Selasa, 14 September 2021

Tiworo dalam Bentang Laut Perang Rempah-rempah


 [Jennifer L. Gaynor] 

A.         Kata Pengantar

Perang Besar Ambon atau Groot Ambonsche Oorlogen dalam literatur VOC yang terjadi pada paruh kedua abad ke-17, menjadi pentas bagi banyak figur dan kelompok untuk terlibat. Mungkin dalam pemahaman kita yang terbatas, perang mengenaskan itu hanya melibatkan orang Maluku dan kaum kolonialis, yaitu Belanda. Pada faktanya, tidaklah demikian. Faktanya, orang-orang Ambon juga “meminta” bantuan dari pihak lain, yaitu orang-orang Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan untuk turut terlibat dan membantu perjuangan mereka melawan Belanda. 

Senin, 06 September 2021

Alkitab dan pembentukan negara : Distribusi Alkitab di Maluku pada awal abad ke-19


[Chr.G.F. de Jong] 

 

A.      Pengantar

Artikel berjudul Bijbel en Staatvorming : Bijbelverspreiding in de Molukken aan het begin der negentiende eeuw yang ditulis oleh Chr. G.F. de Jong ini, tentang kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh Gubernemen Maluku dalam rangka membantu Het Medewerkend Bijbelgenootschap van Ambon atau Lembaga Alkitab di Ambon untuk memproduksi atau mencetak Alkitab dan mendistribusikan Alkitab ke wilayah Gubernemen tersebut. Kegiatan penggalangan dana berupa pengumpulan sumbangan uang dari figur-figur penting/terkemuka itu dilakukan sejak tahun 1824-1835.

Selain tentunya memberikan analisis tentang latar belakang, tujuan penggalangan dana, total uang yang dikumpulkan setiap tahun dan gambaran fluktuatif penerimaan, serta kesimpulan akhir dari usaha itu, ada hal unik lainnya, seperti yang disampaikan oleh de Jong. Ia menyebut dari daftar penyumbang sejak tahun 1824 – 1835, ada 2 daftar yang unik yaitu daftar penyumbang dari tahun 1830 dan 1835. Pada daftar penyumbang di kedua tahun ini, terdaftar secara eksplisit nama-nama Regent negeri Kristen di Gubernemen Ambon beserta tandatangan mereka, yang berasal dari wilayah Ambon, Lease, dan Hila-Larike.

Hal ini tentunya menarik bagi kita untuk melihat dan mengetahui siapa saja nama para regent tersebut, atau secara lebih khusus siapa nama “raja” negeri kita masing-masing, terlebih-lebih bahwa figur-figur “kaum elit” itu berasal dari periode yang belum lama setelah Perang Pattimura (1817). 

Sabtu, 04 September 2021

Perdebatan Hukum Alam di Kepulauan Banda: Studi Kasus Persaingan Kekaisaran Inggris – Belanda di Hindia Timur, 1609–1621 (bagian 1)


Oleh

[Martine Julia van Itersum] 

A.      Kata Pengantar

                Penaklukan kepulauan Banda yang disertai dengan penghancuran populasi Banda oleh Jan Pieterszoon Coen atau VOC pada tahun 1621, jika dipandang dari perspektif kaum lokal atau pribumi, mungkin hanyalah tindakan arogansi dan kekejaman luar biasa dari kaum kolonialis. Namun jika dilihat lebih luas dan mendalam, ada faktor “internasional” yang turut memainkan perannya dalam tindakan kekejaman itu. Persaingan dua kekaisaran hebat di awal abad 17 yaitu Inggris dan Belanda, adalah pemicunya, dan masyarakat Banda menjadi korbannya. 

Kamis, 02 September 2021

Perdamaian Teatrikal : Kehormatan, Protokol dan Diplomasi dalam Penyeimbangan Kekuasaan antara VOC dan Ternate, ca. 1750 (Bag 2 - selesai)

 

[Hendrik E. Niemeijer]


Sultan Ternate, Mohammed Iskandar Djahib dan Ratu
 

Vivat Oranje ! dan Penampilan Publik

                Penghargaan yang ditunjukan kepada Penguasa Maluku tertanam dalam budaya lokal yang menetapkan bahwa status harus diwujudkan dalam tanda-tanda penghormatan, sebuah gagasan yang dipahami dengan baik pada abad ke-18 di Republik. Mengingat situasi ini, tidak mengherankan jika Ternate secara teratur menjadi panggung pesta pora khas Belanda, untuk menandai acara-acara seperti peringatan di House of Orange. Meskipun pada akhir periode kedua tanpa Stadholder (1702-1747), Ternate tidak lebih dari sebuah sudut terpencil, perayaan-perayaan Oranye muncul di kalender dengan cukup cepat. Ulang tahun William IV dirayakan di taman kompeni sejak tahun 1749. Catatan harian (dagregister) dari benteng oranye Maluku menggambarkan bagaimana proses dimulai dengan Gubernur menerima ucapan selamat dari mereka yang berstatus tinggi. Ketika ini telah selesai, semua orang duduk di meja sesuai dengan pangkat dan status mereka, dan sebuah cangkir dibagikan “dengan pengalaman yang luar biasa”. Hidangan lezat dinikmati dan setelah selesai, untuk melancarkan pencernaan, ada tarian kecil diiringi musik menyenangkan yang dimainkan oleh orkestra para budak yang terdiri dari terompet, oboe, bas dan biola. 

Jumat, 30 Juli 2021

Perdamaian Teatrikal : Kehormatan, Protokol dan Diplomasi dalam Penyeimbangan Kekuasaan antara VOC dan Ternate, ca. 1750 (Bag 1)

[Hendrik E. Niemeijer]

  

A.    Kata Pengantar

Kesultanan atau Kerajaan Ternate merupakan salah satu kerajaan utama dan terbesar di Maluku, selain kerajaan Tidore. Kebijakan politik, sosial, ekonomi kesultanan itu, turut mempengaruhi dinamika yang terjadi di wilayah-wilayah “vasal” atau periferi, yang salah satunya adalah Ambon-Lease. Kebijakan tersebut terbentuk akibat kontak dan relasi kerajaan tersebut dengan kekuatan Eropa yang muncul pada abad ke-16 dan ke-17, yaitu Portugis dan akhirnya Belanda.

Relasi tersebut, khususnya relasi VOC dan Ternate pada abad ke-18 itulah yang dikaji oleh Hendrik E. Niemeijer lewat artikel sepanjang 27 halaman ini. Artikel ini aslinya berbahasa Belanda dengan judul De geveinsde vrede. Eer, protocol en diplomatie in de machtsverhouding tussen de Verenigde Oost-Indische Compagnie en Ternate omstreeks 1750. Artikel ini bersama 15 artikel lainnya dari beberapa sejarahwan, misalnya Jurian van Goor, Femme Gaastra, George Winius, Hugo s’Jacob, Kees Zandvliet, Remco Raben, Leonard Blusse, Gerrit Knaap, Leonard Andaya, Willem Remmelink, Merle Ricklefs, Alicia Schrikker dan lain-lain, dimuat dalam buku berjudul De Verenigde Oost-Indische Compagnie tussen Oorlog en Diplomatie [The United East India Company between War and Diplomacy] yang dieditori oleh Gerrit J Knaap dan Ger Teitler dan diterbitkan tahun 2002, oleh KITLV, Leiden. Artikel Neijmeijer ini berada pada halaman 309-335. 

Beberapa potret Sultan Ternate

Minggu, 07 Juni 2020

MATA AER PERKARA (Legenda dari Negeri Saparoea)


Pengantar

                Cerita di bawah ini, adalah salah satu legenda dari Negeri kami, negeri Saparua. Cerita ini telah diceritakan oleh nenek dan kakek kami, saat kami masih kecil. Kisah ini diceritakan karena rasa “penasaran” kami sebagai anak kecil terhadap beberapa tempat di negeri kami yang namanya “unik”. Ada 2 tempat yang kami maksud yaitu Mata Aer Perkara dan Durian Sandar Nona.
                Apa yang dikisahkan oleh nenek dan kakek kami, hanyalah cerita garis besarnya saja, bukanlah mendetail seperti kisah di bawah ini. Kisah itu terus bersarang di kepala hingga masa kini.
                Kisah itu, coba kami tulis dalam bentuk cerita pendek dan memasukan unsur imajinasi dalam hal dialog antar pelaku, nama-nama pelaku, konflik, penyelesaian, dan alur cerita yang kami gunakan. Hal itu kami lakukan karena pertimbangan teknis saja untuk memenuhi unsur “kesusastraan”.
                Tujuan dari penulisan kisah ini, agar sebagai anak-anak negeri Saparua, kita tidak melupakan sebuah legenda dari negeri kita, dan bisa mengambil “makna” dari legenda ini.
                Sekali lagi, nama-nama pelaku dalam kisah ini adalah rekaan kami, karena kisah yang kami dengar, pelaku-pelaku dalam kisah ini tidak “bernama” hanya jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Sehingga jika ada nama-nama familiar yang telah diketahui, itu hanyalah kebetulan belaka dan kami gunakan hanya dalam bentuk penceritaan ini.
                Akhirnya selamat membaca. Selamat mengambil manfaat dari kisah tragis ini.

Rabu, 08 April 2020

Radja van Saparoua : Suatu dialektika dan rekonstruksi Menurut sumber-sumber Belanda (VOC) dan lainnya


(bag 4)

Oleh: Aldrijn Anakotta

 

C. Periode abad ke-19

Pada permulaan abad ke-19, berdasarkan arsip  tahun 18031 disebutkan secara eksplisit identitas Radja van Saparoua. Radja van Saparoua yang dimaksud bernama Pieter Titaleij. Arsip tahun 1803 ini ada 2 arsip yaitu bertanggal 15 November 1803 dan 20 Desember 1803. Arsip pertama (15 November) adalah arsip tentang penunjukan/pengangkatan Kepala Soa dan perangkat-perangkatnya di beberapa negeri pada Gubernemen Ambon oleh Gubernur Carel Lodewijk Wieling (Juli 1803-April 18042). Khusus untuk negeri Saparua, disebutkan secara eksplisit bahwa atas usulan Yang Mulia Radja van Saparoua Pieter Titaleij, dan disetujui oleh Opperhoofd van Saparoua Cornelis van Aart (Mei 1803-18043), Frans Anakotta diangkat/ditunjuk sebagai Kepala Soa di negeri Saparua. 

Senin, 06 April 2020

Radja van Saparoua Suatu dialektika dan rekonstruksi Menurut sumber-sumber Belanda (VOC) dan lainnya


(bag 3)

Oleh: Adryn Anakotta

B.4.      Periode terakhir abad ke-18

Seperti disebutkan pada akhir bagian ke-2 dari serial artikel ini, bahwa sejak tahun 1715 hingga minimal tahun 1763, kami tidak mengetahui dengan pasti identitas pemimpin negeri Saparua. 60an tahun lamanya, tidaklah kami ketahui tentang pemimpin negeri Saparua, identitasnya, masa pemerintahannya, serta proses peralihan kekuasaannya. Pada arsip  tahun 17681, secara eksplisit disebutkan tentang Radja van Saparoua. Arsip ini terdiri dari 4 halaman folio (folio 782-785) berupa kopian/salinan tentang Laporan/Penjelasan dari Fiscaal terkait tuduhan palsu terhadap Raja negeri Saparua. Arsip ini kami belum membaca isinya, namun melihat indeks atau judulnya, pastilah ada tertulis identitas Radja van Saparoua itu, apalagi arsip itu terdiri dari 4 folio. Dikarenakan kami belum membaca arsip ini, maka kami tidak tahu dengan pasti, masalah apa dan tuduhan palsu seperti apa yang dituduhkan kepada Radja Saparoua itu. Perlu dijelaskan juga tentang kata Fiscaal pada indeks/judul arsip tersebut. Fiscaal adalah salah satu jabatan dalam struktur organisasi VOC (1605-1799). Fiscaal bisa dianggap sebagai Jaksa dalam konteks masa kini. Menurut sumber Valentijn, sejak tahun 1622 telah ada figur yang menjabat jabatan Fiscaal ini pada Gouvernmenten Ambon, yaitu Isaac de Bruijn (1622-16242). Berdasarkan sumber3, maka Fiscaal Gubernemen Ambon yang berkaitan dengan arsip yang sedang kita bahas adalah  Eduard Homma (1765–1770). Ia menggantikan Wijnand Bounvoust (1762-1765), dimana Homma sebelumnya adalah Secretary Raad van Politie (1762-1765). Bertugas selama 5 tahun di jabatan Fiscaal, ia digantikan oleh Johan Adam Schilling (1770–1780). 


Arsip gereja tentang nama Radja van Saparoua