Selasa, 23 Juni 2020

Perdagangan dan Masyarakat Di Kepulauan Banda pada abad ke-16 (bag 2 - selesai)


Oleh Jhon Villiers



VI


                Menurut Suma Oriental, pulau Banda sendiri memproduksi sebagian besar bunga pala, dan memiliki 4 pelabuhan, yang disebut yaitu Calamon, Olutatam, Bomtar (Lontor) dan Comber. Neira juga penting karena sering dikunjungi oleh para pedagang Jawa. Pulau-pulau lain tidak memiliki pelabuhan, jadi membawa produk mereka ke Lontor, yang merupakan tempat berlabuh yang baik dan aman68. Desa-desa tersebar di sepanjang teluk Banda berbentuk sabit, dan di sana juga didapati pohon pala69.
Pires memperkirakan bahwa panen tahunan sekitar 6 atau 7 ribu bahar pala dan antara 500 hingga 600 bahar bunga pala. Perkiraan ini dikonfirmasi oleh sebagian besar sumber Spanyol dan Portugis kontemporer70. Namun, hasil panen ini mungkin lebih kurang dari ini. Antonio de Britoa menulis pada bulan Februari 1525, bahwa di Banda dan Maluku, lebih dari 4000 bahar cengkih, pala dan bunga pala dipanen setiap tahun, dan pada tahun 1524, jelas merupakan tahun yang luar biasa, di Maluku saja ada 5000 bahar cengkih yang dipanen71. Descricao Sumaria das Molucas e de Banda tahun 1529, memberitahu kita bahwa total panen di kepulauan Banda hanya sekitar 1560 bahar setahun, dimana Leitatam (Olutatam, Ortata), tempat Portugis menetapkan hak untuk berdagang dengan mendirikan pilar peringatan atau padrao, hanya menghasilkan 60 bahar, dibandingkan dengan 400 dari Lontor, 200 dari Ai, 150 dari Neira, 100 dari Run, dan sejumlah kecil dari tempat lain72

Pala (sumber gambar Amboyna.org)
Bunga pala selalu merupakan bumbu yang lebih mahal daripada cengkih, dan jauh lebih banyak daripada pala. Di Inggris pada tahun 1350an, 2 aratel lama (28 ons) dianggap sama nilainya dengan seekor sapi. Pada awal abad ke-16, 1 bahar bunga pala telah mencapai nilai antara 7 hingga 10 kali lipat dari 1 bahar pala, dan orang Banda berusaha untuk melawan nilai penurunan relatif pala ini, dengan cara menegaskan bahwa bunga pala hanya bisa dijual, jika berharga 7 kali lipat dari 1 bahar jumlah pala yang dijual pada saat yang sama. Barbosa melaporkan bahwa mereka bahkan bertindak lebih jauh dengan membakar pala untuk menjaga keseimbangan ini, dan bahwa pala “ hanya akan ada jika diminta”73. Nilai cengkih sehubungan dengan pala juga turun pada periode ini, dan pada tahun 1603, 7 bahar bunga pala harganya sama dengan 10 bahar cengkih. Pires memberikan harga 1 bahar bunga pala dan 7 bahar pala antara 3 hingga 4 cruzado sesuai dengan kualitas barang yang ditukar. Peter Mundy memberikan daftar harga komparatif dari berbagai rempah-rempah dan barang berharga di Patna pada tahun 1632. Pala dibeli dengan harga 4 rupee per sere, cengkih 5 ½ rupee dan bunga pala 16 rupee74.
Urdaneta, dalam laporan yang ditulisnya di tahun 1537 di Valladolid untuk Kaisar Charles V, memberikan angka untuk panen rempah-rempah di Maluku dan kepulauan Banda. Dia menceritakan bagaimana selama 7 tahun dia berada di kepulaun itu (1527 – 1535), nilai 1 bahar cengkih meningkat dari 2 menjadi 10 dukat (dukat, koin italia, umumnya digunakan oleh penulis Eropa untuk merujuk pada Cruzado Portugis). Kenaikan ini dikaitkan dengan jumlah pedagang Portugis yang berdagang di sana. Dia menunjukan bahwa, meskipun hanya 500 kuintal cengkih, 100 kuintal bunga pala dan 200 kuintal pala dikirim setiap tahun ke Portugis, di Ormuz antara 6 hingga 10 ribu kuintal cengkih, lebih dari 6000 kuintal pala dan 800 kuintal bunga pala, dijual setiap tahun ke pedagang Moor (Islam), yang berdagang rempah-rempah ini di Persia, Arab dan seluruh Asia sejauh sampai ke Turki. Dia mengatakan bahwa dalam sebagian besar tahun, orang-orang Banda mengumpulkan 7500 kuintal pala dan 1000 kuintal bunga pala, dan dia memperkirakan setidaknya 800 kuintal bunga pala dan hingga 6000 kuintal pala dapat diperoleh oleh Spanyol di kepulauan Banda, bahkan dalam persaingan dengan Portugis dan para pedagang Asia. Dia mengemukakan bahwa Spanyol mungkin membuat perjanjian dengan Raja Demak, yang memusuhi Portugis, untuk pasokan lada, dan bahwa perjanjian semacama itu mungkin termasuk dengan orang-orang Banda dan Ambon “ yang memiliki banyak junk dan membawa lada ke Maluco”75.
                Dari sumber-sumber Portugis abad ke-16, kita dapat memperoleh beberapa gagasan tentang nilai relatif barang yang ditukar dengan rempah-rempah dalam pola perdagangan yang rumit ini dengan cara dibarter. Pada tahun 1532, misalnya, 1 bahar cengkih dianggap setara nilainya dengan 1 pakaian Chaul, 3 sinafobas (kain katun dari Benggala), atau 25 potong porselin merah besar76, sementara, seperti yang telah kita ketahui, sebuah gong Jawa bernilai 20 bahar bunga pala. Pada tahun sebelumnya, Antonio de Brito menyepakati perjanjian dengan orang kaya Jawa dimana 1 bahar bunga pala harus diperhitungkan sama nilainya dengan 28 “bertangis communs” (kain katun dari Cambay), dan 1 bahar pala untuk 4 bertangis, yang pada gilirannya dianggap bernilai 1 cruzado77.



VII


                Seperti di Maluku, kepulauan Banda hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk semua kebutuhan hidup, karena, terlepas dari rempah-rempah, pohon kelapa dan buah-buahan, mereka hampir tidak memiliki tanaman pertanian dan harus mengimpor sagu dari kepulauan Aru dan Kei dan dari Seram, Sula dan Banggai untuk penukaran kain, yang mereka peroleh saat membeli rempah dari para pedagang Jawa dan Malaka, dan beras yang dibawa langsung oleh orang Jawa dan Malaka dari Jawa dan Bima yang ditukar dengan rempah-rempah. Suma Oriental mencatat bahwa sagu berperan sangat penting dalam perekonomian kepulauan Banda, sehingga sering digunakan sebagai mata uang untuk pembayaran. Ini diekstraksi dari empulur pohon sagu dan dikirim dalam bentuk roti kecil, berbentuk batu bata dan dipanggang sangat keras. Dalam bentuk ini, dianggap bisa bertahan selama 20 tahun78. Forrest yang menulis di tahun 1770an, mengatakan bahwa barang itu dikenal secara lokal sebagai roti Papua (Papuan bread)79. Baik di Maluku dan kepulauan Banda, karena permintaan untuk rempah-rempah meningkat dan harga yang mereka ambil naik, jumlah tanah yang dikhususkan untuk tumbuhnya pohon yang mengandung rempah-rempah diperluas, dengan berakibat berkurangnya penanaman padi, sagu, dan tanaman lainnya, dan ketergantungan yang lebih besar pada impor bahan makanan semakin penting.
                Dari kepulauan Aru dan Kei, emas juga datang ke Banda, “meskipun tidak banyak”80. Rebello menggambarkan sebuah pulau yang jauhnya 30 ligab atau kurang di sebelah timur Banda (Onin, di daratan Papua, dekat Fak-fak?), yang dihuni oleh orang-orang pagan yang hanya 4 jengkal tingginya, dimana terdapat banyak emas yang orang Banda anggap sebagai “harta yang bagus”81. Selain emas, pulau-pulau di sebelah timur Banda itu menghasilkan burung beo (dikenal oleh Portugis sebagai noires, nures atau mires, dalam bahasa Melayu dikenal sebagai Nuri) dan burung cendrawasih, yang seperti sagu, dibarter dengan pakaian dan akhirnya dijual melalui perantara pedagang Bengali ke Turki dan Persia, yang menggunakannya sebagai bulu untuk hiasan kepala mereka.
Ada banyak deskripsi abad ke-16 dan ke-17 tentang burung nirwana (burung cendrawasih), aureas aves of Camoes. Conquista espiritua dari Frei Paulo da Trinidade mungkin berisikan (deskipsi) yang paling fantastis. “ Di pulau-pulau ini,” tulisnya, “ ada juga beberapa burung yang sangat indah, yang oleh penduduk lokal disebut burung cendrawasih [passaros de Deus], dan dengan alasan yang bagus juga sangat cantik dan dengan bulu-bulu emas, mereka tidak pernah turun ke tanah kecuali setelah mati. Mereka tidak memiliki kaki tetapi semacam urat yang keluar dari paruhnya, 2 jengkal (palmos) panjangnya, yang dengan beberapa putaran mereka memperbaiki cabang-cabang pohon dan menggantung di sana untuk beristirahat atau tidur. Mereka memakan embun dan hanya 1 rentang panjangnya. Mereka sangat berwarna dengan keindahan yang fantastis. Seluruh burung dapat digunakan untuk bulu-bulu”82.  Historia da Ilhas de Maluco mengatakan bahwa burung-burung cendrawasih yang mati diterbangkan angin ke Banda, mereka tidak mengetahui tentang tanah atau kelahirannya (nao sabem a terra nem o nascimento) dan bulu-bulunya lebih dihargai di Portugal sendiri maupun India83. Orang Portugis percaya, bahwa burung-burung yang mati di kepulauan Banda, sering menyebut mereka sebagai passaros de Banda. 

Sumber gambar : Buku Alfred Russel Wallace
Buku burung cendrawasih, tentu saja, digunakan untuk perhiasan pribadi oleh penduduk kepulauan itu. Rebello memberikan laporan tentang pesta di Maluku, dimana, saat para tamu makan, beberapa orang berpakaian seperti untuk berperang, dengan pedang dan ikat pinggang, serta topi dari nuansa merah (topi berbulu dari Levant?) yang dihiasi dengan bulu-bulu passaros de Banda, mulai melompat dan menari, menggerakan kaki mereka, kepala, mulut dan mata mereka, serta mengayunkan pedang mereka seperti pernyataan perang, mengikuti bunyi dari genderang dan gong Jawa (sinos de Jaoa)84. Maximilianus Transylvanus, yang menulis pada tahun 1522, menceritakan kisah tentang bagaimana orang-orang Islam pertama yang datang ke kepulauan rempah-rempah untuk berdagang, menyatakan bahwa burung-burung ini (burung kecil yang sangat indah yang tidak pernah berdiam di bumi) berasal dari surga, dan bahwa ketika para penguasa pulau-pulau itu mengadopsi Islam, begitu besar penghormatan mereka terhadap burung-burung, yang mereka sebut sebagai mamuco diata85, sehingga mereka percaya aman dibawah perlindungan burung itu ketika mereka pergi, atau menurut kebiasan, untuk bertarung di garis depan peperangan86.
Keyakinan bahwa burung cendrawasih tidak pernah menyentuh tanah dan tidak memiliki kaki, muncul dari metode yang diadopsi oleh penduduk pulau itu dalam hal proses pengeringan dan perawatan burung-burung itu. Burung itu ditangkap dengan cara ditembak dengan panah tumpul, untuk menghindari kerusakan atau noda pada bulu-bulu mereka dengan darah, atau dengan cara menjerat. Sayap dan kaki dipotong, lalu tubuh dikuliti hingga paruh dan tengkoraknya dibuang. Semuanya kemudian dibungkus dengan daun palem dan dikeringkan di gubuk yang dipenuhi asap. Tidak ada spesimen sempurna yang terlihat di Eropa dan hampir tidak diketahui tentang burung itu sampai akhir abad ke-18. Bahkan Linnaeus, yang mengklasifikasi beberapa spesies pada tahun 1760, menyebut yang terbesar diantaranya adalah Paradisea apoda – burung nirwana tidak berkaki. Pedagang lokal mungkin tidak pernah melihat burung-burung ini dalam keadaan hidup, dan jika mereka melakukannya, jarang akan melihat ada yang diam, karena sebagian besar spesies burung, ditandai oleh gerakan mereka yang hampir tanpa henti. Keyakinan bahwa burung-burung ini dilahirkan secara ajaib di udara, diperkuat oleh ketidaktahuan total tentang kebiasaan bersarang dan telur mereka, yang belum pernah dilihat87.
Besar kemungkinan bahwa sudah pada awal abad ke-16, orang-orang dari pulau Gorong/Gorom dan Seram Laut di sebelah tenggara pulau Seram, berperan dalam perdagangan ini, seperti yang terus mereka lakukan hingga abad berikutnya. Selain pergi ke Ternate, Tidore, dan kepulauan Banda, mereka juga mengunjungi gugusan kepulauan Kei dan Aru, Waigeo, Misool dan pesisir barat laut Papua, dan di sana mereka membeli teripang, kulit massoi, pala liar, dan kulit penyu untuk dijual ke pedagang keliling asal Bugis. Perahu-perahu mereka dibuat oleh penduduk kepulauan Kei, yang perahunya dianggap di seluruh bagian timur Nusantara dalam hal keunggulan dan keindahan hasil pembuatannya88.

Sumber lukisan artikel Manuel Lobato

VIII


Survei pertama bangsa Portugis tentang kepulauan rempah-rempah dilakukan segera setelah penaklukan Malaka pada tahun 1511. Pada tahun yang sama, sebuah ekspedisi dikirim dibawah komando Antonio de Abreu untuk menempatkan/meletakan “ Hindia yang sebenarnya dengan jelas – jika itu belum secara teratur- di peta dunia89. Abreu diberi instruksi untuk menahan diri dari menggunakan kekuatan atau terlibat dalam pembajakan terhadap penduduk kepulauan itu. Armadanya meluncur di sepanjang pantai utara Jawa, melewati kepulauan Sunda Kecil hingga Flores dan kemudian melaju ke utara menuju Ambon dan Banda. Antonio Galvao, yang berlayar dalam suatu ekspedisi, menggambarkan gunung berapi di pulau Gunuape (Gunung Api) yang kecil dan tak berpenghuni, Pires menyebutnya – ilha de fogo -  di gugusan kepulauan Banda, yang mengirimkan aliran serpihan dan api ke laut terus menerus90. Perjalanan kembali suatu armada yang dikomandani oleh Fransisco Serrao kandas di laut Bandac, dan Serrao, setelah memperoleh perahu lokal di kepulauan Banda, berangkat bersama beberapa rekannya menuju ke Ternate, dimana ia tetap tinggal sampai kematiannya pada tahun 1521, dan menjadi sahabat dekat dan penasihat bagi penguasa (Sultan Ternate).
Rui Brito de Patalimd menulis pada bulan Januari 1514, bahwa semua penduduk Maluku, Banda, Jawa dan Timor telah dikagetkan (atemorizados0 oleh kedatangan armada Abreu dan melihat kapal-kapal besar tersebut.  “ Untuk Maluku, Banda, Timor dan Jawa”, tulisnya, “ kita membutuhkan kapal-kapal besar, meskipun penduduknya takut terhadap kapal-kapal itu. Saya telah menulis kepada Gubernur India bahwa ia harus mengirim 1 atau 2 naos dari 500 gentong, karena selain menegaskan otoritas kami, kapal-kapal itu dapat mengambil banyak sekali rempah-rempah yang tidak bisa dilakukan dengan kapal-kapal kecil. Apalagi rutenya sudah diketahui dan mudah dilayari.....91.
Portugis pada mulanya tampaknya diterima dengan baik oleh orang-orang Banda. Diogo Brandao dalam deposisinya ke Junta Badajoz Elvas pada tahun 1523, menyatakan bahwa ketika dia berada di Banda, dia mendapati bahwa Abreu dan teman-temannya telah diperlakukan dengan sangat hormat dan “orang-orang Moor di tempat itu telah mengirimkan melalui dia, kepatuhan mereka mereka kapten Malaka dan Gubernur India”92. Namun hubungan baik ini tidak bertahan lama, dan pertengkaran dengan orang-orang Banda yang merampas kapal-kapal Portugis dan mengadopsi berbagai strategi untuk menghambat perdagangan mereka, kemudian berlanjut secara teratur dalam surat dan laporan dari Ternate dan Malaka. 


Lukisan oleh Johannes Vinckboons 1662 - 1663

                Pada 11 Februari 1523, Antonio de Brito menulis dengan bangga dari Ternate kepada D. Joao III,:

Saya tidak menulis kepada Yang Mulia tentang padrao yang saya dirikan di Banda [mungkin di Leitatam], yang paling indah dan yang terbesar yang bisa dilihat dengan perlindungan dan restu Yang Mulia, maupun tentang harga yag saya setujui dalam surat lain, yang saya pikir harus saya kirimkan kepada Yang Mulia melalui rute Borneo yang lebih cepat. Harga-harga untuk cengkih yang dibawa kesini, dan untuk pala serta bunga pala yang diproduksi oleh Banda. Saya membuat perjanjian ini selalu bersama dengan semua pemimpin/tokoh [omens omrados] dan syahbandar dari pulau-pulau itu, karena tidak ada raja, dan mereka semua menunjuk saya untuk melaksanakannya, dan setuju bahwa siapa pun yang menentangnya harus mati karena itu93

3 hari kemudian, Rui Gago menulis kepada Raja untuk mengatakan bahwa ia telah membawa dari Banda sebuah dokumen (estromento) dengan jenis yang sama dengan yang mana Raja Ternate telah mendeklarasikan wilayah-wilayah vasalnya kepada Portugis, yang ditandatangani oleh semua syahbandar dan para penguasa di pulau-pulau itu94. Baik kesepakatan tentang harga dan deklarasi wilayah-wilayah vasal jelas tetap merupakan “surat mati”. Yang sama tidak berhasilnya adalah upaya Portugis untuk menguasai kepulauan  pada tahun 1532, bersama dengan Gresik dan Panarukan, melalui akta akuisisi, penaklukan dan kepemilikan teritorial (instrumento de aquisicao, filhamento e posse de terra)95.
Perdagangan Portugis dengan kepulauan Banda tampaknya telah berkembang pada awalnya dan harga-harga pala dan bunga pala telah meningkat. Seperti yang diinformasikan Orta kepada kita, meskipun Banda dianggap sebagai tempat yang sangat tidak sehat, dan meskipun hanya sedikit dari banyak yang pernah pergi kesana bisa kembali, namun mereka senang menanggung resiko ini karena keuntungan besar yang bisa didapat96.
Armada Portugis pada mulanya mengikuti rute yang sama dengan junk-junk Malaka dan Jawa, melewati Gresik dan pelabuhan-pelabuhan lain di pantai utara Jawa, dan kemudian berlayar melalui kepulauan Sunda Kecil ke Banda, Ambon, dan Maluku. Tetapi sekitar tahun 1520, mereka mulai menggunakan “rute Borneo”, yang membawa mereka ke Maluku melalui Brunei hanya dalam 40 hari dan selanjutnya, kapan pun kecepatan diperlukan, seperti misalnya ketika bala bantuan militer di kirim ke kepulauan ini, rute pendek ini digunakan97. Rute selatan yang lebih tradisional, bagaimanapun, tetap lebih menguntungkan secara komersial karena tidak hanya membawa Portugis ke kepulauan Banda, tetapi juga memungkinkan mereka untuk berdagang dalam perjalanan di pelabuhan-pelabuhan Jawa, dan mengumpulkan barang dagangan di kepulauan Sunda Kecil, khususnya cendana Timor. Borneo (Kalimantan), di sisi lain, menghasilkan sedikit barang bisa dijual, kecuali kamper dan emas, yang tampaknya tidak pernah dapat diperoleh orang Portugis dalam jumlah yang cukup besar untuk menjadikan perdagangan ini bermanfaat.
Antonio de Brito menulis dengan optimis pada Februari 1523, bahwa :

dari Borneo (Brunei) ke Maluku adalah 100 liga dan di sini pilot bisa didapatkan untuk membawa kami ke sana, karena banyak kapal junk yang berlayar dari Kalimantan ke Malaka. Karena rute ini telah ditemukan, saya percaya ini adalah layanan terbaik bagi kami.... karena kekurangannya dan karena menghindari menunggu angin muson di rute Banda, yang untuk membawa suatu komisi membutuhkan waktu satu setengah tahun. Jadi seseorang dapat meninggalkan Malaka dan mencapai Maluku satu bulan......dan Borneo adalah satu pulau terkaya di bagian ini, memiliki banyak emas dan kapur barus dan perdagangan besar dengan daerah lain, darimana Yang Mulia bisa memperoleh keuntungan besar98.

Tetapi 11 tahun kemudian, Tristao de Ataidee mengeluh bahwa ia tidak dapat menemukan pembuat kapal untuk memasok kapalnya atau pilot untuk membawanya melalui rute Kalimantan., karena mereka sendiri ingin pergi melalui Jawa dan Banda, “ dimana mereka dapat membuat diri mereka kaya, sedangkan pergi ke Kalimantan, tidak bisa”. Dia menambahkan dengan sedih bahwa rute Kalimantan adalah pons asironum (estrada coymbraa)99

Ilustrasi pembantaian orang kaija di Banda, 1621 (sumber Amboyna.org)
Berbeda dengan para penguasa di Maluku, orang kaya sejak awal tidak mau membiarkan Portugis membangun pabrik atau benteng di kepulauan Banda, dan Portugis tidak pernah berhasil mengatasi perlawanan mereka. Sebuah tulisan  kaum Jesuit dari Maluku kepada saudara-saudaranya di Colegio de Santo Antao di Lisbon pada Februari 1563, memberitahu kita tentang sekelompok Muslim dari Hitu yang pergi ke Banda “ dimana orang Portugis juga melakukan bisnis” dan menunggu angin muson sehingga kapal-kapal Portugis secara teratur berangkat “ sehingga mereka mendapati tempat itu kosong tanpa orang Portugis”100.
Pada saat ini, penguasa Ternate menjalankan kekuasaan yang “lemah” atas Ambon, Seram bagian barat, Buru, bagian utara Halmahera, gugusan Uliassa (sekelompok pulau kecil di sebelah timur pulau Ambon), kepulauan Banda dan sebagian Sulawesi. Tidore, yang kurang kuat dari Ternate, hanya memiliki kendali atas Halmahera selatan, Seram timur dan pantai Irian barat. Persaingan sengit antara kedua kesultanan, memungkinkan orang-orang Eropa untuk bermain satu melawan yang lain dalam persaingan memperebutkan perdagangan rempah-rempah, tetapi konflik yang hampir tiada akhir yang diakibatkan oleh kebijakan ini, terbukti fatal bagi posisi Portugis di kepulauan rempah-rempah, dan akhir abad ini, dominasi politik dan kontrol ekonomi terhadap pulau-pulau seperti yang pernah mereka nikmati telah menghilang, meskipun mereka tetap memiliki benteng di Tidore hingga tahun 1605.
Di seluruh pertikaian yang tidak dapat dibedakan antara Portugis, Spanyol, dan penguasa-penguasa lokal di Maluku, orang-orang Banda, yang secara nominal tunduk pada Ternate, meskipun mereka berhasil menghindari bergabung dengan aliansi atas perintah Ternate. Namun, mereka tidak dalam posisi memberikan dukungan mereka pada skema untuk mengusir Portugis dari kepulauan rempah-rempah. Ketika pada tahun-tahun terakhir abad ke-16, Talele (Tahalele), tokoh Hitu yang peling penting, “ yang tubuhnya sangat besar dan hitam” sedang merancang cara mengusir Portugis dari Ambon, orang-orang Banda memberinya 14 joanga, “yang dipersenjatai dengan baik dan dilengkapi dengan pasukan dan meriam yang banyak mereka miliki dan sangat bagus” untuk melakukan serangan terhadap Sancho de Vanscocelos101.
Perlawanan orang-orang Banda juga menghalangi Portugis dari melakukan upaya berkelanjutan untuk mengubah penduduk pulau menjadi Kristen, baik untuk keselamatan jiwa mereka atau untuk motif politik. Santo Francis Xavier tidak pernah mengunjungi Banda, meskipun ia bekerja di Ambon, Ternate dan kepulauan Morotai selama lebih dari setahun pada tahun 1546 dan 1547. Salah satu alasan kegagalan para Jesuit untuk mengirim misi ke kepulauan Banda, tidak diragukan lagi adalah kurangnya benteng di sana yang akan memberi misionaris dukungan milietr dan pangkalan atau markasi untuk operasi mereka. Namun, sepertinya selambat-lambatnya tahun 1556, masih diyakini di Malaka, bahwa orang-orang Banda hanya menunggu seseorang untuk datang dan memberi mereka berita gembira tentang pertobatan mereka. Beberapa dikatakan sangat berhasrat untuk bertobat sehingga mereka telah mengirim pesan yang meminta para imam untuk datang dan membaptis mereka102.
Menurut Urdaneta, ketika ia mencapai kepulauan Banda pada tahun 1535, orang-orang Spanyol menemukan penduduk lokal sangat siap untuk berdagang dan cenderung baik kepada mereka, dan penguasa Tidore, tidak diragukan karena melihat mereka sebagai sekutu yang mungkin melawan Ternate dan Portugis. Urdaneta menyatakan bahwa “ pada hari-hari kejayaan kami di Maluco, kami selalu berdagang dengan mereka, dan pada saat Portugis merebut benteng kami (di Tidore), ada 6 atau 7 junk di Banda yang datang untuk berdatang dengan kami, dan juga untuk menganiaya dan merampok orang-orang Portugis”103. Keinginan untuk memenangkan dukungan orang-orang Spanyol terhadap orang Portugis yang dibenci itu, jelas terbatas pada orang-orang Banda. Raja Geilolo dalam surat yang ditulisnya kepada Kaisar Charles V pada bulan Maret 1532, menyatakan dirinya bawahan dari Spanyol dan mengatakan dia menunggu dukungan Kaisar “ bahwa kita semua sangat menginginkan, diriku sendiri tidak kurang dari semua Raja Maluco dan para penguasa Banda dan Ambon”104.
Sementara individu-individu, baik orang Portugis maupun Asia, ternyata mampu menghasilkan keuntungan besar dari perdagangan pala dan bunga pala langsung dengan orang-orang Banda, kekaisaran Portugis hanya memperoleh sedikit keuntungan dari perdagangan ini. Biaya untuk mengongkosi ekspedisi sangat tinggi, karena pala menjadi komoditas yang relatif besar, Portugis harus menggunakan kapal terbesar yang ada. Namun demikian, kapal yang bisa membawa hingga 1.200 bahar dan bunga pala dikirim setahun sekali dari Malaka ke kepulauan Banda sepanjang sebagian besar abad ke-16. Sementara pelayaran ke Maluku terus dilakukan oleh kapal-kapal yang dimiliki oleh kekaisaran, bahkan ketika hal itu dilengkapi dengan kapten kapal pada pelayaran yang diwajibkan, pelayaran ke Banda selalu dilakukan oleh kapal-kapal pribadi. Pada paruh pertama abad ke-16, pelayaran ini umumnya diorganisasi di Malaku; kemudian sebuah carriera reguler yang dikirim dari India, kapten-kaptennya dicalonkan oleh keputusan kerajaan105. Seperti para pesaiang Asia mereka, armada Portugis ini seringkali tidak pergi lebih jauh dari Banda. Pada awal tahun 1519, misalnya, Diogo Brandao dikirim ke Maluku dengan “junk-junk tertentu”, namun saat tiba di Banda, didapati cukup banyak rempah-rempah untuk dimuat di kapalnya, sehingga ia tidak melanjutkan perjalanan ke Maluku106.
Setibanya di Malaka, banyak dari muatan rempah-rempah dari kepulauan Banda, alih-alih dikirim ke Goa, “dihambur-hamburkan” dalam bentuk hadiah oleh raja muda dan pejabat lainnya, yang hampir semuanya terlibat korupsi dalam skala luar biasa. Pada tahun 1561, pemerintah Portugis mencoba memperbaiki keadaan ini, dengan meminta agar, dari seluruh muatan 1200 bahar, 300 bahar pala dan 30 bahar bunga pala dapat dibeli dengan harga tetap untuk kekaisaran dari para kapten kapal yang telah ditugaskan perjalanan ke Banda. Para kapten sebagai gantinya akan diizinkan untuk mengambil kargo pemerintah ke Malaka tanpa membayar bea apa pun. Tidak ada bukti bahwa aturan ini memiliki efek atau bahkan ketika diamati, pada akhir abad ke-16, pemerintah Portugis telah menghapus kebijakan ini, membiarkan orang-orang Banda untuk menjual pala dan bunga pala kepada siapa saja yang mereka sukai dan dengan harga berapapun yang mereka setujui. Pedagang Portugis kemudian akan membelinya di rempat lain di kepulauan ini, yaitu di Makasar yang semakin meningkat sejak akhir abad ini. 
Perdagangan oleh para pedagang bebas ini membuat semakin sulit bagi carreira kerajaan untuk meraih keuntungan. Fransisco Palha menulis dari Goa pada bulan Desember 1553, mendesak perlunya melarang pelayaran ke Banda dengan kapal apapun selain oleh salah satu kapal kerajaan, karena “ banyak ketidaknyamanan” yang disebabkan oleh kapten-kapten Portugis yang meninggalkan barang dagangan mereka, sementara mereka sendiri berkeliaran ke pulau-pulau untuk mencari barang yang dapat dimuat dalam kapal mereka sendiri. Seringkali orang-orang Banda tidak dapat membayar barang dagangan yang dibawa oleh orang-orang Portugis, yang kemudian akan mencoba untuk memeras agar dibayar. Orang-orang Banda akan memberontak dan “membunuh siapa saja yang bisa, dan tahu bahwa setahun lagi, seorang kapten akan datang yang akan berurusan dengan mereka secara damai”. Sering juga, para pedagang akan memuat kapal mereka sendiri dan berlayar ke Malaka, membiarkan kapal kerajaan di Banda107.
Masalah lebih lanjut disebabkan oleh kebiasaan Portugis yang membawa kora-kora dari Maluku ke Ambon dan Banda, seolah-olah untuk berdagang tetapi pada kenyataannya untuk melakukan pembajakan. Gaspar Nilio melaporkan dari Malaka pada Agustus 1545 bahwa Maluku dianggap :
Ingin menunjukan persahabatan dan bantuan kepada orang-orang tertentu, memberi mereka kora-kora, dan mereka dengan alasan bahwa mereka akan melaksanakan bisnis tanpa kepura-puraan ini, pergi dan merampok orang-orang Ambon, yang susah dan miskin hidupnya tanpa mendapat perlindungan dari orang-orang Portugis atau memiliki sarana untuk mempertahankan diri, tetapi menerima dengan sangat baik dan memberikan semua yang mereka butuhkan. Naos Yang Mulia datang dari Maluku menghabiskan musim dingin di pulau-pulau tertentu. Di banyak tempat ini, ada orang Kristen dan meskipun demikian, beberapa dari mereka pergi kesana menjadi tiran, yang merupakan kerugian besar bagi Tuhan dan Yang Mulia, yang kewajibannya adalah untuk membela orang-orang ini dari perampokan, penangkapan dan pembunuhan di tangan Portugis. Terlebih lagi, dengan membiarkan Portugis menggunakan kora-kora mereka untuk pergi ke Ambon dan Banda, tanpa menerima perintah atau persetujuan dari para kapten Yang Mulia, orang-orang Maluku memberikan banyak tenaga kerja dan raja-raja serta gubernur mengalami banyak masalah108.

Maka, pada awal abad ke-17, Portugis hampir seluruhnya diusir dari perdagangan langsung dengan orang-orang Banda, dimana mereka belum tunduk pada monopoli Belanda. Sementara itu, pedagang Asia terus berurusan dengan orang-orang Banda seperti sebelumnya. Peter Floris menggambarkan kedatangan di Patani sebuah junk Raja Indra Muda, seorang pedagang lokal, yang telah berlayar ke Makasar pada bulan Oktober 1612 dan selanjutnya ke Banda :
                Dimana ia datang ke pasar yang bagus dan mendapat untung besar, terutama kastil [benteng Belanda di Neira] tidak memiliki uang, sehingga kastil itu tidak berarti untuk membeli beras dan hal-hal lain sehingga ia mendapatkan izin untuk berbisnis dengan Ortatan dan tempat-tempat lain serta orang-orang Banda, dimana ia mendapat banyak persediaan bunga pala dan cengkih, yang mana kastil tak bisa melarang untuk mengangkut barang-barang itu karena kekurangan uang, dan juga junk itu milik orang Patani. Dia membawa sekitar 200 sockles bunga pala [ suatu paket dimana bunga pala diangkut, beratnya bervariasi antara 120 – 140 lbs], sebungkus besar pala yang dia jual ke Portugis di Makasar109.

Fort Hollandia di Lonthor, Banda


IX

                Pada tahun 1599, Jacob van Heemskerck, salah satu komandan ekspedisi yang dikirim tahun sebelumnya (1598) dari Amsterdam di bawah komandan Jacob van Neck, berlayar ke Ambon dan kepulauan Banda. Orang-orang Banda pada awalnya menyambut Belanda, yang mereka anggap sebagai penyelamat mereka dari orang-orang Portugis yang dibenci, dan mengizinkan van Heemskerck untuk mendirikan sebuah pabrik kecil di Lontor. Tapi mereka segera dihukum dengan kejam. Pada tahun 1609, Belanda, yang pada tahun 1605 telah merebut benteng Portugis di Ambon dan di Maluku, menduduki pulau Banda dan memberlakukan perjanjian pada orang kaya yang menegaskan monopoli mereka terhadap perdagangan pala. Perlawanan orang-orang Banda terhadap monopoli ini dan serangan-serangan mereka yang sering terhadap pemukiman Belanda, dikombinasikan dengan upaya-upaya oleh Inggris untuk berdagang dengan kepulauan Banda, dimulai dengan perjalanan Henry Middleton di tahun 1604-1605, membuat Belanda menggunakan kekerasan untuk penaklukan langsung sebagai satu-satunya cara untuk memastikan monopoli mereka. Pada Januari 1621, Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jend VOC, sendiri berlayar dari Batavia dengan sebuah armada berkekuatan 12 kapal dan beberapa kapal Jawa untuk mencapai tujuan ini. dengan kekejaman dan kezaliman yang luar biasa, kepulauan Banda ditaklukan, sebuah benteng baru bernama kastil Hollandia dibangun di Lontor, dan ribuan penduduk, termasuk sebagian besar orang kaya dibantai, dikirim ke perbudakan di Jawa atau mati kelaparan di pegunungan. Sejak saat itu, monopoli Belanda atas perdagangan pala dan kontrol mereka atas tanah-tanah di kepulauan Banda, yang dialokasikan kepada para pegawai/pejabat VOC untuk dieksploitasi dengan kerja paksa, telah sempurna110. Beberapa orang Banda melarikan diri ke Makasar, tetapi selanjutnya mereka tidak lagi memainkan peran independen dalam perdagangan lokal nusantara, dan sejarah orang-orang yang, bahkan jika Matelieff benar dalam menggambarkan mereka sebagai “ jahat, angkuh, pemberani, pengemis miskin” tentu saja tidak mengalami kemunduran dalam usaha, kemampuan atau semangat dan berakhir dengan kehinaan111.
               
===== selesai =====


Catatan Kaki
68.    Pires, Suma Oriental, I, p. 205.
69.    Barros,Da Asia,III, 5, p. 6.
70.    Pires,Suma Oriental, I, p. 206. The weight of the bahar in Banda was 550 lbs, in the Moluccas 600 lbs and in Malacca 530-540 lbs. The Portuguese generally reckoned 32 new arratels or pounds of  6 ounces to the arroba, 4 arrobas to the quintal and 4 quintals to the bahar.
71.      Antonio de Brito to the King, Ternate, 28 February, i525, in Sa, Documentacao, I, pp 194-5.
72.     Descricao sumaria.. ., in ibid.,IV, p. i6. The same figures are given in Informacao a El-Rei sobre o comercio da pimenta e do cravo, s.d., in ibid.,I, pp. 338-9.
73.     Barbosa, An Account of theC ountries . . , II, 118, pp. 196-8.
74.     Peter Mundy, The Travels of Peter Mundy in Europe and Asia, 1608-1667, ed. Sir Richard Temple Bt, vol. II, Hakluyt Society, 2nd series, XXXV (1914), p. 153.
75.     Andres de Urdaneta, Narrative of the Voyage toMalucos or Spice Islands by the Fleet under the Orders of the Comendador Garcia Jofre deLoaysa,in Early Spanish voyages to the Straits of  Magellan,trans and ed. Sir Clements Markham, Hakluyt Society, 2nd series,XXVIII (1911), pp. 85 and 88-9.
76.    Thomaz, 'Maluco e Malaca', p. 44. See also Pigafetta, Magellan'sVoyage, p. 121. Pigafetta describe show he and his companions traded with the King of Ternate and obtained a bahar of cloves each for two cubits of fairly good redcloth, 35 glasses, 15 axes, 25 pieces of linen, 150 knives, 50 pairs of scissors,40 caps, ten ells of Gujerat cloth etc.
77.     Descricao sumaria. . , In Sa, Documentafao,IV, p. 16.
78.     Pires, Suma Oriental, I, p. 268.
79.    See C. R. Boxer and P. Y. Manguin, 'Miguel Roxo de Brito's Narrative of his Voyage to the Raja Empat, May 1581-November 1582', Archipel, 18 (1979), p. 178 n. 3. For a detailed description of the making of sago in Seram, see Wallace, The Malay Archipelago, pp. 377-81.
80.    Urdaneta, Narrative of the Voyageto Malucos, p. 85.
81.      Rebello, Informacao.. ., in Sa, Documentacao,III, p. 395.
82.     Trindade,Conquista espiritual do Oriente, I, p. 45.
83.     Sa, Documentacao,III, p. 326.
84.     Rebello, Informacao, in ibid.,III, p. 356.
85.     I.e. manuko dewata (divine bird). The modern Indonesian is burung dewata or cenderawasih.
86.    Maximilianus Transylvanus, De Moluccis insulis, ed. Carlos Quirino (Manila, 1969), pp. 126-7.
87.     Wallace,The Malay Archipelago, pp.549-53.
88.     Ibid.,pp. 371-2. See also Boxer and Manguin, 'Miguel Roxo de Brito'sNarrative', p. 89 18o n. 14.
89.    H. K. Spate,The Spanish Lake(London,1979),p. 34.
90.    AntonioGalvao,TheDiscoveries of theWorld from their First Original unto the year of  Our Lord 1555, ed. V. Adm. Bethune, Hakluyt Society, Old series,XXX (1872), p. I I 7.
91.     Rui de Brito to the King, Malacca, 6 January 1514, in Sa, Documentacao, I, pp. 73-4.
92.    Depoimento de Diogo Brandao em o processo das Molucas, Tomar, 25 August 1533, ibid., I, p. 176.
93.    Antonio de Brito to the King, Ternate, 11 February 1523, ibid.,I, p. 153.
94.    Rui Gago to the King, Moluccas, 15 February 1523, ibid.,I, p. 162.
95.    See Thomaz, 'Maluco e Malaca', p. 43.
96.    Orta, Coloquios dos Simples .. ., p. 82.
97.    The Borneo route was believed to be more ancient than the Banda route. Jorge de Albuquerque writes of discovering 'the ancient navigation ... to go and return in the same time as it takes to go to Banda and back'. He adds that there were pilots who knew the route and 'from the information I have from the Maquaceres, which is an island near the port of Ambon, it seems to me an easy matter to find the route'. Jorge de Albuquerque to the King, Malacca, 8January 1515, in Documentacao, Sa, I, pp. 76-80.
98.    Antonio de Brito to the King, Ternate, 11 February 1523, ibid.,I, p. 153.
99.    Tristao de Ataide to the King, Moluccas, 20 February 1534, ibid.,IV, pp. 435-6.
100.  Irmao Fernao do Souro to his brethren of the Colegio de Santo Antao, Lisbon, Moluccas, 15 February 1563, ibid.,III, pp. 24-5. Some scholars have asserted that the Portuguese set up feitorias in the Banda Islands
comparable to those established on Ambon (see, for example, B. W. Diffie and G. D. Winius,Foundations of thePortuguese Empire 1415-1580 (University of Minnesota Press and Oxford University Press, 1977), p. 370). Winius describes the Portuguese settlements on Lontor and Neira as feitorias. But there is insufficient evidence from Portuguese sources to sustain this view. The establishment of a right to trade by agreement with local rulers and the erection of a padrao did not invariably lead to the setting up of a feitoria or the appointment of a feitor.This of course is not to deny that some Portuguese settled in the islands and traded there. Paramita R. Abdurachman in her excellent essay 'Moluccan Responses to the First Intrusions of the West' (in Haryati Soebadio and Carine A. Du Marchie Sarvaas (eds.), Dynamics of Indonesian history (Amsterdam, 1978), p. 173) cites the donation (doacao) of D. Joao III in 1531 to Kaichili Daroes, a Ternatan agent or Rimelaha, of tenure of all the land in Banda as an indication that the Portuguese Crown
exercised some kind of suzerainty over the Banda Islands which made it possible to bestow them in this
way on a faithful ally as a reward for his services. But there is no evidence that the orang kaya ever recognized any authority of the Portuguese Crown over them or their land and it seem sun likely therefore that the doacao was ever more than a symbolic offering by the King of Portugal of something which was not in any real sense his to donate.
101.   Relacao dos feitos eroicos..., ch. 91, in Sa, Documentacao,IV, pp. 435-6 and 451.
102.  Padre Baltasar Dias to his brethren in Portugal, Malacca, 19 November 1556, ibid.,II, p. 270. A decree of the First Provincial Council of Goa in 1567 ordains that no priest should be received in Bengal, Peru, China, Moluccas, Banda, Sunda or other places where there is no Portuguese fortress,even if he has dismissory letters from the bishop of that place, unless they expressly mention how he is to govern it. (Da reformacao das cousas da Igreja (Goa, 1567), ibid., III, p. 190.)
103.  Urdaneta, Narrative of the Voyageto Malucos, pp. 78-9.
104.  King of Geilolo to the Emperor, Geilolo, I March 1532, in Sa, Documentacao,I, P. 257.
105.  Thomaz, 'Maluco e Malaca', p. 43.
106.  L. de Albuquerque and R. Graca Feijo, 'Os pontos de vista de D. Joao III na Junta de Badajoz-Elvas', in A viagemde Fernao Magalhaes, p. 538.
107.  Francisco Palha to the King, Goa, 26 December 1553, in Sa, Documentafao, II, pp. 104-5
108.  Gaspar Nilio to the King, Malacca, 1o August 1545, in ibid., I, p. 458.
109.  Peter Floris, Voyage to the East Indies in the Globe. 1611-1615, ed. W. H. Moreland, Hakluyt Society, 2nd series, LXXIV (1934), p. 88.
110.   An excellent account of the subjugation of  the Banda Islands is in D. G. E. Hall, A History of SouthEast Asia,3rd edn (London, 1968), pp. 307-9. See also Reid, 'Trade and State Power', pp. 400-1; B. H. M. Vlekke, Nusantara. A history of Indonesia(Brussels, 1943), pp. 124-41; van Leur,Indonesian Trade and Society, pp. 182-4; and S. Arasaratnam, 'Monopoly and Free Trade in Dutch-Asian Commercial Policy: Debate and Controversy within the VOC', Journal of  Southeast Asian Studies,IV, No. I (March, 1973), pp. 1-5.
111.     Schrieke, Indonesian Sociological Studies,p. 35.


Catatan Tambahan :
a.        Antonio Brito adalah kapten pertama benteng Portugis di Ternate (1522 – 1525)
b.       Liga (League) merupakan ukuran jarak di masa lalu. Secara rata-rata 1 liga untuk ukuran jarak di laut adalah 5,6 km. Jadi jika 30 liga berarti sekitar 168 km.
c.       Armada Fransisco Serao terdampar/kandas di pulau Nusa penyu atau dalam sumber-sumber Portugis disebut baixos de Lucupino atau Lucepinho
d.       Rui de Brito Patalim adalah kapten benteng Portugis di Malaka (1512 – 1514)
e.        Tistao de Ataide adalah kapten ke-6 benteng Portugis di Ternate (1534 – 1536)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar