesan dan diorganisir oleh peralatan pembingkaian, penyatuan beragam bagian dari narasi pertempuran ke dalam seluruh kohesif. Logika gambar dari masing-masing komponen koran berita tampaknya bergema dan menjunjung tinggi ketegasan dari kemenangan militer Belanda. 

Penghormatan kepada van Heemskerk, yang kemenangannya dalam pertempuran Gibraltar menghabiskan kehidupan dirinya, cetakan Visscher tahun 1607 meliputi potret laksamana yang ditempatkan secara terpusat. Ini penghormatan terhadap kontribusi unik van Heemskerk untuk tujuan perusahaan dan dengan demikian beresonansi dengan komposisi View of Ambon,yang dipasang di Aula Utama Gedung VOC, 10 tahun kemudian. Lukisan View of Ambon, menggabungkan pandangan kartografi dan perspektif dari situs yang diperebutkan dengan potret figur yang tampaknya sangat penting dalam administrasi wilayah, jaminan pertimbangan bersama prekursor yang dicetak ini. Karakter kompositnya menyampaikan geografis jangkauan entitas perusahaan, sementara juga menyaring perbuatan banyak orang menjadi satu tubuh. Dalam kasus View of Ambon, pandangan perusahaan dimajukan melalui dimasukannya 1 wajah – yaitu wajah Gubernur Belanda pertama di Ambon, yaitu de Houtman

===== bersambung ====

 

Catatan Kaki

  1. Kutipan terjemahan diambil dari Zandvliet, Mapping for Money, hal 69, 71
  2. Zandvliet, Mapping for Money, hal 69, 71
  3. Femme S. Gaastra, Te Dutch East India Company: Expansion and Decline (Zutphen: Walburg Pers, 2003), 39.
  4. Perjalanan ini disponsori oleh badan yang disebut voorcompagnieeën (sebelum kompeni) sebelum pendirian VOC tahun 1602. Jacob van Neck, Het tweede boeck, iournael of dagh-register: Inhoudende een warachtich verhael ende historische vertellinghe vande reyse, gedaen door de acht schepen van Amstelredamme, gheseylt inden maent martij 1598 (Amsterdam: Barent Langenes, 1601).
  5. Ukiran pulau Ambon dan penduduknya tahun 1601 (gbr 9) diterbitkan dalam Jacob van Neck, Het tweede boeck, iournal of dagh-register (catatan kaki nomor 29 di atas) yang diterbitkan ulang di beberapa publikasi/terbitan, termasuk Pontanus’s Rerum et Urbis Amstelodamensium Historia (edisi Latin tahun 1611; terjemahan Belanda tahun 1614) dan akhirnya Isaac Commelin’s Begin ende voortgangh van de Vereenighde Nederlantsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (Amsterdam: Jan Janssonius, 1645/46).
  6. Kutipan berasal dari edisi terjemahan bahasa Inggris buku Jacob van Neck’s Het tweede boeck, iournael of dagh-register (note 29), titled The iournall, or dayly register, contayning a true manifestation, and historicall declaration of the voyage, accomplished by eight shippes of Amsterdam . . . (London: [Simon Staord and Felix Kingston] for Cuthbert Burby & John Flasket, 1601), 25r, 26v. San Marino, Calif., Te Huntington Library, inv. 18660.
  7. Gaastra, The Dutch East India Company, 46.
  8. Harold J. Cook, Matters of Exchange: Commerce, Medicine, and Science in the Dutch Golden Age (New Haven and London: Yale University Press, 2007), 63, 183–84, https://doi.org/10.12987/ yale/9780300117967.001.0001.
  9. Penyematan kepada de Meyne didukung oleh Kees Zandvliet dan Günter Schilder, seperti yang dicatat dalam Zandvliet, Mapping for Money, 241, 296n80.
  10. Bagian terjemahan ini berasal dari Zandvliet, Mapping for Money, 241. Untuk komisi, lihat ARA VOC 228, Resolutions, February 16, 1617, seperti yang dicatat dalam Zandvliet, Map-ping for Money, 241, 296n79. Teks asli dari komisi terbaca :  “d’Eijland, fort, ende dorpen in eene bequame karte te doen stellen, met perfecte aenteikeninge van compass ende mate” (pulau, benteng, dan desa-desa [akan] terwakili dalam peta sempurna, dengan standar kompas dan skala yang sempurna). Ini adalah terjemahan saya sendiri [penulis]
  11. Marie-Odette Scalliet, “Twee eeuwen Vereenigde Oost-Indische Compagnie,” in Indië omlijst: Vier eeuwen schilderkunst in Nederlands-Indië, eds. Koos van Brakel, et al. (Amsterdam: Koninklijk Instituut voor de Tropen, 1998), 21.
  12. Zandvliet, The Dutch Encounter with Asia, 180. Tentang otoritas Hyto, Zandvliet mengutip laporan Gubernur Ambon, Herman van Speult, tahun 1623.
  13. See Svetlana Alpers, “Chapter Four, The Mapping Impulse in Dutch Art,” in Te Art of Describing: Dutch Art in the Seventeenth Century (Chicago: University of Chicago Press, 1983), esp. 133–39.
  14. Alpers, Art of Describing, 133–34.
  15. Alpers, Art of Describing, 135.
  16. Klinkert, Nassau in het Nieuws, 43, 45, 322.
  17. Dirk de Vries, “‘Chartmaking is the Power and Glory of the Country’: Dutch Marine Cartography in the Seventeenth Century,” in Mirror of Empire: Dutch Marine Art of the Seventeenth Century, ed. George S. Keyes (New York: Cambridge University Press, 1990), 72.
  18. Esai penting mengenai subjek ini dan tentang meningkatnya “pemujaan” terhadap pahlawan maritim Belanda di awal abad ke-17, adalah Cynthia Lawrence, “Hendrick de Keyser’s Heemskerk Monument: The Origins of the Cult and Iconography of Dutch Naval Heroes,” Simiolus 21, no. 4 (January 1992): 265–95, https://doi.org/10.2307/3780789.

 

 

Catatan Tambahan

a.        “pemegang buku” atau “pemeriksa buku” adalah terjemahan bahasa Belanda dari kata boekhouder, yaitu suatu jabatan di masa VOC atau pada struktur VOC semacam kepala tata administrasi atau orang yang mengepalai masalah pembukuan di VOC atau kompeni.

b.       Salah satu Direktur VOC yang kritis terhadap Van der Haghen adalah Reinier de Pauw, seorang burgermeester beragama Kristen Calvinis, yang menganggap van der Haghen terlalu toleran, dan menurut beberapa orang, van der Haghen memiliki simpati kepada agama Katholik

§  Zandvliet, Kees. Mapping for Money: Maps, Plans and Topographic Paintings and Their Role in Dutch Overseas Expansion during the 16th and 17th Centuries. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1998, halaman 69

c.        Mereka tiba di pantai Hitu pada tanggal 3 Maret 1599

§  De Jonge, J.K.J.De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-indie (1595-1610), tweede deel, S’Gravenhage, Martinus Nijhoff, Amsterdam, Frederik Muller, 1864,hal 203

§  Journaal gehouden door den vice-admiraal Jacob van Heemskeerk 1598 – 1600, (dimuat dalam De Jonge, J.K.J.De Opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-indie (1595-1610), tweede deel, S’Gravenhage, Martinus Nijhoff, Amsterdam, Frederik Muller, 1864,Hal 419)

d.       Armada Steven van der Haghen tiba pertama kali di pantai Hitu pada Mei 1600

§  Hubert Jacobs, SJ, Documenta Malucensia, Vol 2 (1577-1606 ), Jesuit Historical Institute, Roma, 1980, chapter V (Documents), hal 693 - 699

§  Valentyn, Francois Oud en Nieuw Oost-Indie, deel 1, hal 178-179

§  Tiele, P.A. Documenten voor de geschiedenis der Nederlanders in het Oosten (dimuat pada Bijdragen en mededeelingen, deel 6, 1883,  hal 163 – 166

  1. Kontrak pertama terjadi pada September 1600, sedangkan kontrak ke-2, 3 , dan ke -4 pada tahun 1605

§  J.E. Heeres, Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum, volume 1 (1596 – 1650), s,Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1907, hal 12 – 13, 31-36

f.   Cartouche adalah tablet berukir atau gambar yang melambangkan gulungan dengan ujung yang digulung, digunakan sebagai hiasan atau bertuliskan prasasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar